Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Arus Jiwa yang Meluap
Akan tetapi, hidup Arya Wijaya tidak selamanya tenang. Akhir-akhir ini tubuhnya tidak seimbang, pikirannya juga tidak karuan. Seperti halnya saat ini.
Lampu neon fleksibel di atas meja stainless steel IKKJ RSUD Bina Husada berkedip dua kali sebelum kembali memancarkan cahaya putih kaku. Udara dingin bertekanan negatif berhembus pelan, membawa aroma akrab formalin, alkohol tujuh puluh persen, dan jejak tipis sabun antiseptik.
Arya Wijaya berdiri mematung di samping jemuran sarung tangan lateks. Jarinya yang terbungkus karet tipis mencengkeram tepi meja besi hingga ujung kuku-kukunya memutih. Matanya menatap lurus ke arah dinding keramik putih di depannya, namun fokus penglihatannya tidak berada di sana.
Di dalam kepalanya, suara-suara itu tidak mau berhenti.
Bising.
Bukan bising suara klakson kendaraan di jalan raya luar rumah sakit, melainkan gema bisikan runut yang datang bertubi-tubi. Ada rintihan parau Pak Bambang saat napas terakhirnya tercekik, bisikan lirih Maya Kartika yang memohon ampun di bawah remang lampu jalan, hingga jeritan tak bersuara dari puluhan tubuh kaku yang pernah disiram, dibersihkan, dan dijahit oleh kedua tangannya selama satu tahun terakhir.
"Arya?"
Suara panggilan itu terdengar seperti datang dari dalam sumur tua yang dalam.
Arya tersentak pelan. Bahunya terangkat drastis saat ia menoleh. Teguh tengah berdiri di samping rak penyimpanan kain kafan dengan memegang sebuah papan jepit berisi lembar inventaris pemulasaraan.
"Kamu dari tadi dipanggil nggak dengar, Ya," kata Teguh seraya menatap temannya itu dengan dahi berkerut cemas. "Tanganmu tremor begitu. Kamu belum tidur dari kemarin?"
Arya cepat-cepat menarik tangannya ke belakang tubuh, dan mengepalkan jemarinya kuat-kuat untuk menghentikan getaran halus yang menjalar dari pergelangan hingga ujung jarinya. Ia lalu memaksa bibirnya membentuk senyum tipis yang tampak kaku.
"Cuma agak kurang fokus aja, Mas Teguh. Semalam agak susah tidur," jawab Arya dengan suara parau.
Teguh meletakkan papan jepitnya di atas meja, melangkah mendekat lalu memegang bahu Arya. Usapan tangan seniornya itu terasa hangat, namun di dalam persepsi Arya yang sedang kacau, sentuhan fisik sesederhana itu hampir membuat tubuhnya melonjak kaget.
"Wajahmu pucat sekali, Arya. Lingkar matamu hitam seperti orang tidak tidur tiga hari," tegur Teguh ragu. "Sejak kasus dokter gila itu selesai minggu lalu, kamu kelihatan beda. Sering melamun, kalau diajak bicara sukanya terlambat merespons. Kamu tidak sedang sakit, kan?"
"Nggak kok, Mas. Sungguh. Cuma capek penyesuaian jadwal piket malam aja," dalih Arya.
Ia tidak bisa menceritakan kebenarannya. Bagaimana mungkin ia menjelaskan kepada Teguh bahwa setiap kali matanya terpejam, ingatan orang-orang mati yang pernah ia sentuh merembes masuk ke dalam mimpi-mimpinya?
Bahwa ia tidak lagi bisa membedakan mana memorinya sendiri saat kecil dan mana memori seorang korban kecelakaan yang meninggal tiga bulan lalu?
Sret.
Pintu geser otomatis IKKJ mendesis terbuka. Iptu Farhan melangkah masuk dengan jaket kulit hitam yang sedikit basah oleh sisa gerimis pagi. Di tangannya ada dua cup kopi hangat dari minimarket depan rumah sakit.
"Pagi, Teguh. Pagi, Arya," sapa Farhan dengan nada santai.
"Pagi, Pak Farhan," balas Teguh. "Wah, pas banget bawa kopi. Tapi ini si Arya suruh minum air putih saja, Pak. Wajahnya sudah seperti kain kafan begitu."
Farhan menghentikan langkahnya. Matanya yang terlatih sebagai reserse senior langsung memindai penampilan Arya dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Ada raut kekhawatiran yang tersembunyi di balik tatapan tegas sang perwira.
"Teguh, bisa tolong ambilkan berkas berita acara serah terima jenazah minggu lalu di kantor depan?" minta Farhan dengan tenang.
"Oh, siap, Pak. Saya ambilkan sebentar," sahut Teguh tanpa rasa curiga, lalu melangkah keluar dari ruang pemulasaraan.
Begitu pintu geser tertutup rapat, Farhan meletakkan satu cup kopi di meja stainless steel dan melangkah mendekati Arya. Udara di antara mereka mendadak terasa makin berbobot.
"Kamu tidak baik-baik saja, Arya," kata Farhan tanpa basa-basi, dan langsung menusuk ke pusat masalah. "Bukan cuma soal fisik. Ada apa?"
