NovelToon NovelToon
PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

DENDAM BERSELIMUT TAWA

Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?

Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.

Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.

Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.

Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.

Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.

Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22-KERAJAAN

 Seketika pupil matanya berputar, perlahan merubah warna.

 Kali ini berubahannnya tak di tahan, tak hanya mata.

 Bahkan tampilannya mulai berubah, rambut pendek Raka mulai memanjang.

 Dengan dua sisi warna berbeda, satu sisi merah dan satu sisi rambutnya putih panjang.

 Begitu juga auranya.

 Langit yang sebelumnya cerah mulai menggelap, yang sebelumnya tenang mulai tampak gelisah.

 Petir di mana mana seakan, hujan badai akan muncul saat itu juga.

 Bahkan awan hitam mulai bergerak ke satu arah, memutar tanpa henti bagaikan topan di atas langit.

 Anak kecil yang tadi menunjukkan raut bahagia langsung terdiam, ia menatap langit.

 "penghakiman langit" gumamnya.

 Lalu ia menatap, ke arah Raka.

 "anak ini, siapa dia. Kenapa ada dua aura yang berlawanan di tubuhnya"batin sosok bocah itu.

 Bahkan dia yang dari tadi tampak tenang dan sombong, kini mulai meneteskan keringat.

 kepanikan mulai muncul, di dalam dirinya.

 "tidak, ini tak masalah tenanglah. Dia sudah memancing murka langit, sekuat apapun dia. Dia tak akan bisa menyerangku dengan di hadapkan murka langit ini" ucapnya panik.

 Walau tubuhnya seperti anak kecil, tapi dia sudah hidup ribuan tahun.

 Tentu dia tau bahaya apa yang sedang ada di depannya, sosok yang mampu membuat langit sampai murka tentu tak akan mampu ia hadapi.

 Hal ini tak hanya terlihat dari lembah hantu saja, bahkan bisa di rasakan sampai tempat yang berjarak ratusan ribu mil.

 Saat ini, tak ada penduduk yang berani keluar rumah.

 Orang orang yang sedang bertani, berdagang, bahkan orang yang sedang bertualang memilih mencari tempat perlindungan.

 Terutama di pusat kerajaan, tempat yang biasanya ramai kini menjadi sepi bagai kota mati.

 Mereka memiliki trauma dengan murka langit.

 beberapa bahkan sampai berdoa agar murka langit kali ini tak sama dengan murka langit saat kelahiran salah satu pangeran kerajaan 18 tahun lalu.

 Walau kejadian itu sudah sangat lama, dan bahkan pangeran itu sudah mati.

 Tapi kejadian itu masih begitu membekas bagi rakyat kerajaan, bagaimana tidak.

 Murka langit saat itu hampir menewaskan seratus ribu penduduk.

 Di kerajaannya sendiri, di tempat tertinggi yang terisolasi dari tempat luar.

 Seorang pria paruh baya langsung membanting gelas anggurnya.

 "ini... Apa anak sialan itu masih hidup"

 setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke pria tua yang duduk dengan tangan terikat di belang.

 pria tua yang juga melihat ini dari sela jendela malah tersenyum.

 "baskara, apa yang kau takutkan. Apa kau takut cucuku masih hidup dan akan membalaskan semuanya."

 mendengar ini, sosok itu langsung mendekat, tanpa ragu ia mencengkram leher pria tua yang terikat.

 "ayah, jangan harap itu semua terjadi. Walau anak itu menghilang tapi dia hanya sendirian dia pasti sudah mati".

 pria tua itu terbatuk beberapa kali setelah cekikannya di lepaskan.

 Setelah melepaskan pria tua itu, sosok yang di panggil baskara mengambil lonceng.

 Ia membunyikan beberapa kali.

 Tak lama, beberapa sosok berpakaian resmi muncul.

 "salam yang mulia"

 sosok paruh baya itu tak menjawab sapaan.

 Ia malah melirik ke luar.

 "cari tau, siapa yang membuat langit murka."

 "baik yang mulia."

 namun sebelum mereka pergi, sang raja meminta mereka kembali.

 "satu lagi, apa kalian sudah mendapatkan jejak anak sialan itu"

 beberapa orang itu saling menatap, lalu kembali menatap ke arah sang raja.

 "kami belum menemukan jejak, yang mulia."

 brak....

