NovelToon NovelToon
RUMI Cintaku

RUMI Cintaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Petualangan
Popularitas:116.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lasmi

Bagaimana rasanya saling mencintai tapi tidak bisa bersama?

Padahal sudah di jodohkan dan di sayangi kedua belah pihak keluarga, tapi tetap perjodohan yang sudah di rancang itu tidak bisa di teruskan.

Apa alasannya? Padahal pernikahan itu adalah impian dari keduanya.

Kenapa tiba-tiba Fatih melepaskan perempuan yang telah di carinya selama belasan tahun lalu?


Mungkinkah mereka bisa bersama lagi setelah melalui banyak hal?

Perjalanan mereka untuk bisa bersatu kembali tidak mudah, mengalami banyak konflik dan drama kehidupan sehari-hari yang menguras air mata dan menyakitkan dada karena terlalu banyak tertawa.

Ya benar, kalian bisa merasakan salah satunya atau kedua-duanya secara bersamaan.

Kalau belum tahu rasanya tertawa dengan meminum air mata, kalian bisa coba baca novel ini, semoga kalian suka😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gambar Rena

Selesai menunaikan shalat Dzuhur berjamaah Ahmad kembali membuka toko susu, Ia duduk di depan meja yang di atasnya terdapat botol-botol susu yang siap di angkut oleh pembeli.

“Pak, susu rasa strawberry nya dua?” dua anak perempuan berkerudung persegi empat berwarna putih memudarkan lamunan Ahmad.

Ahmad hanya terdiam dan tak merespon.

“Pak! susu rasa strawberry nya dua!” salah satu dari anak itu berbicara dengan nada keras.

“Pak…pak….enak aja orang masih muda begini, bilang abang ganteng dulu baru abang ambilkan susu nya,” jawab Ahmad.

“Hiiiii apaan sih?” kedua anak itu saling berbisik dan tertawa.

Ahmad masih berdiam pura-pura tak menghiraukan mereka.

Kedua anak itu saling sikut untuk berbicara.

“Abang……gan………,” salah satu anak mulai berbicara pelan dan terbata. Kemudian suara itu sengaja di besarkan, “Gan…..jeeeen!!” mereka pun tertawa nyaring.

Telinga Ahmad yang sudah melebar untuk mendengar pujian tiba-tiba mengkerut.

“Nah benar itu, kalian anak pintar!” Fatih yang baru datang dari dapur menghampiri mereka.

“Karena kalian sudah jadi anak pintar, mas kasih diskon potongan 10% ya, jangan lupa besok datang lagi bawa teman-temannya,” senyum Fatih melebar saat memberikan botol susu.

Kedua anak itu tersenyum gembira dan saling berbisik.

“Mas kenapa di diskon, kita kan belum punya banyak untung?” tanya Ahmad tak mengerti.

“Itu namanya teknik marketing abang gan………jeeen!! goda Fatih sebelum iya duduk di kursi panjang.

Fatih tertawa melihat wajah Ahmad terlihat lebih menekuk dari sebelumnya.

Fatih duduk menopang dagu dengan sebelah tangannya dan dalam hitungan menit pandangannya lepas kembali ke beberapa jam lalu saat ia menghabiskan waktu bersama Rumi. Bibir Fatih tersenyum dengan sendirinya tanpa di beri komando, sesekali dia menutup matanya dan tertawa sendirian.

Kalau bulan bisa ngomong

Ada cinta yang terlalu

Ada rindu yang terlalu

Semua serba terlalu

Padamu…oh padamu

Aku kehabisan kata

Dan hati tak sanggup bicara

Dalam hati hanya ada rasa…..”

‘Buk’

Sadar sedang di goda Fatih melayang kan bantal kursi ke arah Ahmad yang ternyata sedang berjongkok mendongakkan dagu dengan kedua tangannya tepat dimana Fatih duduk. Ahmad bahkan mengiringi lamunan Fatih dengan sebuah lagu.

