Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEJOLAK EGO ANIMA
BAB 11: GEJOLAK EGO ANIMA
BOOOOOOMMMM—!
Hantaman gelombang kejut tak kasat mata meledak secara horizontal di pusat arena latihan.
Debu dan pasir terlempar ke udara, menciptakan pusaran badai kecil yang langsung membeku menjadi serpihan es hitam begitu menyentuh radius aura Morthas.
Udara di sekeliling Kael terasa pekat, membawa aroma busuk tanah kuburan dan konsep kematian murni yang mengunci pergerakan udara.
Sang Penuai Nyawa melayang anggun di belakang tuannya, mengibaskan jubah compang-camping sewarna malam dengan sepasang sayap Void yang merentang megah.
Di tangan tulangnya, sebilah sabit merah menyala sewarna darah segar bergetar konstan, memancarkan hawa haus darah yang tak terbendung.
Di kutub seberangnya, keagungan yang kokoh mengunci seluruh ruang pertarungan.
Morgrath menancapkan keempat kaki raksasanya ke dalam pasir, memanifestasikan esensi Bumi Purba yang masif di belakang punggung Hugo.
Sepasang gading emas melengkungnya memancarkan pendaran cahaya keemasan yang menekan balik kegelapan di hadapannya.
Morgrath berdiri bak gunung karang tak tergoyahkan, menciptakan gravitasi spiritual yang luar biasa berat hingga atmosfer di lapangan latihan terasa semakin menekan, menjepit dada siapa pun hingga ke batas kewarasan.
Di saat yang sama, jauh di dalam menara batu dan ruang-ruang internal markas guild, atmosfer mendadak runtuh.
Brakkk! Cringgg!
Cangkir-cangkir teh di atas meja kayu ruang rapat retak berantakan.
Formasi pelindung spiritual yang terukir di sepanjang dinding batu guild mendadak menyala terang sebelum akhirnya meredup paksa.
Di dalam ruang privasinya, Grand Master Alden yang sedang memeriksa dokumen langsung tersentak.
Dua sosok tetua legendaris lainnya yang sedang bermeditasi di ruangan terpisah membuka mata mereka secara simultan.
Tekanan jiwa yang luar biasa pekat, asing, sekaligus bertolak belakang dari dua entitas Kelas Puncak Anomali telah bocor dan menggelegar di atas langit guild.
"Tekanan ini... Mustahil! Morthas?!" desis Alden, wajah tuanya menegang drastis.
Tanpa membuang waktu satu fraksi detik pun, tubuh pria tua itu memudar menjadi partikel Void kebiruan.
Di koridor luar, dua siluet petinggi legendaris lainnya telah melesat mendahului angin. Mereka buru-buru keluar menembus pintu pembatas markas, menuju lapangan latihan dengan kecepatan penuh.
Sementara itu, suasana di lapangan latihan justru semakin mencekam dan mengerikan.
Morthas melayang sedikit lebih tinggi, menatap wujud masif Morgrath di depannya.
Di balik tudung hitamnya yang legam, sudut bibir ilusi sang Penuai terangkat, memperlihatkan sebuah senyuman sinis yang teramat meremehkan.
"Hmph. Anima Kelas Mitologi..." desis Morthas, suaranya membawa getaran hawa dingin yang memotong udara.
Morgrath tidak terpancing.
Mammoth purba raksasa itu tetap tenang, sepasang mata bulat hitamnya menatap penuh perhitungan, menakar seberapa besar sisa energi segel yang kini dipegang oleh sang Kematian di hadapannya.
Di bawah dominasi dua makhluk purba itu, Kael dan Hugo mulai merasakan siksaan yang teramat sangat.
Kemunculan Morthas dan Morgrath kali ini sama sekali bukan atas kehendak atau perintah bawah sadar mereka berdua.
Kontrak mereka yang baru saja terpicu oleh lonjakan adrenalin latihan fisik murni memaksa kedua entitas ini memanifestasikan diri secara liar.
Akibatnya, beban jiwa yang harus ditanggung oleh wadah Perunggu Kael dan Hugo melonjak berkali-kali lipat dari biasanya.
Pembuluh darah di pelipis Kael berdenyut perih seolah siap pecah.
Sementara Hugo sudah berlutut bertumpu pada kedua tangannya di atas pasir, napasnya terengah-engah dengan tubuh tambun yang basah kuyup oleh keringat dingin. Jiwa mereka seperti sedang diperas habis-habisan oleh tarikan energi di atas kepala mereka.
Morgrath perlahan membuka mulutnya, suaranya bergaung berat seolah tanah bumi ikut angkat bicara.
"Morthas... setelah tiga abad lamanya terkurung dalam kehampaan Void, kau akhirnya menampakkan dirimu kembali di dunia fana ini," ujar Morgrath.
Morthas tidak menjawab dengan untaian kata ramah.
Sebagai respons, ia justru meningkatkan tekanan aura Void hitamnya hingga langit di atas markas guild berubah menjadi pekat gulita.
"Kualifikasi apa yang kau punya untuk menyebut namaku, Makhluk Bumi?" geram Morthas rendah, tatapannya semakin tajam memancarkan keangkuhan absolut.
"Sebagai Anima kelas puncak dari ras Mitologi yang agung... kalian justru merendahkan martabat kalian sendiri untuk membuat kontrak dan mengemis pada manusia fana!" cerca Morthas murka.
