Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PROVOKASI TANPA BERSUARA
Sinar matahari pagi menembus kaca jendela studio tato eksklusif di kawasan Kemang. Berbeda dengan studio tato pada umumnya yang terkesan gelap, studio milik seniman tato ternama berinisial Sasha ini didesain begitu privat, bersih, dan beraroma lavender hangat.
Ranti duduk bersandar di atas kursi kulit ergonomis dengan silk robe berwarna emas yang tersingkap rapi di bagian perut bawahnya. Di sampingnya, Tasya duduk memegang cangkir iced matcha latte, menatap sahabatnya dengan mata berbinar campur takjub.
"Kamu yakin, Ti? Beneran mau mentato bekas luka caesar ini?" tanya Tasya, menyipitkan mata memastikan ketetapan hati sahabatnya.
Ranti menatap pantulan dirinya di cermin studio. Rambut bob barunya tertata rapi, wajahnya memancarkan aura glow yang mahal dan segar. Ia menyusuri garis samar bekas operasi melahirkan Bima di perut bawahnya dengan jemari terawat.
"Yakin seratus persen, Sya," jawab Ranti dengan suara tenang dan mantap. "Luka ini dulu pernah dihina Sony. Dia bilang bekas melahirkan ini bikin perutku tak sempurna lagi. Hari ini, aku mau ubah bekas luka perjuanganku melahirkan Bima menjadi sebuah karya seni yang indah. Aku berhak merayakan tubuhku sendiri."
Sasha, sang tattoo artist perempuan dengan pembawaan elegan, tersenyum kagum seraya menyiapkan jarum sterifikasinya. "Desain bunga peony dan sulur emas yang Mbak Ranti pilih ini melambangkan kehormatan, kekayaan, dan kebangkitan. Sangat cocok membingkai garis luka ini."
"Silakan mulai, Mbak Sasha," tutur Ranti seraya memejamkan mata rileks.
Denting halus mesin tato mulai berdering. Dulu, Ranti selalu menahan diri dari segala bentuk ekspresi diri yang dianggap Sony "terlalu mencolok" atau "boros". Namun kini, rasa perih tipis dari jarum yang menari di kulit perutnya justru terasa seperti ritus penyucian batin. Setiap guratan tinta hitam dan warna pastel emas yang meresap ke dalam kulitnya seolah mengubur sisa-sisa rasa rendah diri yang pernah diinjak-injak mantan suaminya.
Dua jam berlalu. Sasha menyapu sisa tinta dan melapisi perut Ranti dengan protective film.
"Selesai, Mbak Ranti. Silakan dilihat," ucap Sasha ramah.
Ranti berdiri di depan cermin besar studio. Di perut bawahnya, bekas luka garis melintang itu kini menjelma menjadi tangkai bunga peony yang mekar sempurna dengan kelopak berlapis warna pastel lembut serta sulur-sulur emas yang melengkung anggun menyusuri pinggulnya. Sangat estetis, seksi, dan berkelas.
"Ya Tuhan, Ranti... ini artistik banget!" jerit Tasya tertahan seraya memegangi pipinya. "Ini bukan cuma tato, ini mahkota baru buat tubuhmu!"
Ranti tersenyum puas. "Ini simbol kalau aku memegang kendali penuh atas hidup dan tubuhku sendiri."
Siang Hari – Restoran Mewah Penthouse, Kawasan SCBD
Usai dari studio tato, Ranti merayakan kebebasan dan gaya hidup mewahnya tanpa tanggung-tanggung. Selama lima tahun menjadi istri Sony, Ranti selalu menyembunyikan identitasnya sebagai anak konglomerat tekstil. Ia memasak tiap hari, memakai pakaian biasa tanpa merek, dan menekan seluruh keinginan belanja mewahnya demi menjaga ego Sony yang miskin dan perawan harga diri.
Hari ini, Ranti memanjakan dirinya habis-habisan. Gaya hidup kemewahan tingkat tinggi yang diidam-idamkan semua orang ia dekati tanpa keraguan.
Di sebuah restoran fine dining mewah lantai teratas dengan pemandangan lanskap pencakar langit Jakarta, Ranti duduk di meja bundar berlapis taplak linen putih. Di atas meja tersaji sajian caviar imperial, lobster thermidor, truffle pasta, dan segelas champagne Dom Pérignon yang berkilau di dalam gelas kristal.
Di samping kursi kulitnya, bertumpuk lima kantong belanja bergengsi dari butik Hermès, Louis Vuitton, dan Bvlgari—berisi perhiasan emas putih, tas kulit buaya eksklusif, serta gaun-gaun sutra keluaran terbaru yang baru saja ia borong dari galeri mal mewah terdekat.
