Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Jejak Lumpuh di Limehouse
Bau ketakutan yang menguar dari tubuh Tuan Vance terasa kian menyengat di sepanjang lorong tangga kayu yang lembap. Pria gempal itu melangkah terpincang-pincang menyusul Hans Lorte, berusaha keras menyeimbangi langkah tegap sang detektif yang menyusuri trotoar batu berlumut di bawah kucuran gerimis Limehouse Cut. Udara dingin East End menusuk hingga ke balik kain mantel, membawa serta aroma batu bara terbakar, bau minyak tanah, dan kebasahan amis yang dihembuskan pasang surut Sungai Thames.
"T-Tuan Lorte, demi Tuhan, dengarkan saya!" Vance meratap pelan, suaranya parau dan terputus-putus oleh napasnya yang memburu. "Saya memang terdesak semalam, tapi saya tidak mengambil jam emas itu! Saya hanya membukanya untuk memastikan benda itu aman, lalu saya kunci kembali!"
"Anda membuka brankas itu di tengah kegelapan pukul 02.00 pagi, Tuan Vance," sahut Hans datar tanpa menoleh. Ujung tongkat jalan berkepala besinya mengetuk trotoar batu dengan irama konstan. Tuk... tuk... tuk... "Dan fakta bahwa Anda menyembunyikan kehadiran Anda di dermaga malam tadi sudah cukup membuktikan bahwa Anda panik. Sekarang, simpan ratapan Anda sampai kita melihat langsung apa yang tersisa di toko Anda."
Vance mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mengusap dahinya yang berpeluh dingin dengan saputangan berenda yang kian kusam.
Toko Vance’s Curiosities & Fine Antiques berdiri di sudut persimpangan lorong yang sepi. Papan nama kayu bertuliskan ukiran emas yang memudar mengayun pelan ditiup angin laut, menimbulkan derit tajam yang lesu. Ketika Hans mendorong pintu depan, bel kuningan di atas kusen berdenting halus, menyambut mereka dengan embusan udara hangat yang beraroma debu tua, kertas kusam, dan minyak kayu manis yang pekat.
Ruang depan toko itu sarat dengan barang-barang antik kelas menengah: jam berdiri buatan Jerman yang berdetik berat, sekstans kuningan berpelitur pudar, serta peta-peta navigasi pelayaran abad ke-19 yang digantung di sepanjang dinding berbatu bata merah.
"Tetap di dekat ambang pintu dan jangan sentuh apa pun," instruksi Hans tegas seraya mengangkat tangan kanannya.
Hans berjalan menembus keheningan toko menuju ruang belakang yang remang-remang. Di sudut tergelap ruangan, berdiri sebuah brankas besi tebal berwarna hijau tua buatan Chubb & Son. Pintu besinya tampak tertutup, tetapi begitu Hans mendekat, ia mendapati selot putar utamanya berada dalam posisi miring—tanda bahwa engselnya tidak terkunci secara sempurna.
Hans merendahkan tubuhnya, berlutut di atas lantai kayu yang agak melengkung karena kelembapan udara. Dari saku mantel kusamnya, ia mengeluarkan sebuah kaca pembesar kecil berbingkai kuningan. Dengan teliti, mata kelabu nya memindai celah-celah pintu besi, lubang kunci, dan permukaan di sekitar brankas.
Tidak ada goresan linggis. Tidak ada bekas benturan keras atau paksaan mekanis. Namun, saat kaca pembesar Hans tertuju pada engsel bawah pintu brankas, jemarinya berhenti bergerak.
Sebintik cairan kental berwarna kehitaman melekat di celah engsel. Hans menyapu bintik itu dengan ujung jari telunjuknya, lalu membawanya mendekat ke hidung untuk diendus.
Minyak mesin kapal uap, batin Hans mengenali aromanya. Bau itu pekat, pahit, dan sarat akan jelaga pembakaran batu bara tekanan tinggi dari galangan dermaga. Ini bukan minyak paus murni atau pelumas halus yang biasa digunakan perajin untuk merawat instrumen antik.
"Punya minyak pelumas kapal di toko Anda, Tuan Vance?" tanya Hans seraya menegakkan separuh tubuhnya.
Vance, yang mengintip ragu dari balik bingkai pintu ruang belakang, menggeleng cepat. "T-tidak ada. Saya hanya menyimpan minyak zaitun murni dan pembersih kuningan di laci."
Hans tidak menjawab. Ia mengarahkan kaca pembesarnya ke permukaan lantai kayu di depan brankas. Di antara lapisan debu tipis yang menyelimuti bilah-bilah kayu, ia menemukan pendaran noda tanah kering yang membentuk pola cetakan sepatu.
Sepatu boot pelaut berujung lancip dengan sol karet tebal, analisis Hans dalam hati. Ukuran 9 untuk pria dewasa. Lumpur yang tertinggal adalah tanah liat hitam berpasir kasar—jenis lumpur yang hanya melapisi dasar dermaga saat air sungai surut.
