Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Sepenggal Kisah Masa Lalu.
FLASHBACK ON!!
25 tahun yang lalu, tepat saat Raditya berusia 7 tahun. Papa Rajendara pulang ke rumah membawa seorang wanita bernama Irene dan anak laki - lakinya — Ravin yang berusia 5 tahun.
Wanita itu adalah sekretaris papa Rajendra di kantor Artha Mandiri Group.
Papa Rajendra mengatakan jika tante Irene baru saja kehilangan tempat tinggalnya. Dan untuk sementara akan menginap di rumah Arthadipa.
Mama Thalina sama sekali tidak keberatan. Apalagi, sudah mengenal tante Irene sebelumnya. Ia mengijinkan sekretaris sang suami untuk tinggal di paviliun belakang rumah mereka.
“Nah Raditya. Mulai sekarang, Ravin adalah adik kamu. Papa harap, kamu bisa menjaga dan mendidiknya dengan baik.” Ucap papa Rajendra saat memperkenalkan Raditya dan Ravin.
Raditya tentu menerima Ravin dengan senang hati. Sudah lama bocah itu ingin memiliki seorang adik. Namun, sampai ia berusia 7 tahun, keinginannya itu belum juga tercapai.
Hari - hari Raditya pun menjadi lebih berwarna setelah kedatangan Ravin. Di tambah lagi, ada tetangga baru di depan rumah mereka yang memiliki anak perempuan berusia 4 tahun, bernama Serafina.
Raditya, Ravin dan Sera pun sering bermain bersama. Penuh canda tawa, meski terkadang ada tangisan karena berebut mainan. Namun, ketiganya masih bisa berteman dengan baik.
Karena Raditya yang terlihat begitu menyayangi Ravin, mama Thalina pun mengijinkan tante Irene untuk tetap tinggal di pavilliun belekang.
Makan malam bersama menjadi rutinitas mereka setiap malam. Di akhir pekan, mama Thalina mengajak tante Irene pergi berbelanja.
Bahkan, Raditya sempat meminta sang papa untuk membawa Ravin berlibur bersama mereka di akhir tahun.
“Aku sangat bahagia, pa, ma.” Ucap Raditya.
Namun, kebahagiaan yang Raditya rasakan hancur ketika ia berusia 10 tahun.
Hari itu, Raditya pulang sekolah dengan membawa sebuah medali dan piagam kemenangan hasil dari lomba cerdas cermat antar sekolah dasar se - Jakarta pusat.
Raditya Putra Arthadipa memang terlahir dengan kecerdasan yang luar biasa. Ia selalu menjadi juara kelas, sejak kelas 1 SD. Dan sudah beberapa kali menang lomba baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Ia juga memiliki prestasi di bidang olahraga renang dan sepak bola. Sehingga membuat papa dan mamanya merasa bangga.
“Mama dan papa ada di rumah ‘kan, pak?” Tanya Raditya pada sang sopir yang menjemputnya ke sekolah siang itu.
“Ada, den.”
Mendengar jawaban sang sopir, Raditya semakin tidak bersabar untuk sampai di rumah. Karena mama dan papanya sangat jarang bisa ada waktu saat ia pulang sekolah.
Setelah tiba di halaman rumah, Raditya bergegas keluar dari mobil. Medali emas menggantung pada lehernya. Dan piagam digenggam dengan kedua tangan.
Raditya berlari menuju rumah. Namun, langkah bocah berusia 10 tahun itu seketika terhenti saat melihat sang mama duduk tersungkur di atas lantai teras.
Di ambang pintu, papa Rajendra berdiri dengan tatapan memerah padam. Di sampingnya, tante Irene juga menatap mama Thalina dengan penuh kebencian.
Sungguh berbeda dengan tatapan teduh wanita itu sebelumnya.
“Mama.” Raditya kembali berlari untuk menjangkau sang mama. Piagam di tangannya terlepas begitu saja.
Bocah itu pun ikut duduk di atas lantai. Memeluk lengan sang mama.
“Mama kenapa duduk disini? Ayo bangun, ma.” Ucap bocah itu.
Namun sang mama hanya menangis terisak. Matanya pun terlihat sudah sangat sembab.
“Pa. Ada apa dengan mama? Kenapa mama menangis seperti ini?” Tanya Raditya pada sang papa.
“Jangan tanyakan padaku. Tanyakan sendiri pada mamamu itu. Apa yang telah dia lakukan selama ini.” Suara papa Rajendra bergema dengan keras.
