NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 - BAYANGAN DI BALIK RATUSAN BAUT

Dentuman pertama meremukkan beton pelindung lift utilitas, mengirimkan hujan serpihan abu dan kerikil tajam yang menghujani lantai bawah tanah.

Sirine darurat berjerit tanpa henti, membelah udara pengap bunker Kebayoran. Lampu darurat merah berputar liar, mengubah bayangan dinding baja menjadi jilatan lidah api semu. Di tengah kekacauan itu, Adrian Varell tidak membuang waktu sedetik pun. Cengkeraman tangannya di pergelangan tanganku begitu kokoh, menarik tubuhku merapat ke balik pilar baja tebal sesaat sebelum berondongan peluru kaliber tinggi merobek dinding beton tempat kami berdiri tadi.

BAM! BAM! BAM!

Percikan api menyala terang di mana-mana. Bau mesiu dan ozon langsung pekat menusuk hidung, berpadu dengan kepulan debu yang menyesakkan.

"Bastian, posisikan unit pengamanan perimeter!" suara bariton Adrian memecah deru tembakan, tenang namun berwibawa di tengah badai peluru. Tidak ada kepanikan di wajah pria itu; matanya yang kelam justru menyipit tajam, memperhitungkan sudut tembak dan titik buta musuh.

"Lintasan evakuasi utama tertutup total, Tuan Besar!" Bastian membalas lewat komunikasi taktis sambil meluncurkan tembakan balasan dari balik meja kendali baja, menumbangkan salah satu penyusup yang mencoba merangsek maju. "Mereka menggunakan bahan peledak militer untuk meruntuhkan poros lift utama!"

Aku merunduk rendah, jemariku mencengkeram erat gagang pistol silencer di balik mantel wolku. Jantungku berdetak cepat, bukan karena rasa takut, melainkan karena aliran adrenalin murni yang membakar setiap sel di dalam nadiku. Pandanganku tertuju pada lembar dokumen arsip militer lama yang tergeletak di atas meja kendali—tempat lambang cincin bersayap rajawali dan belati perak tadi terpampang.

Musuh yang datang bukan lagi sisa-sisa pengawal Soedirdjo yang gemetar. Unit bayangan ini bergerak dengan presisi militer tingkat tinggi, menggunakan pakaian taktis hitam tanpa lencana dan topeng gas berfilter karbon yang menyembunyikan identitas mereka sepenuhnya.

"Mereka bukan pengawal bayaran biasa," kataku di dekat telinga Adrian, suaranya teredam oleh suara letusan senjata. "Simbol di dokumen itu... mereka adalah kelompok yang sama yang mendanai pembunuhan ibu saya sembilan belas tahun lalu."

Adrian menoleh sekilas, tatapannya menghujam lekat ke mataku di bawah pendar lampu merah darurat. Jemari tangannya yang bebas terulur, merapikan beberapa helai rambutku yang basah oleh keringat dengan sentuhan singkat yang penuh kepastian. "Fokus pada jalan keluar, Nadia. Kita bongkar siapa mereka setelah kita keluar dari sarang tikus ini hidup-hidup."

Di ujung ruangan, Jenderal Purnawirawan Soedirdjo yang tadi terduduk lemas mendadak menjerit histeris. Peluru nyasar dari baku tembak tersebut menembus bahu kanannya, memuntahkan darah segar ke lantai beton. Pria tua itu merangkak putus asa, mencoba mencari perlindungan di bawah meja baja, namun para penyusup baru tidak peduli pada sekutu lama mereka.

RAT-TAT-TAT!

Sebuah semburan peluru dari senapan serbu merobek tubuh Soedirdjo tanpa ampun. Pria yang selama puluhan tahun memegang kuasa atas logistik militer itu tewas seketika di atas genangan darahnya sendiri, membawa mati seluruh rahasia sisa tentang siapa yang benar-benar memegang kendali di republik ini.

"Mereka menghapus jejak mereka sendiri," geram Adrian rendah. Ia menarik pelatuk pistolnya, melumpuhkan dua penyusup yang berhasil melompat turun melalui kerangka lift yang hancur.

"Lewat sini!" seruku, menarik lengan Adrian menuju lorong pemeliharaan teknis di sisi barat bunker yang jarang diketahui orang. Pintu darurat kecil itu tersembunyi di balik panel listrik berkarat.

Kami melangkah mundur secara taktis. Bastian dan dua operator Varell yang tersisa bertindak sebagai rear guard, melepaskan tembakan penutup untuk menahan laju gelombang musuh yang terus mendesak masuk.

Begitu kami memasuki lorong sempit berpipa air yang dingin dan lembap, aku segera merogoh saku mantelku dan menempelkan perangkat dekoder digital pada kunci elektromagnetik pintu darurat luar.

BIP... BIP... KLIK.

Pintu baja itu bergeser terbuka, menyambut terpaan udara malam Jakarta yang panas dan aroma bensin dari kendaraan evakuasi yang menunggu di gang sempit belakang gedung.

Namun, sebelum sepatu kami sempat menginjak tanah luar, langkah kami terhenti kaku.

Di ujung gang gelap gulita itu, di bawah sorotan lampu jalan yang berkedip-kedip redup, sebuah mobil sedan hitam bergaya Eropa terparkir melintang. Pintu belakangnya terbuka perlahan. Seseorang berjas rapi melangkah keluar dari dalam mobil, memegang payung hitam meskipun hujan gerimis baru saja berhenti.

Pria itu mengenakan sarung tangan kulit tipis. Wajahnya setengah tersembunyi di bawah bayangan payung, tetapi pantulan cahaya lampu memperlihatkan sebuah cincin perak melingkar di jari manis tangan kanannya—lambang burung rajawali mencengkeram belati perak.

"Selamat malam, Nona Arlena," suara pria itu mengalun tenang, berat, dan terdengar sangat akrab di memori masa lalunya yang paling gelap. "Ternyata darah Valois memang tidak pernah mudah ditenggelamkan."

Napas tertahan di kerongkonganku. Seluruh otot di tubuhku mendadak membeku. Suara itu... suara yang dulu membisikkan perintah pembakaran di lantai atas gedung pencakar langit sembilan belas tahun lalu.

Adrian melangkah maju setengah tapak, menempatkan dirinya di depanku secara melindungi, sementara sorot mata kelam pria itu menatap tajam ke arah sosok asing di ujung gang.

Dan sebelum identitas di balik payung hitam itu terungkap sepenuhnya, deru puluhan sepeda motor tak berplat nomor mendadak meraung memecah malam dari kedua ujung gang, menutup seluruh jalur pelarian kami dalam hitungan detik.

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!