NovelToon NovelToon
Hutang Harta Berujung Cinta

Hutang Harta Berujung Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.

Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.

Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode *29

Setelah pertanyaan itu, suasana kembali hening. Hanya suara mesin mobil yang terdengar. Aulia yang menangis sesenggukan, kini hanya menangis dalam diam saja. Sampai taksi online yang Aulia tumpangi tiba ke rumah kembali, Aulia masih saja menangis.

"Ini, Pak. Terima kasih banyak," ucap Aulia menyodorkan uang pada si sopir.

Setelah itu, dia langsung meninggalkan taksi online tersebut dengan langkah lunglai. Hatinya yang sakit membuat jalan yang ia lalui terasa bergelombang. Karena itu, dia berjalan sangat lambat.

Mbok Yah yang sedari tadi mencari keberadaan Aulia pun segera menyongsong majikannya ketika melihat Aulia kembali. Tapi, saat melihat mata Aulia yang bengkak akibat menangis, si Mbok langsung cemas.

"Non Aulia kenapa, Non? Kenapa malah menangis sekarang? Apa yang terjadi?" Dengan nada cemas, Mbok Yah langsung menghujani Aulia dengan banyak pertanyaan.

"Mbok. Aku baik-baik saja. Tidak ada hal buruk kok."

"Tidak mungkin, Non. Jika tidak ada hal buruk, Non Aulia gak akan seperti ini. Non Aulia dari mana sih? Mbok cemas banget ketika pulang, Mbok tidak menemukan Non di rumah."

"Aku pergi ke hotel, Mbok. Melihat tontonan gratis yang sungguh luar biasa ... ah! Lupakan saja. Aku ingin segera ke kamar."

"Ta— tapi, Non. Non .... " Mbok Yah langsung menggantungkan kalimatnya. Dari nada bicara Aulia, dia langsung bisa menarik kesimpulan yang tidak enak untuk hatinya rasakan. Karena itu, Mbok Yah memilih untuk langsung menghubungi suaminya yang ia anggap sedang bersama Zihan.

Panggilan langsung terhubung setelah beberapa detik Mbok Yah melakukan panggilan. Karena telah mendengar suara suaminya menjawab, si Mbok langsung ngerocos tak karuan pada sang suami.

"Apa? Non Aulia sedih?"

"Iya, Pak. Non Aulia sedih banget barusan. Apa Bapak bisa bilang sama Den Zihan soal ini? Kalau bisa ... minta Den Zihan pulang sekarang. Kasihan Non Aulia. Seperti baru mendapat pukulan yang sangat berat dianya, Pak."

"Ee ... masalahnya, Den Zihan sedang tidak bersama aku, Buk. Dia sudah pergi sejak tadi. Sudah sangat lama. Tapi masih saja tidak kembali."

"Apa!? Bapak bicara apa barusan? Den Zihan tidak sedang bersama Bapak? Kok bisa sih, Pak? Kenapa Bapak tidak bareng sama si Den Zihan, ha? Bukannya biasa, Bapak selalu bareng dia, Pak."

"Ya Alloh, Buk. Bicaranya ya tenang dikit lah. Kita lagi ... ah, lagi bikin kerjaan besar ini. Makanya, gak bisa buat bareng-bareng di sini. Soalnya, biar cepat selesai gitu."

Hati Mbok Yah yang sudah merasa tidak enak, kini semakin bertambah tidak enak lagi. Firasatnya mengatakan kalau ada sesuatu yang tidak beres yang telah terjadi. Tapi sayangnya, dia tidak bisa menebak hal tersebut.

"Pak, hubungi Den Zihan sekarang juga. Ajak dia pulang! Jangan sampai ada masalah yang tidak beres karena aku merasa sangat-sangat cemas kalau gini ceritanya."

"Iya, Buk. Aku juga cemas sekarang ini. Tapi, aku sudah berusaha menghubungi si Den Zihan sejak tadi. Tapi sayangnya, tidak ada jawaban. Bahkan, aku juga sudah menghubungi Pak Toha. Tapi tetap sama saja. Mereka berdua sama-sama tidak menjawab panggilan dariku, Buk."

"Ya Alloh. Ini bahaya, Pak. Cepat cari Den Zihan. Ibuk merasa sangat-sangat cemas kalau gini ceritanya."

