NovelToon NovelToon
Mantan Suami Membuangku Bos Bertato Menikahiku

Mantan Suami Membuangku Bos Bertato Menikahiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / One Night Stand
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pintu utama terbuka lebar, dimana ibunda Lucas yang berdiri dengan napas agak terengah, anggun namun memancarkan aura antusiasme yang membuncah.

Di belakangnya, Pak Supra tampak berdiri sopan memegang beberapa tas bingkisan mewah.

Tanpa memedulikan Lucas yang memijit pelipisnya, sang ibu langsung melangkah lebar masuk ke dalam penthouse.

Matanya yang tajam dan hangat menyapu seluruh ruangan hingga berhentinya tepat pada sosok Aira yang berdiri kaku di dekat kitchen island, masih memegang celemek kain di tangannya.

Aira tampak tertegun, sedikit panik saat menyadari siapa wanita paruh baya bermartabat tinggi yang berada di hadapannya saat ini.

"Ma, bisakah masuk dengan lebih tenang?" gumam Lucas mencoba meredam suasana.

Ibunya tak menghiraukan ucapan Lucas sama sekali.

Ia langsung berjalan cepat menghampiri Aira. Bukannya melayangkan tatapan dingin seperti yang Aira takutkan, wanita paruh baya itu justru merengkuh tubuh Aira ke dalam pelukan hangat nan erat.

Deg!

Aira membeku sejenak, matanya berkaca-kaca menahan haru yang mendadak menyeruak di dadanya.

Kehangatan pelukan itu terasa begitu tulus, sangat berbeda dengan dinginnya perlakuan mantan ibu mertuanya dulu.

"Jadi ini calon menantu Mama?" bisik Ibu Lucas lembut saat melepaskan pelukannya, menatap wajah cantik Aira dengan binar kebahagiaan yang meluap.

Tangan halusnya mengelus pipi Aira, lalu pandangannya turun ke arah perut Aira yang masih rata.

"Dan, di dalam sini, ada tiga cucu Mama?"

Aira tersenyum malu-malu, mengangguk pelan. "Iya, Tante. Maaf kalau mengejutkan."

"Tante?" Ibu Lucas mendelik gemas, lalu tertawa renyah.

"Panggil Mama, sayang. Mulai hari ini, kamu adalah putri Mama."

Ibu Lucas kemudian mencium kedua pipi Aira sebelum mencium keningnya.

Pandangan wanita itu lalu tak sengaja tertuju pada wajan di atas kompor yang aromanya masih membumbung harum di udara.

"Wah, aroma tumis pare dan tahu susu?" mata Ibu Lucas berbinar.

"Kamu yang memasak ini, Aira?"

"Iya, Ma, tapi tadi Lucas mematikan kompornya karena melarang berada di dapur," jawab Aira jujur melirik Lucas yang berdiri bersedekap di samping mereka.

Ibu Lucas seketika berbalik dan menatap putra tunggalnya dengan pandangan melotot tajam.

"Lucas! Tega-teganya kamu melarang calon istrimu masak kalau dia mau? Mama justru lapar sekali melihat masakan segar begini!" cercah sang ibu, berbalik 180 derajat membela calon menantunya.

Lucas menggelengkan kepala tak percaya melihat betapa cepatnya sang ibu berpaling memihak Aira.

"Ma, dia baru saja keluar dari rumah sakit ini tadi, karena kelelahan."

"Tapi sekarang dia sudah segar dan lapar, kan?" potong sang ibu cepat.

"Ayo Aira, biarkan anakku itu mengomel sendiri. Lanjutkan masaknya, Mama mau mencicipi tumisan buatan calon Head Chef kebanggaan keluarga kita!"

Aira terkekeh geli melihat wajah pasrah Lucas yang akhirnya menunduk menyerah.

Rasa cemas di hatinya seketika sirna, berganti kehangatan keluarga yang selama ini selalu ia impikan.

Aira kembali menyalakan kompor dengan api sedang, menyelesaikan bumbu yang meresap sempurna ke dalam masakan sederhana namun menggugah selera tersebut.

Tak butuh waktu lama, tumis pare daging dan tahu susu yang gurih itu sudah terhidang hangat di atas meja makan penthouse yang mewah.

Ibu Lucas tidak sabar untuk langsung duduk. Tanpa ragu, beliau menyendokkan nasi hangat bersama seporsi tumis pare daging dan potongan tahu susu ke atas piringnya.

