NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Tamu Tak Diundang

Pria di sebelah kiri bergerak lebih dulu. Aira sudah menunggu. Dia menepis tangan yang meraihnya, menusukkan pisau ke paha lawan, lalu memutar tubuh dan menendang dada pria kedua hingga terbanting ke lemari plastik. Lemari itu roboh dengan bunyi keras.

Pria tegap mengeluarkan pistol. Aira sudah berlari ke depan sebelum senjata itu terangkat sempurna. Dia menepis lengan pria itu, memutar pergelangan tangan, dan merebut pistolnya dalam satu gerakan. Dalam sekejap, moncong pistol sudah mengarah ke dahi lawannya.

“Suruh teman-temanmu keluar,” kata Aira pelan. “Atau saya tembak lututmu sekarang.”

Pria itu menatapnya dengan mata dingin. “Kamu masih sama cepatnya.”

“Saya lebih lapar sekarang. Jadi lebih berbahaya.”

Tiba-tiba suara sirene terdengar dari kejauhan. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat keempat pria itu saling berpandangan.

Pria tegap mengangkat tangan. “Kita mundur dulu. Tapi ini belum selesai, Aira. Bos baru sangat ingin bertemu denganmu.”

Mereka keluar dengan cepat, membawa teman yang terluka. Aira menunggu sampai suara mobil menjauh, lalu baru menurunkan pistol. Dia mengeluarkan peluru satu per satu dan membuangnya ke tempat sampah, lalu menyembunyikan pistol kosong di bawah papan lantai yang sudah longgar.

Napasnya masih stabil, tapi tangannya sedikit gemetar karena marah. Masa lalu memang tidak pernah benar-benar mati. Meski dia sudah mencoba menguburnya. Aira duduk di kasur, menatap lantai. Uang di saku jaketnya masih utuh. Tapi tiba-tiba uang itu terasa tidak cukup.

Beberapa menit kemudian, ketukan pelan terdengar di jendela belakang. “Aira. Saya masih di sini.”

Aira membuka jendela. Raka memanjat masuk dengan wajah tegang. “Saya tidak lari jauh. Saya tunggu di gang. Kamu baik-baik saja?”

“Baik.”

“Mereka siapa?”

Aira terdiam lama. Lalu menjawab singkat, “Orang yang seharusnya sudah lupa saya pernah hidup.”

Raka duduk di lantai di depannya. “Aira. Biar saya bantu. Saya punya orang. Saya bisa—”

“Tidak.” Aira menatapnya tajam. “Semakin banyak orang tahu, semakin berbahaya. Untuk kamu juga.”

Raka menggigit bibir. “Saya tidak peduli.”

“Saya peduli. Karena kalau kamu mati karena saya, saya tidak dapat untung apa-apa. Malah rugi. Kamu sering memberi saya makanan gratis.”

Raka terdiam, lalu tiba-tiba tertawa pelan meski wajahnya masih tegang. “Kamu benar-benar… tidak ada duanya.”

Aira berdiri dan mengambil jaketnya. “Saya harus pindah kost. Malam ini juga. Tempat ini sudah tidak aman.”

“Saya punya apartemen kosong di pusat kota. Kamu bisa—”

“Tidak. Terlalu mewah. Orang akan curiga.” Aira memasukkan pakaiannya yang sedikit itu ke dalam tas plastik besar. “Saya cari kost lain yang lebih murah dan lebih tersembunyi.”

Raka menghela napas panjang. “Baik. Tapi saya antar.”

“Boleh. Tapi bensin tetap kamu yang bayar.”

Raka tersenyum kecil. “Deal.”

Sementara Aira membereskan barang-barangnya, di luar kost yang sudah sepi, seorang pria lain berdiri di kejauhan. Dia mengenakan seragam tentara lengkap, wajahnya tegas, dan matanya menatap ke arah jendela kamar Aira dengan tajam.

Dia menekan tombol di earpiece-nya. “Target dikonfirmasi. Mantan anggota organisasi hitam yang sudah lama hilang. Namanya Aira. Dia masih hidup, dan dia baru saja bertarung dengan orang-orang lama.”

Suara di seberang menjawab, “Amankan. Jangan biarkan dia kabur lagi. Kalau perlu, tembak untuk melumpuhkan.”

Pria tentara itu mengangguk pelan, matanya tidak berkedip. “Siap.”

