NovelToon NovelToon
Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Aturan Nomor 1 Jangan Jatuh Cinta Dengan Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ziziyuuu

Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".

Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Tok tok.

"Permisi, Pak, saya boleh masuk?" Suara Kila terdengar setelah mengetuk beberapa kali pintu ruangan Pak Rhaegar. Suaranya kecil, tapi jantungnya di dalam berisiknya minta ampun.

Dari dalam ruangan terdengar jawaban singkat, dingin, khas.

"Hmm, masuk."

Kila membuka pintu pelan, seperti membuka pintu ruang sidang skripsi. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan sejak dari parkiran tadi. Di tangannya ada sebuah paper bag coklat polos yang wangi. Isinya adalah jaket hitam Pak Rhaegar yang sudah dia cuci dengan laundry terbaik, setrika dengan sangat rapi sampai tidak ada satu lipatan pun, dan semprotkan parfum dengan sangat hati-hati semalam. Dia bahkan melipatnya seperti melipat kado.

"Maaf ini Pak, saya mau mengembalikan jaket yang kemarin, yang di halte... makasih banyak Pak," kata Kila sembari meletakkan paper bag yang berisikan jaket di ujung meja kerja Pak Rhaegar. Tidak berani terlalu dekat, jaraknya satu meter dari meja. Takut.

Pak Rhaegar hanya melirik sekilas ke paper bag tersebut, lalu kembali menatap laptopnya.

"Hmm, iya. Taruh aja di situ," katanya dengan sikap seperti biasa. Dingin. Datar. Persis seperti kulkas tujuh pintu yang baru keluar dari toko elektronik dan belum dicolokin.

Kila masih berdiri mematung di depan meja itu. Kakinya tidak mau bergerak, terpaku. Karena sebenarnya Kila juga punya misi rahasia selain mengembalikan jaket. Misi yang jauh lebih berat.

Pak Rhaegar akhirnya mengangkat kepalanya, menyadari Kila belum juga keluar dari ruangannya. Dahi tegasnya mengerut.

"Kenapa? Ada lagi? Jaket sudah, kan?"

Kila menelan ludah keras. Tenggorokannya tiba-tiba kering kerontang.

"Hmm, begini Pak, untuk merayakan HUT kampus tahun ini saya dan teman-teman berencana untuk melaksanakan seminar, saya bermaksud untuk mengundang Bapak sebagai pembicara dalam seminar tersebut," kata Kila sedikit gugup, tangannya meremas ujung rok plisketnya sendiri sampai lecek. Kalimat yang sudah dia hafalkan semalaman.

Pak Rhaegar menatap Kila lekat, lama. Tatapan yang membuat Kila semakin gugup dan ingin menenggelamkan diri ke lantai.

"Terus?" katanya, satu kata.

Apaan sih Bapak pakai liatin aku gitu banget, nggak tahu apa ini jantung kayak mau copot dari dada, deg-degannya kedengeran sampai luar ruangan kali, umpat Kila dalam hati. Wajahnya sudah mulai memanas, merah.

"Apakah Bapak bisa mengisi seminar itu? Temanya tentang penguasaan ilmu, bukan sekadar peringkat. Cocok banget sama Bapak," Kila akhirnya memberanikan diri bertanya, suaranya hampir berbisik.

"Saya sibuk, cari pembicara lain saja," jawab Pak Rhaegar tanpa menoleh lagi ke arah Kila. Matanya kembali ke layar laptopnya yang penuh tulisan. Seolah Kila tidak ada di sana, seolah dia hanyalah angin.

"Tapi kan, Pak..." belum selesai kalimat Kila, Pak Rhaegar sudah memotong pembicaraannya dengan cepat, tanpa ampun.

"Udah nggak usah tapi-tapi, saya nggak bisa isi seminar, saya sibuk. Jadwal saya padat," katanya lagi dengan wajah datar khasnya. Nada suaranya final, tidak bisa diganggu gugat.

Kila menggigit bibir bawahnya. Wajahnya cemberut, kecewa.

"Yaudah deh Pak, saya pamit dulu ya," kata Kila dengan suara kecil, seperti anak kecil yang dimarahin.

