NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

Bab 21: Racun dalam Cawan Emas.

​Kepergian Elina dan Clarissa dari The Fortress beberapa jam lalu ternyata hanyalah sebuah mundurnya bidak catur untuk menyusun serangan yang lebih mematikan. Di sebuah vila mewah yang tersembunyi di kaki bukit, Elina duduk dengan segelas wine di tangannya. Amarahnya belum padam; penghinaan Sania di depan Alaska adalah luka yang tidak bisa dimaafkan.

​"Dia harus pergi, Clarissa. Bukan hanya pergi, tapi hilang tanpa jejak," desis Elina.

Matanya menyipit menatap layar ponsel yang menunjukkan jadwal keberangkatan Alaska ke Singapura untuk urusan logistik senjata malam ini.

​"Tapi Alaska menjaganya dengan ketat, Tante," keluh Clarissa sambil mengoleskan lipstik merah menyala.

"Para pengawalnya seperti anjing pelacak."

​Elina tersenyum licik.

"Setiap benteng punya celah, dan celah itu adalah aku. Aku ibunya. Aku tahu kode protokol darurat yang bahkan pengawal pribadinya tidak berani membantah jika aku yang memerintah."

​Malam itu, badai mulai turun membasahi perbukitan. Alaska, meski berat hati, harus meninggalkan benteng untuk pertemuan darurat selama enam jam di luar kota. Ia telah melipatgandakan penjagaan di depan kamar Sania. Namun, ia tidak memperhitungkan bahwa musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang memiliki hubungan darah.

​Satu jam setelah helikopter Alaska lepas landas, Elina muncul di gerbang utama. Ia tidak datang dengan amarah, melainkan dengan wajah penuh kecemasan yang dibuat-buat.

​"Buka pintunya! Ini darurat medis! Alaska mengalami kecelakaan di perjalanan!" teriak Elina pada kepala pengawal.

​Dalam kepanikan dan rasa hormat pada ibu sang bos, para pengawal goyah. Elina memanfaatkan momen itu untuk masuk ke dalam. Ia memerintahkan sebagian besar penjaga untuk segera menuju koordinat palsu tempat "kecelakaan" Alaska terjadi. Di bawah tekanan perintah sang ibu pemilik benteng, mereka patuh.

​Kini, koridor menuju kamar Sania hanya dijaga oleh dua orang yang nampak bingung. Elina melangkah dengan pasti, diikuti oleh dua orang pria berbadan tegap yang bukan pengawal benteng, melainkan orang bayaran pribadinya.

​"Buka pintunya!" perintah Elina dingin.

​"Tapi Tuan Alaska melarang..."

​"Nyawa putraku sedang dipertaruhkan dan kau masih memikirkan izin?" Elina membentak. "Buka, atau aku pastikan kau tidak akan melihat matahari besok!"

​Pintu kamar terbuka. Sania sedang bersujud di atas sajadahnya saat pintu itu terbanting ke dinding. Ia menyelesaikan salamnya dengan tenang, lalu berdiri menghadapi badai yang masuk.

​"Nyonya Elina," ucap Sania, suaranya tetap lembut meski jantungnya berdegup kencang.

Ia segera merapikan cadar hitamnya yang sempat sedikit longgar.

​"Simpan bicaramu, Benalu!"

Elina memberi isyarat pada dua anak buahnya.

"Bawa dia. Jangan biarkan ada suara. Jika dia melawan, buat dia pingsan."

​Sania mundur selangkah, tangannya meraih mushaf kecil di meja samping tempat tidur.

"Nyonya, melakukan ini saat putra Anda tidak ada adalah tindakan seorang pengecut. Apakah Anda begitu takut pada kebenaran yang saya ucapkan tadi pagi?"

​"Aku tidak takut padamu, aku jijik padamu!"

Elina mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari cadar Sania.

