Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: DIBAWAH KENDALI RIZKY SYAH
Derap langkah tergesa-gesa memecah kesunyian koridor lantai atas hotel VVIP. Dengan sekuat tenaga dan sisa staminanya, Kamilah memapah tubuh tegap Rizky Syah yang makin terasa membara bagaikan tungku api.
"Pelan-pelan, Kak Syah..." gumam Kamilah terengah-engah saat membuka pintu kamar suite hotel berukuran luas itu.
Pas begitu mereka tiba di dalam kamar, Kamilah langsung menuntun dan membaringkan tubuh tegap Rizky Syah di atas kasur king size yang empuk.
"Panas sekali, Kamilah..." rintih Rizky Syah dengan suara serak yang memburu.
Pria tegap itu dengan gerakan kasar memprotes rasa tidak nyamannya, membuang jas mewahnya ke lantai, lalu langsung melepaskan kancing kemejanya satu per satu, memamerkan dada bidang bertelanjang dada dan otot-otot perutnya yang mengeras sempurna. "Ini... rasanya sangat tidak nyaman..."
Kamilah yang melihat pemandangan itu memalingkan wajahnya yang mendadak panas padam. " Kalau begitu... aku ambilkan air minum dingin dulu di meja ya, Kak Syah."
Namun, baru saja Kamilah berbalik badan hendak mengambil air minum, sebuah tangan yang kokoh dan hangat menyambar pergelangan tangannya secara mendadak.
HUP!
Dengan satu tarikan lembut namun pasti, Kamilah hilang keseimbangan dan terjatuh tepat di atas pangkuan Rizky Syah!
Sensasi kontak tubuh yang tanpa jarak itu membuat napas Kamilah tertahan di tenggorokan. Binar mata Rizky Syah yang berada sangat dekat memancarkan pendar penuh dominasi nan memikat.
Tentu saja keluhan obat perangsang ini sebagian besar cuma bohong belaka... Di negara yang menjunjung hukum ketat seperti ini, mana mungkin Sanum bisa dengan mudah membeli obat berbahaya berpotensi bikin impoten sembarangan? batin Rizky Syah terkekeh sangat puas di dalam hatinya, memanfaatkan situasi kecemasan Kamilah dengan sangat lihai.
Rizky Syah memasang raut wajah yang teramat pasrah, menatap Kamilah dengan sorot mata memohon yang membuat hati wanita mana pun melumer. "Aku benar-benar tersiksa, Kamilah... Bisakah kamu membantuku menetralkannya?"
Kamilah yang panik dan polos mengedipkan matanya. "K-kalau begitu... aku akan panggilkan Kak Roya saja ke sini untuk membantumu!"
Mendengar nama Roya Ye disebut, Rizky Syah tidak membiarkan kesempatan emas ini hilang begitu saja. Dengan gerakan memutar yang cepat dan halus, Rizky Syah membalikkan posisi tubuh mereka, membaringkan Kamilah di bawah kurungan tubuh tegapnya!
Napas hangat Rizky berhembus tepat di atas permukaan wajah Kamilah. Tatapan mata pria itu mendadak berubah menjadi sangat dalam, serius, dan sarat akan penghormatan yang tulus.
"Aku akan memberimu kesempatan untuk memilih, Kamilah..." bisik Rizky Syah dengan nada suara rendah yang teramat seksi. "Kalau malam ini kamu bilang 'tidak'... maka aku akan melepaskanmu sekarang juga dan tidak akan memaksa."
Kamilah membelalakkan matanya yang bergetar. "Aku..."
Rizky Syah mengusap lembut helai rambut di samping telinga Kamilah, lalu menyandarkan dahi mereka bersama. "Meskipun... meskipun aku harus menahan siksaan rasa panas ini sampai mati dan tewas tergeletak di tempat ini... aku tidak akan pernah menyentuh sehelai rambutmu pun jika kamu tidak bersedia."
Mendengar kata-kata yang begitu protektif dan tulus dari pria yang mengurungnya, seluruh benteng pertahanan di dalam dada Kamilah runtuh seketika. Sensasi haru dan hangat membuncah hebat di dalam hatinya.
Sudah lah... ini kan bukan pertama kalinya kita berdua tidur di satu ranjang bersama... Anggap saja menyelamatkan nyawa seseorang dari ancaman 'impoten' adalah perbuatan yang sangat mulia... batin Kamilah mengalah pada gejolak perasaannya sendiri.
Rizky Syah yang melihat Kamilah hanya mematung diam dengan pipi merona menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan mutlak.
"Kenapa diam saja?" bisik Rizky Syah jahil. "Kalau kamu diam... aku anggap kamu setuju, ya?"