 Satu meja kecil terpelanting di ke lantai.

 "sebenarnya apa kerja kalian, hanya untuk mencari anak kecil saja tak mampu, padahal ini sudah 12 tahun"

 orang orang itu langsung menunduk, salah satu yang mengenakan jubah lebih lengkap memberanikan diri mengangkat dagunya.

 "maaf yang mulia, tapi sepertinya terlalu mustahil pangeran bisa selamat. Terakhir kali dia masuk ke hutan"

 sang raja maju, ia langsung menarik jubah orang itu.

 "jangan panggil dia pangeran, pangeran istana hanya anakku tak ada yang lain" bentaknya.

 "ba... Baik yang mulia"

 Raja langsung menjatuhkan orang itu.

 "ya sudah, kau laksanakan apa yang ku perintahkan ini dulu. Tapi kau masih harus meminta prajurit lain untuk mencari anak itu. Aku tak akan percaya dia telah mati jika belum melihat tengkoraknya langsung"

 para prajurit itu langsung menunduk dan pergi, setelah para prajurit pergi.

 sosok pria tua yang masih terikat menatap raja itu dengan penuh tawa.

 "mulutmu mengatakan seakan kau tak takut sama sekali, tapi dari perintah mu ke para prajurit tadi. Sudah jelas kau takut"

 "ayah lebih baik kau diam. aku juga anakmu, dan aku juga memberimu cucu. Apa kau tak bisa memandang kami" marah raja itu.

 setelah mengatakan itu, ia memilih pergi.

 Di lembah hantu, kini transformasi Raka sudah berhasil sepenuhnya.

 Anak kecil yang sedari tadi sudah panik kini semakin panik.

 apa lagi melihat tak ada juga petir yang turun untuk menghukum Raka.

 Dengan gerakan cepat, ia mengayunkan tangan.

 Dua Golem yang menyerang Raka tadi kembali bergerak.

 Raka hanya melirik singkat.

 Ia melebarkan telapak tangannya, pedang miliknya yang sudah terlepas dari telapak Golem mulai bergetar.

 Dan pada akhirnya melesat kembali ke tangannya.

di saat ke dua Golem itu sudah mendekat, namun Raka sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari anak kecil di bawah.

seakan, tak ada siapapun lagi di sana selain anak itu.

Mengetahui ini, anak itu mulai tersenyum.

"bagus, terus tatap aku dan matilah" ungkapnya saat ke dua Golem sudah sangat dekat.

Namun, Raka dengan sangat santai mengibaskan pedangnya.

Energi hitam yang menyelimuti pedang, muncul melesat membentuk tebasan.

Kedua Golem yang hendak menyerang bahkan tak sempat menghindar.

Tubuhnya terbelah seketika, tak hanya sampai di sana.

Bom....

Tubuh Golem itu langsung meledak bagai petasan.

Melihat ini, kepercayaan diri yang mulai tumbuh kembali menghilang.

Kepanikan menyerbu lagi.

"tak mungkin. Tak mungkin golemku bisa hancur semudah itu"histerisnya.

Selama ratusan tahun ia menjadi raja di tempat ini, tak pernah ia menyaksikan Golem kebanggaannya itu hancur.

Apa lagi orang yang menghancurkan Golem itu adalah orang yang ia anggap sudah dalam genggamannya yang sedang ia permainkan.

wajah datar dan tatapan tenang itu kini benar benar sudah menghilang, anak itu bahkan kini sudah melambai lambaikan tangan.

Beberapa Golem terbentuk secara langsung.

Di udara, Raka menatap beberapa Golem itu dengan ekspresi yang tak berbuah sama sekali.

"hanya Golem tak sempurna" ucapnya dengan suara berat.

Bahkan Kirana dari kejauhan menyipitkan matanya mendengar suara ini, suara yang sangat jauh berbeda dengan suara Raka.

Kini tangan Raka sudah menjulur, beberapa belati berputar di ujung tangannya.

"lenyap lah"

wus....

Belati yang di selimuti energi seperti cahaya melesat langsung ke arah Golem.

Tak ada keributan besar atau ledakan, bahkan riak energi pun tak terlihat.

Namun saat belati mengenai Golem.

Golem itu langsung hancur tercerai berai bersatu dengan udara.

tak ada bekas apapun, seakan Golem Golem itu memang tak pernah ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!