"Sakit pak Bos!" Ahmad merintih merapihkan rambutnya.

"Siapa suruh lagunya Fals!"

"Bukan lagu Iwan Fals pak bos itu lagu Doel Sumbang," jawab Ahmad membela.

"Suara kamu yang Fals!" Fatih dan Ahmad tertawa terbahak.

Hari ini berlalu begitu indah, tanah yang kering seperti menemukan alasan untuk kembali subur saat hujan meresap pada setiap lapisan dan siap menumbuhkan kehidupan baru.

**

Pagi ini Rumi lebih rapih dari biasanya, ia mengenakan baju yang berwarna lebih cerah, dan minyak wangi kesukaannya ia seprai lebih banyak.

“Rasanya sudah tak sabar menunggu pulang sekolah, padahal masuk aja belom,” Rumi cekikikan sendiri dengan pikiran konyolnya.

Hari ini Rumi sudah lebih siap dari hari sebelumnya, ia sudah datang ke sekolah lebih awal dan sudah berdiri di depan kelas bersama guru yang lain, menyambut anak-anak yang baru saja datang.

“Hallo Rena,” sapa Rumi mendekatkan wajahnya pada Reno dengan senyuman andalannya.

Rena sama sekali tak tersenyum dia malah mencoba menghindar, seperti enggan untuk di dekati oleh orang lain.

Ketika mata pelajaran Rumi tiba, Rumi mengajak anak-anak untuk menggambar. Anak-anak sangat senang, mereka bisa menggambar apa aja yang mereka suka, meski pun terkadang hasil gambarnya hanya bisa dimengerti oleh diri mereka sendiri.

Rumi berkeliling melihat proses anak-anak menggambar, satu persatu ia dekati dan amati, sampai pada meja Rena, Rumi melihat kertas Rena masih putih belum ada sentuhan.

“Rena kenapa tidak menggambar?”

Rena hanya terdiam.

“Rena tahu gak kalau ibu bisa membaca sebuah gambar?”

“Kalau Rena tidak mau berbicara sama ibu, maka gambar lah biar nanti ibu yang tebak Rena mau bicara apa sama ibu?” Rumi mencoba merayu.

Rena masih terdiam dan tak bergerak.

Rumi kembali berjalan dan melihat anak yang lain, karena dari sikapnya jelas terlihat Rena tidak ingin di dekati.

Rumi kembali duduk di kursi guru, jam sekolah hampir habis, anak-anak mengumpulkan hasil gambar mereka.

Rumi tersenyum menyambut satu persatu gambar hasil anak didiknya, terakhir ternyata Rena ikut ke depan dan memberikan gambar kepada Rumi. Ia melihat gambar tersebut hanya sebuah coretan biasa saja.

“Terimakasih Rena,” Rumi mengelus kepala Rena.

“Sekarang bereskan alat tulis kalian, kita akan bersiap pulang.”

“Horeeee!!” anak-anak berseru. Mereka merapihkan alat tulis sampai duduk rapih bersiap di pandu oleh Rumi sambil bernyanyi bersama, dan kemudian di tutup dengan doa.

Anak-anak semua sudah keluar, Rumi masih di mejanya melihat satu persatu gambar anak-anak lebih teliti.

Ia melihat gambar Rena sekali lagi, awalnya Rumi tersenyum meskipun seperti gambar asal-asalan setidaknya Rena sudah mau menggambar pikir Rumi.

“Tidak, tunggu dulu!” Rumi berhenti tersenyum. “Gambarnya ada tangan, kaki, rambut, apa ini? Rumi terus memeriksa secara detail, “Pentungan?”

“sepertinya ini gambar perempuan dengan pentungan? Tapi kenapa dengan rambut acak-acakan dan mata yang sangat besaaar?” Rumi merasa ada yang aneh dengan gambar itu.

"Mungkinkah Rena ingin menyampaikan sesuatu?" pikir Rumi lagi.

Iya pun bergegas ke kantor kepala dan mencari informasi seputar Rena.

