NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan di Bawah Langit Senja

Mobil hitam milik Arga akhirnya berhenti dengan mulus tepat di depan pagar pekarangan kosanku. Mesin mobil masih menyala halus, namun atmosfer di dalam kabin terasa begitu membeku setelah pengakuan panjang yang kutumpahkan tadi.

Aku menyeka sisa air mata di pipi dengan punggung tanganku, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan sesak yang masih tertinggal di dada. Aku menoleh ke arah Arga, mencoba memasang senyum tipis meski bibirku terasa kelu.

Pria itu diam dengan kedua tangannya masih diatas kemudi, menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sulit ku diartikan.

"Arga... makasih banyak ya, udah mau dengerin cerita aneh aku, dan makasih juga udah dianterin sampai kosanku," ujarku lirih, suaraku masih sedikit serak.

"Maaf kalau ceritaku bikin kamu gak nyaman, aku keluar dulu, sekali lagi maaf dan terimakasih untuk tumpangan gratis nya."

Arga tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangguk pelan sekali tanpa menoleh.

Merasa obrolan kami sudah selesai, dan mungkin dia butuh waktu untuk mencerna semuanya, aku pun mengulurkan tangan untuk membuka pintu mobil.

Aku melangkah turun, menutup pintu dengan pelan, lalu berbalik untuk berjalan memasuki pagar pekarangan kosanku. Langkah kakiku terasa begitu berat, ada rasa pasrah yang amat sangat di dalam hatiku. Jika mungkin setelah malam ini Arga akan memilih menjauh dan menganggapku gila, aku tidak akan menyalahkannya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk siap menerima kenyataan apapun di dunia nyata ini.

Namun, baru saja kakiku melangkah tiga kali di atas paving blok pekarangan, suara pintu mobil yang dibuka dan ditutup dengan terburu-buru di belakang tubuhhku mengejutkanku.

Brak!

"Shavia! Tunggu!"

Suara bariton Arga yang berat mendadak memanggilku dengan lantang.

Aku refleks menghentikan langkahku dan membalikkan badan dengan bingung. "Iya, Arga Kenapa?..." Kalimatku terputus seketika.

Arga melangkah lebar dengan sangat cepat memangkas jarak di antara kami. Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, kedua lengan kekarnya mendadak merengkuh tubuhku dengan sangat erat. Pria itu menarikku ke dalam dekapannya, menyembunyikan wajahnya di lekukan leher dan bahuku.

Deg.

Jantungku rasanya berhenti berdetak detik itu juga, kotak bekal kosong yang kupegang hampir saja terlepas dari dekapan tanganku.

Aroma maskulin khas dari tubuhnya langsung mengepung indra penciumanku, pelukan ini... terasa begitu erat, begitu protektif, dan dipenuhi oleh kehangatan yang luar biasa nyata.

"A-Arga...?" bisikku parau, tubuhku mendadak kaku karena terkejut setengah mati.

"Kamu... kenapa?"

Arga tidak langsung melepaskan dekapannya. Pria itu justru mempererat pelukannya, seolah takut aku akan menghilang jika dia melonggarkan sedikit saja lengannya.

Aku bisa merasakan deru napasnya yang hangat dan sedikit memburu di ceruk leherku.

"Jangan minta maaf lagi," bisik Arga lirih, suaranya terdengar sangat rendah dan bergetar di telingaku.

"Gue yang harusnya minta maaf sama lu, Shavia."

Air mata yang tadi sudah reda, mendadak kembali menggenang di pelupuk mataku, mendengar nada suaranya yang begitu tulus dari Arga.

"Tapi aku udah lancang meluk kamu waktu itu, Arga... Aku udah bawa dunia khayalanku ke hidup kamu..."

"Gue gak peduli soal itu lagi," potong Arga cepat.

Pria itu perlahan melonggarkan pelukannya, namun kedua telapak tangannya yang besar dan hangat tetap bertumpu di kedua bahuku, memaksaku untuk mendongak dan menatap lurus ke dalam sepasang mata tajamnya, yang malam itu tampak begitu redup dan dipenuhi emosional.

"Gue minta maaf karena selama beberapa hari ini udah bersikap kasar sama lu. Gue udah nuduh lu cewek drama, padahal lu lagi berjuang keras buat sembuh dan lepas dari masa lalu lu."

Aku menatap wajah tampannya yang kini berada sangat dekat di depan wajahku. Di bawah temaram lampu pekarangan rumah kos ku, tidak ada lagi ekspresi dingin atau tatapan mengancam yang biasa dia tunjukkan yang terlihat hanyalah Arga Wijaya yang jujur dengan perasaannya.

"Gue emang bukan cowok yang ada di dalam mimpi atau khayalan lu, Shavia," ujar Arga lagi.

ibu jarinya bergerak perlahan menyeka sisa air mataku yang menetes di pipi dengan sangat lembut. Sebuah sentuhan nyata yang membuat seluruh tubuhku berdesir hebat.

"Sifat gue kaku, gue dingin, dan gue gak selembut cowok khayalan lu itu. Tapi... kalau lu emang butuh seseorang yang nyata buat bantu lu keluar dari dunia khayalan itu... tolong jangan lepasin gue. Biarkan gue yang jadi realitas lu mulai sekarang."

Mendengar untaian kalimat itu keluar langsung dari mulut sang gunung es, pertahanan hatiku runtuh seutuhnya. Air mataku mengalir deras, kali ini bukan karena rasa sedih atau lelah, melainkan karena rasa bahagia yang membuncah di dalam dada.

"Arga..." bisikku parau di sela-sela tangisku.

Arga tersenyum tipis, sebuah senyuman paling manis dan langka yang pernah kulihat darinya, lalu dia kembali menarik tubuhku masuk ke dalam pelukannya yang hangat di bawah langit senja yang mulai menggelap.

Di dalam pelukan yang nyata ini, aku akhirnya menyadari satu hal. Taruhan satu bulan kami mungkin baru berjalan beberapa hari, tetapi ketulusan dan kehangatan yang kubawa dari balik dapur dini hari tadi, ternyata tidak hanya mencairkan gunung es di hadapanku, melainkan telah mengubah jalannya takdir kami di dunia nyata, untuk perlahan membuka harapan baru yang nyata.

Arga perlahan melonggarkan pelukannya, kedua tangannya bergeser turun menggenggam jemariku yang terasa dingin karena gugup.

Di bawah temaram lampu pekarangan rumah kos ku, dia menatapku lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa aku tidak akan kembali menangis dan berpikir untuk pergi darinya.

"Udah malam, lu masuk sana. Istirahat yang cukup," ujar Arga, suara baritonnya terdengar begitu tenang dan hangat, sangat berbeda dengan nada ketusnya beberapa jam yang lalu.

Aku hanya bisa mengangguk pelan, masih setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"Iya, Arga. Kamu juga hati-hati di jalan ya."

Arga tidak langsung berbalik menuju mobilnya. Pria itu sempat terdiam sejenak, menatap jemariku yang berada di dalam genggamannya, lalu berdeham pelan, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang tidak biasa dia ucapkan.

"Besok..." Arga menjeda kalimatnya, matanya melirik ke arah lain sejenak, sebelum kembali mengunci tatapannya kearahku.

"Besok pagi gue jemput lu ya. Kita berangkat ke kampus bareng."

Mataku membelalak sempurna mendengarnya. Jantungku kembali berdisko hebat di dalam dada. "Hah... Kamu... mau jemput aku, Arga?"

"Ya. Kalau lu mau," potong Arga cepat, kembali memunculkan sifat diktatornya yang justru terdengar sangat manis di telingaku.

"Besok jam tujuh pagi gue udah di depan pagar rumah kos lu ya. Jangan telat bangun, Shavia."

"I-iy-ya, Arga. Aku gak bakal telat!" jawabku dengan anggukan heboh, membuat seulas senyuman tipis kembali terukir di bibir wajah tampannya.

"Gue balik dulu" pamit Arga pelan.

Pria itu melepaskan genggaman tangannya dengan lembut, lalu berjalan mundur menuju mobil hitam mewahnya.

Setelah masuk ke kursi kemudi, dia sempat membunyikan klakson pendek sekali, sebelum akhirnya melajukan mobilnya membelah kegelapan malam, meninggalkan pekarangan rumah kosku.

Begitu lampu belakang mobilnya hilang di belokan jalan, pertahanan jantungku yang sejak tadi kutahan runtuh seketika.

Aku melompat-lompat kecil di atas paving blok pekarangan, sambil memeluk kotak bekal biruku erat-erat ke dada, menahan pekikan girang agar tidak membangunkan tetangga sebelah.

Aku berlari kencang memasuki rumah, mengunci pintu, dan langsung melempar tubuhku ke atas kasur.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, aku menyambar ponsel di dalam tas dan langsung menekan tombol panggilan cepat ke nomor Rara. Panggilan tersambung pada deringan pertama, seolah-olah sahabatku itu memang sedang menunggu kabar dariku.

"Via. Lo selamat kan?! Lo gak diturunin di pinggir jalan tol sama si gunung es itu, kan?!" suara lengkingan panik Rara langsung menyembur dari seberang telepon bahkan sebelum aku sempat mengucapkan salam.

"Raraaa!!!" Aku berteriak histeris di bawah bantal, kakiku menendang-nendang kasur karena saking senangnya.

"Gue gak diturunin di jalan tol, Ra. Tapi gue... gue..."

"Lo kenapa?! Ih, jangan bikin jantungan deh. Ngomong yang jelas, Via!" cecar Rara makin panik di seberang sana.

"Arga meluk gue, Rara. Dia meluk gue erat banget di depan pagar rumah kos gue tadi!" seru ku heboh, meluapkan seluruh emosi yang membuncah sejak tadi sore.

Hening sejenak selama tiga detik di seberang telepon. Aku bisa mendengar suara Rara yang tampaknya sedang menarik napas dalam-dalam karena syok.

"Ha... lo gak lagi halusinasi atau kumat penyakit ngayalan lo lagi kan, Via?"

"Gak, Rara sayang. Ini nyata, seratus persen nyata di dunia nyata, bukan khayalan lagi!" ujarku berapi-api.

Aku pun menceritakan setiap detail percakapan kami di dalam mobil kepada Rara, tentang bagaimana Arga diam-diam mencari tahu nama lengkapku, tentang dia yang menemukan DM lamaku, hingga momen saat dia melihat sketsa wajah khayalan itu. Puncaknya, aku menceritakan bagaimana Arga memelukku dan memintaku menjadikannya sebagai realitasku untuk membantuku lepas dari masa lalu.

"Astaga, Via..." suara Rara di seberang sana terdengar bergetar, campur aduk antara takjub dan tidak percaya.

"Sumpah, gue merinding dengarnya. Si gunung es yang kaku dan traumaan itu... bisa ngomong kalimat se-romantis itu sama lo?"

"Iya, Ra. Gue aja kaget, dan tebak apa lagi?!" Aku sengaja menjeda kalimatku agar Rara makin penasaran.

"Apa lagi?! Cepetan ngomong!"

"Besok pagi jam tujuh... dia mau jemput gue buat berangkat ke kampus bareng!" seru ku dengan tawa renyah yang tidak bisa kubendung.

Di seberang sana, Rara akhirnya ikut tertawa lepas, terdengar sangat lega karena perjuangan sahabatnya tidak berakhir dengan air mata lagi.

"Hahaha! Gila sih, Via. Persekutuan rahasia lo sama adiknya, dan taktik bekal masakan subuh-subuh lo bener-bener sukses besar. Gunung esnya gak cuma retak, tapi udah cair seutuhnya jadi kuah bakso!"

"Ih, Rara. Kok disamain sama kuah bakso sih!" gerutuku sambil terkekeh geli.

"Ya habisnya cepet banget perkembangannya. Tapi serius, Vi... gue ikut seneng banget buat lo," ujar Rara, nadanya kini melunak, dipenuhi ketulusan seorang sahabat.

"Akhirnya lo nemu orang yang nyata, yang mau menghargai ketulusan lo di dunia nyata. Jaga diri baik-baik buat besok pagi ya. Jangan sampai lo telat bangun atau pasang muka bantal di depan mobil mewahnya!"

"Siap dilaksanakan, Ibu Negara. Gue malam ini mau langsung tidur biar besok mukanya segar!" jawabku penuh semangat.

Setelah menutup panggilan telepon dengan Rara, aku meletakkan ponselku di atas dada, menatap langit-langit kamar dengan senyuman yang enggan hilang.

Taruhan satu bulan kami baru berjalan semingguan lebih, tetapi duniaku yang dulunya penuh dengan khayalan semu, kini telah sepenuhnya digantikan oleh debar nyata yang jauh lebih indah bersama Arga Wijaya.

...----------------...

...****************...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

AUTHOR'S NOTE

Oh My God! Akhirnya Bab 29 ditutup dengan sangat epik dan super manis ya! 😭💙

Bayangin besok pagi jam 7 Via bakal dijemput langsung sama Kapten Arga naik mobil mewahnya ke kampus. 😍

Rara aja sampai melongo denger ceritanya. Gunung es Arga resmi mencair seutuhnya jadi kuah bakso berkat ketulusan luar biasa dari Via.

Terima kasih banyak, ya, teman-teman pembaca setia yang selalu memberikan dukungan manis berupa bintang dan komentar akrab di setiap babnya. 🫶✨

Kehadiran kalian adalah energi terbesar bagiku untuk terus mengetik petualangan cinta Shavia yang makin melelehkan hati ini.

Kira-kira bakal seseru apa ya momen jemputan besok pagi di Bab 30. Dan gimana reaksi Danu pas tahu mereka berangkat bareng?

Yuk, tetap semangat membaca jangan lupa untuk vote, komen dan follow nya ya besti dan kita langsung meluncur ke bab berikutnya! Happy reading, love you all! 💙✨

1
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!