Season 1.
Siti,gadis desa yang baru pindah ke kota tanpa sengaja bertemu dengan pria dingin beranak satu tanpa ikatan pernikahan yang bernama Reynand. Sang putri yang sangat menyukai Siti menginginkan papa nya menikahi Siti. Hanya demi sang putri,pria itu akhirnya menikahi Siti. Akan kah Siti bisa mendapatkan cinta dari pria dingin itu yang ternyata masih sangat mencintai ibu dari sang putri? Ini adalah lanjutan kisah cinta Rey dari novel sebelumnya,Cyndia Clara.
Season 2
Menceritakan kisah cinta dari adiknya Siti yang bernama Seno. Kisah cintanya yang rumit hingga harus menjalani pernikahan singkat lalu menikah untuk kedua kalinya dengan gadis yang tidak dia cintai. Hingga dia berusaha untuk bisa mencintai istri keduanya. Ada juga kisah cinta dari anaknya Rey yang bernama Cinta.
Selamat membaca,semoga suka. Jangan lupa dukungannya untuk author berupa like,komen,gift maupun vote.
Terimkasih.
Salam author 💖Jasmine💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Mata Siti tertutup kain hitam saat berada di mobil. Mulutnya di plester. Tangannya pun terikat. Dia sudah tidak lagi menangis. Orang-orang yang membawanya pun tidak ada yang bersuara.
Setelah perjalanan yang cukup lama,Siti merasakan mobil yang membawanya berhenti. Lalu dia di paksa turun. Siti pun menurut saja. Dia di bawa masuk ke suatu rumah atau apa Siti tidak tahu hanya terdengar suara pintu di buka dan di tutup.
Tiba-tiba ada yang mendorong tubuhnya hingga dia jatuh ke lantai.
"Hidupmu sudah enak ya sekarang! Punya suami kaya dan tinggal di rumah mewah! Tapi kebahagiaanmu akan berakhir hari ini! Hahahaa!" Ucap seseorang. Laki-laki dan sepertinya Siti tidak asing dengan suara itu.
"Buka penutup kepala dan mulutnya!" Titah orang itu.
Dengan kasar,seseorang menarik penutup mata dan mulut Siti. Siti kini bisa melihat dengan jelas. "Ka kamu?" Mata Siti membulat demi melihat orang yang duduk di depannya. Pak Agus. Orang yang pernah ingin menikahinya dan selalu mencari gara-gara dengannya.
"Hmm,masih ingat sama saya?"
"Mau apa kamu?" Tanya Siti dengan gaya sok berani. Padahal jantungnya serasa mau lepas dari tempatnya.
"Saya mau mengambil kebahagiaan kamu,Siti! Kamu sudah berani menolak saya,kamu akan tahu akibatnya!"
"Kamu mau bunuh saya? Silahkan saja saya tidak takut mati!" Tantang Siti.
Seorang anak buahnya masuk lalu berbisik-bisik kemudian pergi lagi. Entah apa yang mereka bicarakan.
"Jadi tadi saat kamu di bawa ke sini,kamu memang mau pergi dari rumah ya? Pakai nangis-nangis segala. Sedang bertengkar sama suami kamu ya?" Ucapnya dengan nada mengejek.
"Bukan urusan kamu! Lepaskan saya biarkan saya pergi!"
"Daripada kamu sama suami kamu,mending sama saya!" Dia beranjak dari duduknya mendekat ke arah Siti yang masih bersandar di sudut ruangan. "Saya tidak akan membuat kamu menangis!" Dia menyunggingkan senyum yang mengerikan bagi Siti.
"Mau apa? Jangan dekat-dekat!" Siti mulai merasakan kepala dan perutnya kembali tidak nyaman.
"Sudah begini saja masih sombong kamu! Saya bisa berbuat apa saja sama kamu!"
"Lebih baik saya mati! Bunuh saja saya!"
"Kenapa kamu ingin mati? Karena bertengkar dengan suami kamu,hehh?" Mendekatkan wajahnya hingga tinggal beberapa senti saja.
"Pergii!" Teriak Siti. Tiba-tiba dia sudah tidak bisa lagi menahan dorongan dari dalam perutnya. Hoek hoeekk!
"Plaaakk!! Kurang ajar kamu!" Tamparan sukses mendarat di pipi kanan Siti saat isi perutnya mengenai pakaian pak Agus.
Sambil memegangi perutnya yang mual-mual,Siti pun memegangi pipinya yang terasa panas. Hoek hoeekk! Tubuhnya terasa lemas. Dia juga belum sempat sarapan. "Bunuh saja saya." Desisnya sambil terisak.
"Seto,Roni!" Teriak pak Agus." Siksa dia! Buat dia kehilangan wajah cantiknya!" Titahnya saat orang-orangnya masuk ke ruangan.
"Siap bos!"
Tanpa ampun mereka menyiksa tubuh lemah Siti. Siti hanya bisa menutupi perutnya dengan kedua tangannya. Membiarkan saja bagian tubuh lainnya terkena pukulan orang-orangnya pak Agus. Siti pun tergolek tak berdaya di lantai dengan banyak darah. Matanya terpejam karena terkena pukulan juga. Tapi dia tetap berusaha melindungi perutnya dan masih sempat mengelusnya lembut.
