NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 Kembang Api Seperti, Minyak di Permukaan Air

Ketika suara paduan suara mulai mereda, tanda puncak acara semakin dekat, orang-orang berbondong menuju bukit.

Lapangan perlahan kosong, kios-kios ditinggalkan, hanya lampu minyak yang masih bergoyang oleh tiupan angin.

Raka menoleh padaku, wajahnya masih memerah tapi matanya jernih. "Mir," katanya pelan,

"ayo kita cari tempat lain. Dari bukit semua orang akan melihat kembang api, tapi aku tahu satu tempat yang lebih indah… lebih tenang."

Aku menatapnya ragu. "Tempat apa?"

Ia tersenyum samar, lalu menunjuk jauh. "Air terjun. Orang-orang jarang ke sana. Karena gelap sana, kita bisa lihat kembang api lebih baik lagi."

Dimas menoleh sebentar, polos. "Abang, beneran mau ninggalin kios? Nanti kalau ada yang cari wine-nya, gimana?"

Ibunya hanya tersenyum, menepuk bahu Dimas. "Kan ada Ade yang temenin bunda. Lagian, orang-orang pasti pada berangkat ke bukit kan? Ade bantuin bunda beberes ya."

Akhirnya kami berjalan meninggalkan kios, melewati jalan setapak yang gelap.

Lampu minyak semakin jarang, digantikan cahaya bulan yang menetes di sela pepohonan.

Suara festival perlahan menjauh, berganti dengan gemuruh air yang semakin dekat.

Langkah kami berderak pelan di jalan setapak, tanah lembap berbau daun basah. Bulan menggantung di atas pepohonan, cahayanya jatuh seperti serpihan kaca di antara ranting.

Raka berjalan di sampingku, sesekali menendang kerikil kecil. Jemarinya masih sibuk memainkan tepi kain bajunya, seakan mencari cara untuk menyalurkan gugup.

"Mir, aku jadi kepikiran," katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara gemuruh air yang mulai terdengar. "Kamu nggak apa-apa ninggalin kios?"

Aku menggeleng. "Gak apa-apa kok, ada bapak sama ibu. Lagian malam ini… aku cuma ingin lihat kembang api."

Raka tersenyum samar, matanya menunduk. "Syukur deh. Aku juga mau lihat, api bukan cuma kembang api."

Ia berhenti sebentar, lalu menatap ke arah jalan gelap di depan. "Kadang aku ngerasa… kalau aku lagi lihat sesuatu yang indah, aku pengen ada kamu di sebelah-."

Aku terdiam, langkahku melambat. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa berat di dada.

Raka buru-buru menambahkan, suaranya agak gugup, "Maksudku… biar ada yang ngerti juga vibes nya kayak gimana. Soalnya kalau sendirian, gak asik."

Aku menoleh, menatap wajahnya yang memerah. Senyum tipis muncul di bibirku. "Aku ngerti kok, Rak."

Kami kembali melangkah, suara air terjun semakin jelas, bergema seperti nyanyian alam. Di antara gemuruh itu, percakapan kecil kami terasa seperti rahasia yang hanya dimiliki malam.

Raka menunduk lagi, suaranya nyaris berbisik. "Mungkin nanti kalau kembang api meledak di langit, aku nggak akan lihat ke atas dulu. Aku mau lihat ke kamu."

Aku tidak menanggapi bisikannya, hanya fokus pada jalan setapak dan berpura-pura tidak mendengar apapun.

Pepohonan membuka jalan, dan suara air terjun terdengar jelas, seperti panggilan yang menuntun kami.

Aku menunduk, membiarkan bisikan Raka tadi menetap di benak. Ada rasa hangat yang sulit kujelaskan, bercampur dengan kenangan yang tiba-tiba muncul.

"Dulu," kataku pelan, tiba-tiba, hampir tenggelam oleh suara air,

"waktu kecil aku selalu diajak bapak dan ibu ke lapangan saat festival. Mereka suka duduk di kursi bambu, sementara aku duduk di pangkuan ibu."

Raka menoleh, matanya jernih meski wajahnya masih memerah seakan tengah menahan mabuk. Ia tidak menyela dan hanya mendengarkan.