Tanpa menunggu balasan lagi, Rizky Syah menundukkan kepalanya dan mendaratkan ciuman manis nan dalam di atas bibir Kamilah.
Sensasi kehangatan yang memabukkan menyapu seluruh kesadaran Kamilah. Di dalam benaknya yang mulai melayang, Kamilah hanya bisa membatin pasrah: Pelan-pelan ya, Kak Syah... Terakhir kali kita melakukannya, pinggangku rasanya benar-benar mau patah...
Rizky Syah menarik wajahnya sedikit, menatap Kamilah yang meremas bahunya dengan sangat erat. Pria itu terkekeh pelan dengan binar mata menggoda.
"Kenapa gerakanmu dari tadi terlihat lebih tidak sabar dariku, hah?" goda Rizky Syah dengan nada penuh binar asmara. "Begitu tidak sabarnya kamu padaku?"
Wajah Kamilah makin memerah bagaikan kepiting rebus. "A-aku... bukan begitu!"
Rizky Syah tersenyum sangat tampan. Tangannya meraih telapak tangan halus Kamilah, menuntun jemari gadis itu ke bawah.
"Waktu itu... bukankah kamu bilang kamu paling suka melihat dan menyentuh otot perutku?" bisik Rizky Syah, suaranya terdengar begitu berat dan menghanyutkan. "Kali ini... biarkan kamu merasakannya dengan sangat baik dan jelas."
Kamilah meneguk ludahnya gagap. "B-bagaimana caranya?"
Rizky Syah tidak menjawab dengan kata-kata. Pria tegap itu mengambil kembali jemari Kamilah, membimbing ujung jari manis gadis itu melintasi ukiran garis-garis kokoh di perut sixpack-nya.
"Tuliskan namamu di atasnya..." bisik Rizky Syah memberikan instruksi yang teramat intim.
Jemari halus Kamilah dipandu menyusuri kulit hangat otot perut Rizky Syah bagian atas, membentuk goresan-goresan huruf nama Kamilah secara perlahan. Sensasi sentuhan itu membuat desiran hebat tersetrum di seluruh aliran darah Kamilah.
"H-hem... jangan..." cicit Kamilah canggung, mencoba menarik kembali tangannya dari perut tegap Rizky. Ini terlalu memalukan! jerit Kamilah nelangsa di dalam hatinya.
Namun, Rizky Syah tidak membiarkan tangan itu lolos. Pria itu menyambar jemari Kamilah kembali dan menyuruhnya menempel rapat di atas dadanya yang berdetak kencang.
"Kamilah... aku ini sepenuhnya sudah menjadi milikmu," bisik Rizky Syah dengan raut wajah penuh obsesi cinta yang teramat tulus. "Bukankah sebagai pemiliknya... kamu harus meninggalkan jejak milikmu di tubuhku?"
Sebelum Kamilah sempat mencerna makna romantis itu, Rizky Syah menarik tubuh Kamilah, mendudukkan Kamilah di atas pangkuan tegapnya secara berhadapan.
Rizky Syah miringkan lehernya sedikit, memperlihatkan garis leher dan bahunya yang kokoh nan mulus di hadapan Kamilah.
"Sayang..." bisik Rizky Syah dengan intonasi suara yang teramat seksi, manja, dan menggoda jiwa. "...gigit aku di sini. Tinggalkan tanda milikmu."
Kamilah terpaku sejenak menatap garis leher tegap Rizky Syah yang begitu dekat di hadapan wajahnya. Aroma parfum maskulin bercampur kehangatan tubuh pria itu membuat akal sehat Kamilah kian terbius. Dengan jemari gemetar yang meremas lembut bahu tegap Rizky, Kamilah memajukan bibirnya perlahan.
Gadis itu menyandarkan kepalanya di leher Rizky, membiarkan deru napas hangatnya menyapu permukaan kulit pria tersebut. Tanpa ragu lagi, Kamilah membuka bibirnya dan mendaratkan gigitan lembut namun cukup dalam di leher tegap Rizky Syah, meninggalkan jejak kemerahan yang teramat manis sebagai tanda kepemilikannya.
SRETTT!
Otot-otot di dada dan bahu Rizky Syah seketika mengeras tegang saat sensasi gigitan Kamilah menyengat alir darahnya. Erangan rendah nan seksi terlepas dari tenggorokannya, dipenuhi kepuasan dan gairah yang tak terbending.
Rizky Syah merengkuh pinggang Kamilah kian erat, membenamkan jemarinya di antara helai rambut panjang gadis itu. Ia membalas kepasrahan Kamilah dengan ciuman yang kian dalam dan memabukkan, menuntun mereka berdua tenggelam lebih jauh ke dalam pelukan malam yang penuh dengan kehangatan dan hasrat yang tak terpisahkan.