Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Janji di Koridor Rumah Sakit
Eve menangis tanpa suara di dada Edric.
Tubuhnya gemetar lama sekali. Bukan tangis besar yang memancing orang menoleh, melainkan getaran kecil yang lebih menyakitkan karena ia masih berusaha menahan diri bahkan ketika sudah runtuh. Edric tidak menyuruhnya berhenti. Tidak mengatakan semua akan baik-baik saja, karena ia belum tahu apakah itu benar.
Ia hanya memeluk Eve dan menepuk punggungnya pelan.
Bu Wati berdiri beberapa langkah dari mereka, mengusap mata dengan ujung kerudung. Di balik pintu ruang observasi, mesin monitor berbunyi teratur.
Setelah lama, napas Eve mulai tenang. Edric mengangkat wajahnya dengan hati-hati, menghapus jejak air mata di pipinya.
"Ada aku," katanya. "Kamu tidak perlu sekuat itu. Tidak perlu selalu sendirian."
Eve menunduk. "Aku panik."
"Saya tahu."
"Aku tidak sempat berpikir."
"Saya tahu." Suara Edric tetap lembut, tetapi matanya berubah tegas. "Tapi kamu pergi tanpa bilang apa-apa. Ponsel mati. Saya hampir gila mencarimu."
Eve menggigit bibir.
"Lain kali..." Edric berhenti, seperti kata itu sendiri membuatnya takut. "Tidak. Jangan ada lain kali. Apa pun yang terjadi, kamu bilang pada saya dulu. Marah boleh. Tidak mau bicara boleh. Tapi jangan menghilang."
Eve menatapnya. Di wajah Edric ada sisa hujan, lelah, dan ketakutan yang tidak sempat disembunyikan. Ia baru benar-benar memahami bahwa kepergiannya tadi bukan hanya membuat Edric cemas. Ia membuat pria itu kembali ke tempat tergelap dalam dirinya: kehilangan orang yang dicari terlalu lama.
"Aku janji," katanya pelan.
Janji itu kecil, tetapi berat. Bagi Eve, meminta tolong selalu terasa seperti membuka pintu yang dulu sering dipakai orang untuk menyakitinya. Malam itu, di lorong RSUD Cirebon, ia membuka pintu itu sedikit.
Edric menggenggam tangannya.
Cold war mereka tidak selesai dengan ucapan maaf panjang. Tidak ada pelukan dramatis di bawah hujan. Hanya satu janji di antara bau disinfektan dan lampu putih rumah sakit: mulai sekarang, ia tidak akan menghilang sendirian.
Pagi berikutnya, Vincent Tan tiba dengan kereta pertama dari Jakarta.
Ia masuk ke ruang observasi membawa tas medis, wajahnya serius. Vincent memeriksa catatan dokter, tekanan darah, respons saraf, lalu meminta izin melakukan terapi pendukung dengan akupunktur. Dokter jaga sempat ragu, tetapi nama RS Tan dan Edric Kho membuat proses administrasi bergerak cepat.
Eve menunggu di luar, kedua tangan menggenggam gelas air yang tidak diminum.
Satu jam kemudian, Vincent keluar.
"Ada sedikit respons di sisi kiri," katanya. "Itu kabar baik."
Eve hampir menangis lagi.
"Tapi jangan terlalu berharap cepat," lanjut Vincent hati-hati. "Beliau sudah tua. Tubuhnya tidak bisa bertahan seperti orang muda. Tujuh puluh dua jam pertama penting."
"Dia akan sadar?"
"Mungkin sebentar-sebentar. Gunakan waktu itu dengan baik."
Menjelang siang, Oma Ong membuka mata.
Eve langsung mendekat. "Oma?"
Mata Oma Ong bergerak lambat, lalu berhenti pada Eve. Bibirnya bergerak, tetapi suara yang keluar sangat lemah. Eve menunduk sampai hampir menyentuh wajahnya.
"Oma, ini Lina."
Jari Oma bergerak sedikit.
Edric berdiri di samping tempat tidur, tidak berani terlalu dekat sampai Eve menoleh padanya. "Oma, ini Edric."
Edric mendekat. Ia mengambil tangan Oma Ong dengan dua tangan, menunduk penuh hormat.
"Oma, saya Edric. Suami Lina."
Oma Ong menatapnya lama. Mata tua itu keruh oleh sakit, tetapi masih tajam dalam cara yang membuat Edric merasa sedang diperiksa sampai ke tulang.
Lalu Oma tersenyum tipis.
Dengan suara lemah dan logat Cirebon yang kental, ia berkata, "Titip Lina, Nak. Jaga dia."
Edric berlutut di samping ranjang.
Eve menutup mulut.
Pria yang seluruh Jakarta hormati menundukkan kepala di depan perempuan tua dari Cirebon yang tubuhnya rapuh di ranjang rumah sakit.
"Saya akan menjaga Lina seumur hidup, Oma," kata Edric. "Saya berjanji."
Air mata Eve jatuh lagi. Kali ini ia tidak malu.
Oma Ong melihat mereka berdua, lalu perlahan menutup mata. Bukan pergi. Hanya tidur, seolah setelah menyerahkan sesuatu yang paling berharga, tubuhnya akhirnya boleh beristirahat.
Sore itu, Edric mengatur pemindahan ke RS Tan Jakarta.
Ambulans pribadi datang dengan peralatan monitor lengkap. Dokter RSUD menandatangani berkas rujukan. Bu Wati ikut membawa tas kecil Oma. Eve hampir ingin menolak karena semuanya terasa terlalu besar, terlalu cepat, terlalu mahal. Namun Edric hanya berkata, "Biarkan saya melakukan ini. Untuk Oma. Untuk kamu."
Eve mengangguk.
Di RS Tan, Oma ditempatkan di kamar VIP yang tenang. Ada sofa panjang untuk keluarga, kamar mandi bersih, dan perawat khusus yang masuk setiap dua puluh menit. Eve duduk di samping ranjang Oma, masih merasa seperti berada di dunia yang bukan miliknya.
Pada hari ketiga, Hendra Kho dan Yuliana Kho datang.
Eve berdiri terlalu cepat sampai hampir menyenggol kursi. "Saya..."
Edric mendekat, suaranya rendah di telinganya. "Panggil saja Papa, Mama."
Wajah Eve memanas. "Pa... Papa. Ma... Mama."
Yuliana langsung memeluknya.
Pelukan itu tidak kaku. Tidak seperti formalitas keluarga kaya. Hangat, wangi lembut, dan lama cukup untuk membuat Eve berhenti menahan napas.
"Akhirnya ketemu juga," kata Yuliana. "Edric cerita banyak tentang kamu."
Eve melirik Edric. "Semoga yang baik."
Hendra tersenyum kecil. "Kalau yang buruk, Mama-nya sudah memarahi dia dulu."
Yuliana melepas Eve, lalu berjalan ke ranjang Oma Ong. Ia mengambil handuk kecil yang disediakan perawat, membasahinya dengan air hangat, dan mengusap wajah serta tangan Oma dengan gerakan hati-hati.
Eve terdiam.
Tidak ada kamera. Tidak ada tamu. Tidak ada alasan untuk berpura-pura. Yuliana melakukannya seperti seorang anak perempuan merawat orang tua keluarga sendiri.
Hendra berdiri di samping Eve. "Biaya rumah sakit tidak perlu dipikirkan. Oma sudah jadi keluarga kami."
Kali ini Eve tidak bisa menjawab. Tenggorokannya penuh.
Setelah jam besuk selesai, Yuliana menggenggam tangan Eve di lorong.
"Nak, kalau kondisi Oma lebih baik, kita buat pernikahan sederhana ya. Tidak perlu besar. Yang penting Oma bisa melihat kamu pakai gaun pengantin."
Eve menatap kaca kamar tempat Oma tertidur.
Bayangan dirinya di kaca tampak lelah, pucat, tetapi tidak sendirian.
Ia mengangguk.
"Iya, Mama."
Yuliana tersenyum, lalu menoleh pada Edric di belakang Eve. "Besok Mama ajak Lina belanja untuk persiapan pernikahan."
Edric tampak waspada. "Mama, jangan membuatnya takut."
"Mama tahu batas."
Edric tidak terlihat percaya.
Yuliana menepuk lengannya. "Tapi ada hal yang perlu Mama bicarakan dengannya. Soal keluarga Kho."
Senyum Edric sedikit kaku.
Eve melihat perubahan itu, dan untuk pertama kalinya ia memahami: diterima oleh keluarga Kho baru pintu pertama.
Di belakang pintu itu, ada dunia yang belum ia kenal.