Lucas dan Aira duduk mendampingi di sisi meja. Lucas menatap ibunya dengan alis terangkat, sementara Aira menahan napas cemas dan khawatir cita rasa masakannya tidak sesuai dengan lidah seorang wanita berkelas.

Ibu Lucas menyuapkan sendok pertamanya. Begitu kunyahan pertama mendarat di dalam mulut, matanya seketika membelalak sempurna.

"Masyaallah, Aira." pekik Ibu Lucas terperanjat, matanya berbinar-binar menatap calon menantunya dengan takjub.

"Ini luar biasa! Bagaimana bisa parenya sama sekali tidak ada rasa pahitnya?! Yang terasa di lidah cuma gurihnya daging yang empuk dan bumbunya yang meresap sempurna!"

Aira bernapas lega, tersenyum manis mendengar pujian itu.

"Aira rebus parenya sebentar pakai garam dan perasan asam jawa dulu, Ma, baru ditumis cepat dengan daging."

Ibu Lucas kemudian menyendok potongan tahu susu yang tampak kokoh.

Namun begitu digigit, tekstur tahu itu terasa sangat lembut lumer di mulut.

"Lalu, tahu susunya ini, ya ampun, lembut sekali seperti sutra! Tapi bentuknya tetap utuh dan cantik, tidak ada yang hancur atau hancur saat digoreng!" lanjut sang ibu penuh decak kagum, menyuap sendok kedua dengan sangat lahap.

"Lucas, kamu benar-benar beruntung dapat calon istri sehebat ini. Pintar, cantik, dan masakannya tiada tanding!"

Lucas yang sejak tadi mengamati hanya menyunggingkan smirk bangga.

Ia merangkul bahu Aira pelan, mengusapnya penuh kasih sayang.

"Tentu saja, Ma. Pilihan Lucas tidak pernah salah," sahut Lucas datar namun tersirat nada pamer yang jelas.

"Halah, sok gengsi kamu!" goda sang ibu menepuk pelan lengan putranya, lalu berbalik menatap Aira dengan tatapan penuh kehangatan.

"Mulai sekarang, Mama yang akan menjaga kamu dan tiga cucu Mama dari si kaku ini. Kalau Lucas macam-macam atau bikin kamu kesal, adukan saja sama Mama!"

Aira tertawa renyah, merasa hangat dan dilindungi oleh sosok ibu mertua yang begitu menyayanginya. Rumah yang tadinya terasa sepi itu kini penuh dengan tawa dan kehangatan keluarga.

Sementara suasana di penthouse Lucas dipenuhi oleh kehangatan, tawa, dan pujian untuk masakan Aira, situasi berbanding terbalik justru terjadi di kediaman keluarga Radit.

Rumah sederhana itu tampak tegang begitu Radit dan Mila melangkah masuk melalui pintu depan.

Ibu Radit dan adik perempuannya, Siska, yang sedang duduk di ruang tamu seketika terperanjat kaget melihat kondisi Radit yang amat mengenaskan.

Perban tebal menutupi sebagian mulut Radit, dan bibirnya tampak bengkak kebiruan.

Jalannya pun dipapah oleh Mila yang wajahnya masih pucat pasi menahan sisa-sisa rasa malu akibat insiden di koridor rumah sakit tadi.

"Ya ampun, Mas Radit! Mulutmu kenapa sampai begitu?!" pekik Siska histeris, berdiri dan menghampiri kakaknya dengan mata membelalak lebar.

Ibu Radit yang duduk di sofa langsung bangkit dengan tergesa-gesa, memegang dadanya karena terkejut.

"Tadi katanya mau mengantar Mila kontrol kandungan di rumah sakit, kok malah babak belur seperti ini?! Siapa yang sudah berani menghajar anakku?!" tanya sang ibu dengan nada panik sekaligus murka.

Radit mendengus kesakitan saat mencoba menggerakkan rahangnya.

Dengan suara sengau dan cadel akibat giginya yang tanggal, ia menatap ibu dan adiknya dengan penuh kebencian membara.

"Ini semua, gara-gara Aira!" desis Radit penuh amarah, mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Apa?! Aira?!" pekik Ibu Radit tak percaya, matanya melotot lebar seolah ingin melompat keluar.

"Wanita mandul dan tidak berguna itu?! Mana mungkin dia bisa membuat mulutmu sampai hancur begini, Radit?!"

Mila yang berdiri di samping Radit langsung menimpali dengan suara melengking penuh drama, air mata buatan mulai membasahi pipinya.

"Bukan Aira yang mukul langsung, Bu. Tapi simpanan kaya raya yang dibawanya ke rumah sakit!"

