HIATUS
"Pilihlah masa depanmu, dan yakinlah ada aku di dalamnya..."
Sekarang Luna sudah punya pacar! Bagaimana rasanya mendapatkan apa yang selama ini dia idam-idamkan?
Season 1 sudah tamat.
Luna, seorang siswi SMA biasa. Kehidupan sekolah yang biasa. Teman-teman yang biasa. Tidak ada yang spesial. Yang berbeda cuma kenyataan bahwa ia memiliki 4 orang adik laki-laki. Adik-adik usil ini selalu menggagalkan rencana kisah cinta SMA nya.
Bak cerita Cinderella yang selalu diganggu kakak tirinya, Luna selalu diisengin adik kandungnya.
"Dek,,, pleaseeeeee,, biarin kakak pacaran sekali aja!" ~Luna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewiluna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Karma
Kak El marah sama gue gitu?
Luna menscroll riwayat pesannya dengan kak El.
Good night, sweet dreams Luna..
"Tapi semalem dia kirim pesan, tuh." Luna mulai menggumam-gumam kecil, membuat Jessika yang duduk di sebelahnya mulai tertarik.
"Ngeliatin apa sih, Lun, dari tadi ga beres-beres..."
"Gapapa..." Luna menyimpan ponselnya karena guru sudah menunjukkan batang hidungnya. Menyimpan rasa penasarannya untuk beberapa jam ke depan.
***
"Lun, elo mau ikutan kita ke perpus?" Jessika dan Luna sedang berjalan beriringan menuju tempat parkir.
"Engga ah. Gue udah ke perpus kemaren."
"Yakin?" Tyo tiba-tiba muncul di belakang Luna. "Elo marah sama gue ya?"
Tyo memberikan sekotak susu cokelat ke Luna. "Buat gue?"
Tyo mengangguk. "Elo kan udah minum jus mangga, tadi."
Yang disukai nomor dua setelah jus mangga bagi Luna adalah susu cokelat. Dia pernah mencoba menggabungkan keduanya, tapi rasanya jadi aneh. Lebih baik mereka berpisah. Diminum terpisah, maksudnya.
"Makasih." Luna menyimpannya di tas.
"Udah ga marah lagi kan?" Tyo bertanya lagi.
Gue udah kasih sogokan, tuh.
"Enggaaaaaaa.... Gue ga marah, gue cuma lagi ada urusan sekarang. Yuk ah, duluan." Luna berjalan pergi meninggalkan Tyo dan Jessika.
Setelahnya, Luna mengambil jas kak El yang ada di laundry. Luna sengaja baru mengambilnya karena uangnya belum cukup buat menebus jas itu. Dia bisa aja nekat tebus, dengan resiko dia harus puasa.
Tapiiii, karena sekarang sesi hukuman Bunda sudah selesai dan uang jajannya kembali normal, Luna bisa mengambilnya tanpa masalah ekonomi.
"Dari tadi pending terus." Luna menatap ponselnya saat sedang menaiki angkot menuju kantor ayahnya.
Luna menempelkan ponselnya ke telinga, mencoba menelepon El. Tapi nihil.
Kenapa sih? Gue di block gitu?
Luna akhirnya sampai di depan gedung kantor setelah naik angkot yang kemudian disambung naik ojek.
Sungguh menghabiskan uang dan tenaga. Gue ga bisa jajan di kantin nanti kalau begini caranya.
"Maaf, saya mau ketemu sama Pak El," ucap Luna saat dia sampai di meja resepsionis.
Dahi si resepsionis mengkerut sebentar, tapi kemudian dia lanjut bertanya, "Pak El di bagian apa ya?"
Luna berpikir sejenak, "Manajer pemasaran."
Tampak sang resepsionis cantik itu kaget sesaat sebelum dia menutupinya. "Baik. Sudah ada janji?"
"Belum sih,"
Gimana mau janjian, orang dihubungi ga bisa! Kalau bisa mah dari tadi gue udah ketemuan, ga pake lapor ke si mbak nya.
"Oh, tunggu sebentar ya," Chelsy sang resepsionis, yang namanya baru Luna ketahui setelah melihat papan nama di seragamnya, meraih telepon yang ada di meja kemudian menghubungi seseorang.
Telepon ditutup, dan mbak Chelsy beralih ke Luna. "Maaf dek, Pak El lagi rapat sekarang."
Yahhhhhhhh... Udah jauh-jauh gue dateng!
"Mau nunggu? Atau ada pesan?" Chelsy menunggu jawaban dari Luna.
"Masih lama ga ya mbak kira-kira rapatnya?"
"Saya kurang tau, dek."
Ya iyalah, mana dia tau, Lun...
"Ya udah, saya tunggu aja sebentar, mbak." Luna kembali duduk di kursi lobby dan mengeluarkan ponselnya. Kembali mencoba menghubungi El, tapi lagi-lagi gagal.
Luna memutuskan untuk menunggu sebentar sambil menerawang tidak tentu arah.
Ish! Gini banget sih, udah capek-capek, jauh-jauh, abis duit, malah sia-sia. Jangan-jangan gini juga perasaan kak El waktu jemput gue, tapi gue malah sok-sokan engga butuh. Apa gue lagi kena karma sekarang?
Setelah beberapa menit, Luna memutuskan untuk pulang saja. Dia tidak bisa terlalu lama disini, dia punya aturan jam pulang jam 6, walaupun sekarang Bunda tidak terlalu ketat sejak ada jadwal tambahan di sekolah.
"Maaf mba, boleh titip sesuatu buat Pak El?" Luna mengeluarkan bungkus plastik berisi jas kepada Chelsy. "Titip ini buat Pak El, bilang aja dari Luna."
Dia mengangguk mengerti. "Makasih ya," Luna pun beranjak pergi.
Bersambung..
EPILOG
Nasib... Nasib... Jadi pulang jalan kaki kan gue...
Karma is real, guys...
krn el th, luna pgn kuliah ambil jurusan psikologi.
el mah aneh, smpe g kpikiran bln madu😒😒