NovelToon NovelToon
My Sweet Love

My Sweet Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Romansa-Tata susila / Tamat
Popularitas:15.1M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Membaca novel ini bisa menyebabkan baper akut, kesel, geregetan, emosi tingkat tinggi, juga sedih karena mengandung banyak bawang yang juga bikin nyesek. Yang lemah hati lebih baik menyingkir. Takutnya nggak akan kuat. Tapi semua akan edan pada waktunya, eh salah, maksudnya akan manis pada waktunya. Jadi, bijaklah dalam memilih bacaan.

Ini adalah season kedua dari novel 'SUGAR'. Kini cerita beralih pada keturunan mereka, Dygta Hanindiita.

Dygta berusaha keras meredam perasaannya kepada Arfan, asisten dari ayah, sambungnya, sekaligus sahabat ibunya.

Usia mereka yang terpaut cukup jauh membuat segalanya terasa semakin sulit. Terlebih lagi, status Arfan yang sudah beristri dan memiliki satu anak balita.

Namun tugas Arfan yang diberi tanggung jawab penuh oleh Satria untuk menjaga Dygta hingga gadis itu beranjak dewasa, membuat mereka berdua semakin dekat.
Keadaan istrinya yang koma pun menambah segalanya menjadi semakin rumit.

"Jangan gila Arfan! dia sudah seperti anakmu sendiri!"

follow author di
ig @tiyanapratama
fb FitTri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencarian

*

*

Arfan tak mampu mengistirahatkan tubuhnnya. Walaupun rasa lelah telah menguasainya sejak sore tadi, tapi pria itu tetap tak mampu beristirahat walau hanya sebentar saja. Matanya tak mampu ia pejamkan, apalagi pikirannya. Yang tak bisa berhenti memikirkan Dygta yang entah kini berada dimana, bagaimana keadaannya, atau bahkan apakah dia selamat atau tidak?

Dia tiba-tiba merasa hampir gila.

Bagaimana jika dia tidak selamat?

Tidak mungkin!

Dia pasti sedang ketakutan saat ini, terluka, dan kedinginan!

Oh, astaga!

Namun dirinya tak mampu berbuat apapun. Hujan deras diluar sana, juga kabut tebal yang menyelimuti jelas tidak memungkinkan siapapun untuk melanjutkan pencarian. Bahkan profesional sekalipun tidak menganjurkan hal tersebut. Atau mereka akan berakhir sia-sia jika memaksa.

Dan Arfan membenci hal ini. Dia terbiasa mampu melakukan apapun yang dibutuhkan untuk menemukan sesuatu atau seseorang. Bahkan dengan menghalalkan segala cara sekalipun. Namun kini, yang dia hadapi adalah alam yang tak dapat ditebak. Membuatnya tak bisa bertindak seperti biasanya. Bahkan Satria pun tak melayangkan protes kepadanya. Pria itu lebih memilih untuk menenangkan istrinya yang berkali-kali melakukan panggilan telfon untuk mencari tahu keadaan anak gadis mereka.

Arfan hanya bisa duduk di dalam tenda dengan rokok yang sudah dia sulut entah untuk ke berapa batangnya. Membuat area di dalam tenda tersebut dipenuhi dengan kepulan asap yang menyesakkan.

Dia menyesap rokok ditangannya dengan penuh penghayatan, lalu meniupkannya ke udara. Dan mengulanginya hingga beberapa kali.

Apa kamu selamat? gumamnya dalam hati.

*

*

Dygta menggigil, rasa dingin membekukan terus menusuk hingga ke tulang. Sementara hujan masih belum mau berhenti mengguyur hutan. Sekujur tubuhnya sudah tak lagi merasakan hal lain selain rasa dingin itu sendiri. Entah karena udara dan guyuran hujan, ataukah karena pakaiannya yang memang sudah basah sejak sore tadi.

Dia paksakan untuk merangkak lebih ke dalam hutan, mencari tempat perlindungan yang dirasa aman. Walaupun gadis itu tak tahu sama sekali tentang alam bebas yang kini tengah dia hadapi, namun dirinya berusaha untuk tak memiliki pikiran buruk.

Dan disinilah dia, di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Dengan dahan besar yang menjulang diatas tanah.

Dygta ragu. Apakah ini aman?

Tapi gadis itu tak tahu lagi harus pergi kemana. Sementara malam sudah menyelimuti hutan, dan dia tak tahu harus melakukan apa. Dia basah, terluka, dan berada dalam kepekatan malam. Juga ketakutan.

