( upload senin - Sabtu= 6× )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 }:{secret journey }
Bulan pertama kepergian Aktor, masih belum ada tanda kepulangannya. Surat pun tidak ada.
"Ratu Eloria, makanan yang Ratu minta sudah siap."
Eloria turun, dan saat akan makan ia merasakan mual.
"Sapitri, kenapa kepalaku pusing?"
Sapitri memegang tangannya, tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum, Sapitri?"
"Selamat, Ratu Eloria sedang hamil."
Eloria meneteskan air mata sambil memegang perutnya.
Hari waktunya untuk melahirkan pun tiba, namun Aktor belum juga kembali. Terdengar teriakan dari kamar Eloria. Beberapa waktu kemudian, terdengar suara seorang bayi. Semua anggota kerajaan akhirnya bisa bernapas dengan bebas.
"Sapitri, tinggalkan aku dengan anakku."
"Baik, Ratu."
Sapitri keluar kamar dan menutup pintu. "Semua anggota kerajaan, aku diperintahkan memberi tahu, Ratu ingin berdua saja dengan putrinya."
Eloria yang masih lemas membawa putrinya ke balkon kerajaan.
"Putriku, Ibu akan memberi kamu nama Ilyes."
Eloria menatap ke arah gerbang istana, berharap Aktor kembali. "Aktor, aku menunggu janjimu." Air mata menetes ke pipi putrinya.
Beralih ke Negeri Air. Terlihat seorang anak yang sedang duduk dan makan.
"Ander, apa kamu tidak merasakan kenyang? Kamu sudah makan sebanyak ini. Kamu bisa membuat Ibu dan kerajaan ini miskin," gurau ibu Ander.
Ander terus makan tanpa menghiraukan ibunya.
Datang seorang anak perempuan, Seyli, menertawakan Ander. "Hei, Ander, pipimu saja sudah bulat, apa kamu tidak takut akan meletus?"
"Ibu, Seyli mengejekku."
"Seyli benar kok, kamu pipinya bulat," sambil tertawa bersama Seyli.
Seorang pria memasuki ruang makan itu. "Ander, Ayah sudah katakan, kurangi makanmu," sambil mencubit pipinya. "Kael, ikut aku."
Ibu Ander menjauh membawa anak-anak.
"Kael, apa yang sebenarnya terjadi di Kerajaan Saigo? Aku dengar Raja Api tidak ada kabarnya hingga saat ini."
Kael terdiam beberapa saat. "Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana."
Tiga tahun berlalu semenjak kelahiran Ilyes. Kini Ilyes tumbuh menjadi anak yang ceria meski tanpa ayahnya.
"Ilyes, kamu sedang apa, Sayang?"
Mata Eloria menatap di lengan Ilyes, api yang melingkar.
"Ibu, Ilyes sedang bermain dengan burung yang sangat besar."
Eloria sangat cemas hingga sulit berkata sepatah pun. Ia menggendong Ilyes yang masih dilingkari api di tangannya, lalu panik memanggil-manggil guru sejarah kerajaan.
"Guru!"
"Iya, Ratu, ada apa?"
Dengan panik, Eloria memperlihatkan lengan Ilyes. "Guru, kenapa diam? Guru, jawab aku!"
Guru hanya terdiam dan meneteskan air mata. Ia sangat emosional melihat Ilyes dengan lingkaran api.
"Aku akan memberi tahu Ratu. Api yang melingkar di tangan Ilyes bukan sesuatu yang akan membahayakannya."
Eloria menatap dengan bingung. "Apa maksudmu, Guru?"
Guru mulai menceritakan sejarah Kerajaan Api. "Ilyes, anak Ratu, dulu adalah anak dari kerajaan ini. Ratu dan Ilyes adalah reinkarnasi dari Ratu Elara dan Putri Iles. Dan burung api yang menemui Ilyes, dikarenakan Ilyes adalah reinkarnasi dari Iles sebagai putri raja sekaligus sebagai Dewi Api di akhir hidupnya." Guru terdiam sejenak, seolah baru menyadarinya sendiri. "Saat tragedi itu terjadi, aku yakin dan percaya aku akan dipertemukan lagi dengan mereka. Dan benar saja, sekarang aku dipertemukan kembali dengan Ratu Elara dan Iles, dalam identitas yang berbeda: Eloria, dan Ilyes."
