NovelToon NovelToon
Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Nak, Ayo Kita Pergi, Tinggalkan Papa.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Isti arisandi

Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.

Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.



Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Mikha tidak pernah benar-benar menangis malam itu.

Setelah Pras meninggalkan balkon untuk menerima telepon dari kantor, perempuan itu segera mengusap sisa air mata di pipinya. Senyum tipis terbit di bibirnya, sementara tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.

Rencananya berjalan lebih baik daripada yang ia bayangkan.

Pras mungkin mengira dirinya sedang berhadapan dengan istri yang terluka dan membutuhkan perhatian. Padahal, Mikha sudah mulai menyusun langkah untuk memastikan dirinya tidak menjadi satu-satunya orang yang dirugikan dalam pernikahan ini.

Terlebih lagi, ia masih mengingat jelas percakapan antara Pras dan Alena yang tanpa sengaja didengarnya beberapa waktu lalu.

Alena menginginkan mobil.

Dan Pras, yang selama ini selalu pandai mencari alasan ketika istrinya meminta sesuatu, tampaknya tidak keberatan mempertimbangkan keinginan perempuan itu.

Lucu sekali.

Untuk perempuan yang bahkan belum tentu akan menjadi istrinya, Pras bersedia memikirkan banyak hal. Sementara untuk Mikha, perempuan yang masih menyandang status sebagai istrinya secara sah, sebuah permintaan saja harus melewati berbagai pertimbangan.

Mikha tersenyum miring.

Baiklah, Mas. Kalau begitu, kita lihat siapa yang lebih dulu mendapatkan apa yang diinginkan.

Keesokan harinya, Mikha mulai menjalankan rencana berikutnya.

Sore itu, ketika Pras baru pulang kerja, ia mendengar suara Mikha dari arah ruang keluarga. Istrinya sedang berbicara melalui telepon, sementara ia sendiri baru saja meletakkan tas kerja di atas meja.

Awalnya, Pras tidak berniat mendengarkan. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Mikha.

"Aku sudah enggak tahan lagi. Kalau sampai dia enggak membelikanku mobil, mungkin aku memang harus pergi dari rumah ini."

Pras membeku.

Mikha belum menyadari kehadirannya. Ia masih melanjutkan percakapan dengan nada sedih.

"Aku capek terus-terusan merasa enggak dianggap. Aku juga punya harga diri. Masa untuk kebutuhan sendiri saja aku harus memohon?"

Pras mengepalkan tangan.

"Sudahlah, aku enggak mau membicarakannya lagi. Kalau memang dia enggak peduli, aku juga bisa pergi. Nanti kalau sudah waktunya, aku akan mengabarimu."

Setelah itu, Mikha mengakhiri panggilan.

Ia sengaja tidak langsung berbalik. Ia membiarkan keheningan menyelimuti ruangan selama beberapa detik, memberi kesempatan kepada Pras untuk mencerna setiap kata yang baru saja didengarnya.

"Mikha!"

Perempuan itu menoleh dengan wajah terkejut yang dibuat-buat.

"Mas? Kamu sudah pulang?"

Pras berjalan mendekat. Wajahnya terlihat tegang.

"Kamu tadi bicara apa?"

Mikha mengerutkan kening. "Bicara apa, Mas?"

"Mas dengar kamu bilang mau pergi dari rumah kalau tidak dibelikan mobil."

Mikha terdiam.

Kemudian, ia menunduk seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan.

"Itu cuma obrolan sama teman, Mas."

"Jadi, benar kamu mau pergi?"

Mikha tidak langsung menjawab. Ia memainkan ujung bajunya, lalu menghela napas panjang.

"Aku juga enggak tahu. Aku cuma merasa sudah enggak punya tempat lagi di hati kamu."

Pras mengusap wajahnya dengan kasar.

Lagi-lagi kalimat itu.

Belakangan ini, setiap kali ia mencoba berbicara dengan Mikha, selalu ada sesuatu yang membuatnya merasa menjadi suami yang buruk. Padahal, menurutnya, ia sudah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Mikha benar-benar berubah.

Dan sekarang, perempuan itu bahkan mulai membicarakan kepergian dari rumah.

"Kalau memang mobil itu yang kamu inginkan, kenapa kamu tidak membicarakannya baik-baik dengan Mas?"

Mikha mengangkat wajah.

"Aku sudah membicarakannya, Mas. Tapi kamu menolak."

Pras terdiam.

"Aku enggak mau kehilangan kamu hanya karena persoalan seperti ini," katanya akhirnya.

Mikha menatap suaminya tanpa berkedip.

Dalam hati, ia hampir tertawa.

Jadi, sekarang Pras takut kehilangan dirinya?

Entah karena cinta atau karena takut menghadapi keluarga Mikha jika pernikahan mereka berakhir dengan cara yang buruk, perempuan itu tidak peduli. Yang jelas, ia akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.

