Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran sang Ketua Komite
Suasana lobi utama Bank Sentral Perdagangan mendadak hening mencekam. Udara di sekitar meja resepsionis terasa begitu tegang hingga detak jarum jam dinding raksasa terdengar amat nyaring.
Petugas resepsionis wanita itu gemetar hebat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tangannya yang memegang gagang telepon bergetar kencang tatkala menekan tombol panggilan cepat menuju ruangan kerja lantai tiga puluh.
Maya berdiri terpana di samping Arka. Manik matanya menatap kartu hitam polos bertinta emas yang tergeletak di atas meja, lalu beralih menatap suaminya yang berdiri tegak dengan aura kepemimpinan tanpa tanding. Maya tahu Arka memiliki koneksi tingkat tinggi dengan konsorsium pusat, namun menyaksikan bagaimana sebuah kartu hitam polos sanggup membuat sistem perbankan raksasa bertekuk lutut tetap saja memberikan guncangan emosional yang amat dahsyat bagi dadanya.
Hanya dalam waktu kurang dari sembilan puluh detik, pintu lift privat berkaca gelap di ujung lobi terbuka kasar.
Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas mahal berwarna biru tua berlari terengah engah menyeberangi lantai marmer lobi. Kacamata berbingkai peraknya hampir merosot dari hidung, sementara dahinya dibasahi oleh cucuran keringat dingin yang melimpah.
Pria itu adalah Bambang Suroso, Ketua Komite Pengawasan Lembaga Keuangan yang tadinya bersikap angkuh di balik meja kerjanya.
Di belakang Bambang, tiga orang direktur eksekutif bank ikut berlari dengan raut wajah pucat pasi bagaikan mayat.
"Dimana?! Dimana Pemegang Kartu Hitam Utama?!" jerit Bambang dengan suara serak yang dipenuhi ketakutan luar biasa.
Petugas resepsionis dengan jemari gemetar menunjuk ke arah Arka yang berdiri tenang di hadapan meja.
Bambang Suroso menghentikan langkahnya mendadak. Matanya membelalak lebar tatkala menatap sosok Arka. Sebagai salah satu pejabat keuangan tingkat atas yang dibesarkan oleh trah Keluarga Wijaya di ibu kota, Bambang tentu pernah melihat foto rahasia pimpinan tertinggi yang hanya beredar di kalangan dewan pembina tingkat satu—foto milik sang Executive Chairman Konsorsium Nusantara Group!
Brak!
Seluruh persendian di kaki Bambang mendadak kehilangan tenaga. Pria tambun itu tersungkur berlutut tepat di atas lantai marmer lobi, menghantamkan kedua lututnya tanpa peduli pada tatapan terpana dari puluhan nasabah dan karyawan bank yang berada di sekeliling mereka.
Tiga direktur eksekutif di belakangnya ikut membelalakkan mata kaget, berburu buru membungkukkan tubuh mereka sembilan puluh derajat ke arah Arka.
"Tuan... Yang Mulia!" jerit Bambang dengan suara bergetar ketakutan setengah mati. "Ampuni saya! Saya tidak tahu jika Anda sendiri yang hadir di gedung ini!"
Maya membelalakkan matanya dengan napas tertahan melihat pemandangan ajaib tersebut. Seorang Ketua Komite Pengawasan bank swasta terbesar di negeri ini berlutut di lantai lobi hanya untuk menyambut suaminya!
Arka mengambil kembali kartu hitam polos dari atas meja resepsionis, memasukkannya kembali ke saku jasnya dengan gerakan yang sangat rapi.
Arka melangkah mendekati Bambang Suroso yang sedang bersujud di tanah. Pria berkemeja putih itu menundukkan pandangannya, menatap Bambang dengan iris mata yang dingin tanpa ampun.
"Bambang Suroso," panggil Arka dengan suara pelan namun sarat akan tekanan hukum yang tidak bisa dibantah. "Kamu menggunakan wewenang komitemu secara ilegal untuk memblokir rekening operasional Wibowo Group atas perintah sisa sisa jaringan Keluarga Wijaya di ibu kota."
Bambang menelan ludah yang terasa bagaikan duri tajam. Keringat dingin terus menetes dari dagunya ke atas marmer.
"Saya... saya dijebak, Yang Mulia!" cicit Bambang mencoba membela diri dengan suara menyerapah. "Keluarga Wijaya yang menekan saya untuk menandatangani surat pemblokiran itu! Saya tidak berani menolak perintah mereka!"
"Kamu tidak berani menolak perintah musang kotor," kata Arka dengan nada suara sangat datar, "tapi kamu berani menyentuh rekening proyek milik istriku."
Brak!
