Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Rencana Menjemput
Doni mendorong pintu ruang kerja CEO dengan santai, tanpa ketukan formal seperti sebelumnya. Wajahnya dihiasi senyum penuh arti sambil membawa secangkir espresso hangat yang diletakkan di atas meja Arka.
“Wah, gila sih. Suka banget gue sama gaya lo barusan, Bos,” celetuk Doni langsung sembari menarik kursi di depan Arka dan duduk tanpa diundang. Ia menyilangkan kaki sambil terkekeh pelan.
“Tolak telak, langsung blacklist. Padahal si Siska itu, ampun deh, dandanannya udah kayak mau karnaval Agustusan, tapi PD-nya selangit.”
Arka melirik sahabat karibnya itu sekilas, lalu kembali menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Ia menghela napas berat, mencoba meredakan sisa ketegangan di dadanya.
“Berisik lu. Keluar sana, kerja.”
“Elah, santai dikit, Bro. Imun lo kuat banget ya Pak CEO?”
“Daripada banyak ngomong, mending lo hubungin nyokap sekarang,” perintah Arka datar sambil menatap tajam ke arah Doni.
Doni yang tadinya menyengir lebar langsung mengernyitkan dahi, mengurungkan niatnya untuk menyesap espresso-nya.
“Hah? Nyokap lo? Tiba-tiba banget, Bos. Ada apa nih?”
“Udah, tanyain aja mereka berdua sekarang lagi di mana sama Naya,” balas Arka acuh tak acuh, kembali mengalihkan pandangannya ke layar laptop di atas meja.
Doni mendengus pelan, meski rasa penasarannya telanjur membuncah melihat ekspresi bos sekaligus sahabatnya yang mendadak serius itu.
Tanpa banyak protes lagi, ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu mengetatkan rahangnya seraya mencari kontak Marisa, ibu Arka.
“Iya, iya, sabar. Untung gue sabar punya bos modelan lo,” gerutunya setengah berbisik sebelum menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan ruang kerja yang luas itu. Arka sendiri pura-pura fokus pada deretan angka di layar laptopnya, padahal jemarinya sama sekali tidak bergerak mengetik apa pun. Pikirannya telanjur melayang pada Naya.
“Halo, Don? Ada apa tumben nelpon Tante?” suara Marisa terdengar di ujung sambungan dengan nada hangat yang ramah.
Doni melirik Arka sekilas, mendapati sang CEO menatapnya penuh tuntutan.
“Iya, Tante. Cuma mau nanya, Tante sama Naya sekarang posisi di mana ya?”
Di ujung sana, suara Marisa terdengar lembut dan kooperatif. “Ini Tante sama Naya lagi bareng, baru selesai memeriksa persiapan buat pesta gala amal nanti. Naya rajin banget bantuin Tante ngecek semuanya.”
Arka yang mendengar penggalan kalimat itu langsung mengembuskan napas lega, meski rahangnya masih menyisakan ketegangan.
“Tanya detail alamat gedungnya,” bisik Arka tajam namun penuh penekanan, cukup keras untuk ditangkap oleh Doni.
Doni mengangguk cepat, lalu kembali berbicara ke ponselnya, “Eh, iya, Tante. Kebetulan Arka nitip pesan... Boleh tahu detail nama gedung dan lokasinya di daerah mana, Tante? Biar Arka... maksudnya, biar saya yang ke sana buat jemput.”
Suara Marisa di ujung telepon sempat terdiam sejenak sebelum kembali menjawab dengan nada yang bernada godaan ringan.
“Oh, mau jemput? Tadi katanya sibuk banget sampai tidak bisa diandalkan, sekarang malah berinisiatif. Alamatnya di Grand Ballroom Sapphire, Jalan Melati No. 45, pusat kota. Bilang sama Arka, jangan kelamaan di kantor, kasihan Naya dari tadi kecapekan tapi tetep semangat.”
Doni tersenyum kecil menangkap nada jenaka dari ibu sahabatnya itu. “Siap, Tante. Nanti langsung dikabarin lagi kalau kita jalan ke sana. Makasih ya, Tante.”
Begitu panggilan terputus, Doni langsung menjauhkan ponsel dari telinganya dan melirik Arka dengan sebelah alis terangkat.