Dygta memutuskan untuk naik ke dahan dengan susah payah. Lalu memeriksa keadaan, kemudian setelah dirasa aman, dia mencoba untuk menyandarkan punggungnya, dengan kedua tangan yang memeluk dirinya sendiri. Sementara kedua kakinya dia tekuk untuk melindunginya dari hawa dingin yang semakin membekukan.

"Mama!" bisiknya, tiba-tiba dia teringat ocehan ibunya. Dan merasa sangat merindukan perempuan cerewet itu.

Dygta kembali menangis, semakin lama isakannya semakin pelan, lalu berhenti saat gadis itu menutup matanya karena kelelahan.

Dia tertidur.

*

*

*

Matahari muncul dari balik bukit yang berkabut dengan malu-malu. Menyambut kegiatan pagi itu ketika semua orang tengah bersiap untuk kembali melakukan penyisiran. Sementara yang lainnya mengatur untuk kepulangan belasan anak yang mengikuti kegiatan perkemahan sejak dua malam yang lalu.

Termasuk Evan. Yang berjalan dengan tertunduk lesu, saat kedua orang tuanya menjemputnya untuk pulang setelah sebelumnya menemui Satria, dan mengungkapkan permintaan maaf atas kejadian yang menimpa Dygta saat bersama putra mereka.

"Kamu juga akan turun sekarang?" tanya Satria, saat melihat asistennya itu telah siap dengan perlengkapannya.

"Ya pak." jawab Arfan, dengan yakin.

"Apa tidak sebaiknya kamu tunggu disini saja? dan membiarkan mereka yang bekerja." Satria menatap sekeliling area, tampak semua orang juga tengah bersiap dengan segala peralatan yang ada.

Seseorang berlari ke arah mereka, setelah sebelumnya melakukan penyisiran kembali di sekitar area terdekat hingga beberapa ratus meter jauhnya.

"Lapor, pak. Tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Dygta, atau apapun yang berhubungan dengan dia. Dua tim sudah memastikan di sepanjang aliran sungai maupun kedalam hutan di dekatnya. Kemungkinan Dygta terbawa arus hingga ke lembah di bawah." pria itu berujar.

Arfan memejamkan mata sejenak. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Terbayang bagaimana tubuh gadis itu terombang-ambing arus sungai bercampur material hutan.

"Maka, lakukan pencarian hingga ke lembah paling bawah." Arfan memerintahkan.

"Bayak tempat yang tidak bisa dijangkau, pak. Air bah dari sungai memutus semua akses jalan." tukas pria yang bertugas sejak subuh hari itu, menjelaskan.

"Maka tugasmu membuat segalanya menjadi mungkin dan bisa di akses kembali!" Arfan merangsek ke hadapan bawahannya itu.

"Baik pak." jawab pria tersebut, seraya menelan ludah dengan cepat. Berhadapan dengan dua pria panik dihadapannya serasa tengah menghadapi singa yang tengah mengamuk. Terutama Arfan, sungguh mengerikan, pikirnya.

"Bagaimana dengan alat berat? apa sudah bisa di datangkan?" Satria menyela.

"Sedang dalam proses perjalanan, pak. Dari pihak pemerintah sudah datang satu alat berat tadi subuh. Dari kita sebentar lagi sampai."

Satria mengangguk-anggukkkan kepala.

"Mohon Ijin, pak." Arfan beralih kepada Satria.

"Ya?"

"Saya meminta Ijin untuk menggunakan helikopter kita untuk melakukan pencarian melalui udara." Arfan yang baru saja mendapat ide.

"Lakukanlah kalau memang itu diperlukan, bukankan kamu juga memiliki wewenang yang sama denganku?" jawab Satria, menyetujui.

"Baik pak. Segera saya laksanakan."

Arfan pun melakukan panggilan dengan ponselnya.

Dan kurang dari satu jam, benda yang dimaksud telah tiba. Lalu mendarat sebentar di permukaan bukit yang terbuka di atas perkemahan.

"Kalian, terus lakukan penyisiran lewat darat, sementara aku, akan melakukan dari udara." ucap Arfan sebelum menaiki helikopter yang baru saja tiba.

Lalu benda tersebut kembali terbang menjauh.

