**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Rencana Kirana
Melati menutup pintu mobil tanpa tergesa.
"Kamu kelihatan jauh lebih sehat," katanya. "Magelang rupanya cocok untukmu."
Kirana berdiri di sisi jalan yang masih terlihat dari gerbang wisma. "Kamu datang untuk menanyakan kesehatanku?"
"Aku datang supaya kamu berhenti sebelum mempermalukan semua orang."
"Semua orang yang mana?"
"Keluarga Adiningrat. Mas Rangga. Aku."
Kirana memasukkan satu tangan ke tas. Dengan layar ponsel tersembunyi di balik kain, ia menekan tombol rekam.
"Aneh," katanya. "Namaku dipakai untuk mengirim fitnah, tapi kamu yang merasa dipermalukan saat aku mencari pelakunya."
Senyum Melati menipis. "Jangan menuduh tanpa bukti."
"Itu juga yang terus dikatakan Bagas. Karena itu kami sedang mengumpulkan bukti."
"Kami?" Melati memandang gerbang, memastikan Bagas tidak ada. "Kamu benar-benar menempel kepadanya lagi. Setelah semua yang terjadi di vila, kamu masih sanggup berpura-pura sebagai istri baik-baik?"
"Yang terjadi di vila adalah jebakan."
"Tetap saja kamu berada di ranjang laki-laki yang bukan calonmu. Mas Rangga tidak akan memilihmu lagi setelah tahu itu."
Kirana merasa mual, bukan karena kehamilan. Melati mengucapkan akibat sebuah serangan seolah itu noda pilihan korban.
"Aku tidak datang ke Magelang untuk merebut Rangga."
"Lalu kenapa kamu menyelidiki surat keluarga? Kenapa membawa nama Adiningrat ke KUA dan kesatuan?"
Pertanyaan itu memberi Kirana kepastian bahwa Melati mengetahui terlalu banyak tentang gerakan mereka.
"Karena perjodohan itu sejak awal memakai namaku," jawab Kirana. "Mbah Kartono yang menyelamatkan Pak Broto. Kesepakatannya untuk cucunya, bukan untukmu."
Wajah Melati berubah.
"Siapa yang memberitahumu?"
"Surat lama masih ada. Begitu juga cincin dari Mbah."
"Kamu sudah menghubungi keluarga Adiningrat?"
Kirana membiarkan dua detik berlalu. "Jejaknya sudah kutaruh di tempat yang bisa mereka lihat."
Ia tidak mengatakan tempat itu hanya berupa koper terkunci dan salinan kronologi di tangan Bagas. Melati mendengar apa yang paling ditakutinya sendiri.
"Tarik semuanya," desis Melati.
"Kenapa, kalau kamu tidak mengambil apa pun dariku?"
"Aku yang mendampingi Mas Rangga selama ini. Aku yang mengenal keluarganya. Kamu hanya nama di atas kesepakatan orang tua."
"Kalau begitu kamu seharusnya memakai namamu sendiri."
Melati melangkah mendekat. "Tiga hari. Cabut pernyataanmu tentang fitnah, hentikan penyelidikan, lalu tinggalkan Magelang."
"Kalau tidak?"
"Kamu sudah melihat apa yang bisa terjadi pada nama Bagas hanya dalam satu pagi."
Ancaman itu terekam jelas.
Kirana menahan wajahnya tetap tenang. "Jadi kamu mengakui tahu siapa yang membuat unggahan itu?"
Melati tersadar. "Aku membaca yang dibaca semua orang. Jangan memelintir."
"Aku tidak perlu memelintir. Kamu melakukannya sendiri."
Melati meraih lengan Kirana.
Kirana sudah siap. Ia mundur satu langkah ke samping, menjaga kedua kaki tetap seimbang. Tangan Melati hanya menangkap udara. Sepatu hak rendahnya menginjak tepi aspal yang retak, lalu tubuhnya oleng ke depan.
"Melati!"
Kirana mengulurkan tangan, tetapi terlambat. Lutut Melati lebih dulu mengenai tanah. Dahinya membentur sudut rendah pembatas tanaman di pinggir jalan.
Suara benturannya membuat Bu Marni menoleh dari gerbang.
"Ada apa?"
Melati duduk sambil menutup dahi. Darah tipis merembes di sela jari.
Kirana tidak mendekat sembarangan. "Bu Marni, tolong panggilkan bantuan. Dia jatuh dan kepalanya terbentur."
"Kamu mendorongku," kata Melati.
"Tidak. Kamu mencoba meraihku dan kehilangan keseimbangan."
Bu Marni berlari membawa kotak pertolongan pertama. Sopir mobil juga turun setelah mendengar suara mereka.