"Eehh sudah! Cukup,cukup nanti dia bisa mati!" Titah pak Agus.
"Masih sadar bos,itu tangannya bergerak-gerak."
"Iya tapi hampir mati! Huuhhh,kalian ini bisa gawat kita!" Bentak pak Agus pada anak buahnya sambil menatap ngeri ke arah Siti.
Hoek hoeekk. Siti makin merasa mual hingga memuntahkan cairan merah.
"Gawat ini!" Pak Agus terlihat pusing.
"Jadi bagaimana bos,jadi kita kurung di sini?" Tanya salah satu anak buah pak Agus.
"Kalau dia mati di sini bisa bahaya kita!" Bentak pak Agus.
"Yah bos kan suruh kita siksa dia! Kan awalnya mau kita kurung saja."
"Dia kurang ajar. Membuang muntahnya ke saya!" Pak Agus membela diri.
"Jadi bagaimana bos? Saya juga tidak mau di penjara jika dia mati!"
"Ya kalian yang di penjara kan kalian yang menyiksanya!"
"Loh kan bos yang suruh!" Protes anak buahnya.
Sementara mereka terus bertengkar,kondisi Siti makin lemah. Hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri.
"Bos,dia tidak bergerak lagi!" Tunjuk anak buahnya ke arah Siti. Mereka semua menoleh ke arah Siti.
"Bagaimana ini? Ayo kalian cek dia masih bernafas tidak!" Titah pak Agus.
Salah satu anak buahnya mendekati Siti,lalu menempelkan jarinya di hidung Siti. "Masih bernafas bos!" Terangnya.
"Kita buang saja di tempat yang sepi!" Saran salah satu anak buahnya." Mumpung dia belum mati di sini!"
"Hmm,kalian angkat dan bawa ke mobil! Kita cari tempat yang sepi untuk membuangnya!"
Dengan cepat,anak buah pak Agus menggotong Siti. Satu orang memegang tangan dan satu orang lagi memegang kaki. Lalu Siti di masukkan ke dalam bagasi mobil dengan tubuh tertekuk.
Mobil meninggalkan rumah tempat Siti di siksa. Melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga tiba di daerah yang sepi yang jarang di lewati kendaraan,tubuh lemah Siti di lempar begitu saja di pinggir jalan. Mereka lalu pergi meninggalkannya sendirian.
***
Rey baru pulang dari kantor polisi. Dia juga menyuruh orang-orangnya untuk mengejar mobil yang di pakai untuk menculik Siti. Sementara dia juga berusaha mencari sendirian.
"Kamu dimana?" Gumamnya. Wajahnya tersirat kesedihan dan penyesalan mendalam. Hari sudah sore tapi belum ada orang suruhannya yang memberikan kabar.
Tiba-tiba handphonenya berdering. Mama calling.
"Hallo ma." Rey.
"Bagaimana,apa sudah ada kabar istri kamu,Rey?" Mama.
"Belum ma." Jawab Rey lirih.
"Hmm,ya sudah nanti kabari mama lagi!" Mama.
Telephon terputus.
Rey melajukan mobilnya tak tahu kemana. Dia hanya mengikuti kata hatinya saja. Hingga tidak terasa mobilnya melaju ke pinggiran kota yang tidak banyak kendaraan yang lewat.
Dari kejauhan dia melihat keramaian. Ah mungkin ada kecelakaan. Pikirnya. Tanpa ada keinginan untuk mencari tahu ada apa di sana.
Hingga matahari mulai terbenam,Siti belum juga dia temukan. Dia kembali lagi ke kota. Berharap ada keajaiban istrinya itu pulang dalam keadaan tak kurang apa pun. Dan berharap janin dalam kandungannya juga baik-baik saja.
***
Sementara Siti sedang berjuang untuk hidup dan matinya. Berjuang untuk janin yang ada dalam kandungannya.
"Bapak,ibu. . ." Siti berlarian mendekati dua orang yang amat dia kasihi,amat dia rindukan.
"Siti,kenapa kamu di sini nak?"
"Siti ingin ikut kalian! Siti tidak mau lagi berada di sana!"
"Kembalilah ke sana nak! Jaga calon cucu kita dengan baik!"
"Tidak mau! Siti mau ikut kalian saja! Apa kalian sudah tidak menyayangi saya?" Siti terisak.
"Kita sangat sayang sama kamu,Siti! Kembalilah ke sana nak! Ada banyak orang yang menyayangimu!"
"Tidak! Tidak ada seorang pun yang menyayangi saya!" Siti makin terisak.
"Kembalilah kesana nak! Kita berdua harus pergi!" Kedua orang itu mulai berjalan menjauhi Siti yang terus terisak dengan tangan memeluk perutnya yang masih rata.
NEXT
200421/
jadi MP y nanggung ya thor?
yg kasian siapa???