Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
villa
Sesampainya di villa Puncak yang super megah dan terisolasi dari keramaian, kenyataan pahit kembali menghantam mereka. Penjaga villa yang sudah diberi instruksi ketat oleh Kakek Satya hanya membukakan satu kamar utama untuk mereka berdua. Semua kamar tamu lainnya dikunci rapat-rapat, dan kuncinya telah dibawa pergi.
Kamar utama itu didekorasi dengan sangat romantis. Lilin-lilin aromaterapi beraroma lavender menyala di setiap sudut, dan di atas ranjang king size bertabur seprai sutra putih, terdapat taburan kelopak bunga mawar merah yang membentuk pola hati yang besar.
Cesa berdiri di ambang pintu kamar dengan mulut terbuka lebar. "Ini... ini pelecehan terhadap hak-hak kemerdekaan tidur gue!" pekik Cesa histeris.
Devan yang berjalan di belakangnya sambil membawa koper hanya bisa memijit keningnya yang kembali berdenyut. "Udah, Sa. Nggak usah teriak-teriak. Suara lo bisa mancing kuntilanak Puncak ke sini tahu nggak." Devan menjatuhkan kopernya ke lantai, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah di sofa panjang yang terletak di sudut kamar. "Gue tidur di sofa lagi kayak biasa. Lo tidur di kasur gaban itu sendirian."
Cesa menatap Devan yang sudah memejamkan mata dengan posisi meringkuk di sofa yang ukurannya terbilang kekecilan untuk tubuh tegap Devan. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap di hati barbar Cesa. Bagaimanapun juga, Devan sudah seharian bekerja di kantor, lalu menyetir menembus kabut Puncak yang tebal demi menuruti perintah Kakeknya.
"Woy, Devan," panggil Cesa dengan nada suara yang sedikit melunak, meskipun tetap terdengar ketus.
"Apa lagi, Sa? Gue capek banget, mau tidur," sahut Devan tanpa membuka mata.
Cesa mendengus, lalu berjalan mendekati ranjang, menepis semua kelopak mawar pembentuk pola hati itu ke lantai hingga berantakan. Ia mengambil satu bantal besar dan melemparkannya tepat ke wajah Devan. BUK!
"Aduh! Apa-apaan sih lo?!" Devan tersentak bangun, menatap Cesa dengan gusar.
"Tidur di kasur sana!" perintah Cesa sambil menunjuk ranjang dengan dagunya. "Tapi awas ya, lo tidur di pembatas paling pojok kanan, gue di pojok kiri. Kalau lo berani melewati garis khatulistiwa tengah kasur atau berani gelendotan kayak mantan-mantan lo itu, gue pastiin besok pagi lo tinggal nama!"
Devan tertegun melihat tawaran Cesa. Sebuah senyuman tengil yang menjadi ciri khasnya perlahan terukir di wajah tampannya. Ia bangkit berdiri, membawa bantalnya, lalu berjalan mendekati ranjang dengan langkah tegap.
"Oke, Nyonya Besar Sultan. Tapi inget ya, Kakek mintanya cicit bulan depan. Kalau kita tidurnya jauhan kayak antar pulau gini, gimana caranya proyek cicitnya bisa gol?" goda Devan sengaja memancing emosi Cesa.
"DEVANO KAMPPRET! MASUKIN LAGI ITU OMONGAN LO KE DALEM PERUT SEBELUM GUE COLOk PAKAI KUKU PALSU GUE!!" amuk Cesa dengan wajah merah padam, langsung menyambar guling dan memukulkannya bertubi-tubi ke dada Devan, memicu tawa renyah sang bad boy yang menggema memecah kesunyian malam di Puncak.
∆∆∆
Suara burung-burung di kawasan Puncak yang seharusnya menenangkan di pagi hari, mendadak kalah saing dengan dentuman musik koplo yang diputar volume maksimal dari ponsel Cesa. Di teras villa mewah Mahardika, Cesa sedang asyik menikmati udara dingin dengan setelan yang luar biasa nyentrik.
Cesa memakai kaos gombrang bergambar beruang besar yang ukurannya kebesaran sampai menutup setengah pahanya, dipadukan dengan celana pendek ketat di atas lutut yang hampir tenggelam di balik kaosnya. Di kepalanya, ia masih setia memakai topi jerami pantai raksasa bermerek desainer yang kemarin dibelinya, lengkap dengan kacamata hitam berbingkai berlian tiruan yang bertengger di hidung mancungnya. Tangan kanannya memegang segelas es kopi susu gula aren, sementara tangan kirinya memegang kipas sate elektrik yang ia gunakan untuk mendinginkan diri—padahal suhu Puncak saat itu sedang dingin-dinginnya hingga menusuk tulang.