"Hmm."

Kila pun berjalan keluar meninggalkan ruangan Pak Rhaegar, dengan perasaan yang tidak enak tentu saja. Pintu ditutup pelan, tapi hatinya berisik seperti habis ditolak mentah-mentah.

"Aku harus bilang apa coba ke teman-teman yang lain, masa iya aku harus bilang aku ditolak mentah-mentah, yehh gengsi amat, malu banget," gumam Kila setelah keluar dari ruangan, tangannya mengepal menahan malu. "Pokoknya aku harus bujuk Bapak, sampai Bapak mau, titik. Nggak peduli caranya."

Kila pun memutuskan untuk pulang ke rumah karena hari juga sudah menjelang sore dan tenaganya habis setelah ditolak.

"Aku pulang aja deh, besok pikirin lagi gimana cara buat ngebujuk Bapak Kulkas itu," kata Kila sembari berjalan menuju parkiran kampus dengan langkah gontai.

_____

Keesokan harinya Kila memutuskan untuk kembali bertemu dengan Bapak Dosen tampan dingin itu. Baru sampai parkiran kampus, dia segera berjalan cepat menuju ruang dosen. Semangatnya hari ini berbeda. Hari ini dia tidak akan menyerah, dia sudah menyiapkan mental baja.

Tok tok.

"Permisi Pak, boleh saya masuk?" kata Kila setelah sampai di depan pintu ruangan Pak Rhaegar. Sudah beberapa kali dia mengetuk pintu tapi belum ada jawaban juga dari dalam ruangan. Ruangan itu sepi, lampunya mati.

"Haii, maaf aku mau nanya, lihat Pak Rhaegar nggak? Soalnya dari tadi aku ketuk pintunya tapi nggak ada yang jawab," tanya Kila pada seorang mahasiswa yang kebetulan lewat membawa tumpukan buku.

"Ohh, kalau nggak salah lihat tadi kayaknya Pak Rhaegar jalan ke perpus deh," kata mahasiswa itu.

"Ohh gitu, pantes nggak ada yang jawab, oiya makasih ya," kata Kila tersenyum pada mahasiswa itu.

"Iya sama-sama," katanya tersenyum juga pada Kila sembari berjalan meninggalkan Kila.

Kila memutuskan untuk menyusul Pak Rhaegar ke perpustakaan kampus yang berada di lantai yang sama dengan ruang dosen, hanya beda lorong.

"Nanti aku ngomong apa ya sama Pak Rhaegar? Ngomongnya gimana biar nggak ditolak lagi?" gumamnya sambil terus berjalan menuju perpustakaan. Langkahnya ragu-ragu, tapi hatinya nekat, sudah terlanjur basah.

Kila pun sampai ke tempat tujuan, perpustakaan yang sunyi dan dingin ber-AC. Matanya sibuk mencari di setiap sudut perpustakaan di antara rak-rak tinggi.

"Bapak mana ya? Nggak keliatan dari tadi," kata Kila terus mencari, jinjit-jinjit.

"Nahh, itu dia orangnya," katanya setelah melihat target yang sudah dia cari sedari tadi. Pak Rhaegar tengah mengambil buku di rak buku paling atas yang berada tak jauh dari Kila. Kemeja putihnya rapi, punggungnya tegak, wanginya bahkan tercium samar dari jarak ini.

Kila menghampiri Pak Rhaegar dengan langkah maling.

"Ehh Bapak, kebetulan banget ketemu Bapak di sini, lagi cari buku juga ya?" kata Kila berbohong, padahal kan memang dia yang sengaja mencari, Aktingnya buruk.

Pak Rhaegar menoleh pelan. Terlihat jelas raut heran di wajahnya yang tampan.

"Hmm, ada apa kamu cari saya? Kebetulan?" kata Pak Rhaegar heran, dengan nada tahu Kila berbohong.

"Hehehe nggak kok, Pak, kebetulan beneran, sumpah," kata Kila cengengesan, mencoba terlihat polos dan tidak bersalah.