"Iya, Buk. Ini juga lagi nyari kok. Tapi, tolong jangan kasih tahu Non Aulia soal Den Zihan yang tidak ada bersama Bapak ya. Bapak takut dia cemas, lalu mikir yang nggak-nggak pula nantinya."

"Bapak tenang saja. Soal di rumah, biar Ibuk yang ngurus. Temukan saja Den Zihan secepatnya."

Dengan begitu, panggilan pun berakhir. Tapi, belum sempat Mbok Yah menarik napas karena telah menelpon sang suami, dia malah dikejutkan lagi dengan kemunculan Aulia yang datang dengan membawa koper ikut bersamanya.

Mbok Yah yang melihat Aulia menarik koper keluar dari rumah, tentu saja sangat terkejut luar biasa. Dengan wajah panik, si Mbok langsung menghadang majikannya.

"Apa ini, Non? Apa yang ingin Non Aulia lakukan? Mau ke mana, Non? Kenapa malah bawa koper segala?"

Aulia tidak langsung menjawab. Dia tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Dan juga, agar suara yang ingin ia keluarkan bisa terdengar dengan baik.

"Aku akan pergi untuk beberapa hari, Mbok. Ah, tidak. Bukan untuk beberapa hari, aku akan pergi dulu dari rumah ini. Karena pemilik rumah ini sudah membuat aku sakit hati."

"Apa maksudnya itu, Non? Jangan bicara yang tidak-tidak. Jangan pergi dari sini, Non. Non Aulia tidak bisa pergi dari sini karena .... "

"Karena aku adalah pelunas hutang ayahku, Mbok? Heh! Aku tahu hal itu, Mbok Yah. Tapi maaf, untuk sekarang, aku tidak bisa memikirkan status itu dulu. Karena aku sudah terlalu sakit hati."

"Non. Bukan itu maksud Mbok."

"Terserah Mbok mau bilang apa sekarang. Aku tidak akan mendengarkan apa yang Mbok katakan. Aku tetap akan pergi. Satu hal yang aku ingin katakan pada Mbok. Bilang sama majikan Mbok, jangan cari aku. Soal hutang ayahku, aku akan segera melunasinya."

"Tapi Non .... Jangan pergi, Non Aulia. Kasihan Den Zihan ..... "

Mbok Yah benar-benar tidak tahu harus apa sekarang. Karena dia benar-benar berada dalam kebingungan yang luar biasa. Masalah yang datang saat ini sangat di luar dugaan si Mbok. Datangnya malah bertubi-tubi lagi. Mana bisa ia berpikir jernih saat ini.

Sementara Aulia, setelah berucap kata-kata itu, dia malah langsung beranjak. Tak ia hiraukan lagi usaha si Mbok yang ingin mencegah kepergiannya. Bahkan, tangan si Mbok yang menahan tangannya pun ia lepaskan dengan cara yang terbilang agak kasar.

Aulia pun terus beranjak menuju taksi online yang sudah ada di depan gerbang rumahnya. Setelah Aulia masuk, taksi tersebut langsung berjalan dengan kecepatan pelan meninggalkan tempat sebelumnya. Suara Mbok Yah yang terus memanggil nama Aulia pun menjadi salam perpisahan yang terus terdengar semakin lama semakin jauh. Hingga akhirnya, hilang di telan kesibukan jalan raya.

Mbok Yah yang panik pun tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa terduduk lemas karena kepergian Aulia yang ia yakini akan membuat Zihan sangat sedih nantinya. Mana Zihan tidak ada di rumah ketika Aulia pergi. Harus bagaimana ia jelaskan soal kepergian itu nantinya?

Semua pikiran itu terus memenuhi benak Mbok Yah sekarang. Tak terasa, ia duduk di sana selama beberapa waktu hingga sebuah mobil masuk ke halaman rumah mereka.

Mobil yang sangat ia kenali dengan baik. Membuat si Mbok tidak ingin menunggu si penumpang turun lagi. Dengan cepat, ia langsung menghampiri mobil tersebut dengan wajah paniknya yang masih terlihat dengan jelas.

"Den Zihan. Ke mana saja, Den? Kenapa baru pulang sekarang, ha?" Si Mbok berucap sambil membuka pintu mobil tersebut dengan cepat.

1
sunaryati jarum
Sadar diri namanya buruk,takut jika usahanya tidak dilirik masyarakatnya karena citramu buruk.Cerdik juga.
sunaryati jarum
Baru mampir
Green_Rose: yuhu... moga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!