Lima tahun yang lalu dia mengubah identitasnya, membuang jauh masa lalunya karna rasa kecewa pada suaminya.
Dan kini di saat dua buah hatinya menanyakan sang ayah, apakah yang akan di lakukan ALEA, akankah dia berkompromi pada hatinya demi kebahagian buah hati tercinta. Atau dia mengabaikan demi gengsi dan harga dirinya walau sebenarnya dia masih sangat mencintai pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling membagi suka duka
"Vi-Via" panggil Ayu ragu, dia masih tak yakin bahwa yang di hadapannya kini adalah Via menantunya.
"Iya Mah" jawab Leea kemudian menghampiri Ayu dan memeluk tubuh ibu mertuanya.
"Via, akhirnya kau kembali nak" ucap Ayu sambil mengelus lembut punggung Leea dan menitikkan air mata.
"Maafkan Via Mah" ucap Leea yang kemudian juga ikut menangis.
Mereka saling melepaskan rindu yang telah terpendam lima tahun lamanya.
"Kau kemana saja selama ini? Apa kau baik baik saja?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Ayu untuk Via menantu kesayangannya.
"Maafkan Via Mah, Via baik baik saja selama ini" ucap Leea penuh dengan penyesalan. Dia tidak menyangka ibu mertua masih sama baiknya seperti lima tahun lalu walau dia telah menghilang tanpa kabar selama ini.
"Kau tak perlu minta maaf sayang, semua salah anak tidak tahu diri itu. Dia lah yang telah melukaimu sehingga kau pergi" ucap Ayu sedikit emosi, dia masih terus saja menyalahkan Ziga.
"Mamah jangan bicara seperti itu, bagaimanapun juga Ziga adalah anak Mamah" ucap Leea membela Ziga, dia tidak ingin Ayu membenci anak kandungnya sendiri.
"Dia memang anak tidak tahu diri, jika bukan karena kebodohannya tentu kau tidak akan pergi meninggalkannya dan Ayahnya juga tidak mungkin meninggal" ucap Ayu kukuh.
Leea seperti tersayat hatinya mendengar ucapan Ayu. Dia tidak menyangka perempuan yang tadinya lembut itu berubah menjadi keras bahkan sangat membenci anaknya.
"Mah, Via punya sesuatu untuk Mamah" ucap Leea mencoba mengalihkan pembicaraan, dia ingin memperkenalkan kedua buah hatinya pada ibu mertuanya tersebut.
"Apa sayang?" tanya Ayu lembut, dari dulu sejak pertama kali Ziga membawa Via kerumahnya, Ayu memang sudah sangat menyayanginya dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.
"Tunggu sebentar ya Mah" ucap Leea kemudian dia segera keluar ruangan untuk memanggil anak anaknya.
"Aku akan membawa anak anak untuk menemui Mamah" ucap Leea pada Ziga.
Ziga pun menganggukkan kepalanya,
"Bawalah, aku akan menunggu di sini" jawab Ziga.
"Daddy tidak ikut?" tanya Aiden.
"Daddy akan menyusul nanti" jawab Ziga sambil mengelus kepala putranya.
Leea meraih tangan Ziga kemudian menggenggamnya.
"Aku akan coba bicara pada Mamah" ucap Leea, dia merasa sedih atas buruknya hubungan Ziga dan Ayu.
Ziga mengacak rambut Leea,
"Kau tidak perlu khawatirkan itu, aku sudah terbiasa" ucap Ziga, dia tidak ingin membebani Leea ataupun memaksa ibunya untuk menerimanya kembali. Bagi Ziga asal keadaan ibunya membaik, itu sudah lebih dari cukup.
"Aku dan anak anak masuk dulu" pamit Leea tak rela, sebenarnya dia ingin sekali Ziga ikut masuk bersamanya. Tetapi melihat amarah Ayu tadi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Dia berjanji akan berusaha untuk membuat hubungan ibu dan anak itu membaik.
Hati Ziga merasa sakit melihat Leea dan anak anaknya masuk ke dalam kamar Ayu. Sejujurnya dia ingin sekali menjenguk ibunya tersebut, tapi apa mau di kata Ayu tak pernah mengizinkannya untuk bertatap muka secara langsung. Maka dari itu Ziga hanya dapat melihat dan mengawasi ibunya dari kejauhan.
"Mah, kenalkan ini Aiden dan Zeline" ucap Leea pada Ayu.
Ayu menatap kedua bocah kecil tersebut dengan kebingungan, dalam hatinya bertanya tanya siapakah kedua anak ini. Seingatnya Via telah meninggalkan Ziga selama lima tahun, dan kini Via kembali dengan membawa dua bocah kecil bersamanya.
"Mereka cucu Mamah" ucap Leea seakan mengerti kebingungan Ayu.
"Anak anak ayo beri salam pada Grandma" perintah Leea kepada kedua buah hatinya.
"Selamat pagi Grandma" ucap Aiden dan Zeline berbarengan.
"Pagi sayang" jawab Ayu, kemudian dia pun merentangkan kedua tangannya meminta pelukan dari kedua cucunya.