Ternyata Rumi menemukan kalau Rena ketika awal masuk tidak seperti ini tapi lama-kelamaan dia suka menyendiri dan akhir-akhir ini justru sama sekali tidak bisa ditanya, tidak pernah bersuara, apalagi bermain bersama temannya.

“Ibu sudah memanggil orang tuanya, yang datang hanya ayahnya, katanya istrinya tidak bisa datang karena repot dengan bayinya” papar bu Nurjanah Kepala Sekolah TK.

Rumi mengangguk, sepertinya ia harus lebih memperhatikan tingkah Rena dan berdiskusi dengan orang tuanya.

“Rumi khawatir Rena menyimpan sebuah rasa takut yang sangat besar bu, yang tidak bisa dia ungkapkan kepada orang lain,” lirih Rumi.

“Ibu serahkan kepada mu ya Rum, coba lebih dekati dan perhatikan nanti kita bisa berbicara pada orang tuanya kalau Rena tidak ada perubahan atau sikapnya bertambah buruk."

“Iya bu, kalau begitu Rumi sekalian pamit ya bu, Assalamualaikum,” Rumi mencium punggung tangan bu Nurjanah.

“Waalaikumsalam.”

Rumi berdiri di trotoar depan sekolah, menunggu Fatih datang, ternyata tak harus menunggu lama Fatih sudah berhenti di hadapannya.

“Rum, sudah selesai mengajarnya?” Fatih membuka helm.

Rumi mengangguk, dan tersenyum.

“Mas antar pulang ya?”

Rumi masih mengangguk dan berjalan menuju motor, ia mengambil helm yang disodorkan Fatih.

“Helmnya baru mas?” Rumi meneliti helm yang berwarna biru muda itu.

“Iya, yang kemarin dipake Ahmad,” jawab Fatih.

“Oh,” perlahan Rumi duduk.

Mereka pun berkendara dengan celotehan dan obrolan yang lebih mengalir dari pada hari sebelumnya.

Hanya 15 menit, Rumi sudah sampai di depan rumahnya.

“Mas, ko ini gak bisa dibuka ya helmnya?” kata Rumi sambil mencoba membuka gesper helm yang terkunci.

“Mungkin masih baru ya, jadi sedikit sulit,” jawab Fatih.

Rumi berusaha membuka, tapi gespernya sangat sulit untuk dibuka.

“Mas ijin bantu, boleh?” tanya Fatih yang melihat Rumi kesulitan.

Rumi mengangguk pelan.

“Dongakkan dagunya!” pinta Fatih.

Rumi mendongakkan dagunya, Fatih mencoba mendekat dan memandang sesaat wajah Rumi yang saat ini sangat dekat, hingga aura panas dari napas yang berhembus terasa pada satu sama lain.

Fatih membuka perlahan gesper yang terkunci dengan kencang, ia mengeluarkan tenaganya agar berhasil membuka gesper tersebut.

“Sudah,” kata Fatih kepada Rumi yang masih terdiam seperti patung, hanya suara hembusan napasnya saja yang terdengar.

“Oh iya,” Rumi membuka helmnya dan memberikannya pada Fatih.

“Susu buat Rumi, ayah dan ibu,” Fatih mengeluarkan kantong plastik dari penyimpanan joknya.

“Banyak banget mas, terimakasih ya,” jawa Rumi.

“Kalau Rumi suka nanti mas bawain lagi,” Fatih tidak lupa selalu memasang senyuman termanisnya di hadapan Rumi.

Rumi mengangguk dan berjalan, kemudian berbalik dengan malu-malu melambaikan tangan.

Fatih hanya memandang dengan senyuman setiap langkah Rumi menuju Rumahnya.

“Assalamualaikum bu,” Rumi membuka pintu.

“Walaikumsalam,” sahut bu Dewi dari dapur.

“Ibu ini ada oleh-oleh,” Rumi menunjukkan kantong besar penuh dengan botol susu bervariasi rasa.

