Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Ponsel di tangan Danis kembali bergetar. Satu pesan masuk. Pengirim: Sari.
Danis menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya membukanya.
|Maaf ya, Mas. Dari tadi aku nemenin Tante Ratna. Baru sempat lihat HP.|
Danis membaca kalimat itu berulang kali. Lalu... Ia tersenyum tipis. Senyum yang kali ini dipenuhi rasa kecewa.
"Masih sempat berbohong...." gumamnya lirih.
Faas yang berdiri di sampingnya ikut melirik layar ponsel tersebut. "Kebohongan pertama selalu melahirkan kebohongan berikutnya."
Danis tidak menjawab. Ia hanya menekan sebuah ikon di ponselnya.
Galeri. Beberapa menit yang lalu, saat melihat Sari di dalam klub, refleks ia sempat mengambil beberapa foto dari kejauhan. Meski pencahayaannya redup, wajah Sari terlihat sangat jelas. Begitu pula pria yang memeluknya. Ada satu foto ketika pria itu mencium kening Sari. Ada pula foto saat keduanya bergandengan tangan menuju pintu keluar.
Danis menatap foto-foto itu cukup lama. Dadanya kembali terasa sesak. Bukan karena masih mencintai Sari. Melainkan karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia menghela napas panjang. Kemudian menekan tombol panggil. Nama yang muncul kali ini bukan Sari.
Melainkan...
Mama.
Panggilan tersambung.
"Danis?" suara Ratna terdengar ceria. "Kamu di mana, Nak?"
Danis menjawab singkat. "Masih di luar."
"Oh, kebetulan sekali. Mama lagi makan malam sama Sari."
Rahang Danis kembali mengeras.
"Tante lagi bahas soal pernikahan kita," terdengar suara Sari dari kejauhan yang sengaja dibuat cukup keras agar Danis mendengarnya.
Ratna terkekeh. "Dengar, kan? Sari sudah nggak sabar jadi istrimu."
Danis memejamkan mata sesaat. Lalu membuka kembali dengan tatapan yang dingin. "Ma."
"Iya?"
"Suruh Sari bicara."
Ratna sedikit heran. "Tunggu sebentar."
Tak lama kemudian... Suara lembut Sari terdengar. "Mas..."
Belum sempat ia melanjutkan ucapannya.
Danis memotong. "Kamu yakin dari tadi sama Mama?"
Sari tersenyum kecil. "Tentu saja. Kami baru selesai belanja, terus makan malam."
Danis menatap lurus ke depan. "Kamu yakin?"
"Iya, Mas."
"Tidak ada yang disembunyikan?"
"Tidak."
Danis tertawa pelan.
Suara tawanya membuat Sari mengernyit. "Mas?"
"Kamu tahu... Aku paling benci dibohongi."
Jantung Sari mulai berdetak lebih cepat. "Apa maksud Mas?"
"Aku kasih kesempatan sekali lagi. Jujur."
Sari menggigit bibirnya. Ia tetap memilih bertahan pada kebohongannya. "Aku benar-benar sama Tante."
Danis mengangguk pelan. "Baik."
Klik.
Terdengar suara sesuatu dikirim melalui aplikasi pesan.
Satu. Dua. Tiga. Empat foto.
Beberapa detik kemudian... Terdengar keheningan dari seberang telepon.
Sari membuka foto-foto itu dengan tangan gemetar. Wajahnya langsung pucat. Foto pertama. Ia sedang dipeluk pria lain. Foto kedua. Pria itu mencium keningnya. Foto ketiga. Mereka bergandengan tangan menuju parkiran. Foto terakhir. Mereka masuk ke mobil yang sama.
Napas Sari tercekat. "Mas..." Suaranya bergetar. "Aku..."
Danis memotong dengan nada yang sangat dingin. "Masih mau bohong?"
Air muka Sari berubah drastis. "Itu... itu nggak seperti yang Mas pikirkan."
"Benarkah?"
"Iya. Dia cuma teman."
"Teman yang mencium keningmu?"
Sari tidak mampu menjawab.
Ratna yang duduk di sampingnya mulai merasa ada yang tidak beres. "Sari?"
Namun wanita itu hanya membeku. Tangannya gemetar memegang ponsel.
Danis kembali bersuara. "Selama ini... Aku menceraikan istriku demi perempuan yang katanya mencintaiku. Ternyata... Aku hanya sedang dijadikan pilihan kedua."
"Mas, dengarkan aku dulu!"
"Tidak." Suara Danis terdengar tegas.
"Mulai malam ini. Jangan pernah hubungi aku lagi. Dan jangan pernah datang ke rumahku. Kita selesai!"
"Mas!"
Klik.
Sambungan telepon terputus. Sari langsung terduduk lemas di kursinya. Wajahnya kehilangan warna.
Ratna yang belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi segera meraih bahu Sari. "Sayang? Ada apa?"
Rania ikut panik. "Sari?"
Mata Sari berkaca-kaca, "Tante. Kayaknya mas Danis salah paham deh. Aku..."
Ratna mengerutkan keningnya, ia sungguh bingung. "Sayang... Ini sebenarnya ada apa? Bilang yang bener?"
"Tante... Aku tadi sama temen aku. Mas Danis kayaknya salah paham deh. Maafin aku karena aku gak bilang dulu sama mas Danis." Ucap Sari sambil menangis, ia berharap jika Ratna iba dan mau mendengarkan penjelasannya.
"Ya ampun sayang.. Udah dong, jangan nangis lagi... Nanti Tante bilang sama Danis ya.." Ucap Ratna sambil memeluk Sari.
"Ya ampun, Sar, nanti aku juga kasih tau sama Danis. Dia itu... Kelewatan banget sih. Sampai buat calon istrinya nangis."
Sari masih sesenggukan. "Makasih ya." Namun di dalam hati ia tersenyum lebar.
Aku akan lakukan apapun demi bisa menguasai harta kekayaan Danis Arganta..
#Siapa yang kesel sama Ratna dan Rania?? Banyak komentar kita lanjutkan, bab selanjutnya Ratna ketemu sama Calista...