Arya menyandarkan pinggulnya ke tepi meja, seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara napasnya terdengar berat dan tidak beraturan.
"Saya... saya tidak tahu cara menghentikannya, Pak Farhan," bisik Arya, suaranya hampir tak terdengar di antara dengung AC ruangan.
"Menghentikan apa? Soal penglihatan itu?"
Arya mendongak, dan menatap Farhan dengan mata yang memerah dan dipenuhi ketakutan yang belum pernah terlihat sebelumnya. "Dulu... penglihatan itu cuma datang kalau saya sengaja menyentuh bekas luka atau bagian tubuh korban saat memandikan mereka. Cuma sebentar, lalu hilang setelah misterinya terungkap. Tapi sekarang..."
Arya jeda sejenak, seraya menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya.
"Sekarang ingatan mereka tidak mau pergi, Pak. Mereka menumpuk di kepala saya. Saat saya mau tidur malam, saya merasa napas saya sesak seperti tenggelam, itu rasa sakit dari korban tenggelam dua minggu lalu. Saat saya terlelap sepuluh menit, saya terbangun karena merasa leher saya dipotong. Saya tidak bisa tidur. Setiap kali terlelap... saya mengalami sleep paralysis."
Farhan mendengarkan setiap kata itu dengan raut wajah yang kian mengeras. Rasa bersalah seketika menghantam dadanya. Ia yang selama ini mendorong Arya untuk mengendalikan dan menggunakan kemampuan magis itu demi memecahkan kasus-kasus pelik, tanpa pernah memikirkan efek samping psikologis yang harus ditanggung oleh pemuda di hadapannya.
"Arya..." ujar Farhan pelan. "Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin-kemarin?"
"Saya kira ini cuma kelelahan biasa, Pak!" tekan Arya dengan nada frustrasi yang mulai meluap. "Tapi semalam... semalam adalah yang terpaling parah. Saya ketindihan dari jam dua malam sampai subuh. Saya sadar kamar saya gelap, tapi saya tidak bisa menggerakkan satu pun jari saya. Dan di atas dada saya... ada bayangan kaku tanpa wajah yang menekan paru-paru saya seraya membisikkan nama-nama tempat yang tidak pernah saya kunjungi!"
Arya mengepalkan tangannya di dada, napasnya memburu. "Saya merasa... otak saya mulai hancur, Pak Farhan. Diri saya yang asli perlahan-lahan tergerus oleh memori orang-orang mati itu."
Farhan melangkah maju, lalu memegang kedua lengan Arya dengan mantap. "Dengar aku, Arya. Mulai hari ini, kamu lepas dinas dari IKKJ. Ambil cuti."
Arya menggeleng dengan cepat. "Nggak bisa, Pak! Kalau saya cuma diam di kamar kontrakan sendirian, bayangan-bayangan itu makin gila menyerang saya!"
"Lalu kamu mau membiarkan dirimu gila di ruangan ini?!" bentak Farhan, bukan karena marah, melainkan karena dorongan protektif yang kuat. "Kemampuanmu itu wadah, Arya. Wadah air. Kalau terus-menerus diisi air dari tempat sampah tanpa pernah dikuras, wadah itu bakal pecah! Kamu butuh istirahat, kamu butuh bantuan ahli!"
"Bantuan ahli apa?!" balas Arya seraya menepis pelan tangan Farhan. "Psikiater? Dokter jiwa? Apa yang harus saya katakan pada mereka, Pak? 'Dokter, tolong beri saya obat karena otak saya penuh dengan ingatan orang mati yang saya mandikan'? Mereka cuma bakal memasukkan saya ke rumah sakit jiwa dan memberi saya obat penenang dosis tinggi sampai saya jadi mayat hidup!"
Kata-kata Arya menghantam Farhan tepat di dada. Kebenarannya terhampar tanpa celah. Dalam dunia ilmiah dan hukum yang kaku, kondisi Arya adalah sebuah keanehan yang tidak boleh tercium oleh publik maupun instansi medis mana pun.
Sebelum Farhan sempat membalas, pintu geser terbuka kembali. Teguh masuk seraya membawa lembaran kertas.
"Ini berkasnya, Pak Farhan," kata Teguh, namun langkahnya terhenti saat melihat ketegangan tinggi di antara Farhan dan Arya. "Eh... ada apa ini? Kok tegang sekali?"
Farhan dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya, dan mengubah raut mukanya kembali menjadi perwira polisi yang tenang.
"Tidak ada apa-apa, Teguh," ujar Farhan seraya mengambil kertas dari tangan Teguh. "Saya cuma sedang menegur Arya karena dia memaksa masuk kerja padahal badannya demam tinggi."
Farhan menoleh ke Arya dengan tatapan yang tidak menerima bantahan. "Arya, pulang sekarang. Ini perintah. Kalau kamu tidak mau pulang ke kontrakanmu, ikut ke rumahku. Tapi kamu tidak boleh menyentuh satu pun jenazah hari ini. Paham?"
Arya menatap Farhan cukup lama, lalu menundukkan kepalanya seolah pasrah. Rasa lelah yang teramat sangat akhirnya meruntuhkan ego dan pertahanannya.
"Baik, Pak..." jawab Arya lincah namun tanpa bertenaga.
Bersambung...