“Udah dengar sendiri kan, Bos? Di Grand Ballroom Sapphire. Katanya sih kecapekan tapi tetap semangat bantuin Tante Marisa. Lu gak mau langsung meluncur ke sana nih? Mumpung masih ada waktu sebelum macet total.”
Arka tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari kursi kerjanya dengan gerakan cepat, meraih jas hitam yang tersampir di sandaran kursi, lalu mengenakannya tanpa banyak bicara. Wajahnya yang tadinya kaku kini sedikit melunak, meski auranya tetap tegas dan penuh wibawa.
“Lo urus sisa dokumen di meja gue. Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruang kerja ini sampai gue balik,” perintah Arka final sambil menyambar kunci mobil di atas meja.
Doni hanya bisa mendengus pasrah sambil melambaikan tangan malas.
“Iya, Bos galak. Sana buruan samperin bidadari hati, keburu diambil orang tahu rasa lu!”
Tanpa memedulikan celetukan Doni, Arka melangkah lebar keluar dari ruangannya, meninggalkan sang sahabat yang kembali menggelengkan kepala sambil tersenyum geli melihat tingkah bosnya yang gengsinya setinggi langit itu.
*
*
Suasana di dalam Grand Ballroom Sapphire terasa megah dan sibuk. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya berkilau ke setiap sudut ruangan yang bernuansa gold dan putih elegan.
Di beberapa titik, para vendor tampak sibuk menata dekorasi bunga segar dan mengatur meja bundar yang nantinya akan dipenuhi para tamu VIP.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Naya berdiri di samping Marisa sambil memegang sebuah clipboard. Wajahnya tampak sedikit lelah karena berjalan ke sana ke mari sejak siang tadi, namun senyuman ramah masih menghiasi bibirnya saat ia berdiskusi dengan salah satu panitia acara.
“Gimana, Sayang? Masih kuat atau mau duduk dulu?” tanya Marisa penuh perhatian sambil merangkul pundak menantunya itu lembut.
“Masih kuat kok, Ma. Ini tinggal ngecek daftar menu katering sama memastikan tata letak kursi tamu VIP. Agar nanti pas hari H tidak ada yang keteteran,” jawab Naya dengan suara riang, meski napasnya sedikit terengah.
Marisa tersenyum bangga melihat ketulusan dan dedikasi Naya. Hubungan mertua dan menantu itu memang sangat akur; Marisa selalu memperlakukan Naya seperti anak kandungnya sendiri, sementara Naya sangat menghormati ibu suaminya itu.
Belum sempat Marisa menimpali ucapan Naya, suara derap langkah tegas yang menggema di lantai marmer lobi gedung menarik perhatian beberapa orang di sekitar pintu masuk.
Seorang pria berjas hitam dengan postur tinggi tegap melangkah masuk dengan aura dominan yang langsung mendominasi ruangan. Wajahnya tampak kaku, rahangnya mengeras, namun sorot matanya langsung menyapu setiap sudut ballroom seolah mencari satu sosok penting.
“Arka?” gumam Naya tanpa sadar saat melihat suaminya muncul di ambang pintu gedung.
Marisa yang ikut menoleh langsung tersenyum geli. “Nah, panjang umur. Katanya sibuk di kantor, tapi baru sepuluh menit ditelepon udah nongol di sini.”
Arka yang menyadari keberadaan istri dan ibunya langsung mempercepat langkahnya. Begitu berdiri di hadapan Naya, napas pria itu sedikit memburu, bukan karena kelelahan, melainkan karena rasa khawatir yang sempat mencengkeram dadanya sejak tadi.
Arka menatap Naya dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tidak ada lecet sedikit pun pada istrinya. Tatapannya kemudian beralih ke kening Naya yang tampak dibasahi oleh butiran keringat halus akibat terlalu aktif mondar-mandir mengurus persiapan.
Tanpa peduli pada puluhan pasang mata panitia dan vendor yang memperhatikan mereka, Arka langsung mengangkat tangannya. Dengan jemari yang hangat, ia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya lalu dengan telaten menyeka keringat di kening Naya.
Naya tertegun, matanya mengerjap beberapa kali karena terkejut dengan perlakuan manis suaminya yang sangat jarang ditunjukkan di tempat umum. Rona merah langsung menjalar di kedua pipinya.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak