Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Pengangkatan Rahim
Sore itu langit Jombang mendung sekali. Bukan mendung hujan, tapi mendung yang berat, yang bikin dada sesak.
Jam 3 sore, mobil Innova hitam milik ndalem sudah standby di depan pendopo Darunnajah. Mesinnya sudah dipanasi oleh Kang Santri.
Di dalam ndalem, Ning Ummah duduk di pinggir ranjang. Sudah pakai gamis hitam polos, kerudung hitam. Wajahnya pucat pasi, bibirnya pecah-pecah karena dari semalam tidak mau makan. Hanya minum air putih.
Aku dan Ning Latifah mengapitnya. Kanan kiri.
Aku hamil 6 minggu, masih mual berat, tapi aku tahan. Tangan kananku memegang tangan Ning Ummah yang dingin. Ning Latifah di sebelah kiri, memegang tas kecil berisi mukena dan surat-surat rumah sakit.
Gus Azam masuk. Pakai koko putih dan peci hitam. Matanya merah, semalam dia tidak tidur. Dia lihat kami bertiga, tiga istrinya yang saling berpelukan.
"Ummah... Piah... Latifah... sudah siap?" suaranya pelan, bergetar.
Ning Ummah mengangguk lemah, "Bismillah ya Gus... Ummah siap."
Gus Azam jongkok di depan Ning Ummah, mencium tangan Ning Ummah lama sekali.
"Ummah yang kuat ya... Gus ada di sini, Piah ada, Latifah ada... kita semua nungguin Ummah di depan pintu operasi."
Ning Ummah tersenyum, senyum yang paling pucat yang pernah aku lihat. "Kalau Ummah tidak bangun lagi gimana Gus?"
Seketika aku dan Ning Latifah menjerit pelan, "Ning Ummah jangan ngomong gitu!"
Gus Azam memeluk Ning Ummah erat, bahunya bergetar.
"Jangan ngomong gitu Ummah... Ummah janji sama Gus mau lihat anaknya Piah lahir kan? Ummah janji mau gendong cucu pertama Darunnajah kan?"
Ning Ummah mengusap kepala Gus Azam, "Iya Gus... Ummah janji..."
Perjalanan yang seharusnya 40 menit ke rumah sakit kota terasa seperti 40 jam.
Innova berjalan sangat pelan. Pelan sekali. Gus Azam menyetir seperti sedang membawa kaca yang akan pecah.
Setiap ada polisi tidur, Gus Azam berhenti dulu, melihat ke spion tengah.
"Gus pelan Gus, Ummah kesakitan," bisik Ning Latifah dari jok tengah.
Aku lihat Ning Ummah, kepalanya bersandar di bahuku. Keringat dingin di dahinya. Tangannya meremas tanganku kuat sekali setiap mobil guncang sedikit.
"Piah... perut Ummah sakit Piah..." bisiknya di telingaku.
Aku yang lagi hamil muda, yang perutnya juga kram karena mual, langsung mengelus perut Ning Ummah pelan, di atas rahimnya yang hari ini akan diangkat.
"Sabar ya Ning... bentar lagi sampai... bentar lagi sakitnya hilang ya Ning..."
Ning Latifah tidak bisa tahan, dia menangis di sebelah Ning Ummah sambil baca sholawat pelan-pelan.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad..."
Aku ikut baca, Gus Azam di depan ikut baca sambil setir, suaranya pecah.
Di spion tengah, aku lihat mata Gus Azam. Dia melihat kami bertiga dari spion. Tiga perempuan yang dia cintai dengan cara yang berbeda. Satu istri pertamanya yang sedang berjuang antara hidup dan mati, satu istri ketiga yang sedang mengandung calon darah dagingnya, satu istri kedua yang setia menemani.
Mobil berhenti di lampu merah Mojoagung.
Ning Ummah tiba-tiba membuka mata, menatap aku dan Ning Latifah bergantian.
"Piah... Latifah... kalau nanti di dalam operasi Ummah tidak kuat... tolong jaga pesantren ya... tolong jaga Gus Azam ya..."
"Ning Ummah jangan ngomong gitu lagi!" Ning Latifah memeluk Ning Ummah, menangis kencang.
Aku tidak bisa menahan mual ku lagi. Karena stres, perutku yang 6 minggu itu bergejolak. Aku muntah, tapi tidak ada yang keluar, hanya air. Ning Ummah yang sedang kesakitan, malah mengusap punggungku.
"Piah hamilnya berat ya... kasihan... masih mual masih harus nganter Ummah..."
