Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Mawar merah
Saat Ayra akan bertanya lagi, pintu lift sudah terbuka.
"Kamu serius?" tanya Ayra saat keduanya melangkahkan kaki keluar dari dalam lift.
Adelia mengangguk.
"Rumit juga. Oh ya, dia cerita sama kamu, kok, bisa dia hilang ingatan?" tanya Ayra pelan.
Adelia menganggukkan kepalanya.
"Ke ruanganku dulu. Aku mau dengar detilnya." Ayra menarik tangan sepupunya agar memasuki ruangannya, kemudian menguncinya. Sepupu sepupu mereka suka masuk tanpa mengetok pintu, apalagi Asta, sekretaris dia dan Adelia.
Saat ini dia butuh privacy untuk mendengarkan cerita Adelia.
"Jadi dia ngga tau siapa dia sebenarnya sampai sekarang?" Ayra mulai mondar mandir.
"Iya."
"Setelah enam bulan ngga ada yang menemui dia? Aneh aja. Kalo bukan keluarga, setidaknya dia punya teman, kan?"
"Aku juga berpikir begitu."
"Masa dia introvert banget sampe ngga punya teman?" tanya Ayra lagi sambil menatap Adelia.
Adelia hanya mengedikkan bahunya.
Mungkin saja.
"Menurutku agak aneh.karena keluarganya ngga lapor polisi," gemas Ayra.
Anaknya, loh, yang hilang. Masa di diamkan saja? batin Ayra.
Adelia akui kebenaran ucapan Ayra. Hanya satu kemungkinan terburuk kenapa dia ngga dicari. Kael memang sebatang kara, tidak punya siapa siapa.
"Kamu mau bantu dia mencari keluarganya?" tanya Ayra setelah mengatur jalan nafasnya yang tadi sempat tersengal karena dia marah
"Udah terlambat belum?"
"Coba nanya Jetro. Mungkin nanti Jetro akan menghubungi Malik. Atau ngomong sama Kayana aja biar dia lebih gampang kasih tau Malik. Aku rasa masih bisa ditemukan sisa jejaknya."
Adelia mencoba percaya.
"Semoga, sih."
"Buat kamu juga biar status Kael jelas. Single atau double." Ayra mengakhiri ucapannya dengan tawa.
"Aku ngga ada hubungan apa apa, ya, dengan dia," denial Adelia pura pura galak.
"Deuuu..... Yang otw punya kekasih." Ayra tidak mempedulikan. Tawanya masih panjang durasinya.
Adelia mendengus kesal. Tanpa berkata apa apa lagi Adelia melangkah meninggalkan ruangan Ayra.
*
*
*
Setelah mengantar Adelia ke perusahaannya, Kael menghentikan mobilnya ke toko bunga.
Dia masih merasa bersalah dengan sikapnya malam itu yang ternyata membuat Adelia kesal padanya.
Mungkin dengan memberikannya bunga bisa membuat rasa kesalnya hilang. Tadi pun Adelia sudah berniat membantu mencari keluarganya tanpa dia minta.
Sekarang Kael sudah berada di antara banyak bunga di toko florist itu.
"Cari bunga apa, pak?" tanya seorang gadis muda yang sudah mendekati Kael.
"Mawar." Tatapannya berhenti pada sekumpulan mawar merah yang berada di dekatnya.
Tangannya terulur begitu saja, meraih setangkai.
Dia merasa familiar dengan mawar merah yang berada di tangannya.
"Mawarnya mau pesan berapa tangkai, pak?"
Hampir saja Kael meringis ketika tanpa sengaja jarinya mengenai durinya.
Ingatan samar yang cepat terlintas. Beberapa tangkai mawar merah dilemparnya ke arah seseorang yang wajahnya tidak terlihat jelas.
Hampir saja mawar yang dipegangnya terlepas ketika kepalanya mendadak terasa sakit.
"Anda tidak apa apa, pak?" Gadis itu tampak khawatir.
Kael menggelengkan kepalanya.
"Dua puluh tangkai. Kirimkan ke alamat ini." Kael menulis di kartu kecil yang tersedia.
