NovelToon NovelToon
DUA ALTER EGO

DUA ALTER EGO

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******

Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya

Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya

Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MURID BARU.

ALTER EGO (DUA JIWA)

HIGH INTERNASIONAL SCHOOL, sekolah ternama di kota ini dengan fasilitas elite serta murid-murid yang berasal dari keluarga terpandang — namun ada beberapa murid yang berhasil masuk ke sekolah ternama itu melalui beasiswa.

Suara heboh memenuhi halaman depan sekolah itu ketika sebuah mobil sport keluaran terbaru, yang bahkan baru beberapa hari keluar, kini justru terparkir tepat di halaman sekolah. Mereka membuat banyak murid menatapnya kagum.

Suara heboh dari siswa-siswi yang penasaran dengan siapa pemilik mobil itu terdengar sangat jelas. Bahkan sekumpulan laki-laki tampan yang menjadi Most Wanted di sekolah itu pun dibuat penasaran dengan siapa yang berada di dalam mobil seharga fantastis itu. Hingga sang pemilik mobil keluar dengan sangat elegan, membuat semua mata menjadikannya pusat perhatian yang seolah mengunci pandangan mereka.

Rambut panjang berwarna Dark Brown dengan sedikit bergelombang. Mata yang berwarna hitam legam dengan bulu mata yang lentik. Jangan lupakan tatapannya yang datar, hidung mancung, juga bibir ceri yang terlihat alami — membuatnya terlihat sangat cantik walau tanpa senyum, sekalipun membuat banyak pasang mata yang menatapnya tak berkedip.

"Di sekolah ini, kalian yang berasal dari keluarga terpandang akan dibebaskan dari aturan sekolah yang mengikat. Dan tentunya karena..."

...banyaknya guru yang tidak berperilaku adil, mengagungkan anak-anak yang berasal dari kalangan atas hanya untuk mendapatkan keuntungan dari para orang tua murid.

Gadis berwajah datar itu berjalan dengan dagu yang terangkat, membuat dirinya terkesan angkuh. Ia melangkah tenang melewati kerumunan murid yang tengah memandangnya kagum — bahkan mungkin juga iri padanya.

Gadis asing itu berjalan menuju ruang kepala sekolah, tidak memperdulikan tatapan dan bisikan dari siswa-siswi yang berada di koridor sekolah yang ia lewati, hingga langkahnya terhenti di depan sebuah pintu yang ia tahu sebagai ruang kepala sekolah.

Tanpa mengetuk pintu, gadis itu membuka ruang kepala sekolah.

Pemilik ruangan itu menegang di sana. Ia hanya menatap datar sang kepala sekolah yang sedang memangku salah satu perempuan yang sepertinya juga seorang guru di sekolah ini.

"Anak kurang ajar, bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?" bentak kepala sekolah yang ia ketahui bernama Satrio.

"Alluna Alexander," ujar Alluna dengan wajah tetap datarnya.

Ya, gadis yang menjadi murid baru itu adalah Alluna Skhaya Thompson — yang baru saja kembali ke kota tempat orang tuanya dibunuh, lalu mengganti namanya menjadi Alluna Alexander. Ia sengaja memakai nama dari orang yang merawatnya, yang mengajarkannya segala hal, dan satu-satunya orang yang mengetahui rahasia kelamnya.

Kepala sekolah itu terkejut dan segera menyuruh guru yang dipangkunya tadi keluar dengan tergesa-gesa. Ia tidak mau terkena masalah besar yang akan menghancurkan hidupnya karena berurusan dengan anak dari salah satu orang berpengaruh.

Pasalnya, Tuan Alexander dikenal sebagai pemilik ALNO GROUP — perusahaan ternama nomor satu di kota ini, yang bahkan dengan mudah menggeser posisi Albe Company yang kepemilikannya sudah berpindah tangan dan turun ke posisi kedua.

"Ahh... maafkan bapak. Bapak tidak tahu kalau kamu anak dari Tuan Alexander. Silakan duduk, Nak, biar bapak jelaskan tentang sekolah ini dan juga aturan-aturannya," ujar sang kepala sekolah dengan suara yang gemetar.

Tentang Alexander nanti aku akan jelaskan siapa dia ya...

"Papa saya," ucap singkat Alluna, lalu kepala sekolah itu segera mengambil telepon dari tangan Alluna.

"I-iya, Tuan Alexander. Ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala sekolah itu terbata-bata.

"Ikuti perintah anak saya, maka rumah tangga dan keluargamu akan aman. Kau tidak perlu melihat beritaku yang sudah memakai beberapa guru dan siswi hanya dengan ancaman agar memenuhi kepuasanmu, bahkan kau akan mendapatkan keuntungan dari saya. Apa kau mengerti!" ujar Alexander tegas.

Kepala sekolah bernama Satrio itu terkejut, tubuhnya menegang. Ia bingung bagaimana orang ini bisa tahu kelakuannya yang buruk — bahkan Tuan Alexander tidak pernah bertemu langsung dengannya.

