**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman Empat Puluh Satu
Laras membaca nama itu sekali lagi, dalam hati, sebelum membaca keras.
"*Wulan binti Karto.*"
Suaranya terdengar kecil di ruang makan yang terlalu hening. Ibu masih memejamkan mata, kedua tangannya terlipat di atas taplak. Di seberangnya, Dewi berdiri kaku di dekat kursi yang disiapkan untuknya, tidak berani duduk. Sekar mencengkeram sandaran kursi Dimas. Bima belum melepaskan pandangan dari kertas di tangan kakaknya.
Ini bukan halaman buku besar Darmawan. Tidak ada kolom jumlah, tidak ada tanggal setoran. Hanya satu judul di bagian atas, huruf-huruf tegak dan miring ke kanan yang sudah terlalu akrab:
*DAFTAR ORANG YANG KUUTANGI. Ditulis Maret 2008, ditambah sampai hari terakhir.*
"Bacakan semuanya," kata Ibu tanpa membuka mata. "Dari atas. Tidak ada yang dilewati."
"Bu, ini nama Ibu paling pertama."
"Karena itu Ibu minta kamu yang membacanya."
Laras menelan ludah, lalu meneruskan.
"*Wulan binti Karto. Kuutangi hidup yang tidak sempat kamu pilih. Kamu menikah denganku dalam keadaan hamil anak orang lain, dan kujanjikan rumah, tapi yang kuberikan ketakutan. Kuutangi tiga puluh tahun tidur dengan satu mata terbuka.*"
Ibu menggigit bibir bawahnya. Tidak ada suara.
"*Laras. Kuutangi pengakuan. Kamu anakku, dan aku tak pernah mengatakannya dengan cukup lantang.*
*Bima. Kuutangi pelukan yang kutunda. Kamu anak yang paling cepat dewasa, dan itu salahku.*
*Sekar. Kuutangi nama aslimu, dan seorang kakak laki-laki yang kusembunyikan darimu.*"
Sekar menutup mulutnya. Dimas menunduk, rahangnya bergetar.
"*Ratna. Kuutangi seluruh masa mudamu.*
*Dimas. Kuutangi seorang ayah.*
*Kardi. Kuutangi kebun dan enam tahun hidupmu di penjara.*
*Surya. Kuutangi tanda tangan yang kupaksakan kamu tanggung, dan keberanian yang tidak kuberikan.*
*Dewi. Kuutangi dua puluh lima tahun malam-malam sendirian.*
*Haryo, atau siapa pun namamu yang sebenarnya. Kuutangi ibumu.*"
Dewi memalingkan wajah ke jendela. Laras melihat bahunya bergerak sekali, halus sekali.
---
Daftar itu berakhir di tengah halaman. Di bawah nama Haryo ada satu garis pendek, lalu kosong.
Laras membalik kertas itu, mengira ada lanjutannya, tetapi sisi belakangnya polos. Ia mengembalikannya ke depan, dan baru sadar bahwa ada sesuatu di antara baris terakhir dan tepi bawah halaman: satu garis tebal, dicoret berulang-ulang dengan tinta hitam sampai kertasnya menipis dan sedikit sobek di sudut. Di bawah coretan itu, dengan tulisan yang lebih kecil dan lebih gemetar:
*Bukan utang. Ini yang harus ditagih.*
"Bu," kata Laras pelan. "Di sini ada nama yang dicoret."
Ibu akhirnya membuka mata.
"Ibu tahu." Suaranya datar. "Bapakmu menunjukkannya pada Ibu, dua bulan sebelum meninggal. Dia minta Ibu membacanya, lalu Ibu bilang tidak bisa. Dia tidak memaksa." Ia menatap Laras. "Sebelum kita bahas itu, ada yang harus Ibu akui. Dan Ibu mau semua orang di ruangan ini mendengarnya."
"Bu, tidak harus sekarang ..."
"Harus. Karena kalau Ibu tidak bicara sekarang, Ibu akan mencari alasan lagi besok."
Tak seorang pun menyela. Dewi akhirnya menarik kursi dan duduk, perlahan, seperti orang yang masuk ke ruang sembahyang.
---
"Tahun 1993," Ibu mulai. "Setelah Ratna melahirkan di Wonosobo dan Ibu membawa Sekar pulang, Ibu butuh uang. Untuk Budhe Sumi, untuk bidan yang bersedia menulis surat lahir palsu, untuk perjalanan. Ibu tidak punya apa-apa. Bapakmu juga tidak."
Ia mengatur napas, dan jari-jarinya meremas ujung taplak.
"Ibu mendatangi satu-satunya orang kaya yang Ibu kenal. Darmawan. Ibu bilang Ibu butuh pinjaman untuk menolong adik Ibu yang sedang kesulitan." Suaranya turun. "Dia bertanya kesulitan apa. Ibu ... Ibu tidak bisa bohong di depannya. Dia selalu bisa membaca Ibu. Ibu bilang Ratna baru melahirkan anak kembar dan tidak sanggup membesarkan keduanya."
Hening yang dalam.
"Ibu bahkan menyebut nama rumah bidan di Wonosobo," lanjut Ibu. "Supaya dia yakin Ibu tidak berbohong."
Dimas tidak bergerak. Wajahnya putih. Sekar menoleh perlahan padanya, lalu pada Ibu.
"Dua hari kemudian dia datang ke rumah bidan itu," bisik Dimas. "Dengan seorang polisi."