Devan yang baru saja keluar ke teras sambil memegang cangkir kopi hitam langsung menghentikan langkahnya. Pria itu memijit pelipisnya, menatap sang istri dengan pandangan pasrah yang sudah mendarah daging.
"Cesa... demi apa pun yang ada di bumi, lo gak kedinginan pakai celana sekurang bahan itu di atas gunung?" tanya Devan heran, mengambil tempat duduk di kursi rotan sebelah Cesa. "Terus itu kacamata hitam gunanya apa? Ini masih berkabut, matahari aja belum bangun, Sa!"
"Heh, cowok tengil! Ini namanya aesthetic outdoor look!" sahut Cesa dengan suara cemprengnya, tidak mau kalah. Ia menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Devan dari balik lensa gelap. "Radiasi kedengkian alam itu bisa muncul kapan saja. Makanya gue harus tetap terlindungi dengan kemewahan tiruan ini. Lagian, kaos beruang gue ini harganya mahal ya, hasil gesek kartu Kakek lo kemarin!"
Devan hanya menggelengkan kepala, meneguk kopi hitamnya perlahan. Ia harus mengakui, meskipun kelakuan Cesa di luar nalar dan super barbar, keberadaan gadis itu membuat hidupnya yang semula monoton dan penuh kepalsuan di dunia bisnis menjadi jauh lebih berwarna. Setidaknya, bersama Cesa, Devan tidak perlu berpura-pura menjadi pria terhormat yang kaku.
Namun, ketenangan pagi itu tidak berlangsung lama. Suara decitan ban mobil yang direm mendadak di depan pagar villa seketika memecah keheningan. Sebuah mobil sedan mewah berwarna putih berhenti tepat di depan gerbang utama.
Dari dalam mobil, melangkah keluar sesosok wanita dengan gaya yang sangat kontras dengan Cesa. Wanita itu mengenakan long coat berwarna krem yang sangat elegan, sepatu bot kulit, dan rambut yang ditata rapi layaknya model majalah fesyen musim dingin. Siapa lagi kalau bukan Alice Sabrina Catrine, kakak kandung Cesa yang kemarin diusir dari kediaman utama Mahardika...
Melihat kedatangan kakaknya yang tanpa diundang, kehebohan gadis nyentrik itu kembali menyeruak dengan tingkat kebarbaran yang naik drastis.
Cesa langsung bangkit berdiri dari kursi rotannya hingga kursinya bergeser bunyi berdecit keras. Ia meletakkan gelas es kopinya dengan kasar di atas meja, lalu melangkah ke tepi pembatas teras dengan gaya petantang-petenteng andalannya. Celana pendek di atas lutut serta kaos beruang kebesaran yang bergoyang-goyang mengikuti langkah barbar-nya justru membuatnya terlihat seperti ketua geng motor yang siap melabrak musuh.
Matanya menatap nyalang ke arah sang kakak yang berjalan mendekati teras dengan langkah yang sok anggun.
"Wah, wah, wah! Lihat siapa yang datang terdampar di atas gunung!" seru Cesa dengan suara melengking yang sanggup membuat burung-burung di pohon berterbangan panik. "Heh, kepompong berjalan! Ngapain lo ke sini?! Gak puas kemarin diusir sama Kakek Satya, sekarang mau nyoba diusir pakai gaya bebas sama gue, hah?!"
Alice menghentikan langkahnya di bawah tangga teras. Ia menatap penampilan Cesa dari bawah ke atas dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa jijik dan sinis. "Cesa, jaga ya mulut kamu. Penampilan kamu itu benar-benar merusak pemandangan villa mewah ini. Kaos beruang kedodoran sama celana kurang bahan... kamu itu istri konglomerat atau gelandangan tersesat?"
Sumbu pendek Cesa langsung terbakar tanpa sisa. Ia melepas kacamata hitamnya dan melemparkannya ke atas meja rotan, lalu melompati tiga anak tangga teras sekaligus tanpa memedulikan tata krama, langsung berdiri tegak tepat di depan wajah Alice.
