Hidup itu penuh dengan pilihan, dan kita diharuskan untuk memilih tapi kita juga diharuskan untuk menerima hasil dari pilihan kita ~ Banyu Biru
Bagaimana perasaanmu jika hanya karena pesan dari mendiang kakekmu yang mengharuskan dirimu menikah diusia dua puluh enam tahun, ibumu menjodohkan dirimu dengan seorang gadis yang sudah memiliki kekasih, karena kekasihmu selalu menolak lamaran darimu.
Banyu Biru, diminta oleh sang ibu untuk segera menikahi kekasih hatinya yang sudah ia pacari selama empat tahun lebih. Tetapi sialnya kekasihnya selalu saja menolak lamaran dari dirinya.
Pada akhirnya ibunda Banyu menjodohkan dirinya dengan seorang gadis cantik yang masih berstatus mahasiswi dan bahkan masih memiliki kekasih, hanya karena Banyu kini sudah berusia dua puluh delapan tahun.
Apakah Banyu dan gadis itu akan menerima perjodohan tersebut?
Atau mereka akan menjalin pernikahan kontrak seperti novel-novel yang sedang booming saat ini?
Simak kisah mereka dalam cerita ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
"Aaaa, JINGGAAAAA!!!"
Jingga menutup telinganya dengan kedua tangan. Suara Riana benar-benar memekakkan telinga. Keyra saja sampai malu sendiri melihat tingkah sahabatnya itu.
"Akhirnya masuk juga lo, kangen gue!" Riana memeluk Jingga dengan erat sembari menggoyangkan ke kanan dan ke kiri.
"Ish, biasa aja kali, Ri. Kayak nggak ketemu dua tahun aja lo," sungut Jingga kesal. Ia melepas paksa pelukan Riana.
"Ya elah, nggak asik lo." Cebik Riana. Keyra hanya bisa geleng kepala di sampingnya. Selanjutnya mereka berjalan bersama menuju kelas.
"Gimana tempat tinggal baru lo Ji?" tanya Keyra. Dua sahabat Jingga itu tentu tahu masalah kepindahannya setelah menikah.
"Lumayan lah. Tempatnya nyaman, lumayan luas juga, rapi, pokoknya nggak kayak apartemennya Riana" jelas Jingga mendapat cebikan dari Riana.
Mereka bertiga mulai membicarakan tentang kehidupan Jingga yang baru. Bertanya layaknya wartawan, dan Jingga menanggapinya dengan penuh semangat. Hingga tanpa sadar mereka telah sampai di depan kelas mereka. Tak lama setelah mereka duduk, dosen pengajar pada jam pertama datang, menghentikan paksa obrolan mereka bertiga.
...
"Pagi Mas Banyu," sapa para karyawan kafe Banyu.
Banyu membalas sapaan mereka dengan anggukan dan senyuman. Pria itu bergegas menuju ruangannya di lantai dua. Ada banyak laporan yang harus segera ia baca. Setelah dua minggu lebih mengabaikan kafe, tentu banyak laporan yang menunggu untuk segera diperiksa.
Waktu menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh. Kikan memasuki kafe milik sahabatnya. Melihat motor Banyu terparkir di depan kafe, Kikan menyegerakan diri untuk menemui bocah itu.
"Udah masuk lo?" Kepala Kikan menyembul dari balik pintu.
Banyu menoleh, menatap Kikan yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Banyu tidak terkejut sama sekali, ia sudah tahu bahwa sahabatnya satu ini suka sekali masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Hanya Kikan saja yang berani melakukan itu, karyawan yang lain sama sekali tidak berani melakukannya.
"Iya, ini aja banyak banget laporan yang musti gue cek. Kalau nambah libur bisa-bisa satu minggu baru selesai ngecekin."
Kikan duduk di depan Banyu. "Mau gue bantuin?" tawar Kikan.
"Nggak usah, lo fokus aja ngurusin depan. Ini biar jadi urusan gue," Tolak Banyu. Pria itu kembali fokus pada laporan yang ada di tangannya.
"Gimana anak-anak waktu gue nggak ada? Ada yang teledor?"
Kikan meletakkan ponselnya. "Ada sih dua anak. Kayaknya mereka karyawan baru, bukan karyawan yang kita ambil dari kafe lain." Kikan mendesah kesal mengingat betapa tengilnya dua karyawan Banyu. "Waktu nggak ada lo, mereka tu santai-santai, kalau disuruh nggak langsung berangkat. Gue tegur malah disepelein, untungnya ada Deva, kalau dia yang negur langsung didengerin. Jadi, beberapa hari ini dia dateng terus, buat mastiin mereka berdua nggak seenaknya sendiri."