“Banyak sekali, dari mana?” tanya bu Dewi saat melihat ke dalam kantong plastik.

“Dari mas Fatih,” jawab Rumi mengedipkan kedua matanya.

“Fatih?” bu Dewi menyelidik.

Rumi mengangguk, dan tersenyum malu.

Bu dewi mengelus punggung Rumi, “Jangan sampai terluka lagi.”

Rumi terdiam, kemudian dia menyusun susu di dalam kulkas.

“Rumi hanya ingin tahu bu bagaimana Allah mengatur jalan kami.”

Tak ada jawaban dari bu Dewi, ia bepura-pura sibuk dengan hal lain.

Rumi masuk ke kamar membawa satu botol susu lalu meminumnya.

“Mh rasanya sangat enak dan segar,” Rumi memutar-mutar botol susu kemudian berhenti untuk membacanya.

‘Susu Sapi Murni Segar dan Sehat ‘R’.

Rumi memiringkan kepalanya memperhatikan huruf ‘R’ yang tertera dalam botol.

“ ‘R’ Rumi?” Tidak mungkin itu adalah isial nama dirinya, Rumi menggelengkan kepala. Ia tidak ingin berpikir halu.

Ia menjatuhkan tubuhnya di kasur dan membentangkan tangannya lebar-lebar rasanya ia ingin merasakan udara kebahagiaan ini lebih lama.

“Awwww” Rumi berteriak pelan dan menggeleng-gelengkan kepalanya, menghentak-hentakkan kakinya, dan menutup wajahnya, tersenyum lebar untuk semua rasa kebahagiaan yang datang kepadanya dua hari ini.

1
Aryani💞hambaliAziz
udh lama di rak buku tp baru baca, sepertinya bagus, klu udh baca trs jatuh cinta sama novel ini jgn digantung ya kak... 😍
Sokili Madil
hai
Inggri
nyimak 😊
🍒⃞⃟🦅Aza_thv🐨
smngt kk othor 💪😄
🍒⃞⃟🦅Aza_thv🐨: done kk lion
total 2 replies
Ipah Cakep
konyol kamu Thor 😁😁😁😁
Ipah Cakep
😁😁😁😁😆😆😆😅😅🤣
Ipah Cakep
can't say anything just laugh 😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂
Ipah Cakep
Auto ngakak guling-guling cekikikan tengah malam ni Thor 😁😁😁😁😁😁😁😁😅
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim.. Reno 🤒🤢🤕🤮🤧🥵🥶
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim
Ipah Cakep
Lucu banget kamu Thor aku padamu Thor semangat kk
Ipah Cakep
Auto mewek lagi Thor 😔😢😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Ipah Cakep
betul banget Thor! sekali berbohong org ga bakal percaya lagi
Ipah Cakep
Rumi dikit ceroboh ya Thor harusnya dia tw diri kan guru anak muridnya bukan kawan papa Rena.🤔😒🙄😔 Hadeuuuhh.. Ga tw mw dibawa hubungan kita eh cerita ini. up to you lah Thor..
Ipah Cakep
Love you too k Lasmi 🥰😍🤩😘😇
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim
Ipah Cakep
Eh tu mah mama n papa Rena aj yg ga mw diskusi ngurus anak2nya.. harusnya saling melengkapi 1 sm lain namanya rumah tangga penghuninya harus melangkah bersama melalui banyak tangga. kalo rumah hantu yg penghuni hantu kayak rmh Rena menakutkan hihihihihi....apan sih curhat 😄😄😄😄😅😅😅
Ipah Cakep
konyol banget bg Ahmad 😁😁😁😁😁😄😄😄😄😄🤣🤣🤣
Ipah Cakep
Rumi lemah lembut n penyayang anak2 ya Thor.. aku suka aku suka.. 🥰 Apa ibunya Rena yg buat lebam gt Thor??
Ipah Cakep
😆😆😆😆😆😆😆😊😆🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!