NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1. Raina

Jam 05.30 terdengar bunyi alarm memekakkan telinga di sebuah kontrakan kecil 1 kamar, ruang tamu,dapur mini dan kamar mandi. Membangunkan seorang gadis yang baru saja terlelap bangun dan membuka matanya.

"Astaghfirullah... Aku ketiduran" Panik gadis itu.

" Huff... Untung saja aku selalu memasang alarm "Guman gadis itu yang di ketahui bernama Raina Anjani.

Gadis pekerja keras namun memiliki sifat introvert itu adalah anak pertama dari 6 bersaudara.

Memiliki seorang bapak yang keras dan kolot hingga membuat Raina tak betah tinggal di rumah dan memutuskan untuk tinggal sendiri.

Ibunya bernama Tutik, dia seperti ibu pada umumnya. Baik dan penyayang, namun terlalu pasrah saat sang suami emosinya meledak-ledak. Menurutnya diam dan pasrah adalah jalan satu satunya untuk tetap bertahan.

"Aduh kepalaku pusing" Keluh Raina sambil memijat pangkal hidungnya.

"Sepertinya aku berhenti saja kerja shift malam, bisa bisa aku mati muda kalo terus terusan kurang istirahat dan tidur. Aku akan fokus saja di warung dan affiliate" Ucap Raina sambil melipat mukenahnya.

Ya Raina salama ini bekerja di dua tempat sekaligus. Dulu setelah lulus SMA dia bekerja sebagai OB di sebuah perusahaan, dan saat malam ia bekerja di sebuah minimarket 24jam.

Namun 2 tahun yang lalu dia mencoba peruntungan menjadi seorang affiliate, dan Alhamdulillah keuangannya semakin membaik dan dia bisa membuka warung makan sederhana, meninggalkan pekerjaannya sebagai OB.

Tapi tak banyak yang tau bahwa Rainalah yang memiliki warung makan itu, mereka hanya tau kalau Raina bekerja di sama.

Raina bangkit perlahan dari sajadahnya, menyingkap tirai tipis yang mulai pudar warnanya. Cahaya pagi yang samar menyelinap masuk, membentuk garis-garis lembut di lantai keramik yang sudah mulai kusam. Kontrakan kecil itu mungkin jauh dari kata nyaman, tapi bagi Raina, tempat itu adalah satu-satunya ruang di mana ia bisa bernapas tanpa tekanan.

“Semoga hari ini lancar…” gumamnya lirih, lebih sebagai doa daripada harapan.

Ia berjalan ke dapur mini, menyalakan kompor kecil yang sudah menemaninya sejak awal merantau. Aroma kopi sachet mulai memenuhi ruangan, sederhana tapi cukup untuk membuat matanya sedikit lebih hidup. Di tengah kelelahan yang menumpuk, Raina selalu berusaha menjaga rutinitas kecil seperti ini agar pikirannya tidak runtuh begitu saja.

Sesekali bayangan tentang keluarga di rumah mampir di kepalanya—tentang adik-adiknya yang masih sekolah, tentang ibunya yang tak pernah benar-benar bisa membela diri, dan tentang ayahnya yang keras seperti batu. Tekanan itu seringkali membuat dada Raina sesak, tapi justru karena itu ia bertahan: kalau bukan dia, siapa lagi?

Sambil meneguk kopi, ia membuka ponselnya, mengecek dashboard affiliate dan pesanan warungnya yang masuk semalam. Saat angka-angka itu bergerak, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Pelan-pelan… yang penting aku tetap jalan,” batinnya.

Baginya, hidup bukan soal cepat atau lambat—yang penting tidak berhenti.

Raina baru saja menikmati hangatnya kopi ketika ponselnya bergetar pelan. Nama Nisa muncul di layar—adiknya yang paling sering menghubunginya diam-diam ketika rumah sedang tidak baik-baik saja.

Raina menjawab cepat.

“Halo, Sa? Kenapa?”

Suara Nisa langsung terdengar pelan dan lelah.

“Mbak… Bapak dari tadi ngomel terus. Gara-gara teras belum disapu. Padahal baru jam segini, kita semua baru bangun…”

Raina menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak. “Ngomelnya parah?”

“Parah, Mbak… dari tadi muter-muter nyalahin kita semua. Katanya kita anak nggak berguna lah… rumah berantakan lah… Ibu diem aja, cuma bilang biarin aja nanti juga reda.”

Ada jeda. Lalu terdengar suara serak:

“Aku capek banget, Mbak…”

Ucapan itu menusuk Raina lebih dalam daripada yang ia harapkan. Tidak ada bantingan barang, tidak ada kekerasan fisik—tapi ocehan bapaknya, yang panjang dan tak henti-henti, kadang lebih menyakitkan. Lebih melelahkan.

“Nisa… sabar ya.” Suara Raina ikut melembut, meski dadanya menegang. “Bapak memang gitu. Kalau udah mulai ngomel, susah berhentinya. Tapi kamu jangan dimasukin hati, ya?”

“Gimana nggak masuk hati, Mbak…” suara Nisa gemetar. “Tiap hari selalu ada aja yang salah…”

Raina menatap ruangan kontrakannya—sempit, sederhana, tapi sunyi. Tidak ada teriakan. Tidak ada ocehan panjang yang membuat kepala pening sejak subuh.

“Maaf ya, Sa… Mbak belum bisa ajak kalian tinggal di sini. Tapi Mbak lagi nabung. Sedikit lagi. Kamu tahan dulu sebentar, ya?”

Hening beberapa detik, sebelum Nisa menjawab lirih, “Iya… aku ngerti kok, Mbak.”

“Udah, kamu siap-siap sekolah. Jangan lupa sarapan.”

“Iya… makasih ya, Mbak.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Telepon berakhir, tapi sesak di dada Raina justru semakin terasa.

Ia meletakkan ponsel itu perlahan, menatap kopi yang sudah mulai dingin. Setiap kali mendengar keluhan adik-adiknya, rasa bersalah dan tekadnya bercampur jadi satu. Ia ingin mereka merasakan hidup yang lebih tenang, lebih damai… tidak seperti yang ia rasakan dulu.

“Sedikit lagi…” gumamnya, lebih seperti janji pada dirinya sendiri. “Aku bakal keluarin mereka dari rumah itu. Aku janji.”

Dengan napas yang lebih berat tapi langkah yang lebih mantap, Raina bangkit untuk memulai hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!