Banyu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Nanti lo suruh mereka ke ruangan gue!" Perintah Banyu.
Kikan mengangguk, kemudian pamit keluar untuk mengecek keadaan kafe, karena sebentar lagi akan buka.
...
"Kantin yuk, laper nih!" Riana memegangi perutnya yang sudah mulai keroncongan sejak tadi.
Keyra dan Jingga mengiyakan ajakan Riana. Mereka berdua tahu, Riana tidak boleh terlambat makan, karena gadis itu memiliki riwayat sakit mag. Meskipun Riana sangat menyebalkan, mereka tetap tak mau membiarkan satu sahabat mereka itu sakit.
Tiga gadis itu keluar dari kelas. Mereka bersenda gurau seperti biasa. Terkadang mereka juga berhenti untuk mengobrol sebentar dengan beberapa mahasiswa yang mengenal mereka sejak SMA.
"Jingga!"
Ketiga gadis itu berhenti saat mendengar seseorang memanggil Jingga dari belakang. Mereka menoleh ke belakang, ternyata salah satu teman mereka saat ospek kemarin.
"Kenapa Sil?" tanya Jingga.
"Eh, iya. Selamat ya atas pernikahan lo. Sorry nggak bisa dateng, kemarin ada acara keluarga juga." Gadis itu menatap Jingga dengan perasaan sedikit menyesal. Mereka memang tidak terlalu dekat, apalagi gadis itu berada pada fakultas yang berbeda. Tapi, mereka masih sering bertanya kabar melalui pesan. Jadi, Jingga juga mengundang gadis itu ke acara pernikahannya kemarin. Dan benar, gadis itu memang tidak terlihat saat resepsi kemarin.
"Iya, nggak papa kok, santai aja." Jingga memang tak mempermasalahkan ketidak hadiran beberapa temannya. Ia bisa mengerti, tidak semua memiliki waktu luang untuk menghadiri acaranya.
"Lo mau ke mana, Sil? Kita mau ke kantin nih, barangkali mau bareng sekalian," tawar Keyra.
"Gue mau ke perpus, tugas gue banyak banget yang belum selesai. Kapan-kapan aja kita bareng." Meskipun sebenarnya Silvia ingin sekali ikut, ia tetap tak bisa, karena tugasnya harus segera dikumpulkan.
"Ya udah, lo semangat ngerjain tugasnya. Kita duluan." Mereka bertiga pergi meninggalkan Silvia yang masih berdiri di sana.
Saat perjalanan menuju kantin, ketiga gadis itu berpapasan dengan Kevin. Mereka sempat berhenti sejenak, tetapi Kevin mengabaikan ketiga gadis tersebut. Pria itu melewati mereka tanpa melirik, seakan mereka tidak saling kenal.
Keyra menatap sahabatnya. Mata Jingga terlihat jelas tengah mengikuti arah Kevin pergi. Keyra sangat tahu bagaimana perasaan Jingga pada Kevin. Selama mereka berdua menjalin hubungan, Jingga kerap sekali curhat pada Keyra.
"Udah nggak papa, mas mantan lupain aja," ujar Keyra yang tahu apa yang tengah Jingga pikirkan.
"Suami lo jauh lebih cakep dari dia. Jan sampek lo kehilangan suami lo cuma gara-gara masa lalu lo itu." Tambah Riana menasehati.
Jingga hanya tersenyum menanggapi saran kedua sahabatnya itu. Tak mau terlalu terlarut, Jingga segera mengajak dua sahabatnya itu untuk kembali ke tujuan awal mereka.
Siang harinya.
"Nyu, istri lo di depan." Kikan memeberitahu tanpa masuk ke ruangan Banyu.
"Sama siapa?"
"Sama dua temennya," jawab Kikan seraya membuka pintu lebih lebar.
"Nyariin gue?" Banyu menutup satu buku laporan tertulis dan berganti mengecek beberapa email yang masuk.
"Enggak sih,"
"Ya udah biarin aja. Suruh anak-anak layanin dia dengan baik. Kasih tahu bagian kasir kalau itu istri gue sama temennya, nggak usah bayar." Banyu mengalihkan pandangannya pada Kikan sejenak. "Ada lagi?" tanya Banyu.