“Kenapa papa berteriak?” Tanya Raditya dengan menatap nyalang sang papa.
Namun, bukannya mereda, emosi papa Rajendra justru semakin menjadi.
“Jangan pernah kamu memanggil aku papa lagi. Kamu bukan anakku. Kamu!” Pria berusia 35 tahun itu menunjuk ke arah Raditya.
“Kamu ternyata anak hasil dari hubungan —
“CUKUP!! HENTIKAN!!” Teriak mama Thalina dengan menutup telinga Raditya.
“Jangan pernah kamu berkata seperti itu pada putra kamu sendiri, mas. Raditya darah daging kamu.” Ucapnya dengan suara serak.
“Dasar ja-lang. Kamu sudah menipu aku selama ini.” Ucap papa Rajendra.
“Pak, sudah. Tenangkan diri bapak.” Ucap tante Irene sembari mengusap lengan papa Rajendra.
Mama Thalina beralih menatap wanita itu.
“Kamu!! Kurang baik apa saya selama ini sama kamu? Kenapa kamu tega merusak rumah tangga saya?”
Mama Irene tersenyum mengejek. “Ibu yang salah sendiri. Kenapa menyalahkan saya? Buktinya sudah jelas. Mau mengelak seperti apalagi? Pak Rajendra tidak akan percaya.”
Tiba - tiba dua orang asisten rumah tangga muncul dari dalam rumah dengan membawa dua buah koper lalu meletakkannya di samping mama Thalina dan Raditya.
“Mas. Apa - apaan ini? Kamu mengusir aku?” Mama Thalina menuntun Raditya untuk bangkit. Mata wanita itu mendelik sempurna.
“Menurut kamu? Apa aku masih mau tinggal serumah dengan pengkhianat seperti kamu?” Geram papa Rajendra.
“Tidak. Kenapa papa mengusir aku dan mama? Ini rumah aku, pa.” Raditya berlari ke arah sang papa kemudian memeluk kaki pria itu.
“Lepas. Kamu bukan putraku. Kamu tidak berhak atas apa yang aku miliki.” Papa Rajendra menepis pelukan Raditya hingga bocah itu jatuh tersungkur.
“Raditya.” Mama Thalina meraup tubuh sang putra, kemudian memeluknya.
“Mas Raja. Kamu tidak boleh melakukan ini. Kamu boleh mencurigai aku. Tetapi kamu sama sekali tidak berhak meragukan Raditya. Dia putramu, mas.”
Papa Rajendra sama sekali tak terpengaruh ucapan mama Thalina. Tak sedikitpun merasa iba melihat tangisan wanita itu.
Pria itu justru berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah.
“Usir wanita itu dan anaknya. Pastikan mereka tidak pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini. Jika kalian ada yang berani berbuat curang, maka kalian juga akan terusir dari rumah ini. Dan saya pastikan tidak ada orang yang mau mempekerjakan kalian lagi.” Perintah papa Rajendra pada asisten rumah tangganya.
“Baik, tuan.”
“Mas Raja!! Suatu saat kamu akan menyesal sudah membuang Raditya. Dia putra kandung kamu, mas.” Teriak mama Thalina.
Asisten rumah tangga yang dulu di pekerjakan oleh mama Thalina, hari ini justru mengusirnya keluar dari rumah itu.
“Maaf, nyonya. Kami hanya menjalankan perintah.”
Mama Thalina pun mengambil koper mereka, lalu mengajak Raditya keluar dari rumah itu.
“Ma. Kita mau kemana?” Tanya Raditya setelah mereka berada di luar gerbang rumah.
“Kemana saja, sayang. Asalkan kamu tetap bersama mama.” Mama Thalina memeluk sang putra semata wayang.
“Kenapa papa mengatakan aku bukan anaknya, ma? Aku anak papa dan mama ‘kan?”
“Tentu, sayang. Kamu anak mama dan papa.” Mama Thalina kemudian berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan sang putra.
“Raditya mau berjanji sesuatu sama mama?”
Bocah itu menganggukkan kepalanya.
“Suatu hari nanti, kamu datang lagi ke rumah ini. Temui mereka. Ambil semua yang seharusnya menjadi milik kamu.”
“Aku janji, ma.” Ucap Raditya dengan mengulurkan jari kelingkingnya.
“Nah. Sekarang kita pergi dulu. Biarkan mereka bahagia sampai kamu bisa kembali ke rumah ini.”
FLASHBACK OFF !!
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