NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Kebohonganku

Suara azan Subuh terdengar ketika Alya membuka mata. Setelah merapikan tempat tidurnya, ia mengambil mukena, lalu keluar dari kamar utama. Langkahnya terhenti di depan kamar tamu.

Alya mengetuk pintu pelan. “Mas, sudah Subuh. Bangun, yuk. Kita salat berjamaah.”

Beberapa saat kemudian, terdengar suara Arga dari dalam. “Iya, sebentar.”

Alya kembali ke kamarnya untuk mengambil sajadah. Tidak lama kemudian, Arga keluar dengan wajah yang masih menyisakan kantuk. Mereka bergantian mengambil wudu, lalu menggelar sajadah di ruang yang cukup luas di dekat kamar.

Arga berdiri di depan sebagai imam, sementara Alya mengambil posisi di belakangnya. Setelah salam dan berdoa, Alya melipat mukenanya. Arga masih duduk di atas sajadah ketika perempuan itu bangkit untuk merapikan perlengkapan salat.

“Mas mau langsung mandi? Aku mau menyiapkan sarapan,” ujar Alya.

Arga mengangguk. “Iya. Terima kasih sudah membangunkan.”

Alya tersenyum kecil sebelum berjalan menuju dapur. Pagi itu, ia menyiapkan nasi goreng sederhana dengan telur dan potongan sayuran. Ia juga membuat teh hangat untuk mereka berdua. Sementara menunggu masakannya matang, Alya merapikan beberapa barang di dapur yang belum sempat dibereskan malam sebelumnya.

Ketika semuanya siap, Arga sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian kerjanya. Mereka duduk berhadapan di meja makan.

Awalnya, suasana berlangsung seperti biasa. Alya makan sambil sesekali bercerita tentang rencananya merapikan lemari yang belum selesai. Arga mendengarkan, tetapi tangannya beberapa kali berhenti bergerak. Tatapannya juga sesekali beralih ke ponsel yang terletak di samping piring.

Alya menyadari kegelisahan itu. “Mas ingin menemui Mbak Nadira, ya?”

Arga mengangkat wajah. Ia tampak terkejut karena Alya bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.

“Kenapa Mas tidak pulang saja dan menemui Mbak Nadira?” lanjut Alya dengan nada biasa. “Sepertinya dia sudah cukup lama menunggu Mas.”

Arga menunduk. Perkataan itu justru membuatnya semakin merasa bersalah. Alya tidak melarangnya menemui Nadira, tidak pula menunjukkan kecemburuan. Perempuan itu malah menyarankannya untuk memenuhi keinginan istri yang dicintainya.

“Maaf,” ucap Arga pelan.

Alya menggeleng. “Tidak perlu meminta maaf.” Ia menyelesaikan makanannya, lalu bangkit untuk merapikan meja. Piring-piring kotor dikumpulkan dan dibawa ke wastafel. Arga masih duduk di tempatnya, seolah ada sesuatu yang terus mengganjal pikirannya.

“Kalau Ibu tiba-tiba datang ke sini bagaimana?” tanya Arga kemudian.

Alya berhenti sejenak sebelum menoleh. “Mas harus memikirkan sendiri alasan yang tepat untuk menjelaskan keadaan kepada Ibu.” Ia meletakkan piring di dekat wastafel, lalu kembali menatap Arga. “Aku tidak ingin terlibat dalam kebohongan yang Mas ciptakan sendiri.”

“Alya…”

“Aku tidak bermaksud mempersulit Mas.” Suaranya tetap lembut, tetapi kali ini terdengar lebih tegas. “Aku hanya ingin menjalani kehidupanku dengan tenang, Mas. Kehidupan yang tenang seperti sebelum aku menikah denganmu.”

Arga terdiam.

Alya tidak mengatakannya dengan nada marah. Tidak ada tatapan tajam atau sikap yang sengaja dibuat untuk menyudutkannya. Namun, justru karena itulah perkataan tersebut terasa begitu jelas.

Alya bersedia menjalani kehidupan rumah tangga mereka dengan baik. Ia bersedia berbagi tempat tinggal, makan bersama, dan menjalankan kewajibannya sebagai istri. Akan tetapi, ia tidak bersedia menjadi bagian dari kebohongan yang dibuat Arga untuk mempertahankan dua kehidupan sekaligus.

“Aku tidak akan menghalangi Mas menemui Mbak Nadira,” lanjut Alya. “Dia juga istri Mas. Aku memahami itu. Tapi kalau Mas harus menjelaskan sesuatu kepada keluarga Mas, tolong selesaikan sendiri. Jangan menjadikan aku alasan atau meminta aku membantu menutupi sesuatu yang tidak aku lakukan.”

Arga menatap istrinya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Selama ini, ia mengira Alya akan menjadi masalah yang harus dihadapinya setelah pernikahan mereka. Ia sempat membayangkan pertengkaran, tuntutan, atau kecemburuan. Namun, perempuan di hadapannya justru tidak meminta apa pun darinya selain kesempatan untuk menjalani hidup dengan tenang.

Dan ternyata, sikap Alya yang tenang itu tidak membuat Arga bebas dari tanggung jawab. Sebaliknya, ia harus menghadapi sendiri keputusan yang selama ini berusaha ia atur agar tidak merugikan dirinya.

“Maaf,” ucap Arga sekali lagi.

Alya mengangguk kecil, lalu kembali mencuci piring.

“Mas tidak perlu terus meminta maaf kepadaku. Lebih baik pikirkan apa yang harus Mas lakukan selanjutnya.”

Arga tidak menjawab. Ia melihat jam tangannya, kemudian mengambil tas kerja yang terletak di kursi.

“Aku berangkat dulu.”

“Iya, hati-hati di jalan. Jangan lupa makan siang.”

Arga sempat menoleh. Bahkan setelah percakapan yang tidak mudah itu, Alya masih mengingatkannya untuk menjaga kesehatan.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Alya hanya tersenyum sebelum kembali ke dapur.

Setelah pintu apartemen tertutup, Arga berdiri sejenak di lorong. Ia masih memikirkan Nadira yang menunggunya, ibunya yang tidak mengetahui apa-apa, dan Alya yang tidak bersedia ikut menanggung kebohongannya.

Kali ini, ia mulai memahami bahwa kehidupan yang ingin dipertahankannya tidak akan bisa berjalan hanya dengan mengandalkan alasan dan janji.

Sementara itu, Alya melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Ia tidak berniat menghukum Arga dengan sikap dingin, apalagi membuat laki-laki itu merasa bersalah sepanjang hari. Ia hanya ingin batas yang telah ditetapkannya tetap dihormati. Baginya, menjalani pernikahan dengan baik tidak berarti harus ikut memikul semua akibat dari keputusan suaminya.

1
Setyowati Setyowati
dari kemarin ngintip trs sy kira keman Thor ...tp syukurnya up juga ..jangan Hiatus Thor 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kalau bisa jangan simpan semua sendiri Nadira...karena kamu akan banyak pikiran jadi akan berimbas pada janinmu dan dirimu ..bagi bebanmu pada Arga juga ..biar sama " mencari solusinya
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!