"Saya tidak melihat awalnya," kata Bu Marni, "tapi saya melihat Mbak Kirana berdiri jauh ketika Mbak jatuh. Sebaiknya luka dibersihkan dulu."
Melati menepis kapas yang hendak diberikan. "Tidak perlu."
"Luka kepala harus diperiksa kalau pusing atau mual," ujar Kirana. "Sopirmu bisa membawamu ke klinik."
"Jangan pura-pura peduli."
Melati berdiri dengan bantuan sopir. Sebelum masuk mobil, ia menatap Kirana dengan kebencian yang tak lagi disembunyikan.
"Kamu akan menyesali ini."
Kirana memegang tas di depan perut. "Ancamanmu juga sudah kudengar."
Pintu mobil dibanting. Kendaraan hitam itu pergi meninggalkan bau asap dan dua tetes darah di tepi pembatas tanaman.
Bu Marni menatap Kirana. "Dia siapa?"
"Kakak tiriku."
"Keluargamu rumit sekali."
"Saya juga baru memahami seberapa rumit."
Di kamar, Kirana mematikan rekaman. Suara Melati tidak cukup untuk membuktikan siapa pengirim unggahan, tetapi ancaman tentang nama Bagas dan pengetahuan rinci soal penyelidikan dapat menjadi petunjuk.
Ia mengirim salinan kepada Bagas dan menyimpan satu lagi di penyimpanan terpisah.
`Jangan datang ke sini dulu. Aku aman. Bu Marni melihat bagian akhirnya. Simpan rekaman ini.`
Balasan Bagas muncul kurang dari semenit.
`Kunci pintu. Aku tetap datang.`
Kirana hampir tersenyum. Laki-laki itu rupanya hanya belajar mendengarkan setengah jalan.
Rencana Kirana belum benar-benar terbentuk, tetapi satu hal jelas. Ia tidak punya jalan langsung menuju Broto dan Hartini di Jakarta. Jika Melati terus bersembunyi di balik nama Adiningrat, kebenaran harus dibuka di tempat yang cukup ramai hingga tak bisa lagi disapu ke bawah karpet.
Untuk itu, Kirana membutuhkan bukti, saksi, dan waktu yang tepat.
*
Rangga pulang hampir tengah malam.
Lampu ruang keluarga masih menyala. Melati duduk di sofa dengan plester besar di dahi dan mata bengkak seperti sudah lama menangis.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
Melati menunduk. "Aku menemui Kirana."
Rangga meletakkan tas kerja. "Untuk apa?"
"Aku ingin menyelesaikan masalah baik-baik. Dia justru mengancam akan mengambil semua yang kumiliki."
"Apa maksudnya?"
Melati menggenggam ujung gaun. "Ada hal tentang perjodohan kita yang belum pernah kuceritakan."
Rangga tidak bergerak.
"Dulu, beberapa pesan yang kamu kira dari Kirana sebenarnya kutulis. Aku hanya membantu pada awalnya. Lalu aku jatuh cinta kepadamu." Suara Melati pecah dengan teratur, seolah kalimat itu sudah dilatih sepanjang perjalanan pulang. "Aku takut kalau memakai namaku sendiri, kamu tidak akan pernah melihatku."
"Jadi perempuan yang kukenal lewat surat itu bukan Kirana?"
"Sebagian aku, sebagian dia. Tapi perasaanku semuanya nyata."
Rangga mundur satu langkah. Wajahnya kehilangan warna.
"Berapa lama kamu berniat menyembunyikan ini?"
"Aku ingin memberitahumu. Lalu Kirana datang dan mengancam akan menghancurkan pernikahan kita."
Rangga menatapnya seolah sedang menyusun ulang bertahun-tahun percakapan. "Apakah Ayah dan Ibu tahu kamu memakai namanya?"
"Tidak. Mereka hanya tahu keluarga Prawira mengirimku sebagai calon yang disepakati."
"Jadi kamu membiarkan mereka percaya kamu adalah cucu Mbah Kartono?"
Melati mulai menangis lagi. "Aku juga anak Suryo. Apa bedanya bagiku untuk mendapat satu kesempatan? Kirana selalu memperoleh semua yang baik sejak kecil."
"Itu bukan jawaban."
"Mas, aku istrimu sekarang. Semua yang kulakukan karena aku ingin hidup bersamamu."
Rangga tidak mendekat saat Melati mengulurkan tangan. Tatapannya justru turun pada plester di dahi, satu-satunya bagian cerita yang bisa dilihat tanpa harus mempercayai kata-kata.
"Dia melukai dahimu?"
Melati menunggu sampai Rangga menatapnya penuh.
Kemudian ia mengangkat wajah dan menunjukkan luka di balik plester yang mulai ditembus darah.