Pak Rhaegar hanya merespon dengan mengerutkan dahi dalam. Kila juga sebenarnya tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa memberi tahu maksudnya kepada Bapak Dosen tampan dingin itu tanpa ditolak lagi.

Gimana ngomongnya ya? Bingung banget aku tuh, takut ditolak lagi, gumam Kila sembari terus mengikuti langkah Pak Rhaegar. Dia mengikuti Pak Rhaegar terlalu dekat, seperti anak itik, sampai-sampai dia menabrak punggung Pak Rhaegar yang ternyata berhenti melangkah mendadak tanpa dia sadari karena ada rak.

"Aduhhh, ehh maaf Pak nggak sengaja, maaf maaf!" kata Kila setelah menabrak punggung Pak Rhaegar yang keras. Hidungnya hampir menyentuh bahu lebar Pak Rhaegar, wangi parfumnya langsung menyergap.

Pak Rhaegar berbalik perlahan. Menatap tajam ke arah Kila dari atas.

Ya ampun.

Jarak mereka hanya beberapa senti. Kila bisa melihat dengan jelas bulu mata Pak Rhaegar yang lentik dan panjang, rahangnya yang tegas, dan matanya yang dalam berwarna coklat gelap. Jantung Kila seperti berhenti berdetak ketika mata mereka saling bertemu dalam jarak sedekat ini di perpustakaan yang sepi.

Wahhh, ganteng banget sih, bisa pingsan aku kalau gini terus, tolong, kata Kila dalam hati. Napasnya tercekat, tidak bisa bernapas.

"Kamu ngapain sih, ngikutin saya terus dari tadi?" kata Pak Rhaegar dengan suara berat yang berhasil menyusup masuk ke telinga Kila, membangkitkan rasa yang sudah berusaha Kila sembunyikan selama ini.

Otak Kila korslet total. Sistem error.

"Soalnya Bapak ganteng," kata Kila keceplosan. Sangat pelan, tapi sangat jelas di ruangan perpustakaan yang sunyi itu. Suaranya jujur dari hati yang paling dalam.

Satu detik. Dua detik. Hening. Bahkan AC seperti berhenti berbunyi.

Mata Pak Rhaegar membulat sepersekian detik.

"Ehh, nggak, maksudnya nggak gitu, apaan sih aku, bukan gitu maksudnya Pak! Maksudnya..." kata Kila sambil memukul kecil mulutnya sendiri panik. Wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus, sampai ke leher. Dia ingin menghilang saat itu juga, ingin ditelan rak buku.

Dan kemudian, keajaiban terjadi.

Terlihat garis bibir Pak Rhaegar yang biasanya lurus dan dingin itu tertarik ke atas. Dia tersenyum. Walaupun itu cuma senyum yang sangat tipis sampai-sampai nyaris tak terlihat, hanya 2 detik, tapi Kila melihatnya dengan jelas. Untuk pertama kalinya, Kila melihat Bapak Kulkas tujuh pintu itu tersenyum karena dirinya. Karena keceplosannya.

Aku ngomong apa sih? Kenapa coba harus keceplosan segala, mati aja aku tuh, umpat Kila dalam hati mengutuk apa yang baru saja dia lakukan. Dia menunduk dalam, tidak berani menatap lagi, ingin menangis karena malu.

"Kamu mau apa sebenarnya ngikutin saya sampai ke perpus?" kata Pak Rhaegar lagi. Suaranya kali ini tidak sedingin tadi, ada nada geli yang ditahan.

"Hmm, maaf Pak, Bapak beneran nggak bisa ngisi seminar itu? Sekali aja Pak?" kata Kila dengan wajah sedikit memelas, mengangkat kepalanya pelan, matanya berkaca-kaca dibuat-buat biar terlihat kasihan, jurus andalan.

"Kamu lihat sendiri kan saya lagi sibuk, banyak buku yang harus direview," kata Pak Rhaegar berjalan menuju meja baca yang ada di perpustakaan itu sembari membawa beberapa buku tebal yang tadi diambilnya, duduk.