Arfan mengenakan headset untuk meredam kebisingan dari mesin terbang tersebut, lalu menyalakan beberapa alat yang terhubung dengan ponselnya. Kemudian alat tersebut menyala, menampilkan satu titik merah yang beekedip-kedip. Diatasnya muncul angka-angka dan huruf yang menunjukkan titik koordinat terdekat. Dia melacak sinyal dari ponsel Dygta yang mungkin saja masih menyala.

"Seharusnya masih bisa dilacak jika ponselnya tidak hancur." Arfan bergumam pada dirinya sendiri. Dia merasa beruntung Satria menyarankannya untuk menyadap ponsel milik gadis itu, meski dirinya harus mengetahui banyak rahasia yang seharusnya tak dia ketahui tentang putri dari atasannya tersebut.

Helikopter terbang berputar-putar di beberapa tempat. Melayang diatas hutan dan sungai yang memungkinkan untuk dilewati Dygta saat gadis itu terbawa arus.

Dan tanpa disangka, setelah sekitar satu jam berlalu, layar pada alat pelacak ditangannya berbunyi 'bip' beberapa kali, yang menunjukkan bahwa ponsel milik Dygta ada di sekitar area di bawah helikopter.

Raut wajah Arfan berubah, satu sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Satu harapan kembali hadir setelah hampir hilang ditelan keputusannya asaan.

Arfan menajamkan pandangannya ke area daratan dibawah. Dan terus berharap ada jejak gadis itu disana.

Matanya menangkap pantulan menyilaukan dari sebuah benda yang tertimpa cahaya matahari yang mulai memanas di tepi sungai.

Arfan memicingkan mata. Lalu memberi isyarat kepada sang pilot untuk merendahkan jarak terbangnya. Pria di balik kemudi tersebut menurut, dia menurunkan ketinggian.

Kedua bola mata Arfan membulat denga binar sempurna ketika pandangannya menangkap benda yang dia kenali sebagai ponsel. Lalu dia kembali mengisyaratkan untuk lebih merendahkan lagi helikopter yang ditumpanginya.

Seorang co-pilot memasangkan sebuah sabuk dengan tali yang sangat panjang pada tubuh Arfan. Lalu memastikan semuanya aman untuk pria itu agar dia bisa turun dari ketinggian karena helikopter tak dapat mendarat di area tersebut.

Arfan mendarat dengan sempurna di pinggiran sungai yang agak landai, lalu melepaskan sabuk bertali yang kemudian segera di tarik oleh pria di atas sana. Dan helikopterpun kembali terbang di ketinggian.

Dia kemudian kembali memusatkan pandangannya pada area dimana dia melihat pantulan cahaya dari benda yang diyakininya sebagai ponsel milik Dygta. Lalu berjalan mendekat.

Sebuah benda pipih yang dipenuhi lumpur hampi mengering tergeletak begitu saja diatas tanah. Arfan membungkuk untuk meraihnya. Dan benar saja, benda tersebut adalah ponsel milik Dygta yang dia berikan beberapa minggu yang lalu. Sungguh sebuah keajaiban benda tersebut tidak hancur atau menghilang terbawa arus sungai yang begitu deras.

Lagi-lagi, dirinya merasa beruntung memberikan ponsel yang sama seperti miliknya. Yang memiliki kecanggihan teknologi lebih dari ponsel lainnya.

Arfan mendongak untuk meneliti sekitar. Bibir sungai yang landai, dengan hutan yang cukup rapat di hadapannya. Apa mungkin gadis itu selamat? Dan memang itu yang dia harapkan.

"Dygta!" Arfan mencoba memanggil, berharap gadis itu masih ada disana.

Namun sepi. Hanya suara binatang hutan yang terdengar menyahut.

"Dygta!" panggilnya lagi, lalu dia mulai berjalan masuk kedalam hutan.

***

Kelopak mata Dygta bergetar, lalu terbuka ketika mendengar suara asing yang begitu keras ditelinganya. Dia mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.

Gadis itu mengangkat kepalanya untuk melihat keadaan. Namun kembali dia telungkupkan ketika merasa kepalanya begitu berat dan sakit. Diapun merasakan suhu tubuhnya meningkat tajam.

Suara bising itu terdengar menjauh, lalu hutan kembali hening. Dan Dygta kembali merapatkan matanya, memeluk dirinya sendiri semakin erat ketika rasa dingin semakin membuatnya tak berdaya. Sambil berharap seseorang menyadari ketiadaan dirinya di perkemahan, dan akan mencari kemudian menemukannya di tempat tersebut.