"Bapak dari dulu itu selalu berdiri tegak, jarang bicara. Tapi aku tahu, dari cara dia menatap langit dan kembang api, dia orang yang perduli. Kalau ibu… memang suka tersenyum. Senyumnya bikin aku percaya kalau semua baik-baik saja."

Aku menarik napas panjang, suara air terjun semakin dekat, bercampur dengan kerinduan yang menekan dada.

Aku berhenti sejenak di jalan setapak, menatap cahaya bulan yang jatuh di sela pepohonan.

"Sekarang, rasanya aku ingin membawa mereka ke sini. Biar mereka tahu… meski aku nggak sebesar Rerindang, aku masih mencoba tumbuh. Masih mencoba memberi sesuatu."

Kami melangkah lagi, dan akhirnya pepohonan terbuka. Air terjun itu tampak di depan, kilau basahnya memantulkan cahaya bulan.

Gemuruhnya bergema, seakan menyiapkan panggung untuk kembang api yang sebentar lagi akan meledak di langit.

Aku berdiri di tepi batu, merasakan percikan air yang dingin. Di sini, di antara suara alam dan kenangan masa kecil, aku merasa seakan lingkaran itu kembali utuh napas bapak, senyum ibu, dan langkahku sendiri menyatu dalam satu tarikan malam.

Menunduk, aku melihat wajahku tercermin di air yang berkilau oleh cahaya bulan. Bayangan itu tampak rapuh, seakan bisa pecah kapan saja oleh arus.

Raka berdiri di sampingku, diam sejenak. Jemarinya menggenggam kain bajunya, lalu ia menarik napas panjang.

"Mir…" suaranya pelan, hampir tenggelam oleh gemuruh air. "Ada sesuatu yang aku mau bilang."

Aku masih menatap cerminan wajahku. Dan tiba-tiba, dari permukaan air itu, aku melihat kilau lain.

Cahaya merah, lalu hijau, lalu emas. Bayangan wajahku pecah oleh warna-warna yang meledak di langit.

Kembang api sudah dimulai, tercermin pertama kali bukan di langit, tapi di bayangan air, tepat di balik wajahku.

Aku mengangkat kepala, menatap ke atas. Dentuman keras menggema, menggetarkan udara. Cahaya kembang api menyebar, jatuh ke pepohonan, lalu memantul di percikan air terjun.

Raka menoleh cepat, matanya berkilau oleh cahaya itu. Ia membuka mulut, mencoba melanjutkan, "Aku… aku sebenarnya-,"

*Boom!*

Ledakan kali ini memotong kalimatnya. Suara dentuman memenuhi langit, membuat kata-kata Raka hilang ditelan gemuruh.

Aku menatap kembang api, semua warna berjatuhan di atas air terjun. Dadaku berdebar, bukan hanya karena dentuman keras, tapi juga karena keindahan yang terasa begitu dekat.

"Wah!! Lihat, Raka. Lihat! Kembang api nya udah mulai." aku berseru, mataku berbinar mengikuti cahaya yang meledak di langit.

"Wah~, Airnya ikut berwarna-warni. Kayak di film-film." Kataku yang gembira, hingga hampir terpeleset jatuh.

Raka tersenyum samar, matanya tetap menatapku, bukan ke atas. Aku menoleh padanya, masih dengan senyum penuh semangat.

"Tadi kamu mau bilang apa? Sebelum kembang api mulai." Tanyaku memastikan.

Raka terdiam, dentuman berikutnya kembali menggema, membuat wajahnya tersamarkan oleh kilau cahaya.

Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Senyumnya berubah jadi canggung.

"Ah… nggak penting, Mir," katanya akhirnya, suaranya pelan, yang kalah oleh gemuruh air dan ledakan kembang api.

"Nanti. Kalo sekarang… kita lihat kembang api aja.”

Aku menatapnya lama, mencoba membaca sesuatu dari matanya. Tapi ia sudah kembali menengadah, pura-pura sibuk mengikuti warna-warna yang meledak di udara.

Aku menarik napas, lalu ikut menatap langit. Dentuman demi dentuman terus bergema, dan aku membiarkan pertanyaan itu tersimpan di udara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!