NovelToon NovelToon
Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedai Teh di kota perbatasan

Asap hitam dari Jurang Iblis tidak langsung menyerang Klan Xiao.

Asap itu naik ke langit, membentuk awan hitam yang berputar-putar selama tiga hari tiga malam di atas Pegunungan Tujuh Pedang. Para petani di kaki gunung mengira itu mau hujan badai. Para kultivator Klan Xiao mengira itu hanya fenomena penutupan jurang yang gagal.

Hanya Tetua Agung Xiao Tianlong yang tahu itu bukan hujan. Di malam ketiga, saat dia bermeditasi di aula leluhur, dia mendengar bisikan dari asap itu. Bisikan ribuan iblis yang berkata satu nama secara bersamaan.

_Xiao Chen... Xiao Chen... sudah pergi..._

Di malam keempat, gelombang pertama keluar.

Bukan ribuan seperti yang dilawan Xiao Chen setiap malam. Hanya puluhan Iblis Cakar Bayangan yang berhasil lolos dari retakan segel yang belum sepenuhnya hancur. Tapi puluhan itu saja sudah cukup untuk mengubah Klan Xiao menjadi lautan darah.

Murid luar yang berjaga di malam hari adalah yang pertama mati. Mereka bahkan tidak sempat berteriak. Jeritan baru terdengar saat iblis-iblis itu masuk ke asrama murid dalam.

Klan Xiao yang selama 1000 tahun hidup dalam kedamaian palsu karena dilindungi tanpa sadar oleh satu orang sampah, kini akhirnya merasakan apa itu teror yang sebenarnya.

Sementara itu, 300 kilometer jauhnya dari Klan Xiao, di Kota Perbatasan yang bernama Kota Batu Hitam.

Kota ini adalah tempat paling kotor, paling berisik, dan paling jujur di wilayah ini. Tidak ada klan besar yang menguasainya. Di sini berkumpul para pemburu iblis bayaran, pedagang budak, kultivator sesat, dan orang-orang buangan seperti Xiao Chen. Hukum di sini adalah siapa yang tinjunya lebih keras.

Di ujung jalan paling sepi di kota itu, di sebelah toko pandai besi yang sudah tutup, ada sebuah kedai teh kecil yang baru buka tiga hari yang lalu. Tidak ada papan nama yang megah. Hanya selembar papan kayu yang ditulis dengan arang: "Kedai Teh - Teh Hangat, Jangan Berisik."

Pemiliknya adalah seorang pria muda berumur 25 tahun, berambut hitam panjang yang diikat asal-asalan, mengenakan jubah abu-abu sederhana yang bersih. Wajahnya tampan tapi biasa saja, matanya selalu terlihat mengantuk. Tidak ada yang tahu namanya. Orang-orang hanya memanggilnya "Bos Teh".

Bos Teh itu adalah Xiao Chen.

Setelah meninggalkan Klan Xiao, Xiao Chen tidak pergi jauh. Dia tidak punya tujuan. Selama 1000 tahun, tujuan hidupnya adalah menjaga jurang. Sekarang tujuan itu tidak ada, dia merasa kosong. Lebih kosong daripada dantiannya.

Dia berjalan tanpa arah selama tiga hari, sampai kakinya membawanya ke kota ini. Dia melihat kedai kosong yang disewakan seharga 2 batu spiritual rendah per bulan. Dia punya 3 batu spiritual di sakunya, hasil dari menjual pecahan pedang Xiao Feng yang dia patahkan kemarin. Jadi dia menyewanya.

Kenapa kedai teh? Karena selama 1000 tahun menjaga jurang, satu-satunya hal yang dia rindukan selain keheningan adalah secangkir teh panas. Di jurang, dia hanya minum air hujan yang bercampur darah iblis.

Hari pertama buka, tidak ada pelanggan. Hari kedua, satu orang pemabuk masuk, muntah, lalu pergi. Hari ketiga, barulah seorang gadis kecil masuk.

