Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Jejak Kartu Nama di Kedai Kopi
Suasana interior kedai kopi minimalis itu begitu tenang, dibalut alunan musik instrumental lembut yang terputar samar-samar dari sudut ruangan. Bimo masih duduk terpaku di meja paling pojok, menyesap iced Americano milik-Nya yang kini tinggal menyisakan lelehan es batu di dasar gelas. Setelah hampir satu jam meratapi nasib dan menghindari kejaran orang tuanya soal ukuran baju pengantin, perut Bimo mendadak terasa mulas parah, efek gabungan dari kafein berlebih dan rasa cemas beruntun yang menyergapnya sejak pagi.
"Aduh, perut gue..." ringis Bimo seraya memegangi bagian bawah perutnya.
Bimo bangkit terburu-buru dari kursi kayunya, melangkah cepat menuju koridor kecil yang mengarah ke toilet di bagian belakang kedai. Di dalam ruang toilet yang harum wangi lavender itu, ia membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin dari keran, berusaha mengikis rona panik dan lelah yang masih tertinggal di area matanya.
"Duh, lumayan mendingan deh," gumam Bimo seraya mengeringkan wajah dan tangannya menggunakan beberapa helai tisu. Ia merapikan kaos oblong kusamnya yang agak terangkat, lalu memutar gagang pintu untuk melangkah keluar.
Pada saat yang bersamaan, di lorong kecil yang terlindung dari keramaian meja utama, Nadia Nugroho baru saja selesai menemui salah satu mitra bisnisnya secara informal. CEO muda Nugroho Group itu sengaja memilih kedai kopi yang sepi ini agar terhindar dari sorotan awak media atau gangguan staf kantor. Dengan mantel formal berwarna abu-abu yang membalut tubuh anggunnya dan kacamata hitam yang diselipkan elegan di atas kepalanya, Nadia melangkah seraya memeriksa lembar dokumen digital di layar ponsel pintarnya.
Bimo yang keluar dari pintu toilet dengan tergesa-gesa tanpa memperhatikan keadaan di depannya, mendadak menabrak bahu Nadia cukup keras.
BRUK!
"Aduh!" cetus Bimo refleks, tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang.
Sengatan benturan ringan itu membuat kunci mobil sedan putih yang sedang digenggam Bimo terlepas dari jemarinya. Kunci mobil bermerek itu jatuh meluncur ke atas lantai keramik dingin, terlempar beberapa sentimeter mendekati posisi kaki Nadia.
"Aduh, maaf ya, Mbak! Nggak sengaja, beneran!" ucap Bimo dengan nada santai seraya membungkukkan badannya sedikit sebagai gestur penyesalan.
Bimo sama sekali tidak mengenali siapa wanita elegan di depannya ini. Pada malam kencan perjodohan konyol di Kafe Merah, Arga lah yang menyamar dan menggantikan posisinya, sehingga Bimo secara fisik memang belum pernah bertatap muka langsung dengan sosok Nadia Nugroho. Bagi Bimo, wanita berparas jelita berwajah dingin di depannya hanyalah pengunjung kedai kopi biasa yang tidak sengaja ia tabrak.
Nadia menghentikan langkahnya, menatap Bimo dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai yang sangat tajam. Alis tipisnya yang terukir sempurna bertaut rapat. Sikap pria ini yang hanya mengenakan celana pendek santai, kaos oblong kusam bersablon kusam, serta gaya bicaranya yang terlalu santai membuat naluri ketegasan Nadia langsung bergejolak.
"Lain kali kalau jalan pakai mata," tegur Nadia dengan suara datar, dingin, dan penuh ketegasan khas seorang pimpinan tertinggi yang biasa memberi perintah.
"Iya, Mbak, maaf banget ya," balas Bimo seraya meringis canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Saya tadi agak buru-buru, enggak sempat merhatiin jalan."
Bimo segera membungkukkan badannya lebih rendah untuk memungut kunci mobilnya yang tergeletak di lantai keramik. Namun, tanpa disadari oleh Bimo yang bertubuh agak gempal dan mengenakan celana pendek bersaku longgar, gerakan membungkuk secara mendadak itu membuat selembar kartu nama berbahan kertas tebal yang menyelip di dalam saku celananya terdorong keluar dan jatuh persis di samping kunci mobilnya.
Bimo menyambar kunci mobilnya cepat-cepat, lalu berdiri kembali tanpa menyadari bahwa ada barang miliknya yang tertinggal di atas lantai.
"Sekali lagi maaf ya, Mbak. Permisi," kata Bimo lagi, memberikan anggukan singkat sebelum berjalan cepat melintasi lorong menuju area meja depan.
Nadia tidak membalas ucapan maaf tersebut. Matanya yang jeli justru tertuju pada selembar kartu nama persegi tebal berwarna putih mengilap dengan garis emas di pinggirannya yang kini tergeletak kesepian di lantai.
Nadia melangkah satu tindak ke depan, membungkuk anggun, lalu mengambil kartu nama tersebut dengan dua jemarinya yang lentik. Ia mengusap permukaan kertas tebal itu, lalu membalik posisinya untuk membaca tulisan berhuruf timbul yang tertera rapi di atasnya.
Mata Nadia seketika membelalak sempurna. Pupil matanya melebar saat membaca baris demi baris teks elegan yang tercetak jelas di atas kartu nama tersebut:
BIMO WIRA PERKASA Executive Director Wira Perkasa Group
Nadia membeku seketika di tempatnya berdiri. Keheningan melingkupi benaknya, menghentikan seluruh analisis bisnis yang tadinya berputar di kepalanya. Ia menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah pintu keluar kedai kopi, memandangi punggung pria bertubuh gempal berkaos kusam yang baru saja berjalan menuntun langkahnya menuju area parkir luar.
"Bimo...?" bisik Nadia sangat pelan, suaranya sarat akan rasa heran, kebingungan, dan ketidakpercayaan yang mendalam.
Nadia menatap kembali kartu nama di tangannya, membolak-balik kertas tebal itu berulang kali untuk memastikan tidak ada kesalahan cetak, pemalsuan, atau potensi penipuan. Nama yang tertera sangat jelas, Bimo Wira Perkasa, anak tunggal pemilik Wira Perkasa Group, pria yang dijodohkan dengannya dan sosok yang seharusnya ia temui di Kafe Merah dua malam lalu.
"Kalau pria yang barusan menabrak saya ini adalah Bimo Wira Perkasa yang asli..." gumam Nadia dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan berbahaya. "Lalu... siapa laki-laki tinggi tegap bermuka norak yang datang ke Kafe Merah malam itu dan menandatangani surat kesepakatan nikah atas nama Bimo?"
Rasa frustasi dan teka-teki yang menghantuinya sejak pagi di kantor, termasuk keanehan Satpam bermasker tebal bernama Arga, mendadak menemukan titik terang yang sangat mengejutkan. Nadia meremas pelan pinggiran kartu nama tebal itu, dadanya berombak naik turun menahan gumpalan rasa curiga yang kini berubah menjadi amarah tegar yang terkendali. Ia menyadari bahwa ada sebuah skenario penyamaran besar yang sedang dimainkan di balik jalannya rencana pernikahan kontrak ini, dan ia bersumpah akan membongkar seluruh permainan konyol tersebut sampai ke akar-akarnya.