NovelToon NovelToon
Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Air Panas Untuk Selingkuhanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.

Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.

Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15:MAHKOTA BARU

Di dalam kamar mandi utama apartemennya yang berdinding marmer putih, suara gemericik air keran menghiasi keheningan malam. Ranti berdiri diam di depan cermin berukuran besar. Jemarinya yang ramping menyusuri untaian rambut hitam panjangnya yang melambai hingga melampaui pinggang—rambut yang selama lima tahun ini selalu dipuji Sony sebagai simbol keberadaan Ranti sebagai istri yang manis, penurut, dan anggun.

Namun, setiap kali menatap rambut panjang itu, Ranti hanya teringat bayangan jemari Sony yang pernah membelainya lembut—tangan yang sama yang tega mengusap tubuh wanita lain di atas ranjang mereka.

“Kamu itu perempuan arogan, Ranti! Sok suci! Kamu merasa paling benar hanya karena uang keluargamu!”

Gema suara bentakan Sony saat pertengkaran hebat mereka waktu itu mendadak merayapi ingatan Ranti. Kata-kata "arogan" itu terus terngiang seperti kaset rusak.

Ranti memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang. Senyum sinis terukir tipis di bibirnya.

Arogan? batin Ranti pedih.

Selama lima tahun menikah, ia menyembunyikan identitasnya sebagai putri tunggal pengusaha tekstil kaya. Ia memakai pakaian polos tanpa merek ternama, menahan diri untuk tidak membeli barang-barang branded, memasak sendiri di dapur, dan menyeduhkan kopi untuk Sony setiap pagi. Ia menekan seluruh ego dan latar belakang kelas atasnya demi menjaga harga diri Sony agar pria itu tidak merasa terintimidasi. Ia adalah istri biasa yang mengabdi penuh.

Namun bagi pria narsistik seperti Sony, kerendahan hati Ranti justru dianggap sebagai ancaman, dan kebaikan Ranti dibalas dengan stempel 'arogan' saat perselingkuhannya terbongkar.

Ranti membuka matanya. Pandangannya berubah tajam dan mantap. Ia meraih sepasang gunting tajam berukuran sedang dari dalam laci meja rias.

Tanpa ragu sedikit pun, Ranti memotong sejengkal demi sejengkal rambut panjangnya. Helai-helai rambut hitam jatuh bertumpuk di dalam wastafel putih. Sensasi pemotongan itu terasa begitu membebaskan—seolah setiap sabetan gunting memutus ikatan rasa bersalah, trauma, dan memori tentang Sony dari kepalanya.

Sabtu Sore – Kawasan Pusat Perbelanjaan Mewah, Jakarta Selatan

Keesokan harinya, sebuah salon langganan kelas atas di kawasan Senayan menjadi saksi transformasi total Ranti.

Seorang penata rambut profesional menyelesaikan sentuhan pertamanya. Rambut panjang Ranti yang dulu menjuntai kini telah dipangkas menjadi gaya bob tegas berpotongan textured layered di atas bahu, dipadukan dengan warna dark ash brown yang memberi kesan segar, modern, dan sangat berkelas.

"Luar biasa, Mbak Ranti," puji sang penata rambut seraya memutar kursi agar Ranti bisa melihat hasilnya di cermin. "Gaya potongan chic bob ini benar-benar menonjolkan rahang dan leher Mbak Ranti yang jenjang. Terlihat sangat fresh, tegas, dan aura boss lady-nya keluar sekali!"

Ranti menatap pantulan dirinya. Di dalam cermin, tidak ada lagi Ranti yang kusam, cemas, dan berpenampilan sederhana. Yang ada adalah sosok wanita matang yang segar, memikat, dan memancarkan wibawa yang tak tertandingi.

"Terima kasih," ujar Ranti lembut dengan senyuman puas. "Ini persis seperti yang saya mau."

Setelah keluar dari salon, Ranti melangkah masuk ke dalam deretan butik barang-barang mewah di galeri pusat perbelanjaan tersebut. Selama menjadi istri Sony, Ranti selalu menahan diri dari gaya hidup barang bermerek untuk menjaga perasaan dan efisiensi anggaran rumah tangga yang dikelola Sony. Namun sore ini, ia ingin memanjakan hatinya sendiri—sesuatu yang baru untuk menyambut babak baru kehidupannya.

Tasya, yang sengaja Ranti ajak untuk menemaninya berbelanja usai mengantar Bima, menyusul dengan mata berbinar-binar.