Gadis itu berumur sekitar 12 tahun, pakaian tambal-tambal, wajah penuh debu, tapi matanya besar dan berani. Dia menyeret karung yang lebih besar dari tubuhnya.

"Paman, beli jamu roh ini? Aku petik sendiri di Gunung Belakang. Bisa menyembuhkan luka," kata gadis itu dengan suara gemetar karena lapar.

Xiao Chen menatap karung itu. Isinya adalah Rumput Darah Ayam, rumput paling rendah tingkat 1, hampir tidak ada nilai jualnya. Tapi dia melihat tangan gadis itu berdarah karena tergores duri saat memetiknya.

"Berapa?" tanya Xiao Chen.

"Dua... dua roti kukus saja, Paman," kata gadis itu menunduk.

Xiao Chen tidak menjawab. Dia masuk ke belakang, mengambil dua roti kukus miliknya sendiri yang seharusnya jadi makan malamnya, dan secangkir teh jahe hangat yang baru dia seduh. Dia meletakkannya di depan gadis itu.

"Makan dulu. Rumputnya letakkan di sana," kata Xiao Chen.

Gadis itu tertegun, lalu makan dengan lahap sambil menangis. Sambil gadis itu makan, Xiao Chen mengambil rumput-rumput itu, dan dengan gerakan yang tidak bisa dilihat mata biasa, dia memurnikannya. Rumput tingkat 1 yang seharusnya hanya bisa jadi salep luka ringan, di tangannya yang sudah ditempa energi iblis selama 1000 tahun, mengeluarkan cahaya hijau samar dan berubah menjadi Pil Pemulih Luka tingkat 2.

Setelah gadis itu selesai makan, Xiao Chen memberikan pil itu dan 1 batu spiritual rendah.

"Jual pil ini di toko pil di ujung jalan. Bilang ini Pil Pemulih Luka. Uangnya buat kau dan adikmu," kata Xiao Chen pelan.

Gadis itu membelalak. "Paman... ini..."

"Jangan panggil aku paman. Panggil Bos Teh," kata Xiao Chen sambil tersenyum untuk pertama kalinya dalam 1000 tahun. Senyum yang kaku karena otot wajahnya sudah lupa cara tersenyum.

Gadis itu berlari keluar sambil terus berterima kasih. Namanya adalah Ling'er.

Sejak hari itu, Ling'er selalu datang ke kedai teh, membantu menyapu dan mencuci cangkir, meskipun Xiao Chen tidak pernah memintanya.

Kehidupan baru Xiao Chen yang damai berlangsung selama tujuh hari.

Di hari kedelapan, masalah datang.

Tiga kultivator berot dengan tato harimau di leher masuk ke kedainya sambil tertawa keras. Mereka adalah anggota Geng Harimau Hitam, penguasa tidak resmi di Kota Batu Hitam. Pemimpinnya, Hu San, adalah kultivator Foundation Establishment tingkat akhir, cukup kuat untuk menguasai kota kecil ini.

"Jadi ini kedai baru yang tidak bayar uang keamanan?" kata Hu San sambil duduk dan menginjak meja teh Xiao Chen dengan kaki kotornya. "Bos Teh, kau baru di sini, jadi aku kasih diskon. 10 batu spiritual per bulan. Bayar sekarang."

Xiao Chen masih menyeduh teh. Uap teh naik perlahan. Dia tidak menoleh.

"Hei! Tuli kau?!" teriak salah satu anak buahnya, menggebrak meja hingga cangkir teh retak.

Ling'er yang sedang menyapu di sudut ketakutan dan bersembunyi di belakang Xiao Chen.

Xiao Chen akhirnya menoleh. Dia menatap kaki Hu San yang ada di atas mejanya.

"Aku sudah pel mejanya tadi pagi," kata Xiao Chen dengan nada datar, seperti sedang mengobrol tentang cuaca.