"Ya." Ibu mengangguk. "Dan Ibu tahu. Ibu baru sadar ketika Ratna mengirim kabar dari pelariannya. Selama tiga puluh tahun Ibu mengatakan pada diri sendiri bahwa itu cuma kebetulan." Ia menutup mata sebentar. "Bukan. Ibu yang membuka pintu untuk Darmawan. Bapakmu tahu itu. Dia tidak pernah menyalahkan Ibu. Tapi dia mencatatnya di sini."
Ia menunjuk daftar di tangan Laras. Laras menunduk, dan baru melihat kalimat kecil di bawah nama Ibu yang tadi terlewat, ditulis dengan pensil yang nyaris pudar:
*Pintu itu dibuka karena cinta. Aku yang mengunci kita di dalamnya.*
Ibu menangis tanpa suara. Sekar sudah berdiri dari kursi, memeluknya dari samping, dan Ibu tidak menolak. Dimas menatap meja lama sekali. Ketika akhirnya bicara, suaranya serak tapi tenang.
"Ibu," katanya. "Bu Wulan. Saya tidak akan bilang saya sudah memaafkan Ibu. Itu bohong."
"Aku tahu, Nak."
"Tapi Ibu Ratna mengirim uang untuk Ibu sampai akhir hidupnya." Ia mengangkat wajah. "Bukan karena dia benci Ibu. Setiap bulan dia mengirim lima puluh ribu, jumlah yang sama, ke rekening Ibu. Ibu tidak pernah menyadarinya karena saldonya masuk begitu saja."
Ibu membuka mata. "Apa?"
"Dia tidak mau Ibu merasa berutang sendirian." Dimas tersenyum tipis, matanya basah. "Katanya, utang yang dibayar dua arah lebih ringan memikulnya."
Ibu menunduk. Bahunya berguncang, dan kali ini tidak ada yang bisa ia sembunyikan lagi.
---
"Sekarang nama yang dicoret," kata Dewi akhirnya.
Suaranya membawa kembali semua orang ke meja itu. Laras mengangkat halaman itu ke bawah lampu. Coretan hitam tebal menutup tepat satu baris, sekitar tiga sampai empat kata panjangnya, dan tak ada satu huruf pun yang terbaca.
"Tekanan penanya dalam sekali," ujar Dewi. "Hartono menulis namanya dulu, lalu mencoretnya dengan marah. Atau ketakutan." Ia menoleh pada Sekar. "Ada pensil?"
Sekar berlari ke laci dapur dan kembali dengan pensil kayu pendek, bekas ujian SMP-nya. Dewi mengambilnya, menyiapkan kertas kosong dari tasnya, dan meletakkannya tepat di atas baris yang dicoret.
"Teknik lama," katanya. "Kalau tulisan di bawah ditekan cukup dalam, bekasnya menembus ke lembar yang menindih."
Mereka mengerumuni meja. Dewi menggosok pensilnya dengan sisi lancip, pelan, searah, seperti membasuh luka. Pada awalnya hanya abu-abu rata. Lalu perlahan, huruf demi huruf, putih-lekuk di atas bayangan, sesuatu mulai tampak.
*R.*
*A.*
*H.*
Bima mundur satu langkah. Kursi berderit di belakangnya.
*A. Y. U.*
"Rahayu," bisik Laras.
Dewi tidak berhenti. Ia menggeser pensil ke kata berikutnya, dan huruf-huruf itu muncul lebih cepat, lebih tebal, seperti ditulis dengan kemarahan yang lebih besar.
*S. E. N. T. O. S. A.*
Ruang makan itu menjadi sunyi sepenuhnya.
"Rahayu Sentosa," baca Dewi pelan. Ia mengangkat pandangan, dan untuk pertama kalinya Laras melihat sesuatu seperti ketakutan di wajah perempuan yang selama dua puluh lima tahun hidup di antara serigala. "Adik bungsu Darmawan. Ia menikah tahun 1994 dengan seorang notaris muda, dan sejak itu berhenti memakai nama keluarganya."
"Nama suaminya," ucap Laras. Kerongkongannya kering. "Ibu Surya."
Bima menyandarkan punggung ke bufet, wajahnya kosong. "Tadi malam dia bilang Bapak berangkat subuh ke terminal. Sambil menangis."
"Dia memang menangis," kata Ibu pelan. "Waktu tahlilan, waktu pemakaman, dia selalu yang pertama membantu di dapur. Dia yang membuat teh untuk Bapakmu waktu sakit. Dia selalu di meja ini."
"Dia yang duduk di meja makan kita," ucap Sekar dengan suara tipis.
Laras memejamkan mata. Kalimat Pak Surya dalam suratnya kembali: *Nama itu bukan Darmawan, bukan Ratih. Saya terlalu pengecut untuk mengucapkannya di depan Bu Wulan.* Bukan karena ia melindungi dirinya sendiri. Karena ia melindungi istrinya.
"Dia pergi untuk menemuinya," katanya. "Pak Surya tidak lari. Dia pergi lebih dulu supaya bisa bicara pada istrinya sebelum kita sampai."
"Atau supaya bisa memperingatkannya," kata Dewi, dingin.
Tepat saat kalimat itu selesai, bel pintu depan berbunyi.
Satu kali. Lembut. Sopan.
Tak seorang pun bergerak. Dewi menarik napas tertahan, tangannya refleks menyelip ke dalam jaket. Ibu perlahan membuka mata dan menatap pintu ruang makan, seolah menembusnya sampai ke teras.
Dari luar terdengar suara yang sangat mereka kenal, ramah dan agak serak karena habis menangis, suara yang selama bertahun-tahun mengantar teh hangat ke meja ini:
"Bu Wulan? Ini Rahayu. Saya bawakan sarapan, kasihan kalian belum makan dari kemarin."