Momen itu Meyy, di dalam Innova yang pelan itu, kami bertiga saling menguatkan dengan cara yang paling sakit.
Istri pertama yang akan kehilangan rahimnya, mengkhawatirkan istri ketiga yang sedang berjuang dengan calon janinnya.
Akhirnya sampai di RSUD Jombang kota.
Tim dokter sudah menunggu di IGD. Brankar didorong cepat.
Ning Ummah dipindahkan ke brankar. Sebelum masuk lift, dia tarik tangan Gus Azam, tangan aku, tangan Ning Latifah, digenggam jadi satu di atas perutnya.
"Gus... Piah... Latifah... doakan Ummah ya..."
Lalu pintu lift tertutup.
Gus Azam lari lewat tangga ke lantai 2 ruang operasi, di susul aku yang jalan perlahan bersama Ning Latifah yang setia menemani bumil ini.
Di depan ruang operasi yang dingin, lampu merah besar bertuliskan OPERASI BERLANGSUNG menyala.
Kami berempat duduk di kursi besi yang dingin. Gus Azam di tengah, aku di kanan Gus, Ning Latifah di kiri Gus. Kami bertiga bersandar di bahu Gus Azam.
Tidak ada yang bicara. Hanya ada suara jam dinding.
Detik jam itu seperti pisau.
Jam 4 sore operasi dimulai.
Jam 4.15... Ning Latifah sudah wudhu di mushola kecil dan sholat hajat di pojokan.
Jam 4.45... aku muntah lagi di toilet karena cium bau obat rumah sakit.
Jam 5.15... Gus Azam mondar-mandir, pecinya sudah dilepas, rambutnya berantakan. Dia telepon Abah di Tebuireng minta doa dari santri se-pesantren.
Jam 5.45... pintu operasi terbuka sedikit, suster keluar bawa kantong darah.
"Butuh tambahan darah B, keluarga ada yang golongan darah B?" tanya suster cepat.
Gus Azam langsung berdiri, "Saya B! Saya B Sus! Ambil darah saya!"
Aku dan Ning Latifah pucat, golongan darah kami bukan B.
Gus Azam ditarik ke ruang donor, diambil darahnya 2 kantong.
Dia kembali dengan kapas di lengan, wajahnya lebih pucat dari Ning Ummah tadi.
Jam 6.30... adzan maghrib berkumandang dari masjid RS.
Kami tidak sholat. Kami tidak bisa meninggalkan pintu itu.
Ning Latifah menggelar mukena di depan pintu operasi dan sholat maghrib di situ, sambil menangis di atas sajadah.
"Ya Allah selamatkan Ning Ummah Ya Allah..."
Aku peluk Gus Azam dari samping, perutku yang masih rata menempel di lengan Gus Azam.
"Gus... Ning Ummah kok lama ya Gus... Piah takut..."
Gus Azam mencium keningku, kening Ning Latifah bergantian.
"Doa Piah... doa Latifah... janin Piah juga doain Ummah ya..."
Jam 7.10 malam.
Lampu merah OPERASI BERLANGSUNG mati.
Pintu terbuka.
Dokter keluar dengan baju operasi penuh darah. Wajahnya lelah.
Kami berempat langsung berdiri, hampir jatuh.
"Dok... istri saya... Ning Ummah gimana Dok?" Gus Azam suaranya hampir tidak keluar.
Dokter itu membuka maskernya, tersenyum tipis.
"Alhamdulillah... operasinya berhasil... pengangkatan rahimnya berhasil, kankernya sudah kami angkat bersih... Ning Ummah selamat... tapi beliau masih belum sadar, masih di ruang pemulihan... 2 jam lagi baru boleh dijenguk..."
Waktu berhenti.
Ning Latifah langsung sujud syukur di lantai rumah sakit yang dingin itu.
Aku menangis kencang, memeluk Gus Azam, perutku yang ada calon santri 6 minggu itu ikut bergetar karena tangisku.
Gus Azam? Gus Azam yang gagah itu langsung terduduk di lantai, menangis seperti anak kecil, memeluk kaki kursi.
"Alhamdulillah Ya Allah... terima kasih Ya Allah... Ummah selamat..."
Dua istri memeluk satu suami di depan ruang operasi.
Hari itu, di rumah sakit kota Jombang, kami kehilangan sebuah rahim, tapi Allah masih memberikan kami seorang Ning Ummah.
Dan di dalam perutku, calon santri kecil 6 minggu itu bergerak pelan, seakan ikut bersyukur karena Nenek Ummahnya masih diberi nafas.
---Bersambung----