Hu San tertawa. "Jadi kau mau mati demi meja?"

Dia mengayunkan tinjunya yang terbungkus qi merah ke arah kepala Xiao Chen. Pukulan Foundation Establishment yang bisa menghancurkan batu besar.

Semua orang di jalan yang mengintip dari luar mengira kepala Bos Teh akan meledak.

Yang terjadi selanjutnya tidak ada yang bisa menjelaskannya.

Tinju Hu San berhenti 1 inci di depan wajah Xiao Chen. Bukan ditahan oleh perisai qi. Bukan ditahan oleh tangan. Tinju itu berhenti sendiri, karena pemiliknya tiba-tiba tidak bisa bernapas.

Hu San merasakan ketakutan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Dia merasa seperti seekor semut yang tiba-tiba ditatap oleh naga purba yang baru bangun tidur. Matanya melihat mata Xiao Chen yang mengantuk itu, dan untuk sepersekian detik, mata itu berubah menjadi merah keemasan, dan di belakang Xiao Chen, dia melihat bayangan lautan darah dan gunungan tengkorak iblis.

_BRUK!_

Hu San jatuh berlutut. Kakinya yang tadi di atas meja kini gemetar hebat. Dia kencing di celana. Dua anak buahnya juga jatuh, tidak bisa berdiri, muntah-muntah karena tekanan mental yang tidak terlihat.

Xiao Chen tidak menyentuh mereka sama sekali. Dia hanya menatap.

"Turunkan kakimu," kata Xiao Chen pelan. "Pel lagi mejanya. Lalu pergi. Jangan pernah berisik di kedai tehku. Aku suka tenang."

Hu San dengan tangan gemetar mengambil kain pel yang ada di dekatnya dan mengepel meja teh Xiao Chen sambil menangis ketakutan, lalu merangkak keluar dari kedai. Sejak hari itu, tidak ada satu pun anggota Geng Harimau Hitam yang berani lewat di depan Kedai Teh.

Kabar menyebar cepat di Kota Batu Hitam: Kedai Teh di ujung jalan dijaga oleh monster yang tidak terlihat.

Xiao Chen tidak peduli. Setelah mereka pergi, dia kembali menyeduh teh. Dia menuang dua cangkir. Satu untuk dirinya, satu untuk Ling'er.

"Ling'er, tahu tidak perbedaan hidup untuk klan dan hidup untuk diri sendiri?" tanya Xiao Chen tiba-tiba.

Ling'er menggeleng.

Xiao Chen menyesap tehnya. Hangat. Pahit sedikit. Manis di akhir.

"Dulu, aku hidup 1000 tahun untuk membuat orang lain bisa minum teh dengan tenang. Tapi tidak ada satu pun yang menuangkan teh untukku. Sekarang, aku hidup untuk diriku sendiri. Aku menyeduh teh karena aku ingin minum teh. Dan anehnya, tehnya jadi lebih enak."

Di luar, langit Kota Batu Hitam yang biasanya abu-abu, sore itu terlihat sedikit lebih biru.

Jauh di atas pegunungan, asap hitam dari Jurang Iblis semakin tebal, dan lolongan iblis yang lolos semakin keras, mulai terdengar sampai ke Kota Batu Hitam. Beberapa pemburu iblis mulai berbisik tentang bencana besar.

Xiao Chen mendengar lolongan itu dari kedainya. Dia tahu apa artinya. Segel itu akhirnya akan pecah sepenuhnya dalam waktu satu bulan.

Dia meletakkan cangkir tehnya. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa perlu untuk bergegas ke sana.

Biarlah dunia merasakan sedikit dari apa yang dia rasakan selama 1000 tahun.

Dia bersandar di kursinya, memejamkan mata, menikmati tehnya. Hidup untuk diri sendiri, ternyata tidak seburuk yang dia kira.

1
Abil Amar
alur ceritanya kmn ko g jlas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!