Vance membelalakkan matanya yang kemerahan. "A-apa? Tapi... tapi bukankah itu lumpur yang sama dengan yang ada di celana saya?"
"Lumpur yang sama, tetapi ukuran sepatunya berbeda," sahut Hans datar, berdiri tegak seraya mengibaskan debu dari lutut celananya. "Sepatu Anda berukuran 7 dengan tumit lebar, Tuan Vance. Sementara jejak di lantai ini dibentuk oleh sepatu boot pria dewasa berukuran 9. Dan yang lebih penting, anak jalanan bernama Pip yang Anda tuduh itu bertelanjang kaki atau paling luar biasa memakai sepatu kain robek yang diikat tali tambang."
Vance tertegun, mulutnya menganga tanpa sanggup mengeluarkan patahan kata.
Hans melangkah ke meja kerja kayu di sudut ruangan. Laci meja tempat penyimpanan kunci tampak sedikit terbuka. Hans menarik gagang laci tersebut dengan ujung fisiknya yang tertutup sarung tangan kain kusam. Di dalamnya, sebuah kaleng logam penyimpanan uang kembalian dalam kondisi terbuka dan kosong melompong.
Di samping meja, ada sebuah kapstok kayu. Satu gantungan tampak kosong, dengan sisa tetesan air dari mantel basah yang baru saja mengering di lantai kayu di bawahnya.
"Siapa lagi yang memiliki akses ke ruang belakang ini selain Anda?" tanya Hans dengan suara menuntut.
"Hanya... hanya Thomas, asisten toko saya," jawab Vance ragu-ragu, tangannya gemetar meremas saputangannya. "Tapi Thomas pemuda yang sangat jujur! Dia sudah bekerja pada saya selama dua tahun tanpa cela sedikit pun! Pagi ini dia pamit pergi ke pasar barang bekas di Whitechapel untuk mencari persediaan barang dagangan baru!"
Hans menatap laci yang terkuras itu, lalu menghembuskan napas pendek.
"Asisten yang jujur tidak akan menguras seluruh koin di dalam laci uang toko Anda sebelum pergi ke pasar, Tuan Vance," ujar Hans seraya menunjuk kaleng logam yang kosong. "Thomas tidak sedang berada di Whitechapel. Dia melumasi engsel brankas ini dengan minyak kapal agar tidak berderit saat dibuka di tengah malam, menyambar uang simpanannya, mengambil mantelnya, dan melarikan diri tepat setelah Anda pergi tadi pagi."
Vance terhuyung mundur, menyandarkan punggungnya pada rak jam antik dengan napas memburu. "T-tidak mungkin... Thomas? Kenapa dia melakukan itu?"
"Pertanyaan itu bisa kita dapatkan jawabannya jika kita menemukan orang yang melihat ke mana kaki berpola ukuran 9 itu melangkah," kata Hans dingin seraya menyambar tongkat jalan berkepala besinya. "Tunggu di sini dan jangan berani menyentuh apa pun."
Lorong-lorong di bawah Limehouse Bridge adalah wilayah di mana cahaya matahari sore London tenggelam oleh asap batu bara dan lengkungan batu yang legam oleh jelaga. Di sinilah aliran anak Sungai Thames mengendapkan bau amis sampah, lumpur basah, dan sisa-sisa kayu kapal yang membusuk. Tempat para pemulung dan anak-anak jalanan tak berumah mencari perlindungan dari tiupan angin dingin yang menusuk.
Hans menyusuri anak tangga batu yang licin oleh lumut. Setiap pijakan langkahnya diiringi bunyi ketukan tunggal yang ritmis dari ujung tongkat besinya. Tuk... tuk... tuk...
Di sudut tergelap di bawah lengkungan jembatan, seorang anak laki-laki kurus berusia 14 tahun sedang duduk di atas peti kayu bekas kemasan ikan hering. Anak itu mengenakan rompi kebesaran yang robek di bahu dan celana kain yang digulung hingga lutut. Begitu mendengar detak langkah sepatu Hans, anak itu seketika melonjak berdiri, mencengkeram sebuah paku besi panjang berkarat dalam posisi siaga.
"Jangan mendekat, Tuan! Aku tidak punya uang dan aku tidak mencuri apa-apa!" teriak anak itu, suaranya melengking gemetar di tengah gaung jembatan batu.
Hans berhenti lima langkah di depannya. Ia sama sekali tidak menunjukkan gestur mengancam. Tangan kanannya merogoh saku mantel kusamnya, mengeluarkan sebatang rokok gulung murah dan menyalakannya dengan pemantik kuningan. Asap abu-abu pekat keluar dari bibirnya, terurai perlahan di udara yang lembap.
"Kau pasti Pip," kata Hans tenang.
Pip menatap Hans dengan matanya yang liar dan cemas. Tatapannya tertuju pada anting perak bulan sabit yang berkilat redup di telinga kiri Hans. "Kau... detektif dari lantai dua di dekat dermaga itu?"