"Tapi kan seminarnya juga minggu depan Pak, masih lama, Bapak pasti udah nggak sibuk nanti," kata Kila lagi masih terus mengikuti Pak Rhaegar, seperti anak bebek mengikuti induknya, duduk di kursi seberang Pak Rhaegar.

Lagi-lagi Pak Rhaegar menatap tajam ke arah Kila, membuat Kila tak mampu berkata-kata. Kila hanya mematung. Tiba-tiba ide gila nan nekat terbesit dalam pikiran Kila, ide terakhir.

"Bagaimana kalau saya bantu Bapak ngerjain tugas Bapak?" kata Kila tiba-tiba yang mendapat respon kerutan dahi dalam dari Pak Rhaegar. Kila yang tahu maksud dari tatapan Pak Rhaegar kembali melanjutkan kata-katanya dengan cepat.

"Kalau kerjaan Bapak cepat selesai, Bapak bisa kan ngisi seminar itu? Saya bantuin beneran, Pak! Saya bisa ketik, bisa rangkum, bisa apa aja!" kata Kila sedikit bersemangat, matanya berbinar berharap Pak Rhaegar mau menerima tawarannya yang gila ini.

"Nggak usah, nanti kamu malah nambah kerjaan saya saja, merepotkan," kata Pak Rhaegar lagi-lagi dingin pada Kila, menolak.

"Saya janji Pak, saya nggak bakal nyusahin Bapak, saya janji deh! Bapak boleh nyuruh apa aja yang penting Bapak bisa ngisi seminar itu, saya ikhlas!" kata Kila dengan wajah mengemis. Kedua tangannya dirapatkan di depan dada seperti berdoa.

"Yakin? Nyuruh apa aja?" kata Pak Rhaegar menyipitkan kedua matanya menatap Kila tajam seperti tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Kila. Ada kilatan jahil yang berbahaya di matanya.

Sebenarnya Kila juga tidak percaya dengan apa yang dia katakan barusan. _Demi seminar itu nggak apa-apa lah berkorban sedikit, demi nilai panitia, demi gengsi,_ pikirnya dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya sendiri yang sudah terlanjur berjanji.

"Yakin dong Pak, yakin banget! Apa aja!" kata Kila bersemangat, padahal sebenarnya malas banget membayangkan harus membantu Pak Rhaegar yang super perfeksionis dan super dingin ini.

"Tapi kamu nggak bakalan nyusahin saya kan? Nggak bakal ngeluh?" katanya lagi memastikan, menatap Kila lekat.

"Nggak kok Pak, janji, janji mati!" kata Kila sembari mengangkat tangannya membentuk tanda peace dan janji. Senyumnya dipaksakan selebar mungkin sampai pipinya sakit.

"Ya sudah, kalau begitu kamu temui saya nanti di ruangan saya setelah jam makan siang. Jam satu. Jangan telat," kata Pak Rhaegar akhirnya, menutup bukunya.

"Siap Pak! Siap laksanakan!" kata Kila sembari mengangkat tangannya seperti hormat pada bendera, tegap. Matanya berbinar karena misi hampir berhasil, meski dia baru saja menjual dirinya sendiri.

"Yaudah sana keluar, jangan berisik di perpus," kata Pak Rhaegar lagi tanpa menoleh ke arah Kila, tapi sudut bibirnya masih tertahan senyum.

"Baik Pak!" kata Kila sembari membalikkan badannya, berjalan hampir berlari, hampir menabrak rak lagi, menuju pintu keluar perpustakaan meninggalkan Pak Rhaegar yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

Di balik punggung Kila yang berlari kecil itu, Pak Rhaegar kembali tersenyum tipis. Kali ini sedikit lebih lama, dan sedikit lebih jelas. Sampai matanya ikut tersenyum.

Gadis itu... berani bilang dia ganteng di depan mukanya langsung.

 

1
Rini Hanindya Salma Nurazizah
bagus
Linda Natalia
lanjut kak,crita nya bagus
Rian Moontero
mampiiirr😍👍
Wien Ibunya Fathur
ceritanya lumayan seru...
ayok ada dibaca🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!