"Simpanan?!" Siska menutupi mulutnya dengan kedua tangan, pura-pura terkejut walau matanya memancarkan kedengkian yang amat sangat.

"Jadi Mbak Aira benar-benar sudah menjual dirinya? Dasar cewek tidak tahu diri! Dulu sok suci, sekarang malah jadi wanita simpanan om-om kaya!"

Radit ringis merintih saat mencoba berbicara lebih keras.

"Dia, sengaja mempermalukan kita di depan umum! Pria itu menghajarku sampai gigi depanku lepas, Bu! Lalu Aira, wanita biadab itu malah tertawa dan menyuruh semua orang di rumah sakit menyoraki Mila sebagai pelakor!"

Mendengar hal itu, napas Ibu Radit memburu cepat menahan amarah yang membakar dadanya.

Muka tua itu memerah padam. Bagi keluarga mereka, harga diri dan nama baik adalah segalanya, meskipun kenyataannya merekalah yang selama ini menginjak-injak Aira.

"Kurang ajar! Bener-bener perempuan tidak tahu untung!" murka Ibu Radit seraya menggebrak meja tamu dengan keras. Brak!

"Dulu di rumah ini dia cuma kita kasih makan gratis! Sekarang setelah dibuang, malah berani ngelawan dan bikin anakku rontok giginya!" lanjut sang ibu dengan suara gemetar oleh kemurkaan.

Siska melipat kedua tangannya di dada, memprovokasi suasana.

"Ibu tidak bisa tinggal diam! Kita harus samperin wanita itu ke tempat kerjanya! Atau, kita laporkan ke polisi karena pria simpanannya sudah main hakim sendiri!"

Mila menyeringai licik di balik raut wajah sedihnya. Ia mendekati Ibu Radit dan berbisik provokatif.

"Iya, Bu. Kita tidak boleh biarkan Aira hidup tenang dan bahagia di atas penderitaan Mas Radit. Kita harus buat Aira dipecat dari hotel dan om-om itu meninggalkannya!"

Radit mengepalkan tangannya erat-erat, matanya menyipit penuh dendam membara.

"Aira, kamu pikir kamu bisa bahagia di atas penderitaanku? Aku pastikan hidupmu dan simpananmu itu akan hancur!"

Malam telah sepenuhnya merayap, menyelimuti kota dengan keheningan dan kerlap-kerlip lampu gedung yang indah.

Di dalam penthouse mewah, Ibu Lucas baru saja selesai menemani Aira di kamar tidur utama hingga wanita hamil itu terlelap pulas akibat kelelahan seharian.

Dengan langkah pelan dan hati-hati, Ibu Lucas menutup pintu kamar, lalu berjalan menuju ruang keluarga di mana Lucas sudah menunggunya dengan segelas air hangat.

Wanita paruh baya itu duduk di sofa elegan, menatap putra tunggalnya dengan sorot mata penuh selidik yang sarat akan pengalaman hidup.

"Lucas," panggil sang ibu tenang.

"Jujur sama Mama. Kamu kenal Aira di mana sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dia bisa mengandung anakmu, dan kenapa kamu begitu melindunginya seolah dia adalah nyawamu sendiri?"

Lucas terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, menunduk menatap gelas di tangannya sebelum kembali mendongak menatap sang ibu.

"Mama yakin mau tahu?" tanya Lucas dengan suara rendah, menyuratkan keseriusan yang teramat sangat.

Ibu Lucas menganggukkan kepalanya mantap. "Yakin, Lucas. Mama ibumu, dan Mama berhak tahu siapa wanita yang akan menjadi pendamping hidup dan ibu dari cucu-cucu Mama."

Lucas mengangguk pelan, lalu mulai membuka lembaran masa lalu yang kelam—sebuah kisah yang selama ini ia simpan rapat-rapat di dalam ingatannya.

"Aira, istri yang sangat berbakti, Ma. Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit menceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka," ucap Lucas, nada suaranya berubah dingin dan geram saat menyebut nama mantan suami Aira.

"Demi kehadiran sekretaris cantik, Radit tega membuang Aira. Dan, malam itu, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras sendirian membawa kopernya."

Ibu Lucas mendengarkan dengan seksama, kerutan di keningnya mulai terbentuk, menunjukkan rasa iba sekaligus kemarahan mendengar nasib malang menantu masa depannya itu.

"Kemalangan tak berhenti di situ, Ma," lanjut Lucas dengan tatapan menerawang jauh ke masa lalu.