"Kalau begitu, belikan aku mobil, Mas."

Pras menghela napas panjang.

"Baiklah."

Mikha nyaris tidak percaya mendengar jawaban itu.

"Apa?"

"Mas bilang, baiklah. Kita cari mobil yang kamu inginkan. Kalau memang itu bisa membuat kamu lebih tenang, Mas akan membelikannya."

Mikha segera menunduk untuk menyembunyikan senyum yang hampir terbit di wajahnya.

"Terima kasih, Mas."

Ia lalu memeluk Pras, menempelkan wajahnya di dada lelaki itu agar tidak terlihat betapa puasnya dirinya saat ini.

Pras membalas pelukan tersebut, meskipun pikirannya masih dipenuhi kecemasan.

Ia tidak tahu bahwa ancaman Mikha untuk pergi dari rumah hanyalah rekayasa. Perempuan itu sengaja mengatur percakapan telepon tersebut karena mengetahui kebiasaan Pras yang tidak suka kehilangan kendali atas keadaan.

Dan kali ini, taktiknya berhasil.

Dua hari kemudian, sebuah mobil baru terparkir di halaman rumah mereka.

Mikha berdiri di samping kendaraan itu dengan senyum lebar. Ia bahkan meminta seseorang mengambil beberapa foto dirinya bersama mobil tersebut.

Bukan hanya itu. Sebelumnya, ia juga sudah mengunggah foto gelang mutiara mahal yang berhasil didapatkannya.

Namun, unggahan itu tidak dibagikan kepada semua orang.

Mikha sengaja membatasi siapa saja yang bisa melihatnya. Ia hanya mengizinkan keluarga Alena dan beberapa orang yang berkaitan dengan perempuan itu untuk menyaksikan kebahagiaannya.

Ia tidak perlu menjelaskan apa pun.

Tidak perlu menyebut nama Alena.

Tidak perlu pula menuliskan sindiran panjang yang bisa membuat orang lain curiga.

Cukup dengan sebuah foto gelang mahal, mobil baru, dan keterangan sederhana.

Alhamdulillah, satu per satu keinginan akhirnya terwujud. Terima kasih untuk suamiku yang selalu berusaha membuatku bahagia.

Mikha membaca ulang kalimat itu, lalu tersenyum puas sebelum menekan tombol unggah.

Ia bisa membayangkan bagaimana reaksi Alena ketika melihatnya.

Dan benar saja, tidak sampai satu jam kemudian, ponsel Pras berdering berkali-kali.

Nama Alena muncul di layar.

Pras yang sedang berada di ruang kerjanya segera mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Alena?"

"Kamu bisa jelaskan ini?"

Suara Alena terdengar tajam, bahkan sebelum Pras sempat bertanya apa yang terjadi.

"Jelaskan apa?"

"Jangan pura-pura enggak tahu, Pras! Aku baru saja melihat postingan istrimu!"

Pras mengernyit.

"Mikha?"

"Iya, Mikha! Siapa lagi?"

Alena terdengar begitu marah sampai-sampai suaranya bergetar.

"Dia memamerkan gelang mutiara mahal, lalu sekarang mobil baru! Kamu benar-benar membelikannya mobil?"

Pras memejamkan mata sesaat.

Ia sudah menduga bahwa keputusan itu mungkin akan menimbulkan persoalan, tetapi tidak menyangka Alena akan mengetahuinya secepat ini.

"Alena, dengarkan dulu penjelasanku."

"Apa lagi yang harus aku dengar?" potong Alena. "Kamu bilang kepadaku bahwa kita harus mengatur pengeluaran. Kamu bilang ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli mobil. Tapi sekarang, kamu malah membelikan mobil untuk Mikha!"

Pras terdiam.

Ia teringat percakapannya dengan Alena beberapa waktu lalu. Saat itu, perempuan tersebut memang pernah mengungkapkan keinginannya untuk memiliki mobil sendiri. Pras berjanji akan mempertimbangkannya setelah persoalan rumah tangganya selesai.

Namun, sekarang keadaan justru berbalik.

"Aku punya alasan sendiri," jawab Pras berusaha tenang.

"Alasan apa? Jangan bilang kamu membelikannya mobil karena dia menangis lagi!"

Pras tidak menjawab.

Keheningan itu justru membuat Alena semakin murka.

"Kamu sadar enggak, Pras? Perempuan yang seharusnya kamu bahagiakan itu aku! Aku yang selama ini menunggu kepastian dari kamu. Aku yang harus bersabar menghadapi semua keadaan ini!"

Napas Alena terdengar memburu.

"Bukan Mikha! Dia itu sebentar lagi menjadi mantan istrimu. Kenapa kamu masih sibuk memenuhi keinginannya? Apa kamu lupa siapa perempuan yang ingin kamu jadikan pasangan hidupmu berikutnya?"

Rahang Pras mengeras.

