Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Lantai dasar gedung pencakar langit PT Cipta Sentosa tampak sangat sibuk siang itu.
Lalu-lalang pegawai berjas rapi menghiasi lobi utama yang berlantai marmer putih mengkilap.
Tiba-tiba pintu kaca otomatis terbuka lebar menampilkan sosok pria paruh baya berantakan.
Pria itu adalah Victor, gembong sindikat investasi global yang kini sudah jatuh miskin.
Langkahnya terhuyung-huyung dengan tatapan mata sayu penuh keputusasaan yang mendalam.
Setelan jas mahalnya tampak kusut masai tanpa ada wibawa sedikit pun yang tersisa.
"Mana Direktur Bima?! Suruh dia keluar menemui sekarang juga!" bentak Victor dengan suara serak.
Dua orang petugas keamanan langsung bergerak cepat menghadang jalan pria asing tersebut.
"Maaf, Tuan, Anda tidak punya janji temu dan dilarang membuat keributan di sini," tegas satpam.
"Minggir kalian! Aku harus bicara langsung dengan bajingan kecil itu!" ronta Victor kalap.
Keributan kecil di lobi itu langsung menarik perhatian para tamu penting yang sedang berkunjung.
Berita kedatangan Victor yang mengamuk di lobi segera dilaporkan ke lantai eksekutif atas.
Sekretaris pribadi Bima mengetuk pintu ruang kerja direktur utama dengan sangat cepat.
Tok, tok, tok.
"Masuk," jawab Bima dengan suara datar dari balik meja kerjanya.
"Tuan Bima, di lobi bawah ada Victor yang datang mengamuk dan memaksa ingin bertemu," lapor sekretaris itu.
Bima mendongakkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis mendengar laporan tersebut.
"Biarkan dia naik ke ruangan ini tanpa halangan," perintah Bima santai.
"Tapi, Tuan... dia mungkin membawa ancaman berbahaya bagi keselamatan Anda," ragu sekretaris itu.
"Tidak apa-apa, biarkan pecundang itu melihat langsung akhir dari perjalanannya," balas Bima mutlak.
Sekretaris itu mengangguk patuh lalu berbalik badan meninggalkan ruangan kerja eksekutif.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki berat terdengar mendekati pintu ruangan.
Krek...
Pintu ruang kerja didorong terbuka dengan sangat kasar dari luar.
Victor berdiri terengah-engah di ambang pintu dengan wajah pucat pasi penuh keringat dingin.
Begitu melihat Bima duduk tenang di kursi kebesarannya, emosi Victor langsung meledak-ledak.
"Bima! Kamu benar-benar iblis licik yang menghancurkan seluruh kerajaanku!" teriak Victor murka.
Bima tetap duduk dengan tenang tanpa menunjukkan rasa gentar sedikit pun di wajahnya.
"Selamat datang di kantor pusatku, Tuan Victor, sepertinya perjalanan eropamu kurang menyenangkan," sindir Bima dingin.
Victor melangkah mendekati meja kerja Bima dengan tangan mengepal sangat erat.
"Kembalikan seluruh aset dan rekening uangku sekarang juga, atau aku hancurkan perusahaan ini!" ancam Victor kalap.
Bima mendengus kecil mendengar ancaman kosong dari orang yang sudah kehilangan segalanya.
"Menghancurkan perusahaan? Pakai apa? Kamu bahkan tidak punya cukup uang untuk beli tiket pesawat pulang," balas Bima tajam.
Victor membelalakkan matanya kaget mendengar ucapan telak yang langsung menusuk harga dirinya.
"Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu aku kehabisan segalanya?!" tanya Victor terbata-bata.
"Karena aku adalah otak di balik kehancuran finansialmu di pasar global," jawab Bima tenang.
Victor merosot jatuh berlutut di atas lantai marmer ruangan dengan air mata kepedihan mengalir di pipinya.
"Ampuni aku, Bima... jangan buat aku mati kelaparan di negeri orang..." mohon Victor memelas.
"Dulu saat kamu mengirim pembunuh bayaran ke ruanganku, apakah kamu punya belas kasihan?" tanya Bima dingin.
Victor terdiam kaku tidak bisa menjawab pertanyaan mutlak yang dilontarkan oleh direktur utama muda itu.
"Keamanan!" panggil Bima dengan suara keras melengking.
Tiga orang petugas keamanan bersenjata lengkap langsung masuk menerobos masuk ke dalam ruangan.
"Seret penjahat internasional ini keluar dan serahkan langsung ke pihak interpol!" perintah Bima mutlak.
"Baik, Tuan!" jawab satpam serentak.
Mereka langsung mencengkeram kedua lengan Victor dan menyeret tubuh pria itu secara paksa keluar.
"Lepaskan aku! Bima kamu akan membayar semua ini!" teriak Victor histeris diseret menjauh.
Suara makian dan tangisan Victor perlahan menghilang di sepanjang koridor lantai eksekutif yang sunyi.
Bima kembali mendudukkan dirinya di kursi kulit empuk dengan ekspresi wajah yang sangat tenang.
Ancaman terakhir dari sindikat global kini resmi musnah tak bersisa dari muka bumi.
Ponsel di atas meja kerjanya berdering nyaring menampilkan panggilan dari Rian.
Bzzrt...
Bima segera mengangkat panggilan tersebut dengan gerakan santai.
"Tuan Bima, interpol sudah mengamankan Victor di lantai bawah dan siap membawanya ke luar negeri," lapor Rian.
"Bagus, pastikan tidak ada lagi sisa-sisa sindikat mereka yang berani menginjakkan kaki di negeri ini," perintah Bima.
"Baik, Tuan, seluruh jaringan global kita sudah menguasai pasar internasional saat ini," jawab Rian antusias.
Pip...
Sambungan telepon diputus dan Bima menyandarkan punggungnya di kursi mewah.
Ia berdiri berjalan menuju jendela kaca besar yang menyajikan pemandangan seluruh kota metropolis.
Matahari sore bersinar sangat terang memantul di setiap gedung pencakar langit yang berdiri megah.
"Semua rintangan besar sudah berhasil kutaklukkan satu persatu," batin Bima tersenyum puas.
Kekuasaan PT Cipta Sentosa kini benar-benar menjadi penguasa mutlak di kancah bisnis global.
Tidak ada lagi musuh yang berani meremehkan nama besar Bima sang anak tiri yang dulu dibuang.
Perjalanan hidupnya dari titik nadir kemiskinan hingga puncak kejayaan dunia kini telah tercapai sempurna.