"Eh, denger ya, Alice si paling anggun tapi hobi kabur!" bentak Cesa, menunjuk hidung Alice dengan telunjuknya yang dipenuhi cincin berlian berkilau. "Kaos beruang gue ini emang gombrang, tapi sekali gue gesek harganya bisa buat beli skincare lo setahun! Celana gue pendek karena kaki gue mulus, gak kayak lo yang ketutup coat tebal padahal isinya bulu kudis semua! Jangan sok-sokan nilai fesyen gue kalau lo sendiri datang ke sini cuma modal muka tebal tanpa diundang!"
Devan yang melihat situasi mulai memanas langsung bangkit dari duduknya dan menyusul ke bawah. Ia berdiri di samping Cesa, menatap Alice dengan pandangan dingin yang menusuk. "Alice, mau ngapain lagi lo ke sini? Gue rasa keputusan Kakek kemarin sudah sangat jelas. Hubungan perjodohan kita udah hangus sejak lo milih kabur di hari H."
Alice langsung mengubah raut wajahnya menjadi melas saat menatap Devan. Ia mencoba meraih lengan Devan dengan gerakan lembut, namun Cesa dengan sigap langsung menepis tangan Alice menggunakan kipas sate elektrik yang masih dipegang kirinya. plak!
"Aduh!" ringis Alice, memegangi punggung tangannya. "Cesa! Kamu kasar banget sih!"
"Jauh-jauh lo dari suami gue, kuman gunung!" amuk Cesa barbar, memasang badan di depan Devan seperti induk ayam melindungi anaknya. Kaos beruang besarnya berkibar-kibar saat ia berkacak pinggang.
"Tangan lo itu ada magnet pelakornya ya? Hobi banget mau gelendotan sama suami orang! Devan itu udah sah punya gue, dicap stempel Kakek Satya dengan jaminan cicit bulan depan! Lo gak usah ikut campur!"
Devan yang mendengar kata 'jaminan cicit' spontan terbatuk kecil, namun ia memilih diam dan membiarkan istri barbarnya ini mengobrak-abrik mental sang kakak ipar.
Alice menghentakkan kakinya dengan kesal, harga dirinya runtuh melihat bagaimana Devan sama sekali tidak membelanya dan justru membiarkan Cesa bertindak barbar. "Devan! Kamu lihat kan kelakuan adik aku ini? Dia gak cocok buat kamu! Dia egois, emosian, dan memalukan! Aku ke sini cuma mau meluruskan kesalahpahaman kemarin, aku ditipu, Dev!"
"Halah, ditipu mbahmu!" potong Cesa, maju satu langkah lagi hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Alice. "Alasan lo basi banget kayak sayur lodeh seminggu! Kalau lo emang gak niat kabur, kenapa pas datang langsung minta posisi menantu balik? Kelihatan banget lo cuma gila harta Mahardika! Sekarang, mending lo balik kanan, masuk ke mobil putih lo itu, dan pergi sebelum kaos beruang gue ini berubah fungsi jadi kain kafan lo!"
Alice terbelalak, wajah anggunnya memucat mendengar ancaman luar biasa barbar dari adiknya sendiri. Ia menatap Devan untuk terakhir kali, berharap ada secercah pembelaan, namun Devan justru melipat tangan di dada dengan senyum sinis yang sangat kentara.
"Pulanglah, Alice. Sebelum istri gue beneran ngebakar mobil lo pakai kipas elektriknya," ujar Devan tenang namun penuh penekanan.
Dengan perasaan dongkol, malu, dan marah yang bercampur aduk, Alice akhirnya berbalik arah. Ia menghentakkan sepatu botnya keras-keras di atas tanah, masuk ke dalam mobil sedannya, dan langsung menancap gas meninggalkan area villa dengan kecepatan tinggi.
Cesa tersenyum penuh kemenangan, mengangkat kedua tangannya ke udara sambil menggoyangkan pinggulnya dengan gaya barbar yang sangat tidak estetik di depan gerbang. "Huuu! Dadah kakakku sayang! Selamat menikmati perjalanan pulang dengan hati yang penuh kedengkian!"
Devan hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah ajaib istrinya. Ia mendekati Cesa, lalu dengan gemas mengacak-acak rambut gadis itu yang tertutup topi jerami. "Udah puas ngamuknya, Nyonya Barbar? Sekarang masuk, udaranya makin dingin. Nanti kalau lo masuk angin, proyek cicit Kakek bisa tertunda."
Cesa langsung menoleh cepat, wajahnya mendadak memerah padam di balik riasan cetarnya. "Devan kampret! Lo sengaja ya manfaatin omongan gue tadi?! Awas lo ya!" seru Cesa sambil mengejar Devan yang sudah berlari santai masuk ke dalam villa sambil tertawa lepas.