"Jangan bicara seperti itu. Mikha masih istri sahku."

"Justru itu masalahnya!" bentak Alena. "Kamu selalu punya alasan untuk membelanya. Kamu masih memikirkan perasaannya, masih takut dia sedih, bahkan masih menuruti permintaannya. Lalu, aku ini siapa?"

Pras mengusap keningnya.

"Alena, aku sedang mengurus semuanya. Kamu enggak perlu membuat persoalan ini semakin rumit."

"Rumit?" Alena tertawa sinis. "Kamu tahu apa yang membuat semuanya rumit? Karena kamu tidak pernah benar-benar tegas kepada istrimu sendiri!"

Pras tidak menyahut.

Di seberang telepon, Alena masih mengomel, meluapkan seluruh kekesalannya. Baginya, gelang mahal dan mobil baru itu bukan sekadar barang. Keduanya menjadi bukti bahwa Mikha masih memiliki tempat dalam kehidupan Pras, tempat yang selama ini ingin direbutnya.

Sementara itu, di rumah, Mikha sedang duduk santai di sofa sambil menikmati minuman hangat.

Ponselnya berada di tangan. Ia memeriksa unggahannya sekali lagi, lalu tersenyum ketika melihat beberapa orang dari keluarga Alena mulai menyaksikan postingan tersebut.

Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Pras dan Alena saat ini.

Namun, ia bisa menebak bahwa perempuan itu pasti sedang terbakar cemburu.

Mikha meletakkan ponselnya, lalu mengusap perutnya perlahan.

"Maaf, ya," bisiknya lirih, entah kepada dirinya sendiri atau kepada kehidupan kecil yang masih menjadi rahasianya. "Mama cuma sedang memastikan kita enggak menjadi pihak yang paling dirugikan."

Senyumnya perlahan memudar.

Dahulu, ia pernah membayangkan akan menjalani kehidupan bersama Pras sampai tua. Ia ingin membangun keluarga, memiliki anak, dan menjadi perempuan yang selalu dicari suaminya ketika pulang ke rumah.

Sekarang, semua bayangan itu terasa seperti sesuatu yang semakin jauh.

Namun, jika Pras sudah memilih jalan yang berbeda, Mikha juga harus memikirkan masa depannya sendiri.

Ia tidak akan terus menjadi perempuan yang menangis sendirian, sementara orang lain menikmati kebahagiaan di atas kehancurannya.

Kali ini, ia akan memastikan bahwa ketika semuanya berakhir, ia masih memiliki sesuatu untuk dibawa pergi.

Sesuatu yang menjadi haknya.

Dan mungkin, tanpa disadari Pras, setiap barang yang dibelikannya justru akan menjadi pengingat tentang keputusan-keputusan yang telah ia buat sendiri.

Mikha kembali mengambil ponselnya.

Senyum tipis terukir di bibirnya ketika sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah dikenalnya.

Alena.

Perempuan itu mengirimkan pesan singkat yang hanya terdiri dari satu kalimat.

Kita perlu bicara, Mikha.

1
Ma Em
Ayo Mikha jgn sampai pelakor yg menikmati hartanya Pras ambil semua yg Pras punya biar si Alena gigit jari dan Mikha jadi janda kaya .
Sri Widiyarti
kutunggu penyesalanmu Pras...
ArchaBeryl
kak kenapa kemrin gak up
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭
Sari Nilam
mikha terlalu main hati . kelamaan ambil.keputusan
Sari Nilam
saran aja thor, mungkin jangan.terlalu lama kebohongan ditutupi
Sari Nilam
bagus suka gayamu pelakormah dipites aja
Sari Nilam
gaskeun mikhahadapi pelakor dengan elegan
Sari Nilam
bagus setelah itu pergilah janga menunda2 lagi
Sari Nilam
ayo mikha pergi sekarang ...biarkan.pras merasa bebas untuk.menikahi sepupu maut.
Sari Nilam
sepupu maut ini
Sari Nilam
harus pintar n cerdik sana laki2 selingkuh
Sari Nilam
pekakor gak tahu malu
Sari Nilam
kalau tabu suami selingkuh tinggalin aja
Sari Nilam
sedih
Sari Nilam
jadi deg2 an..ada apa ya
sunaryati jarum
Nanti setelah Mikha pergi bawa anakmu dalam kandungannya dan tahu sifat asli Alena baru tahu rasa.Mikha segera pergi saja,Mikha sebelum kandungan kamu terlihat
Sari Nilam: serakah ..pras serakah dan.egois.
total 1 replies
Dinda Putri
lanjut
sunaryati jarum
Mampir
Ma Em
Mikha kamu hebat berani membuat pelakor tdk bisa berkutik buat pelakor iri sama Mikha biar dia tersiksa karena mengharapkan sesuatu dari suami orang .
Sri Widiyarti
lanjut thor ditunggu up-nya 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!