"Ya Tuhan, Ranti!" jerit Tasya tertahan saat melihat penampilan baru Ranti di depan butik Chanel. Tasya memegangi kedua bahu sahabatnya itu dengan heboh. "Ini benar-benar kamu?! Potongan rambut ini... oh my God, kamu kelihatan lebih muda sepuluh tahun dan berkelas sekali!"

Ranti tertawa pelan, suara tawanya terdengar sangat ringan dan tanpa beban. "Bagus, kan? Aku cuma ingin melepas semua beban tua di kepalaku, Sya."

"Bagus banget!" sahut Tasya antusias. "Ayo masuk! Hari ini kamu harus self-reward habis-habisan!"

Mereka melangkah masuk ke dalam butik. Seorang sales assistant berbusana rapi langsung menyambut Ranti dengan bungkukan hormat, menyadari wibawa dan penampilan elegan dari calon pembelinya.

Ranti menyusuri rak-rak kaca. Matanya tertuju pada sebuah tas tangan Chanel Classic Double Flap berbahan kulit domba hitam dengan rantai bersepuh emas yang berkilau mewah. Tas yang dulu sangat ingin ia beli sebelum menikah, namun ia batalkan karena takut Sony merasa kecil hati melihat harganya.

"Saya ambil yang ini," ujar Ranti tanpa ragu, menunjuk tas tersebut. "Dan tolong ambilkan juga pumps shoes hitam berhak delapan sentimeter ukuran 38."

"Baik, Ibu Ranti. Segera kami siapkan," jawab staf butik tersebut dengan senyum sumringah.

Tasya mendekati Ranti, menyenggol lengannya sambil berbisik. "Wah, langsung sikat tas ikonik! Tapi kamu layak mendapatkannya, Ti. Uang itu hasil kerja keras dan warisan ibumu, bukan uang perzinahan."

Ranti tersenyum tipis, mengelus permukaan kulit tas baru yang licin dan mulus di tangannya.

"Tahu tidak, Sya..." tutur Ranti pelan namun dalam, tangannya meraba rantai emas tas tersebut. "...selama lima tahun ini, aku selalu menahan diri. Aku tidak pernah beli tas mahal, tidak pernah beli sepatu mewah, bahkan baju-bajuku dulu beli di tempat biasa. Aku pikir dengan menjadi istri yang sederhana dan hemat, Sony bakal menghargai aku."

Tasya mendengarkan dengan penuh empati, menatap mata sahabatnya.

"Tapi ternyata," lanjut Ranti dengan tawa tipis yang menyimpan kegetiran masa lalu, "kebaikanku malah dijadikan tameng buat dia. Waktu kami bertengkar dulu, dia menuduhku sebagai perempuan arogan. Katanya aku sok berkuasa hanya karena berasal dari keluarga berada. Padahal aku tidak pernah sekalipun memamerkan hartaku di depannya."

Tasya mendengus kencang, matanya memancarkan kekesalan pada mantan suami sahabatnya itu.

"Sony itu cuma laki-laki insecure, Ranti!" tegas Tasya dengan nada berapi-api. "Dia tahu harga dirinya rendah di bandingkan kamu! Makanya dia cap kamu 'arogan' untuk menutup-nutupi rasa tidak bergunanya dia sendiri! Dia yang numpang hidup dari modal keluargamu, tapi dia yang merasa jadi raja!"

"Iya, Sya... sekarang aku baru sadar," jawab Ranti mantap. "Kalau menjadi wanita mandiri, tegas, dan punya harga diri dianggap 'arogan' oleh laki-laki seperti Sony... maka mulai hari ini, aku akan jadi wanita paling arogan yang pernah dia kenal."

Ranti melangkah ke kasir, menyodorkan kartu kredit black card miliknya tanpa mengedipkan mata.

Sore itu, Ranti tidak hanya membeli tas tangan dan sepatu mahal. Ia memborong tiga setel pakaian blazer elegan dari butik Dior, parfum beraroma woody-floral yang berwibawa, serta sepasang anting-anting berlian simpel untuk melengkapi gaya rambut barunya.

Berbelanja barang-barang ini bukan bentuk pemborosan tanpa arah, melainkan simbol deklarasi kemerdekaan Ranti. Ia tidak lagi menyembunyikan identitas dan kemampuannya demi menjaga ego pria mana pun.

Minggu Pagi – Taman Apartemen

Matahari pagi menyiramkan cahaya hangat di area taman hijau apartemen. Bima sedang asyik bermain sepeda roda tiganya di lintasan taman di bawah pengawasan ketat petugas keamanan.

Ranti duduk di bangku taman, menikmati secangkir teh chamomile hangat. Angin pagi berhembus sepoi-sepoi, mempermainkan ujung rambut bob barunya yang terasa ringan.