Tasya memfoto Ranti dari sudut terbaik. Ranti mengenakan kacamata hitam berbingkai tebal, memegang gelas champagne dengan latar belakang hidangan caviar dan tumpukan kantong belanja branded.
"Pose sedikit miring, Ti... ya, begitu! Anggun banget, aura ultra-rich woman-nya keluar!" seru Tasya seraya mengambil beberapa foto ciamik.
Ranti meraih ponselnya dari meja. Ia membuka aplikasi Instagram pribadinya yang kini memiliki puluhan ribu pengikut baru pasca-viralnya video persidangan kemarin. Ranti mengunggah foto hidangan mewah, kantong Hermès, serta tatapan cantiknya yang segar ke dalam unggahan Feed dan Story.
Ia menyematkan sebuah caption menohok yang jernih, tajam, dan penuh sindiran berkelas:
"Lagi menikmati hidup dan hasil kerja keras sendiri. Lagian, kalau mau hidup enak tuh usaha sendiri ya... jangan pernah ngandelin harta atau suami orang lain. Cheers to independence! 🥂✨"
Hanya dalam hitungan menit, unggahan tersebut dibanjiri puluhan ribu likes dan komentar riuh dari para pengikutnya yang mengelukan ketegasan dan kemandirian Ranti.
Di Tempat Lain – Kamar Perawatan RS Cipto Mangunkusumo
Sinar matahari siang menembus kaca kusam kamar perawatan kelas tiga rumah sakit pemerintah. Bau karbol dan cairan antiseptik menyengat pekat di udara.
Di atas ranjang besi yang keras, Raya terbaring lemas dengan tubuh dipenuhi perban. Luka bakar akibat ledakan gas di rumah sewaannya beberapa waktu lalu membuat wajah cantiknya yang dulu dipuji-puji kini dipenuhi bekas parut kemerahan yang mengerikan. Kulit leher dan tangannya terbalut kain kasa tebal yang terasa gatal dan perih setiap kali ia bergerak.
Raya ditinggalkan sendirian. Sony sudah mendekam di tahanan polda atas kasus korupsi dan penggelapan, sementara tabungan hasil simpanannya dari uang setoran Sony sudah ludes disita polisi dan dipakai biaya pengobatan awal.
Dengan jemarinya yang masih terbalut kassa tipis, Raya meraba ponsel murah berlayar retak yang tergeletak di samping bantalnya. Ia membuka aplikasi Instagram dengan napas tersengal-sengal.
Nama akun Instagram Ranti langsung muncul di halaman paling atas explore.
Jantung Raya seraya berhenti berdetak saat melihat unggahan terbaru Ranti.
Di layar HP-nya yang retak, terpampang jelas foto Ranti yang begitu jelita dengan potongan rambut bob berkelas, memegang gelas champagne di atas gedung pencakar langit, dikelilingi kantong belanjaan Hermès dan makanan berharga puluhan juta rupiah. Ranti tampak sangat muda, segar, kaya raya, dan bahagia tanpa beban sedikit pun.
Raya membaca caption yang ditulis Ranti:
“Lagi menikmati hidup dan hasil kerja keras sendiri. Lagian, kalau mau hidup enak tuh usaha sendiri ya... jangan pernah ngandelin harta atau suami orang lain.”
DEG!
Kalimat itu bagaikan tamparan keras beracun yang menghantam tepat di tengah wajah Raya. Darahnya mendidih seketika, dadanya sesak oleh gejolak iri hati, dengki, dan rasa hina yang teramat sangat.
"Kurang ajar... Perempuannn sialan!" rintih Raya histeris, suaranya parau dan gemetar menahan amarah yang membakar jiwanya.
Dulu, Raya dengan sombongnya tertawa di atas penderitaan Ranti. Raya merasa menang karena berhasil merebut Sony, merasa bangga bisa menikmati uang belanja yang disalurkan Sony dari hasil memeras Ranti, dan menganggap Ranti adalah wanita polos yang bodoh dan tak punya daya tahan.
Namun kini, roda takdir berputar 180 derajat dengan sangat kejam.
Ranti kembali ke takhtanya yang megah sebagai putri konglomerat kaya raya, menikmati kebebasan, kemewahan, dan dihormati publik. Sementara Raya... terbaring membusuk di atas kasur rumah sakit, kehilangan kecantikannya, tak beruang sepeser pun, dan dicap sebagai pelakor pembawa sial yang hancur berkeping-keping.
"Kenapa... kenapa kamu yang bahagia, Ranti?!" jerit Raya menangis sesenggukan, meremas seprai rumah sakit yang kusam hingga robek. Air matanya menetes mengenai luka bakar di pipinya, menimbulkan rasa perih yang teramat sangat.
"Aku yang berjuang mempertahankan Sony! Aku yang mengorbankan tubuhku! Kenapa malah kamu yang menikmati semua kemewahan ini?!" amuk Raya pada layar HP-nya.