"Tindakan menjijikkan kalian selama tiga ratus tahun ini telah merusak dan mengotori keagungan kelas Anomali di mata alam semesta!" lanjut Morthas, nadanya sarat akan kebencian purba terhadap konsep perbudakan Anima.
"Ugh...!"
Kael menggertakkan giginya rapat-rapat, merasakan jiwanya semakin terkuras kering.
Pandangannya sempat mengabur, namun kilat matanya tetap analitis menatap Morthas. Di seberangnya, Hugo sudah mulai mengerang menahan beban spiritual Morgrath yang ikut memberat.
Merasakan kondisi tuannya yang mulai terancam kritis, Morgrath ikut menaikkan aura agung elemen tanahnya.
Cahaya keemasan meledak dari gadingnya, berbenturan hebat secara frontal dengan aura mencekam milik Morthas hingga menciptakan suara dengungan logam yang memekakkan telinga di udara.
"Kau salah, Morthas," sanggah Morgrath dengan ketenangan yang mutlak, menahan gempuran Void di depannya.
"Kami tidak pernah merendahkan martabat kami. Kami bukan terikat janji budak hingga kami sudi mengikat kontrak darah ini... Tapi ini adalah hubungan yang saling menguntungkan untuk menjaga keberadaan kami."
Morgrath mengibaskan kepalanya yang berbulu lebat, membuat riak gelombang tanah bergetar di bawah pasir.
"Melalui ikatan ini, kami bisa hidup dan bermanifestasi di dunia manusia, mendapatkan pasokan Kristal Inti secara konstan untuk memperkuat eksistensi kami..." jelas Morgrath.
"Dan sebagai gantinya, manusia-manusia ini bisa meminjam dan menggunakan sebagian kekuatan kami untuk bertahan hidup di kerasnya benua ini."
Morthas tetap berada di puncak keangkuhannya.
Aura hitam kemerahannya justru semakin meledak hebat, menekan kubah cahaya Morgrath hingga retakan-retakan kecil mulai muncul di udara lapangan.
"Membual! Hukum tetaplah hukum! Pengecut fana tidak layak menyentuh esensi Anomali!" amuk Morthas.
Morgrath menghela napas spiritual yang berat, sepasang matanya menatap lurus menembus kabut asap hitam di sekitar Morthas.
"Lalu... apa yang sedang kau lakukan sekarang, Morthas?" tanya Morgrath dingin.
"Jika kau begitu membenci konsep kontrak darah manusia... bukankah tindakanmu saat ini sama saja seperti kami? Kau telah menjalin ikatan takdir dengan seorang manusia fana di bawah kakimu."
"Jangan samakan aku dengan golongan kalian!" raung Morthas, sayap hitamnya mengepak lebar, menciptakan badai Void horizontal yang menyapu arena.
"Aku berbeda dengan kalian! Aku tidak pernah mengikat diri atau peduli pada manusia ini!" elak Morthas.
"Aku hanya memanfaatkan manusia fana ini untuk menuai nyawa musuh lama kita! Tidak ada keterikatan satu sama lain, dan bocah ini... hanyalah media kasar agar aku bisa keluar dan mengamuk menumpahkan hasrat membunuhku sesuka hati di dunia manusia!"
Di bawah hempasan badai Void yang mencekik itu, Kael yang sudah berada di ambang batas kelelahan fisiknya justru tersenyum samar.
Sebuah senyuman dipaksakan yang sarat akan ironi muncul di sudut bibirnya.
Di dalam benaknya yang terdalam, Kael tahu betul sifat asli rekan sejajarnya itu.
Kael tahu bahwa Morthas hanya sedang mempertahankan keangkuhan dan harga diri egonya yang setinggi langit di hadapan Anima sekelasnya. Morthas terlalu gengsi untuk mengakui bahwa ia telah menaruh rasa hormat pada tekad baja Kael di dimensi batin sepuluh hari lalu.
"H-Hugo... tahan..." bisik Kael serak, mencoba meraih sisa energinya, namun tubuh fisiknya menolak untuk bergerak.
Di seberang arena, Hugo benar-benar sudah tidak bisa menahan beban tarikan jiwa Morgrath lagi.
Wajahnya memucat total, dan kesadarannya berada di titik kritis untuk runtuh.
Tepat di detik menegangkan saat pertahanan spiritual Kael dan Hugo siap hancur berantakan—
WUSSSSSS—!
Tiga riak robekan dimensi ruang mendadak tercipta secara simultan di tepi lapangan latihan utama.
Tiga tekanan energi spiritual yang luar biasa padat, masif, dan berkuasa mutlak tumpah ruah ke arena bagaikan air bah yang membendung badai.
Detik berikutnya, tiga sosok pria tua berjubah abu-abu lusuh menapakkan kaki mereka secara serentak di atas pasir lapangan.
Salah satunya adalah Grand Master Alden yang memegang tongkat kayu berkepala kristal, disokong oleh dua pria tua legendaris lainnya di sisi kanan dan kirinya.
Ketiganya berdiri tegak, memancarkan tekanan energi spiritual berada di tingkatan Berlian Puncak—kasta tertinggi dari peradaban manusia yang sanggup menggetarkan hukum semesta secara absolut.
Kehadiran tiga pendiri legendaris Guild Scar Horizon itu seketika mengunci sisa badai spiritual Morthas dan Morgrath, siap mengintervensi konfrontasi dua makhluk purba tersebut sebelum markas guild hancur menjadi abu.