Dygta kembali menangis. Dia menyesali kecerobohannya kali ini.

"Dygta!" sayup-sayup gadis itu mendengar ada suara yang memanggil. Namun dia tidak yakin. Dygta malah semakin merapatkan tubuhnya yang menggigil.

"Dygta!" suara itu kembali terdengar.

Gadis itu menajamkan pendengaran.

"Dygta!" kemudian beberapa suara lainnya kembali terdengar dari segala arah. Dia mengangkat kepala.

Terdengar suara gemerisik rerumputan seperti bergesekan terkena sesuatu benda yang bergerak mendekat. Dan suara ranting yang berderak diinjak sesuatu.

"Dygta!" suara-suara itu semakin dekat.

Gadis itu bangkit, berusaha menjawab panggilan dengan suaranya yang parau hampir tak terdengar.

Matanya mengedarkan pandangan ke segala penjuru hutan. Dedaunan terlihat bergerak lalu muncul seseorang yang dia kenal dari kejauhan.

"Om Arfan!" suaranya pelan dan parau.

Pria tersebut masih belum menyadari keberadaannya. Begitu juga beberapa orang lainnya yang muncuk kemudian.

"Om Arfan!" panggilnya lagi, namun belum mampu membuat pria didepan sana mendengarnya.

Dygta meraih ranting berdaun lebat di depannya, lalu menggerak-gerakkannya untuk mendapatkan perhatian. Dan upayanya berhasil. Beberapa orang menoleh, kemudian ada yang mendekat.

"Dygta?" ucap Arfan, begitu dia menyadari seseorang yang tertelungkup di dahan sebuah pohon besar di depannya. Dengan Sekujur tubuhnnya yang dipenuhi luka dan lumpur. Seketika membuat hatinya berdenyut nyeri.

Gadis itu tak dapat menjawab, namun tangisnya segera pecah setelah Arfan mendekat. Yang kemudian mengulurkan tangan.

Tanpa banyak kata lagi, pria itu meraup tubuh Dygta, lalu membawanya turun. Dan segera keluar dari hutan setelah memanggil helikopter untuk kembali dan membawa mereka ke tempat aman.

***

Arfan tak melepaskannya sedikitpun selama dalam perjalanan. Dia terus memeluknya dengan erat. Dengan perasaan ngilu, dia mengusap punggung Dygta dengan lembut. Sesekali mengecup puncak kepala gadis itu dan mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja.

Dygta mengeratkan kedua tangannya pada tubuh Arfan, dan membenamkan wajahnya pada dada bidang pria itu dengan isakan yang tak mau berhenti.

*

*

*

*

Bersambung ...

Akhirnya ketemu juga. Ah, ... lagaaa rasanya.

mau juga dipeluk.😅😅

1
Ruwi Yah
digempur terus tanpa kenal waktu hamil pastinya
Ruwi Yah
gunung es Himalaya yg hot nikah 2x dapat virgin semua
Borahe 🍉🧡
Sepertinya Bayinya Arfan membencimu Lex😂😂😂
Borahe 🍉🧡
Emang gitu ta klo nikah sama" cintanya besar maka bercinta nya versi ugal ugalan🤣🤣🤭
Borahe 🍉🧡
ih Arfan Malu ih. Bercinta Nya kedengaran 🤭
Borahe 🍉🧡
Arfan keren sih. Jentelmen
Borahe 🍉🧡
Andra thor
Borahe 🍉🧡
Bener. Hubungan Dygta dan Arfa menurut aku sangat salah.. Bahkan mereka sampai bercerai
Borahe 🍉🧡
Heh
Borahe 🍉🧡
Arfan ini cekatannya seperti sekretaris Han😍
Fikri Adira: habis ini balik ke daniah saga😁
total 1 replies
Borahe 🍉🧡
😄😄😄
Bita Bita
jatuh cinta berulang ulang sama cerita ini ❤️
Bita Bita
❤️❤️❤️❤️
Inar's
bagus bgt
Ruwi Yah
ide bagus dygta
Ruwi Yah
hadir lagi mak fit sambil nunggu mas ale upl
Ruwi Yah
mau gimana lagi cinta mengalahkan segalanya ya dy
Ruwi Yah
ujian rumah tanggamu om arfan
Ruwi Yah
bikin gemes dengan kebucinan pasangan ini
Ruwi Yah
cuma baca tapi ikutan berkedut mak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!