"Kau telah mencuci otak putraku. Kau membuatnya membangkang pada ibunya. Sekarang, kau akan pergi ke tempat di mana tidak ada seorang pun bisa menemukanmu. Dermaga gelap adalah tempat yang cocok untuk wanita misterius sepertimu."

​Salah satu pria bayaran Elina maju dan mencengkeram lengan Sania. Sania mencoba memberontak, namun tenaga pria itu terlalu kuat. Sebuah sapu tangan berbau kloroform ditempelkan ke wajahnya.

​"Sebutlah nama Tuhanmu sekarang, Sania," bisik Elina dengan senyum kemenangan. "Karena setelah ini, Tuhanmu pun akan kesulitan mencarimu di dasar laut."

​Pandangan Sania mengabur. Dunia di sekitarnya berputar. Namun, sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia sempat membisikkan doa di balik kain hitamnya. Ia tidak meminta keselamatan nyawanya, ia meminta agar hatinya tetap teguh.

​Sania diseret keluar melalui pintu belakang, dimasukkan ke dalam mobil van hitam yang sudah menunggu. Elina menatap kepergian mobil itu dengan kepuasan yang tak terhingga. Ia segera memerintahkan pelayan untuk membersihkan kamar itu, menghapus semua jejak keberadaan Sania seolah wanita itu tidak pernah ada di sana.

​"Bersihkan semuanya. Jangan biarkan ada satu helai benang pun tertinggal. Jika Alaska pulang, katakan wanita itu melarikan diri karena takut akan serangan Dante susulan," perintah Elina pada pengawal yang tersisa, yang kini telah ia suap dengan uang dalam jumlah besar.

​Di dalam mobil van yang melaju kencang menembus hujan, Sania terbaring lemah. Tangannya masih memegang erat mushaf kecilnya. Di balik kegelapan obat bius, jiwanya tidak merasa terpenjara. Ia tahu, bahwa sejauh apa pun manusia membawanya pergi, ia tidak akan pernah benar-benar tersesat selama ia membawa "Cahaya" di dalam dadanya.

​Sementara itu, di udara, Alaska merasa dadanya sesak. Ada firasat buruk yang menghantam jantungnya lebih keras daripada turbulensi helikopter. Ia meraih ponselnya, mencoba menghubungi sistem keamanan kamera di kamar Sania, namun layar itu hitam. Seseorang telah mematikannya.

​"Putar balik!" teriak Alaska pada pilotnya. "Sekarang!"

​"Tapi Tuan, badai..."

​"Aku bilang putar balik atau aku tembak kepalamu!"

​Alaska menyadari, benteng terkuat yang ia bangun bukan lagi untuk melindungi nyawanya, melainkan untuk melindungi satu-satunya cahaya yang tersisa di dunianya yang gelap. Namun, ia terlambat menyadari bahwa pengkhianat terbesar seringkali memakai wajah yang paling kita kenali.

​Di dermaga tua yang sepi, van hitam itu berhenti. Elina telah merencanakan agar Sania dikirim ke luar negeri menggunakan kapal kargo gelap, untuk dijual sebagai budak atau dibuang ke pulau terpencil. Baginya, Sania hanyalah sampah yang harus dibersihkan dari jalur kesuksesan Alaska.

​Namun, di tengah ketidaksadarannya, jemari Sania bergerak. Tasbih yang melilit di pergelangan tangannya seolah menjadi pengingat bahwa badai duniawi setinggi apa pun tak akan mampu menenggelamkan jiwa yang telah berserah.

__Mata manusia mungkin bisa merancang rencana di kegelapan, namun rencana Tuhan selalu bekerja di atas cahaya. Pengkhianatan bisa mencuri ragamu dari sebuah tempat, tapi ia tak akan pernah bisa mencuri iman dari dalam jiwamu. Karena sejatinya, siapa yang menjaga hubungannya dengan Sang Pencipta, maka Sang Pencipta-lah yang akan menjadi penjaga baginya di saat seluruh dunia mencoba membinasakannya__

​Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!