"B-baik, Tuan. Saya akan melakukan apa saja, tapi tolong jangan sebarkan rahasia saya," ujar kepala sekolah itu dengan panik, lalu mengembalikan telepon kepada Alluna setelah Alexander menyetujuinya.

"Bagaimana?" tanya Alluna kepada ayahnya yang mengangkat telepon tadi.

"Kamu bisa melakukannya, tapi ingat pesan Papa — jangan sampai terluka dan kendalikan dirimu, paham?" tegas Alexander.

"Hmm, aku akan melakukannya, Pa," ujar Alluna, lalu mematikan sambungan teleponnya.

"Yang pertama — jangan biarkan siapapun mengetahui margaku ataupun nama orang tuaku. Termasuk para guru di sini. Jika mereka mengetahuinya, kau tahu akibatnya, bukan? Dan yang kedua — anggaplah aku sama seperti murid lain. Jika aku bersalah, aku akan menerima hukumannya," ujar Alluna serius.

"Anda bebas melakukan apa saja, seperti kegiatan yang biasa dilakukan, asal tidak melanggar apa yang kukatakan tadi. Sekarang, kelas berapa aku?" sambung Alluna lagi.

"B-baik, kamu masuk ke kelas 12 IPA 1. Biar saya antar," ucap kepala sekolah itu gugup. Aura yang keluar dari gadis di depannya sungguh mampu membuatnya tak berdaya.

Tanpa menjawab, Alluna segera keluar ruangan, diikuti kepala sekolah yang berjalan mendahuluinya sebagai formalitas.

Tok.

Tok.

"Permisi, Bu. Saya membawa murid baru yang akan masuk ke kelas ini," ujar kepala sekolah kepada guru yang mengajar di kelas itu — kelas yang cukup berisik.

"Baik, Pak. Mari silakan masuk dan perkenalkan dirimu, Nak," pinta sang guru.

Alluna masuk dengan tenang. Seketika kelas menjadi hening, bahkan banyak yang tidak sadar mulutnya sedikit terbuka melihat kecantikan gadis di depan mereka.

"Luna," perkenalan yang sangat singkat dan datar dari Alluna membuat mereka kembali melongo.

"Hanya itu yang ingin kau sampaikan, Nak?" tanya sang guru, dibalas anggukan oleh Alluna.

"Baiklah, Luna. Kamu bisa duduk di tempat yang kosong," ucap sang guru.

"Di samping gue aja, Luna, kosong kok," ucap salah satu laki-laki dengan nada jelas — padahal di sampingnya ada seorang gadis.

"Di samping gue aja, Luna. Bersih dan higienis," ujar yang lain.

"Bareng gue aja lah, gue ganteng," sahut yang lain.

"Di samping gue aja, lo bisa masuk ke geng kita," ujar seorang gadis dengan bangga.

Dan masih banyak tawaran dari siswa maupun siswi yang ingin berbagi tempat dengannya. Namun mereka semua kembali melongo — bahkan ada yang kesal — saat Alluna justru memilih duduk bersama gadis yang masuk sekolah itu melalui beasiswa, yang bahkan tidak ada satu pun yang mau duduk bersamanya, gadis yang dianggap miskin itu.

"Baik, perhatian kembali ke depan. Kita akan melanjutkan pelajaran hari ini," ucap guru yang mengajar.

Gadis miskin itu menggeser buku cetaknya sedikit ke tengah, walau ia ragu — agar Alluna, murid baru di kelasnya, juga bisa melihatnya.

"Gue Luna," ucap pelan Alluna sambil mengulurkan tangannya.

"A-aku Alisha... panggil Lisa aja," ujarnya pelan.

"Ke gue ngomong santai aja, kita teman sebangku sekarang," sambung Alluna lagi.

"Emm, baiklah," balas Lisa dengan tersenyum manis.

Alluna sudah mengetahui tentang gadis ini. Sebelum masuk ke sekolah, ia sudah mencari tahu identitas setiap murid di sini, termasuk Alisha — gadis pekerja keras yang berwajah polos, namun kondisinya yang miskin membuatnya dipandang rendah oleh siswa-siswi di sekolah ini.

Alluna memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi, namun tanpa sadar ada sepasang mata yang menatapnya tajam — tak lepas sejak ia berkenalan dengan teman sebangkunya...

 

1
Tosari Agung
thor saran ya kalau alter ego itu kejam dan nenanginnya agak lama jangan cuma satu jam udah tenang nah kalau ada dua tokoh punya alter ego maka dua duanya keluarin sekaligus atau pilih salah satu tapi harus benar psikopat karena cerita ini gak ada arah ke psikopat secara halus nya
Tosari Agung: sama-sama thor
total 3 replies
Dedek Titii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)
haii guys makasih udah mampir dan baca cerita akuu☺jangan lupa like, subcribe dan vote yaa guys(⁠◠⁠‿⁠◕⁠)🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!