Seorang perawat masuk ke dalam kamar karena mendengar teriakan histeris Raya.
"Mbak Raya! Harap tenang! Jangan banyak bergerak dulu, nanti jahitan di leher dan luka bakarnya terbuka lagi!" tegur perawat itu tegas seraya berusaha menahan lengan Raya.
"Lepaskan aku! Biarkan aku mati saja! Perempuan itu sengaja pamer untuk menghina aku!" jerit Raya histeris, melemparkan ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
Raya menangis meraung-raung di atas ranjang rumah sakit. Rasa perih pada luka fisiknya tak sebanding dengan rasa terbakar di dalam hatinya. Sindiran Ranti di media sosial telah berhasil menembus benteng kesombongannya, meninggalkan dendam dan rasa hina yang akan menghantuinya seumur hidup.
Sore Hari – Penthouse Restoran, SCBD
Di restoran mewah, Ranti menyeruput Dom Pérignon-nya dengan sangat tenang. Ia meletakkan gelas kristalnya di atas meja, lalu melirik ponselnya yang menyala menampilkan deretan notifikasi respon netizen yang kian membumbung tinggi.
Tasya terkekeh seraya menggeser layarnya. "Ti, kamu tahu tidak? Banyak netizen yang ngetag akunnya Raya di kolom komentarmu! Walaupun akun Raya sekarang sudah diprivat, dijamin dia pasti kepanasan setengah mati kalau lihat postinganmu ini!"
Ranti menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang teramat anggun.
"Aku tidak peduli dia membaca atau tidak, Sya," tutur Ranti santai seraya merapikan kerah blazer-nya. "Aku tidak menyebut nama siapa pun di caption itu. Aku hanya menyampaikan kebenaran universal: bahwa wanita yang mau dihormati dan menikmati hidup mewah harus berdiri di atas kakinya sendiri, bukan dengan cara mencuri milik orang lain."
"Tapi rasanya puas banget kan, Ti?" goda Tasya seraya mengedipkan mata. "Melihat orang yang dulu menginjak-injak kita akhirnya hancur oleh kesombongannya sendiri?"
Ranti menatap pemandangan kota Jakarta di bawah sana yang mulai disiram pendar cahaya keemasan matahari terbenam.
"Puas?" Ranti mengulang kata itu perlahan. "Jujur, Sya... pembalasan terbaik untuk orang-orang jahat seperti Sony dan Raya bukanlah dengan cara membalas melukai mereka secara fisik."
Ranti jeda sejenak, memegang jemarinya yang kini dihiasi cincin berlian baru.
"Pembalasan terbaik adalah dengan menunjukkan bahwa kita tetap hidup sangat bahagia, makin kaya, makin cantik, dan sukses tanpa kehadiran mereka sedikit pun. Biarkan keberhasilan kita menjadi racun paling mematikan bagi rasa iri hati mereka."
Tasya mengangguk-angguk setuju dengan rasa kagum yang makin membuncah pada sahabatnya. Ranti yang sekarang bukan lagi Ranti yang bisa dipermainkan atau ditindas. Ranti telah menjelma menjadi sosok wanita berkelas tinggi yang tahu persis bagaimana cara menikmati hidup dan menjaga harga dirinya.
Ponsel Ranti di atas meja bergetar halus. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor pribadi yang sangat ia kenal: Farhan Arisya.
"Selamat sore, Ranti. Aku lihat postingan terbarumu... kamu kelihatan sangat bahagia dan anggun. Jangan lupa istirahat yang cukup ya usai seharian berkeliling. Kalau ada waktu luang akhir pekan ini, Bima mau tidak diajak jalan-jalan ke taman sains bersama anak kawan keduaku?"
Ranti membaca pesan dari Farhan tersebut dengan pendar mata yang mendadak berubah hangat dan lembut. Rasa lelah dan sisa-sisa amarah atas masa lalu seketika luntur, digantikan oleh kedamaian batin yang jernih.
Ranti mengetikkan balasan dengan senyuman tulus yang terukir manis di bibirnya:
"Selamat sore, Farhan. Terima kasih banyak. Bima pasti senang sekali kalau diajak jalan-jalan. Sampai ketemu di akhir pekan ya."
Ranti meletakkan ponselnya kembali, lalu mengangkat gelas champagne-nya tinggi-tinggi ke arah pemandangan senja Jakarta.
"Untuk hidup baru yang merdeka, indah, dan penuh kelimpahan," bisik Ranti pada dirinya sendiri.
Ranti meminum champagne-nya hingga tuntas. Badai telah berlalu secara mutlak. Mahkota kehidupannya telah kembali, lukanya telah menjelma menjadi karya seni yang indah, dan masa depan yang penuh cinta serta kejayaan telah membentang luas di hadapannya.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.