NovelToon NovelToon
Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aaron Gelisah

Aaron mendongak, menatap langit-langit kantornya dengan pikiran yang melayang jauh. Beberapa kali pria itu menarik napas berat. Pikirannya sangat kacau. Pertemuannya dengan beberapa klien tidak ia pedulikan dan bahkan ia batalkan begitu saja. Dokumen yang menumpuk menuntut perhatiannya juga ia abaikan.

Untuk kesekian kalinya Aaron mengambil ponselnya, menekan angka satu dan kembali ia mendapatkan jawaban yang sama. Panggilannya ditolak.

Paula. Ya, gadis itu lah yang ia hubungi sejak kemarin. Ia merasa bersalah, tapi ia tidak tahu harus bagaimana. Paula pasti membencinya, itu tidak salah lagi. Tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan. Benar-benar menyakitkan. Dadanya terasa berhenti berdetak, berganti dengan rasa sesak yang luar biasa seakan udara sedang direnggut paksa darinya.

Paula. Ia sudah terbiasa direpotkan oleh gadis itu sejak kecil. Dan ia senang saat Paula meminta pertolongannya, berlari meminta perlindungan padanya dikala kedua saudaranya menjahilinya.

Dulu Aaron menganggapnya hanya sebatas adik kecil yang manis, tapi entah sejak kapan adik kecil yang manis itu berubah menjadi gadis kecilku.

Dan apa yang ia lakukan sekarang? membuat gadis itu terluka berulang kali. Dan percayalah, ingin rasanya Aaron menghantam dirinya sendiri sebanyak ia melukai gadis itu.

Aaron mengacak rambut frustasi, mengambil gelas dan menuang minuman ke dalamnya, meneguk kasar hingga menciptakan tetesan-tetesan yang ke luar dari mulutnya.

"Brengsek, bedebah, idiot, tolol, tidak berguna, arggh!" Aaron melempar gelasnya hingga menciptakan suara yang membuat sekretarisnya terkejut dan masuk terburu-buru ke dalam ruangannya.

"Pak?"

"Keluar!"

"Tapi, Pak?"

"KELUAR!" usir Aaron dengan rahang mengeras dan tatapan tajam yang siap untuk membunuh. Sekretarisnya mengangguk gugup, ia segera ke luar dengan tergesa-gesa.

Pintu kembali terbuka membuat Aaron menggeram dan menoleh cepat.

Ansel, melambaikan tangan dengan santainya. Pria itu bersiul begitu melihat ruangan Aaron yang sangat berantakan layaknya kapal pecah.

"Pikiran dan hati yang kacau, kenapa dilampiaskan ke pada benda yang berserakan itu." Ansel melangkah penuh hati-hati, takut sepatunya menginjak beling kaca atau merusak dokumen penting pria itu yang sudah berserakan di lantai. Jika sudah begini, maka sekretaris yang malang yang akan kerepotan.

Aaron berdecak, tidak suka dengan kedatangan Ansel yang terkenal sangat menyebalkan. "Keluarlah. Aku sedang tidak ingin diganggu." Aaron memutar kursi kebesarannya membelakangi Ansel.

Ansel tergelak, "Malu pada usiamu, Kakak sepupu. Jika kau butuh bantuan untuk menghancurkan ruanganmu, aku akan dengan senang hati melakukannya, misalnya menghancurkan bingkai ini," Ansel mengambil bingkai yang berisi foto mereka semua dan Luna sebagai tambahan.

Aaron sontak berdiri, menatap tajam pada adik sepupunya. "Kembalikan ke tempatnya," perintahnya dengan nada penuh ancaman.

Ansel menggidikkan bahu tidak acuh, masih memegang bingkai foto tersebut, ia menarik kursi untuk duduk.

"Satu-satunya foto yang kau miliki?" Ansel menatapnya dengan senyum mengejek. Aaron menarik napas, ia kembali duduk.

"Butuh pelampiasan?" Ansel tersenyum penuh arti.

Aaron mendengus.

"Daripada hanya sekedar menghancurkan barang dan pekerjaan yang membuatmu terlihat seperti pecundang yang nantinya juga akan merepotkan sekretarismu yang malang itu, tidakkah sebaiknya kau bersenang-senang dengan ototmu," Ansel mengepalkan kedua tinjunya, mengarahkannya pada Aaron layaknya seorang petinju.

"Cih! Apa gunanya menumbangkan musuh, jika menghadapi satu wanita saja aku tak mampu," Aaron meledek dirinya sendiri.

Ansel tertawa, yang dikatakan Aaron memang benar adanya. Ia pun segera mengembalikan bingkai yang ia pegang ke tempatnya. "Ya, salahkan dirimu yang bodoh yang tidak mampu melihat Paula tergores sedikit pun. Ck! Paula yang terjatuh, kau yang menangis." Ansel segera berdiri, "Jika butuh pelampiasan, datang lah ke nightmare."

"Aku tidak tertarik." Aaron memalingkan wajahnya.

"Ini menyebalkan. Kau dan Lux sudah tidak menyenangkan seperti dulu lagi. Ayolah, nikmati hidup kalian." Ansel dalam mode iblis yang menyesatkan.

"Menikmati hidup bukan harus dengan mengadu nyawa, dude." Aaron benar-benar tidak terpengaruh sama sekali. Pikirannya sedang dipenuhi wajah Paula yang sedang terluka saat di restoran terakhir kali mereka bertemu.

