Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Satu tahun kemudian, Raka berdiri sendiri di ruang kerja pribadinya yang minimalis namun elegan, menatap lekat sebuah benda kecil di telapak tangannya: cincin pernikahan yang dulu pernah dilepas oleh Gladys di lobi kantor.
Pernikahan mereka dulu bukanlah didasari oleh cinta yang membara sejak awal, melainkan sebuah wasiat penuh air mata dari mendiang Dewi, istrinya terdahulu, yang memintanya untuk menjaga dan menikahi Gladys—yang notabene adalah sahabat karib Dewi sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, rasa itu tumbuh tulus, hingga akhirnya dihancurkan oleh badai masa lalu keluarganya.
Kini, Raka berdiri di atas kakinya sendiri. Ia berhasil melepaskan seluruh bayang-bayang dan embel-embel nama besar Devandra, membangun perusahaannya dari nol dengan keringatnya sendiri.
Sementara itu, kerajaan bisnis keluarga Devandra telah diserahkan sepenuhnya kepada Praduta.
Papa Devandra memilih menyerahkan semuanya demi meredam skandal besar dan menutupi aib keluarga yang nyaris menghancurkan nama mereka di hadapan publik.
Gladys, apakah kamu bahagia dengan adik tiriku? batin Raka lirih.
Raka tersenyum tipis, mengenang kembali bisikan terakhir Gladys sebelum wanita itu ditarik menjauh darinya—pesan yang menjadi jangkar bagi hidupnya selama setahun terakhir agar ia tetap bertahan hidup demi merebut kembali wanita itu.
Segala cara telah ia tempuh. Seluruh anak buah dan jaringan investigasi pribadinya telah ia kerahkan ke berbagai penjuru negeri, namun keberadaan Gladys seolah hilang ditelan bumi, lenyap tanpa jejak di balik bayang-bayang kekuasaan Praduta.
Sementara itu, di sebuah kota kecil yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, roda kehidupan berjalan dengan ritme yang lebih lambat.
Di sudut jalan yang asri, Gladys menjalani hari-hari barunya dengan mengelola sebuah kafe minimalis yang menjual kopi racikannya sendiri serta kue-kue buatan tangannya.
Pagi itu, sebelum kafe resmi dibuka, Gladys duduk di dekat jendela sambil membuka buku harian usang bersampul kulit.
Di lembar pertamanya, terselip sebuah foto Raka—pria yang dulu mengisi hari-hari dan hatinya.
"Mas, aku rindu," gumam Gladys pelan, jemarinya mengusap lembut potret wajah Raka di atas kertas dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Setahun berlalu tidak membuat rasa rindunya memudar, melainkan semakin mengakar di dalam dada.
Kring!
Suara lonceng kecil di pintu depan berbunyi, membuyarkan lamunan Gladys.
Ia buru-buru menutup buku harian itu dan menyeka sudut matanya, lalu berdiri menyambut pelanggan pertama pagi itu.
"Mbak, kopi susu dua sama donat gula dua, ya," ujar seorang pelanggan tetap sambil tersenyum ramah.
"Baik, silakan tunggu sebentar," balas Gladys dengan senyuman tipisnya yang menenangkan.
Saat Gladys sibuk meracik kopi di balik meja bar, pintu kafe kembali terbuka.
Seorang pria berpenampilan rapi dengan setelan semi-formal melangkah masuk, menghampiri meja pemesanan dengan tergesa-gesa.
"Permisi, Mbak. Saya Pak Faris dari hotel bintang lima."sapanya sopan.
"Saya butuh pesanan dalam jumlah besar untuk acara rapat perusahaan di hotel bintang lima besok lusa. Bisa pesan kopi dan aneka kue buatannya?"
Gladys menghentikan sejenak aktivitasnya, menatap pelanggan baru tersebut dengan kening sedikit berkerut sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
"Tentu saja bisa, Pak. Silakan pilih menu dan tentukan jumlahnya."
Setelah berdiskusi singkat dan mencatat rincian pesanan mewah untuk hotel bintang lima tersebut, pelanggan itu merogoh dompetnya dan menyerahkan sejumlah uang tunai.
"Ini uang muka, tiga juta rupiah. Tolong disiapkan yang terbaik ya, Mbak," ucap sang pelanggan sambil meletakkan uang tersebut di atas meja bar.
Gladys menerima lembaran uang itu dengan senyuman profesional, tanpa pernah menyadari bahwa secarik kertas pesanan dan transaksi sederhana di kota terpencil ini perlahan-lahan mulai menarik perhatian dunia luar ke tempat persembunyiannya.
Saat Gladys masih merapikan catatan pesanan rapat untuk hotel bintang lima tersebut, suara langkah kaki terdengar memasuki kafe dari pintu belakang.
Bima, karyawan barunya yang terkenal cekatan namun suka bercanda, melangkah masuk sambil membawa nampan berisi cangkir-cangkir kosong yang baru saja ia rapikan dari meja luar.
Gladys merobek secarik kertas dari buku catatannya, lalu menuliskan daftar bahan-bahan kue dan kopi yang harus ditambah untuk memenuhi pesanan besar lusa.
"Bim, tolong ke pasar beli ini buat pesanan hotel," ujar Gladys sambil menyodorkan kertas daftar belanjaan itu begitu Bima selesai menaruh nampannya di dekat wastafel.
Bima menerima kertas itu, membaca deretan bahan yang cukup panjang, lalu mendesah pelan dengan wajah tertekuk pura-pura memelas.
"Aduh, Bu Gladys. Nanti saya lembur lagi," keluh Bima sambil memegangi dadanya, berakting seolah-olah bebannya sangat berat.
Gladys terkekeh pelan melihat tingkah karyawannya itu.
Ia memiringkan kepalanya sedikit lalu menatap Bima geli.
"Mau uang bonus tidak?" tanya Gladys sambil sedikit mengerucutkan bibirnya, memberikan penawaran yang mustahil ditolak.
Seketika itu juga raut wajah lelah Bima berubah drastis.
Matanya berbinar terang dan senyum lebar langsung mengembang di wajahnya.
"Hehehe, iya Bu, mau! Siapa sih yang tidak mau uang?" jawab Bima cepat tanpa malu-malu, mengarungi semangat barunya.
"Bahan-bahan ini langsung saya meluncur beli sekarang juga, Bu!"
Melihat Bima yang sudah siap-siap meraih kunci motornya, Gladys teringat sesuatu.
"Bim, sekalian aku titip pempek Palembang ya di depan pasar!"
"Siap, Bu Gladys! Berangkat!" seru Bima dengan penuh semangat, berbalik cepat dan melangkah keluar kafe untuk menuntaskan tugasnya.
Gladys menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kocak anak buahnya itu, diiringi senyum kecil yang menghiasi wajah cantiknya.
Namun, begitu suasana kafe kembali hening, dadanya perlahan kembali merasa sepi, membawa benak dan rindunya melayang kembali pada sosok Raka di tempat yang jauh.
Di sisi lain di perusahaan Devandra yang sekarang dipimpin oleh Praduta.
Bam!
Bam!
Suara hantaman keras berkali-kali menggema di dalam ruang kerja megah yang dulunya milik Raka Devandra.
Kulit samsak gantung berwarna hitam di sudut ruangan itu tampak penyok terkena pukulan mentah dan bertenaga dari Praduta.
Napas Praduta memburu hebat. Peluh membasahi kemeja hitamnya yang kini tergulung hingga ke siku.
Rahangnya mengeras rapat, memancarkan amarah dan rasa frustrasi yang tersimpan rapat selama satu tahun terakhir.
Ia telah mendapatkan segalanya. Perusahaan Devandra kini berada sepenuhnya di bawah kendalinya.
Tahta, aset, kekuasaan, hingga pengakuan dari Papa Devandra yang terpaksa bertekuk lutut demi menutupi aib keluarga—semuanya sudah jatuh ke tangannya.
Namun, ruangan megah ini terasa kosong hampa.
Praduta menghentikan pukulan terakhirnya.
Ia membiarkan samsak itu berayun pelan, sementara ia melangkah lunglai menuju meja kerja kayunya yang luas.
Di atas meja kerja itu, di antara tumpukan berkas penting perusahaan, berdiri sebuah bingkai foto berukir emas.
Praduta meraihnya dengan tangan yang masih bersisa keringat.
Manik matanya yang tajam mendadak melunak saat menatap potret wanita di dalam bingkai tersebut.
Gladys.
Potret wanita itu tersenyum tipis—seulas senyuman yang kini menjadi satu-satunya hal yang paling Praduta rindukan seumur hidupnya, sekaligus kekalahan terbesarnya.
Wanita yang berhasil mengelabuinya tepat di dalam kabin pesawat satu tahun lalu, lalu menghilang seperti asap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
"Kamu di mana, Gladys ?" bisik Praduta dingin, namun terdengar sarat akan obsesi mendalam yang tak pernah padam.
Ia membelai permukaan kaca pada foto Gladys dengan ibu jarinya, sementara kemarahan di dadanya kembali menyala pelan.
Ia telah merebut kerajaan Raka, tetapi ia menyadari bahwa selama Gladys belum berada di sampingnya, kemenangannya atas keluarga Devandra tak akan pernah terasa sempurna.