Kikan menggeleng. "Gue keluar dulu, Nyu." pamit Kikan seraya keluar dari ruangan Banyu.
Banyu mengambil ponsel, lalu mengutak-atiknya guna untuk menelepon sang istri.
"Halo," sapa Jingga.
"Hai, kamu di kafe?" tanya Banyu to the point.
"Iya, aku di kafe kamu," jawab Jingga.
"Oh ya udah, maaf nggak bisa nemuin kamu. Aku sibuk banget, kerjaan aku numpuk dan harus segera diselesaikan. Nggak papa kan?"
"Iya nggak papa, kamu selesaiin dulu aja kerjaannya."
"Iya, kalau gitu aku tutup dulu teleponnya. Bye,"
Tut
Banyu meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Ia melanjutkan lagi mengecek laporan dari beberapa restoran dan kafenya yang dikirim melalui email.
Satu jam berlalu.
Seseorang mengetuk pintu ruangan Banyu. Tak lama kemudian pintu itu terbuka menampakkan salah seorang karyawan wanita setelah Banyu menginterupsi untuk langsung masuk saja.
"Ada apa?" tanya Banyu tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya.
Gadis itu nampak ragu untuk berbicara.
"Kalau tidak ada yang mau disampaikan, sebaiknya kamu keluar dan segera selesaikan pekerjaan kamu," ucap Banyu saat mendapati karyawannya itu hanya diam. Bukan karena Banyu memiliki sifat galak. Hanya saja, dulu sering sekali ada karyawan wanita yang masuk ke ruangannya hanya untuk menggoda atau caper padanya. Dan Banyu paling tidak suka diganggu semacam itu.
"Itu, kata anak-anak, istrinya Mas Banyu ketiduran di meja," ucapnya gugup. Ia memang karyawan baru yang belum pernah berhadapan dengan Banyu dalam kondisi hanya berdua saja.
Banyu mengernyitkan keningnya. "Ketiduran? Temannya ke mana?" tanya Banyu.
"Temannya sudah pulang setengah jam yang lalu," jawabnya. "Anak-anak nggak ada yang berani bangunin istrinya Mas Banyu," imbuhnya.
Banyu menghela napasnya, kemudian menyuruh karyawan wanita itu untuk keluar. Setelah itu ia turun untuk menghampiri meja istrinya.
Dari tangga, Banyu bisa melihat istrinya yang tengah duduk membelakanginya. Rambut panjang gadis itu menutupi wajahnya dengan kepala berada diatas meja dan tangan berada dibawah pipinya.
Diam-diam Banyu tersenyum. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa gadis itu tertidur dengan posisi duduk seperti itu. Banyu hanya bisa geleng-geleng kepala dari kejauhan sembari melangkah mendekati istrinya.
Banyu mencoba membangunkan Jingga dengan memanggil namanya lirih, sesekali ia menepuk pipi gadis itu. Tapi, bukannya bangun gadis itu hanya menggeliat saja, tanpa merasa terganggu.
Wajah tanpa polesan make up tebal itu terlihat lebih cantik dari biasanya dalam kondisi tidur. Bibirnya yang mengerucut lucu menambah kesan menggemaskan bagi Banyu. Membuat Banyu mati-matian harus menahan tangannya untuk tidak mencubit bibir itu.
Tak kunjung bangun juga, Banyu akhirnya memilih untuk mengangkat Jingga. Ia membawa gadis itu dalam gendongannya. Saat akan melangkah menjauhi meja istrinya, ia baru sadar dirinya menjadi sorotan saat ini. Banyu tersenyum canggung menghadap beberapa pelanggannya. Ia pun mengatakan bahwa gadis yang tengah ia bopong itu istrinya. Sontak semua orang yang memandangnya dengan tersenyum maklum.
Seorang karyawan yang tengah lewat di belakang Banyu membukakan pintu ruangan pria itu. Banyu membawa Jingga ke dalam ruangannya. Tidak ada ranjang di sana, sehingga ia memutuskan untuk menidurkan Jingga pada sofa yang Banyu sediakan dalam ruangan tersebut. Beruntung sofa itu dapat dilebarkan, jadi cukup nyaman untuk tidur Jingga saat ini.
Setelah memastikan istrinya tidur dengan nyaman, Banyu kembali duduk di depan meja kerjanya untuk kembali mengecek laporan yang belum selesai ia lihat.
Jangan lupa like dan komen