"Di tengah jalan, dalam kondisi hancur dan basah kuyup, ia diserang sekelompok preman jalanan hingga tak berdaya."

Mendengar kata 'preman', napas Ibu Lucas tercekat. Tangannya refleks menutup mulut karena terkejut.

"Ya Tuhan, lalu bagaimana?"

"Di saat kritis itulah aku datang dan menyelamatkannya," tutur Lucas lirih.

"Namun, pertolongan malam itu membawa takdir baru di luar kendali kami. Malam itu, dalam pengaruh obat bius akibat dijebak musuh bisnismu di hotel, kesadaranku hilang. Aku membawa Aira ke kamar hotel."

Lucas menunduk, mengenang kembali bisikan kepedihan malam itu.

Kemudian ia mengangkat wajahnya, menatap lurus manik mata ibunya dengan penuh keyakinan.

"Malam itulah awal mula segalanya, Ma. Dan, aku berjanji pada diriku sendiri, wanita yang dulu dibuang dan disakiti separuh mati itu, akan aku jaga dengan seluruh sisa hidupku." ucap Lucas.

Ibu Lucas meminta agar Lucas selalu menjaga Aira.

1
Ariany Sudjana
skak mat Radit, ternyata bayi dalam kandungan si pelacur murahan itu, anak laki-laki lain 🤣🤣😄😄 dan dengan jahatnya kamu bilang Aira mandul? ternyata kamu yang mandul 😄😄🤣🤣
Ariany Sudjana
bisa semakin maju ini hotel Lucas, karena chef Aira kan luar biasa cerdas
Ariany Sudjana
wah berarti pasangan berikutnya Rizal dan Arum yah 😄😄🤣🤣
Ariany Sudjana
skak mat, ternyata si pelacur murahan itu hanya omong besar, ga bisa kan menghabiskan dua puluh ekor ikan kerapu asam manis
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Mila, ternyata bodohnya kebangetan 🤣🤣 dan gimana ceritanya Lucas yang pemilik hotel tersebut, kamu ejek dan kamu rendahkan, dasar bodohnya kamu, sama dengan Radit dan juga ibu kamu
Ariany Sudjana
ini si pelacur murahan itu yang bodoh, preman yang kamu bayar cerdas sekali
Ariany Sudjana
puji Tuhan, chef Aira benar-benar sudah membuktikan kejeniusan nya dan kelihatan kan si pelacur murahan itu bodohnya kebangetan 😂😂🤣🤣

niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
Ariany Sudjana
tetap waspada ya chef dan Lukas, karena si pelacur murahan itu ga terima kalau Aira hidup dengan baik
Ariany Sudjana
wah chef Aira ngidam ceri 😄🙏
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Mila, yang ada kamu yang akan dikerjai sama preman itu dan kamu salah cari lawan
Iffanaya 😽
lanjut Thor 💪
Iffanaya 😽
kamu salah cari lawan Mila 😏 liat aja apa yg dilakukan Lucas kalo tau apa yg kamu lakukan ke aira
Dew666
💜
my name is pho: Terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Lucas, kamu harus waspada, jangan biarkan si pelacur murahan dan Mak Lampir itu berbuat kerusuhan di hotel kamu, dan jangan sampai mereka membuat celaka ke Aira
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Siska dna Mila, silakan kalian balas dendam, kalian siap-siap jadi gembel
Ariany Sudjana
puji Tuhan, calon ibu mertua Aira itu baik hati, dan meskipun konglomerat, tidak sombong seperti mantan mertuanya
Ariany Sudjana
skak mat kamu merin, kamu hanya pelacur murahan 😂😂🤣🤣 mama Lucas benar-benar wise, tidak termakan dengan omongan si pelacur murahan itu, kacian deh loe Merin 🤣🤣😂😂
mama kandung yang waras pasti ga akan mau punya menantu pelacur murahan seperti kamu, jadi jelas sekali chef Aira kelasnya jauh di atas kamu
Ariany Sudjana
dasar laki-laki pengecut kamu Radit, kamu sudah menghina Aira. dan kamu pelacur murahan, kamu bilang Aira mandul 🤣🤣🤣😂 dasar bodoh, buktinya Aira mengandung bayi kembar 3, jangan-jangan Radit yang mandul 🤣🤣😂😂 kalau Radit mandul, berarti yang dikandung Mila, anak siapa?
Ariany Sudjana
harusnya jangan hanya diusir pelacur murahan itu, tapi juga dibinasakan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!