To Adelia
Terima kasih, ya
From Kael
Kael tersenyum setelah membaca tulisannya. Sakit kepalanya sedikit berkurang. Dia menatap setangkai mawar merah yang ada di tangannya. Kenapa setelah ingaran samar itu muncul, dia jadi membenci mawar merah ini.
"Ganti dengan yang warna kuning,," ralatnya cepat
"Ya, pak? Eh, baiklah." Gadis penjual bunga itu meletakkan kembali tangkai tangkai mawar merahnya dan mengambil yang berwarna kuning cerah.
"Tiga puluh, ya," ralat Kael lagi
"Ya, pak."
Kemudian dia mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya.
"Antarkan sekarang, ya."
"Siap, pak."
Kael menatap mawar mawar kuning itu dengan tatapan lembut. Tapi tatapannya berubah muak kerika melihat mawar yang berwarna merah.
Ini kejadian pertama setelah enam bulan ingatannya hilang. Tapi hari ini, seakan ada yang membangkitkannya. Mawar merah itu.
*
*
*
Di kediamam Wijaya Agra.
"Kamu masih ngga akan mengumumkan kehilangan Kael?!" bentak seorang laki laki yang berumur hampir tujuh puluhan menggelegar.
"Kami yang akan mengumumkannya Agra. Mama menyesal sudah setuju dengan idemu yang melakukan pencarian sendiri tanpa melibatkan po lisi," geram seorang wanita yang masih cantik yang usianya juga hampir sama dengan laki laki itu.
"Bukan begitu, ma, pa. Aku hanya berpikir kalo mencari Kael ngga akan selama ini." Wijaya Agra merasa bersalah.
"Selama enam bulan Kael menghilang. Papa dan mama khawatir dengannya. Takut terjadi kemungkinan terburuk." Setelah mengatakannya terdengar isak mamanya.
DEG DEG
Wijaya Agra merasakan pukulan kuat pada jantungnya. Dia berusaha tidak memikirkannya, tapi perkataan papanya membuatnya takut.
"Kael ngga mungkin membatalkan pernikahannya dengan Nafa. Dia cinta mati dengan gadis hedon itu. Tapi dia meninggalkan gadis itu. Mama yakin, ada konflik diantara mereka. Masa Nafa ngga tau apa apa?"
Agra terdiam. Beberapa hari menjelang pernikahan Kael, Arsa malah dikeroyok orang yang tidak dikenal.
Dia yang awalnya ngga peduli dengan pernikahan Kael dengan gadis yang tidak direstuinya, lebih konsen pada pemulihan Arsa. Hingga kabar Kael yang tidak datang di acara pernikahannya sempat membuat geger. Setelahnya Kael makin menghilang, padahal dia sempat pulang dari Jepang.
Agra yakin Kael menemui Nafa. Agra sangat yakin. Tapi kamera cctv apartemen Nafa mengalami kerusakan sejak beberapa hari sebelumnya. Itu yang menyulitkan Agra untuk mendesak gadis itu.
Ditambah tidak ada sikap mencurigakan yang ditunjukkan gadis itu, selain kesedihan karena kehilangan Kael.
"Sebenarnya Kael ada dimana?" Suara tangis mamanya sangat menyayat hati.
Sekarang dia baru merasa kehilangan putranya itu tidak wajar. Kael bukan orang yang gampang menyerah dan melepaskan semua kepemilikannya dengan begitu mudah.
Enam bulan tanpa kabar. Mertuanya-orang tua almarhum mami Kael juga sudah menemuinya dan meminta hal yang sama.
Tapi sulit dia lakukan. Kalau dia umumkan, akan terjadi kehebohan. Akan terjadi gonjang ganjing di dalam perusahaan. Karena Kael adalah pewaris utama yang didukung seluruh keluarganya.
Mereka tidak mendukung Arsa, walau Arsa lebih baik kinerjanya, tapi dia jauh dari simpati. Agra yakin, banyak pemegang saham akan mundur kalo Arsa yang.menjadi pengganti Kael.
Sementara istrinya-mamanya Arsa selalu merengek agar bisa menjadikan Arsa sebagai pimpinan. Bukan hanya sekedar direktur saja.
"Papa ngga akan memaafkanmu kalo ada apa apa dengan Kael," ancam papanya dengan tatapan marahnya.
Kyknya Kael ingat Adel deh