NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyihir Muda yang Terpojok

Suara hantaman batu bergemuruh keras diiringi jeritan tangis ketus menggema di seluruh penjuru aula bawah tanah, menyambut Laskar Cakra begitu mereka menjejakkan kaki di anak tangga terakhir menuju lantai sepuluh yang gelap dan mencekam.

Cahaya obor raksasa yang tertancap di dinding memperlihatkan ruangan yang jauh lebih luas dari sembilan lantai sebelumnya, langit-langitnya menjulang tinggi ditopang pilar-pilar batu kuno, sebagian di antaranya sudah runtuh berantakan, pecahannya berserakan di lantai bagai sisa gempa dahsyat. Debu masih mengambang tipis di udara, menandakan kehancuran itu baru saja terjadi tidak lama sebelum mereka bertiga tiba di tempat ini. Bau tanah dan batu yang hancur bercampur dengan sesuatu yang lebih tajam, aroma ketakutan yang seolah bisa dicium jelas di seluruh penjuru ruangan.

"Di sana!" seru Larasati, menunjuk ke sudut ruangan yang gelap, matanya terbelalak begitu menangkap sosok kecil yang meringkuk di antara reruntuhan batu.

Di antara reruntuhan pilar yang membentuk semacam kurungan alami, seorang gadis kecil berambut pendek tampak meringkuk ketakutan, tubuhnya gemetar hebat, tangannya menutupi kepala seolah berharap gerakan sekecil itu bisa melindunginya dari bahaya yang jauh lebih besar dari dirinya. Pakaiannya yang sederhana sudah robek di beberapa bagian, lengannya penuh goresan kecil bekas serpihan batu yang berhamburan akibat amukan monster di dekatnya.

Di hadapan gadis itu, berdiri sesosok raksasa mengerikan, jauh lebih besar dari Gandaru yang mereka tumbangkan di sembilan lantai sebelumnya. Kulitnya kehijauan pucat, ototnya menonjol kasar di sekujur tubuh, matanya menyala merah menyala penuh amarah membabi buta. Di tangannya tergenggam sebuah gada batu raksasa, cukup besar untuk meratakan tubuh manusia dalam sekali hantaman. Bau amis darah entah dari korban sebelumnya masih tercium samar di sekitar tubuh besar itu, menambah kesan mengerikan pada sosok yang sudah cukup menakutkan hanya dari ukurannya saja.

"Gandaruka," bisik Sekar, suaranya tegang menyaksikan boss lantai sepuluh yang sudah membuat tiga pemburu senior lari terbirit-birit itu. Ia mengingat kembali peringatan mereka, betapa mengerikan cerita yang baru saja diucapkan ketiga pria itu, dan kini menyaksikannya sendiri dengan mata kepalanya sendiri membuat perutnya terasa mual.

Gadis kecil di sudut ruangan itu menjerit lagi, suaranya serak menahan tangis yang sudah lama tumpah, matanya terpejam rapat seolah tidak sanggup lagi menyaksikan maut yang mendekat. Rambut pendeknya yang berantakan menempel di dahinya yang basah oleh keringat dan air mata, tubuhnya menyusut sekecil mungkin di celah sempit antara dua bongkahan batu.

Gandaruka mengangkat gada batunya tinggi-tinggi, ototnya berkontraksi bersiap melancarkan hantaman yang jelas akan mengakhiri nyawa gadis malang itu dalam sekejap. Bayangan gada raksasa itu jatuh menutupi tubuh mungil sang gadis, gelap total, seolah sudah menjadi peti mati sebelum pukulan itu benar-benar mendarat.

"SEKAR!" Larasati berteriak panik, menyadari betapa dekatnya waktu yang tersisa, tangannya sudah bergerak otomatis mengangkat tongkat sihirnya.

"Buff kecepatan, sekarang!" perintah Sekar, sudah melompat maju bahkan sebelum kalimatnya selesai terucap, otot kakinya berkontraksi mempersiapkan lompatan sejauh mungkin.

Larasati tidak membuang waktu, mengalirkan seluruh konsentrasinya ke ujung tongkat sihir, melepaskan pancaran cahaya keperakan yang menyelimuti tubuh Sekar dalam sekejap, memberikan dorongan kecepatan maksimal yang jauh melampaui batas kemampuan fisik normal. Keringat dingin sudah membasahi dahinya, tanda betapa besar energi yang harus ia kerahkan untuk buff sekuat itu dalam waktu sesingkat mungkin.