"Ck! pecundang!" Ansel segera berbalik dan berjalan menuju pintu ke luar. Di ambang pintu ia kembali berbalik, "Jangan sampai kau tidak sadar bahwa Luna mulai menguasai dirimu, atau kau memang berniat untuk menikahinya? Aku mendengar ibumu mengatakan akan mengadakan pesta pertunangan untuk kalian dalam waktu dekat. Kabari aku, hadiah apa yang kau inginkan." Ansel mengerling jenaka, dan segera menarik pintu, berlindung di belakangnya dan prang! Vas bunga kembali hancur berkeping-keping.

"Ck, hampir saja kau melukai tubuh indahku. Wah, kau butuh perawatan sepertinya, mau kukenalkan pada dokter terapi yang..."

"Aku hanya butuh Paula." Aaron menyela dengan cepat dan seketika wajahnya berbinar. "Kemari lah." ia meminta Ansel untuk masuk kembali.

Ansel menaikan sebelah alisnya, terlihat ragu untuk masuk kembali. Aaron dalam mode kacau tidak akan bisa diajak kompromi, pria itu bisa menyerang kapan saja dan tidak akan memedulikan siapa yang ia serang.

"Jadilah adik yang penurut."

Ansel menggidikkan bahu, ia pun kembali masuk dan duduk di tempat semula. "Ada apa?"

"Hubungi Paula, dan berbicara lah sebanyak mungkin dan jangan lupa nyalakan speaker." Perintah Aaron dengan sangat antusias. Kenapa tadi ia tidak memikirkan hal itu.

"Aku tidak mau," sahut Ansel dengan wajah minta ingin ditinju.

"Aku akan datang bersamamu ke nightmare."

"Oke," Ansel segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Paula. Pada deringan kedua, panggilannya langsung dijawab.

"Paula di sini, ada yang dibisa kubantu adikku yang manis?"

Aaron tersenyum mendengar nada suara Paula yang terdengar girang. Itu artinya gadis itu baik-baik saja.

"Aku hanya ingin berbicara denganmu."

"Ya, aku mendengarkan."

"Bagaimana kabarmu?" tanya Ansel mulai berbasa-basi.

"Baik. Sangat baik," mendengar jawaban Paula kembali Aaron tersenyum.

"Aku senang mendengarnya. Kau tidak menanyakan kabarku?" tanya Ansel

"Kau menghubungiku, itu artinya kau masih hidup dan baik-baik saja. Karirmu juga masih bagus, belum ada berita di televisi yang menyiarkan bahwa kau salah memotong organ penting dalam tubuh pasienmu. Jadi sepertinya tidak ada yang perlu kutanyakan," jawaban Paula, lagi dan lagi membuat Aaron tergelak.

Aaron memberi isyarat agar Ansel terus mengajaknya berbicara, Ansel mendengus karena ia tidak tahu harus berbicara apa lagi. Ia tidak terbiasa berpura-pura.

Ansel, kau masih di sana?" panggil Paula dari seberang telepon.

"Ya, aku masih di sini. Apa kau merindukan Aaron?" Aaron menatapnya dengan kesal dan bersiap ingin menoyor kepalanya, tapi Ansel dengan sigap segera berdiri dan menghindar.

"Aaron? Apa kau bersamanya?" tanya Paula dengan nada ketus, membuat Aaron lemas seketika.

"Ya, dia yang memintaku untuk menghubungimu dan memaksaku terus berbicara sebanyak mungkin." Ansel tidak merasa prihatin sama sekali melihat wajah Aaron yang berubah sendu.

"Ansel, aku sedang berkencan jadi mari akhiri panggilan ini."

Panggilan pun terputus, Ansel menggidikkan bahu tidak acuh. "Aku sudah melaksanakan tugasku, sepertinya dia mempunyai kekasih lagi."

"Keluar lah," usir Aaron.

"Habis manis sepah dibuang," sindir Ansel sembari terkikik geli melihat tampang murung penuh amarah sepupu tertuanya itu.

"Aku sedang marah, Ansel."

"Aku bisa menemanimu untuk menghajar pria yang sudah berani mengajaknya berkencan. Seperti yang kita lakukan terakhir kali pada dokter jerawat itu. Menyewa jalang untuk menggodanya," keduanya pun tertawa mengingat kekonyolan yang mereka lakukan. Dan jangan sampai Paula tahu hal itu, karena ia akan meminta kedua bodyguardnya menghajar mereka. Dan percayalah, tidak akan ada yang bisa bersembunyi dan lolos dari kejaran kedua saudara kembara itu.

1
lyani
jodoh tapi tak bersatu
lyani
ciyeeeee yg perhatian
lyani
🤣
lyani
iy bnr
iis nuriyah
lanjut kak seru🥰🥰🥰
BumbleBee: siap kakak😍
total 1 replies
lyani
wihhhh
lyani
🤣
lyani
kamu jahat Alena..kesian ntu megan😄
lyani
sampai release lagi pun saya masih penasaran....berusaha mengingat kejadian yg menimpa ayah Alena bang iky
lyani
tujuan jelas utk menjauhkan Luna dari paula
lyani
hentikan mulut beracunmu Luna
lyani
kagak ada yg sanggup
lyani
bodyguard gratisan
lyani
🤣
lyani
CK
lyani
kabur dari tugas y🤣
lyani
jangan tutupi rasamu Ar
lyani
Pau yg malang
lyani
fokus Meg... jadilah yg terbaik dari versi dirimu sendiri
lyani
ada yg nukar suratnya nggak si?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!