Kata 'istriku' yang diucapkan Arka dengan begitu tegas bagaikan hantaman gada raksasa yang meremukkan seluruh harapan hidup Bambang Suroso.
Bambang menoleh menatap Maya yang berdiri di samping Arka. Pria tambun itu kini sadar sepenuhnya bahwa wanita yang dicoba dihancurkannya atas perintah Keluarga Wijaya adalah Permaisuri Utama dari sang Penguasa Puncak!
"Nona Maya... Nona Maya Wibowo!" jerit Bambang seraya merangkak mendekati kaki Maya dengan wajah penuh penyesalan sengsara. "Tolong ampuni saya! Saya akan segera mencabut surat pemblokiran itu detik ini juga! Saya akan melipatgandakan limit kredit Wibowo Group sepuluh kali lipat!"
Maya menatap Bambang dengan pandangan dingin dan bermartabat. Keberadaan Arka yang berdiri tegap di sisinya membakar habis seluruh sisa rasa cemas yang sempat meragukan langkahnya.
"Pengawasan keuangan harus didasari oleh integritas dan kejujuran hukum, Pak Bambang," jawab Maya tegas. "Bukan atas dasar pesanan politik atau dendam pribadi."
Arka melirik ke arah salah satu direktur eksekutif bank yang berdiri gemetar di samping Bambang.
"Direktur Utama," panggil Arka pendek.
Direktur eksekutif itu melangkah maju dengan tubuh membungkuk penuh rasa hormat. "Siap, Yang Mulia! Mohon petunjuk Anda!"
"Detik ini juga," perintah Arka dengan suara yang menggema di seluruh lobi, "copot seluruh jabatan Bambang Suroso dari Komite Pengawasan. Bekukan seluruh aset pribadinya untuk dilakukan audit investigasi oleh KPK, dan serahkan dia ke Pengadilan Kejahatan Perbankan."
"Siap, laksanakan Yang Mulia!" jawab Direktur Utama tanpa ragu sedikit pun.
"Tidak! Jangan! Ampuni saya, Yang Mulia!" jerit Bambang histeris tatkala dua orang petugas keamanan internal bank memegang kedua tangannya, menyeret tubuh tambun itu keluar dari lobi menuju mobil tahanan.
Lobi bank kembali hening. Seluruh karyawan dan direksi membungkuk hormat tatkala Arka merengkuh lembut jemari Maya, membawanya melangkah kembali menuju pintu keluar.
Direktur Utama bank berburu buru menyerahkan sebuah map emas baru ke tangan Maya sebelum mereka melangkah keluar dari pintu kaca.
"Nona Maya," kata Direktur Utama dengan senyum paling ramah dan penuh penghormatan. "Rekening operasional Wibowo Group telah dibuka kembali secara permanen dengan status Nasabah Prioritas Utama Konsorsium. Seluruh fasilitas transaksi tanpa batas telah diaktifkan."
Maya menerima map emas tersebut dengan senyuman anggun. "Terima kasih."
Di dalam mobil sedan putih yang sedang melaju tenang menyusuri jalanan kota.
Maya duduk di kursi penumpang, memeluk map emas di dadanya. Matanya tak henti hentinya menatap profil samping wajah Arka yang sedang mengemudi dengan sangat tenang.
"Arka," panggil Maya pelan.
"Iya, Maya?"
"Hari ini... kamu sekali lagi membuktikan bahwa kamu adalah perisai paling kokoh dalam hidupku," ujar Maya tulus. Matanya memancarkan benih benih cinta dan rasa percaya yang kini telah mengakar sepenuhnya di dalam jiwanya.
Arka menoleh sejenak, mengulas senyum tipisnya yang hangat. Ia mengusap jemari Maya dengan tangan kirinya.
"Tugasku adalah memastikan kamu bisa terbang tinggi tanpa perlu takut pada badai apa pun, Maya," sahut Arka lembut.
Maya tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu kiri Arka seraya menikmati kehangatan perjalanan pulang mereka.
Namun di balik ketenangan tersebut, ponsel khusus Arka di dalam saku jasnya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari Pasukan Bayangan di ibu kota:
‘Laporan Yang Mulia: Pemimpin tertinggi Keluarga Wijaya pusat telah mengumpulkan seluruh fraksi oposisi di ibu kota. Mereka merencanakan perjamuan jebakan untuk menjebak Nona Maya di Puncak Gedung Ibu Kota minggu depan.’
Arka menyipitkan matanya rapat rapat. Iris matanya memancarkan kilatan aura pembunuh yang amat pekat.
‘Perjamuan jebakan?’ batin Arka dingin. ‘Kalau begitu, ini saatnya aku membawa istriku ke ibu kota untuk meratakan seluruh markas pengkhianat.’
itu.