Galih berdiri mematung sesaat, matanya terpaku pada gadis kecil yang wajahnya masih basah oleh air mata, tubuhnya yang mungil terlihat begitu rapuh di hadapan monster raksasa yang siap menghancurkannya. Sesuatu bergolak hebat di dalam dadanya, gelombang perasaan melindungi yang begitu kuat, mengingatkannya pada dirinya sendiri yang dulu pernah terjebak sendirian dan ketakutan di dunia asing ini, dikejar Tuyakra tanpa ada siapa pun yang bisa menolongnya sampai Ki Wira datang menyelamatkannya di detik terakhir.

"Dia masih anak-anak," gumam Galih, suaranya bergetar menahan amarah yang tiba-tiba muncul entah dari mana. "Kenapa ada anak sekecil itu sendirian di sini? Siapa yang tega membiarkan dia masuk ke tempat berbahaya seperti ini seorang diri?"

Namun tidak ada waktu untuk mencari jawaban. Gada batu Gandaruka sudah meluncur turun, mengarah lurus ke tubuh mungil yang meringkuk pasrah di sudut reruntuhan.

Sekar, dengan kecepatan yang jauh melampaui apa pun yang pernah ia capai sebelumnya, melesat seperti kilat menembus jarak yang memisahkannya dari Gandaruka. Bayangannya nyaris tak terlihat mata biasa, hanya jejak cahaya samar yang tertinggal di udara akibat kecepatan luar biasa yang diberikan buff Larasati. Bahkan Galih, yang sudah terbiasa menyaksikan kehebatan Sekar berbulan-bulan terakhir, harus mengerjapkan mata memastikan penglihatannya tidak berbohong padanya.

Tepat sepersekian detik sebelum gada itu menghantam tanah tempat gadis kecil itu berlindung, Sekar melompat tinggi, menerjang punggung Gandaruka dengan tebasan parang yang keras, memaksa makhluk raksasa itu mengalihkan arah serangannya, membelokkan hantaman gada yang tadinya mengarah pada gadis kecil menjadi menghantam lantai batu kosong di sampingnya. Getaran dari benturan itu terasa hingga ke telapak kaki Galih yang masih berdiri jauh di seberang ruangan, cukup kuat untuk membuatnya sedikit terhuyung ke belakang.

Debu dan serpihan batu beterbangan akibat benturan dahsyat itu, menciptakan gemuruh yang menggetarkan seluruh ruangan, membuat beberapa bongkahan kecil dari langit-langit ikut berjatuhan menambah kekacauan yang sudah ada di sekeliling mereka.

Gandaruka meraung marah, berbalik cepat menghadapi Sekar yang kini berdiri di antara dirinya dan gadis kecil yang masih terpaku ketakutan, matanya membelalak lebar menyaksikan sosok asing yang baru saja menyelamatkan nyawanya dengan begitu berani. Suara raungan itu bergema keras memenuhi seluruh aula, membuat sisa reruntuhan di sekitar pilar semakin bergetar rapuh.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sekar cepat, tidak berani melepaskan pandangan dari Gandaruka yang kini mengamuk lebih ganas, seolah kehilangan mangsa membuatnya semakin murka. Suaranya tetap tegas meski napasnya sedikit tersengal akibat kecepatan luar biasa yang baru saja ia gunakan.

Gadis kecil itu hanya bisa mengangguk gemetar, matanya masih berkaca-kaca, terlalu syok untuk mengucapkan kata-kata yang berarti, tubuhnya masih terpaku di tempatnya tanpa berani bergerak sedikit pun.

Galih dan Larasati berlari mendekat, bersiap membentuk formasi baru untuk melindungi gadis yang baru saja mereka selamatkan sekaligus menghadapi amukan Gandaruka yang kini sepenuhnya terfokus pada Sekar, tubuhnya yang besar bergetar hebat oleh amarah yang membara, gada batunya kembali terangkat tinggi, siap melancarkan hantaman kedua yang jauh lebih ganas dari sebelumnya. Larasati sudah bersiap mengangkat tongkatnya lagi, matanya awas mencari kesempatan untuk melepaskan buff pertahanan tambahan pada Sekar yang kini berdiri sendirian menghadapi murka penuh sang boss lantai sepuluh.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!