"Tuan Vance mendatangi kantorku pagi ini dan ingin aku menyerahkan mu ke kepolisian Scotland Yard atas tuduhan mencuri jam saku emas dari tokonya," ujar Hans datar.
"Aku tidak mencurinya!" potong Pip sengit, matanya berkaca-kaca oleh amarah dan ketakutan. "Aku memang berteduh di lorong belakang tokonya tadi malam dari hujan, tapi aku tidak pernah merusak pintunya!"
Hans menghembuskan asap rokoknya ke udara dingin, menatap anak laki-laki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan ketelitian rasionalnya.
"Aku tahu kau tidak mencurinya, Pip," kata Hans pelan.
Pip tertegun, genggamannya pada paku berkarat perlahan melonggar. "A-apa? Kau... percaya padaku?"
"Aku tidak percaya pada asumsi, aku percaya pada bukti fisik," jawab Hans datar. "Pertama, telapak tanganmu memang kotor oleh debu batu bara jalanan, tetapi jemarimu bersih dari jelaga dan pelumas mesin kapal uap. Kedua, lumpur di alas sepatu kainmu adalah tanah liat jalanan kota biasa, bukan lumpur hitam berpasir dari dasar dermaga. Dan ketiga... jejak sepatu di TKP berukuran 9 milik pria dewasa. Kakimu terlalu kecil untuk itu."
Pip berkedip berkali-kali, tampak tertegun mendengarkan uraian deduksi cepat yang dijabarkan Hans tanpa ragu sedikit pun.
Hans merogoh sakunya kembali, lalu menyentilkan sebuah koin tembaga ke udara. Ting. Koin itu berputar anggun sebelum ditangkap dengan cekatan oleh jemari Pip yang lincah.
"Sekarang," lanjut Hans, suaranya merendah. "Beri tahu aku apa yang sebenarnya kau lihat di lorong belakang toko Vance sekitar pukul 02.30 pagi tadi."
Pip menelan ludah. Ia mengantongi koin tembaga itu ke dalam rompinya, lalu melangkah dua tapak lebih dekat seraya berbisik.
"Tadi malam... waktu hujan sedang deras-derasnya," bisik Pip cepat. "Pintu belakang toko Vance terbuka sedikit. Pria yang keluar adalah Thomas, asisten toko yang biasa memakai celemek kulit."
"Apakah dia membawa sesuatu?" tanya Hans.
"Ya! Dia memeluk sebuah kotak kecil bersimpul kain beludru." Pip mengangguk mantap. "Dia berjalan terburu-buru menuju ujung lorong yang gelap. Di sana, ada seorang pelaut tinggi besar yang menunggunya."
Hans mengamati sorot mata anak itu di balik kepulan asap rokoknya. "Deskripsikan pelaut itu."
"Pria itu memakai mantel pelaut hitam yang basah kuyup," Pip mengingat-ingat dengan kening berkerut. "Rambutnya merah menyala... dan di wajah serta leher kirinya ada bintik-bintik bekas luka parut lebar yang mengerikan! Seperti bekas kena sabetan rantai atau ledakan uap kapal! Aku melihat Thomas menyerahkan kotak beludru itu, lalu si rambut merah memberinya sekantong kain yang berdentang suara koin!"
Hans meraba anting perak bulan sabitnya saat kalkulasi di dalam kepalanya bekerja cepat.
Pelaut berambut merah dengan bintik luka parut lebar di leher dan wajah, batin Hans. Dalam catatan log keamanan laut yang pernah kuperiksa di Royal Navy, ciri fisik itu merujuk pada perantara milik jaringan penadah barang curian pelabuhan.
"Apakah kau mendengar apa yang mereka bicarakan?" tanya Hans tegas.
"Aku mendengar pelaut berambut merah itu tertawa dan berkata, 'Bagus. Barang ini akan langsung diserahkan ke penadah di Gudang Kargo No. 4 sebelum kapal berangkat sore ini!'" jawab Pip lancar.
Sebuah garis lurus yang gamblang kini terbentuk di dalam benak Hans. Thomas tidak berniat bersembunyi di pasar Whitechapel. Ia menjual jam saku emas berukir lambang bangsawan itu kepada jaringan penadah kargo gelap di Gudang Kargo No. 4, lalu berniat meloloskan diri menumpang kapal yang akan lepas jangkar meninggalkan London sore ini juga.
Hans merogoh jam saku murah dari balik rompinya. Jarum tembaga menunjukkan pukul 15.20 sore. Kapal-kapal kargo pelabuhan biasanya melepaskan tali tambang utama tepat saat air pasang sore mulai naik pada pukul 16.00—yang berarti barang itu dan sang pelaku akan lenyap selamanya jika tidak dicegat sekarang.
Paduan kalkulasi rasional dan waktu yang kian memburu membuat rahang Hans mengeras.
"Pip," ujar Hans seraya mematikan ujung rokok gulungnya pada pilar batu jembatan. "Tunjukkan padaku jalan pintas tercepat menuju Gudang Kargo No. 4."