Ponsel di tangannya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal. Namun dari susunan kalimatnya, Ranti tahu persis siapa pengirimnya: Ibu Hendrawan.

"Ranti... Ibu mohon angkat telepon Ibu sebentar saja. Sony kondisinya makin parah, bekas lukanya infeksi dan dia terus menangis menyebut nama kamu dan Bima. Kenapa kamu tega sekali menyiksa anak Ibu seperti ini? Kamu berubah jadi perempuan yang sangat dingin dan arogan, Ranti. Dulu kamu tidak begini. Kamu lupa ya kalau Sony itu pernah membahagiakan kamu?"

Ranti membaca pesan panjang itu tanpa ada raut kepanikan sedikit pun di wajahnya. Dulu, pesan berisi rasa bersalah dari ibu mertuanya akan membuat Ranti merasa cemas, tidak enak hati, dan berusaha mengalah.

Namun Ranti yang sekarang hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kebebasan.

Ia mematikan layar ponselnya tanpa berniat membalas sepatah kata pun, lalu langsung memasukkan nomor tersebut ke dalam daftar pemblokiran permanen.

"Kalian yang mengajari aku untuk jadi dingin," bisik Ranti pada dirinya sendiri, menatap langit biru yang membentang luas di atas kota.

Ranti menyeruput teh hangatnya. Rasa pahit manis chamomile membelai tenggorokannya. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, hatinya merasa benar-benar damai. Tidak ada lagi rasa bersalah, tidak ada lagi kecemasan atas tuduhan-tuduhan palsu Sony, dan tidak ada lagi rasa takut akan masa depan.

Ia memandangi Bima yang tertawa lepas di kejauhan saat berhasil mengayuh sepedanya dengan cepat.

"Mama..." panggil Bima ceria dari atas sepedanya, melambaikan tangan kecilnya. "Lihat Bima, Ma! Bima bisa kencang!"

"Hebat, Sayang! Hati-hati ya!" balas Ranti seraya melambaikan tangannya gembira.

Ranti merapikan kerah kemeja sutranya. Besok, hari Senin yang dinanti-nantikan akan tiba. Hari di mana ia akan melangkah ke Pengadilan Agama bukan sebagai korban yang meratap, melainkan sebagai seorang pemenang yang siap mengambil kembali seluruh takdir dan kebahagiaan hidupnya.

Ranti telah menemukan kembali mahkotanya yang sempat terlepas. Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang bisa merebutnya kembali.

1
Lee Mba Young
pengacara Sony keren banget, walau Sony napi ttp bisa memenangkan sidang🤣.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.

pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
NinLugas: ka baca karya baru aku kak, perlu pembaca kritis kyk KK
total 1 replies
Lee Mba Young
pling enak pelakor Raya gk dpt karma.
Lee Mba Young
Cerita pling aneh. pdhl Sony napi dpt hak asuh.
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
Lee Mba Young
pengacara Sony best banget pdhl Sony selingkuh, zina korupsi tp dpt bebas Dan dpt hak asuh🤣 .
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
NinLugas: kalau g gila authornya ya ceritanya yg gila kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Ini hukum pling aneh, pdhl korupsi kok bisa bebas bersyarat.
pengacara ranti yg kurang keren
sunaryati jarum
Fitnah jika diselidiki dan ada bukti akurat,maka fitnah akan kalah
sunaryati jarum
Sony Seharus kamu akui dan terima kenyataan,ini semua karena kesalahan kamu.
Lee Mba Young
di sini pengadilan yg gk banget bpk nya napi tp dpt hak asuh itu dah aneh.
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.

ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
NinLugas: nnti d jelaskan d episode berikutnya nya y kk 🤣
total 1 replies
Lee Mba Young
Kenapa Sony bisa dpt hak asuh anak kn dia narapidana. kok aneh.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.
sunaryati jarum
Kacang lupa akan kulitnya ,itu kamu Soni dan keluargamu
sunaryati jarum
Kamu malah.tambah cari masalah
NinLugas: terimakasih y kk atas dukungannya, 😍
total 1 replies
sunaryati jarum
Ada temen semasa kecil yang memberi dukungan
sunaryati jarum
Semoga kedepannya tidak ada lagi pengkhianat Ranti
sunaryati jarum
Orang tua Raya , bagus.Tidak membela tapi menyalahkan
sunaryati jarum
Tujuan kamu memang ingin merebut posisi Ranti, sudah pas kamu langsung dapat karma instan
sunaryati jarum
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!