Aira duduk di belakang motor Raka dengan tas plastik berisi seluruh hartanya digenggam erat. Angin malam menerpa wajahnya. Mereka sudah meninggalkan kost lama sejak dua jam yang lalu, berputar-putar di jalanan kota agar tidak diikuti.

“Sudah cukup jauh,” kata Aira. “Turunkan saya di sini.”

Raka memperlambat motor. “Di mana di sini? Ini daerah gudang tua.”

“Tepat. Murah dan sepi. Cocok.”

Raka menoleh sedikit. “Aira, kamu tidak bisa terus tinggal di tempat seperti ini. Orang-orang tadi jelas bukan preman biasa.”

“Saya tahu. Makanya saya pindah. Sekarang turunkan saya.”

Raka menghela napas panjang, lalu memarkir motor di pinggir jalan yang gelap. Aira turun dan segera berjalan menuju deretan rumah petak yang terlihat lebih kumuh dari kost sebelumnya. Raka menyusul.

“Saya tunggu sampai kamu dapat kamar.”

“Tidak perlu.”

“Saya tunggu.”

Aira tidak membantah lagi. Dia terlalu lelah untuk berdebat. Setelah berbicara dengan pemilik rumah petak yang setengah mengantuk, dia mendapat kamar di lantai dua dengan harga jauh lebih murah. Cat temboknya mengelupas lebih parah, dan baunya lebih lembap, tapi Aira puas.

Begitu kunci ada di tangannya, dia menoleh ke Raka. “Sudah. Pulang.”

Raka masih berdiri di depan pintu. “Aira… kalau mereka datang lagi—”

“Saya urus sendiri. Kamu sudah terlalu sering muncul. Itu berbahaya untuk kamu.”

Raka terdiam, lalu mengangguk pelan. “Baik. Tapi nomor saya sudah ada di ponselmu. Telepon kalau butuh apa pun.”

“Saya jarang isi pulsa.”

“Kalau begitu, datang saja ke tempat latihan saya. Saya kasih makan.”

Aira menatapnya datar. “Pulang, Raka.”

Raka akhirnya pergi. Aira menunggu sampai suara motornya benar-benar menghilang, lalu masuk ke kamar baru dan mengunci pintu dengan dua gembok yang dia bawa dari kost lama.

Dia baru saja meletakkan tas ketika suara langkah kaki terdengar di tangga kayu. Langkah itu terlalu teratur, berat, dan disiplin. Aira mematikan lampu dan berdiri di belakang pintu, pisau lipat sudah siap di tangan.

Ketukan terdengar.

“Aira. Saya tahu kamu di dalam. Saya tidak datang untuk membunuh.” Suara laki-laki, tegas, relatif muda.

Aira tidak menjawab.

“Saya Letnan Reza dari satuan khusus. Saya ditugaskan membawa kamu untuk dimintai keterangan terkait arena ilegal dan organisasi yang tadi datang ke kostmu.”

Aira mengerutkan kening. "Tentara?"

“Buka pintu. Kalau kamu tidak melawan, saya jamin tidak ada tembakan.”

Aira menghela napas pelan. Dia membuka satu gembok, lalu membuka pintu hanya selebar sepuluh sentimeter. Di luar berdiri pria berwajah tegas, rambut cepak, tubuh tegap dalam jaket hitam biasa. Matanya tajam dan tidak berkedip.

“Tunjukkan surat tugas,” kata Aira.

Reza mengulurkan ponsel yang menampilkan identitas resmi. Aira memeriksa cepat, lalu mengangguk. “Masuk. Tapi jangan sentuh barang saya.”

Reza masuk. Kamar langsung terasa lebih sempit. Dia berdiri di tengah ruangan, menatap Aira dari ujung rambut sampai ujung sepatu bot.

“Kamu lebih kecil dari yang saya bayangkan,” katanya.

“Saya juga tidak membayangkan tentara datang ke kamar kost jam segini. Langsung saja. Apa maumu?”

“Kamu dilacak karena dua alasan. Pertama, arena ilegal yang kamu ikuti sudah lama masuk radar kami. Kedua, orang-orang yang datang tadi adalah sisa-sisa organisasi hitam yang sudah kami kejar selama tiga tahun. Dan kamu… adalah mantan anggota mereka yang paling dicari.”

Aira menatapnya datar. “Saya sudah keluar sejak lama. Saya hanya bertarung untuk uang. Tidak lebih.”

“Saya percaya. Tapi atasan saya tidak. Mereka ingin kamu dibawa untuk dimintai keterangan. Kalau perlu, ditahan sementara.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!