Beralih pada Negeri Bumi. Terlihat di hamparan tanah, dua anak lelaki dan satu anak perempuan sedang berlatih.
"Guru, aku lelah, aku tidak kuat lagi," ucap anak perempuan itu.
Gurunya menatap tajam ke arahnya. "Kamu tidak kuat, maka pergi dari sini, jangan datang lagi."
Anak perempuan itu berlari pulang sambil meneteskan air mata. Sesampainya di rumah, ia memeluk ibu dan ayahnya.
Di sisi lain, pemuda yang tadi ikut berlatih bertanya. "Guru, kenapa selalu membentak Maya? Dia anak perempuan, Guru."
Gurunya menatap tajam. "Dengar ini baik-baik, Ezay, Azay. Perempuan maupun lelaki harus mampu menjaga dirinya sendiri."
Beralih pada Negeri Api, di mana Eloria sudah mengetahui siapa dirinya. Terdengar lonceng kerajaan yang sudah lama tak terdengar, hingga karat menyelimutinya.
"Ratu, dengarkan ini, pertanda semua pasukan yang ikut berperang sudah kembali."
Mata Eloria membesar. Tanpa mengatakan apa pun, Eloria berlari menuju pintu istana, hingga tak sadar selendangnya terbakar.
"Ratu, tunggu, selendang Ratu terbakar!" Dayang di kerajaan mengejar Eloria yang berlari.
"Prajurit, hentikan Ratu!" Para prajurit mencoba menghalangi Eloria, namun Eloria mendorong mereka, tidak memikirkan api di selendangnya yang semakin membesar.
Dalam batin Eloria, "Aktor, aku akan menagih janjimu."
Sampai Eloria tidak sadar meninggalkan Ilyes bersama guru kerajaan.
Sesampainya di depan pintu istana, Eloria membuka pintu. Di hadapannya, Aktor yang ia tunggu tiga tahun lebih.
Eloria langsung menampar Aktor, sambil menangis langsung memeluknya. "Kamu sangat mudah berjanji padaku akan kembali dengan cepat."
Api itu padam dengan sendirinya, seperti menandakan berakhirnya penantian Eloria.
"Maafkan aku, Eloria. Aku di sana tidak berperang, tetapi mediasi agar kita tidak memiliki musuh. Dan itu sangatlah memakan waktu." Aktor menatapnya. "Bagaimana kabarmu selama ini?"
"Kamu masih bertanya kabarku gimana?"
"Ya sudah, lupakan."
Terdengar suara Ilyes yang melangkah mendekat, memegang baju Eloria. "Ibu sedang memeluk siapa?!" sambil memegang kepalanya.
Eloria menggendongnya. "Ilyes, ini ayah Ilyes."
Aktor terkejut. "Apa ini anak kita, Eloria?" Tubuhnya gemetar.
"Iya, ini putri kita."
Aktor memeluk Ilyes sambil meneteskan air mata. Eloria menenangkannya. Aktor dan Eloria mencium putri mereka.
Di negeri lain, tepatnya di Negeri Angin.
"Aksar."
"Iya, Ayah? Ada apa?"
"Kamu tidak berlatih? Ingat, Aksar, kamu pangeran. Kalau kamu bermalasan, bagaimana kamu akan menjaga rakyat negeri ini?"
"Tapi, Ayah, aku butuh istirahat. Aku capek, setiap hari Ayah nggak memperlakukan aku sebagai anak."
Raja Angin sangat kesal, mengatur napasnya. "Aksar, dengarkan Ayah. Kamu akan menjadi raja negeri ini, dan seorang raja tidak bisa berkata lelah! Menjadi seorang raja bukan dilindungi oleh rakyat, tapi rajalah yang harus melindungi rakyat."
Aksar perlahan mengerti dan memeluk ayahnya. "Maafkan Aksar, Ayah."
"Tidak apa-apa, Aksar. Maafkan Ayah juga."