Ayu sangat bahagia hingga menitikkan air mata. Hari ini banyak sekali keberuntungan yang di milikinya. Via menantu kesayangannya telah kembali, bahkan kini dengan membawa dua orang cucu sekaligus.
Aiden dan Zeline pun menghampiri Nenek mereka kemudian langsung memeluknya.
Leea yang menyaksikan pemandangan itu merasa terharu, dia bahagia karna kedua anaknya di terima dengan senang hati oleh Neneknya.
"Siapa namamu sayang?" tanya Ayu pada cucu laki lakinya.
"Aiden Grandma" jawab Aiden singkat.
"Dan kau cantik ?" tanya Ayu pada cucu perempuannya.
'"Zeline Grandma" jawab Zeline.
"Grandma sakit apa ?" tanya Zeline, bocah kecil tersebut memang lebih cerewet di bandingkan dengan kakaknya.
Ayu bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan cucunya tersebut. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa dirinya mencoba untuk bunuh diri kepada Zeline cucunya.
"Grandma kelelahan sayang' jawab Leea yang mengerti kebingungan Ayu ibu mertuanya.
"Oh, mau Zel pijit. Kalau Mom lelah Zel suka bantu pijit" ucap Zeline polos.
Ayu tak dapat berkata apa apa, dia terlalu bahagia mendengar ucapan cucunya tersebut.
"Tidak perlu sayang, mari duduk di sini dekat Grandma" ucap Ayu sembari menepuk sisi ranjang di sebelahnya agar kedua cucunya naik ke ranjang untuk menemaninya.
Aiden dan Zeline pun menuruti keinginan Neneknya, mereka segera naik ke ranjang dan duduk di sana untuk menemani Ayu.
"Mah, aku keluar sebentar" pamit Leea, dia mengkhawatirkan keadaan Ziga suaminya.
"Kidos kalian temani Nenek" pesan Leea kepada kedua buah hatinya.
"Oke Mom" sahut mereka berbarengan.
Leea pun keluar ruangan meninggalkan Ayu dan kedua putranya untuk memberikan waktu agar mereka bisa saling mengenal lebih dekat.
Di luar ruangan Leea tak menemukan Ziga, dia pun bertanya pada Hans yang berjaga diluar tentang keberadaan suaminya tersebut.
"Di mana Tuan muda Hans?" tanya Leea.
"Tadi Tuan bilang beliau ingin keluar sebentar Nyonya" jawab Hans.
Leea pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera keluar untuk mencari keberadaan suaminya. Setelah agak lama mencari akhirnya Leea menemukan Ziga sedang duduk di kursi taman rumah sakit dengan terselip sebatang rokok di bibirnya.
Leea menghela nafas, dia tidak menyukai suaminya menjadi perokok. Walau Ziga pernah bilang bahwa dia hanya merokok jika sedang banyak pikiran. Justru itulah yang membuat Leea tak senang. Dia tak ingin suaminya terlalu banyak pikiran hingga nantinya akan mengganggu kesehatannya.
"Sudah berapa lama kau di sini ?" tanya Leea yang saat ini telah duduk di samping Ziga.
Ziga sedikit terkejut karna tiba tiba Leea berada di sampingnya. Dia pun dengan segera mematikan rokok yang di pegangnya.
"Belum terlalu lama" jawab Ziga.
"Mengapa kau tidak menemani Mamah?" tanya Ziga heran.
Leea meraih tangan Ziga kemudian menggenggamnya.
"Aku mengkhawatirkanmu" jawab Leea jujur.
"Lagi pula ada anak anak yang menemani Mamah" tambah Leea.
Ziga mengeratkan genggamannya, dia bahagia Leea mengkhawatirkannya.
"Apa yang kau khawatirkan, aku tidak apa apa" ucap Ziga, dia tidak ingin terlihat lemah dan menambah beban pikiran Leea.
Leea menyandarkan kepalanya di bahu Ziga, dia tahu suaminya tersebut sedang mencoba untuk terlihat tegar walau sebenarnya dia terluka. Hati siapa yang takkan terluka jika ibu kandungnya membenci bahkan menganggapnya sebagai anak yang tidak tahu diri. Leea mengerti apa yang di rasakan suaminya tersebut.
"Kau tidak perlu terlihat kuat di hadapanku" ucap Leea.
"Aku adalah istrimu, kita bisa saling membagi suka duka bersama" tambah Leea.
Hati Ziga terenyuh mendengar perkataan Leea. Setelah lima tahun dia menanggung beban ini sendiri, sekarang akhirnya ada seseorang yang mau berbagi bersamanya.
Ziga pun mengecup puncak kepala Leea,
"Terima kasih sayang" ucap Ziga, dia benar benar merasa beruntung telah di pertemukan kembali dengan Leea. Dia merasa Leea yang saat ini lebih bijak dan dewasa. Mungkin memang sudah saatnya Ziga membagi semua beban yang ada di hati dan pikirannya. Membagi dengan seseorang yang sangat di cintanya.