Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksi Brutal Sang Pelakor
Sepasang mata Viola terus mengikuti setiap pergerakan Evita yang baru saja keluar dari ruang auditorium bersama beberapa asisten dosen, berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju ruang dosen.
Sesi kelas telah usai, dan suasana koridor perlahan mulai sepi karena para mahasiswa berhamburan menuju kantin dan area parkir. Ini adalah kesempatan emas yang sudah ditunggu-tunggu oleh Viola sejak pagi.
Dengan langkah pelan namun mematikan, Viola mendorong troli kebersihannya mengikuti dari arah belakang, menjaga jarak aman agar tidak mencurigakan, sementara tatapan matanya terus menghujam tajam punggung Evita yang berjalan anggun mengenakan blazer abu-abunya.
Evita berjalan santai sambil membawa beberapa berkas makalah mahasiswa di tangan kirinya. Ia merasa ada sekelebat bayangan yang mengikutinya dari belakang, namun ia tidak terlalu ambil pusing, mengira itu hanyalah petugas kebersihan biasa yang sedang merapikan koridor.
"Profesor Evita, berkas nilai ujian tengah semester nanti sore akan saya letakkan di meja kerja Ibu ya," ujar salah seorang asisten dosen wanita yang berjalan di samping Evita.
"Baik, Siska. Terima kasih banyak atas bantuannya," jawab Evita tersenyum lembut.
"Kalau begitu, saya duluan ke lantai bawah ya, Prof. Permisi."
"Silakan, Siska."
Asisten dosen itu berbelok arah menuju lift utama di ujung koridor, meninggalkan Evita berjalan seorang diri menuju ujung lorong sayap timur tempat ruang dosen berada. Di ujung lorong tersebut terdapat sebuah pintu akses khusus menuju tangga darurat kebakaran gedung—sebuah area tertutup yang jarang dilalui orang pada siang hari.
Tepat saat Evita melewati pintu tangga darurat yang terbuka sedikit, tiba-tiba...
Syuuung!
Sebuah tangan kuat bercengkeram kasar mencengkeram pergelangan tangan Evita dari arah samping dengan kecepatan penuh!
"Argh! Siapa...?" teriak Evita terperanjat kaget, menjatuhkan beberapa berkas di tangannya ke lantai keramik.
Sebelum Evita sempat meminta pertolongan atau melihat wajah pelakunya, tubuhnya ditarik secara paksa dengan tenaga yang luar biasa besar masuk ke dalam ruang tangga darurat yang sepi, gelap, dan berdinding beton tebal.
Bruk!
Pintu tangga darurat tertutup rapat dengan bunyi benturan keras yang menggema di dalam ruang tertutup tersebut.
****
Evita terhuyung jatuh membentur dinding tangga darurat. Napasnya tercekat hebat karena rasa sakit di pergelangan tangannya. Dengan mata terbelalak ketakutan, Evita mendongakkan kepalanya, menatap sosok yang berdiri di hadapannya saat ini.
Topi baseball hitam dan masker medis hijau yang menutupi wajah penyerang itu perlahan-lahan ditarik kasar ke bawah.
Wajah yang sangat dikenal, dengan sorot mata melotot liar, penuh kebencian kesumat, dan senyuman psikopat yang mengerikan, terpampang nyata di hadapan Evita.
"V-Viola...?!" jerit Evita histeris, darah di tubuhnya mendadak terasa membeku seketika. "Bagaimana bisa kamu... Kamu buronan polisi! Sedang apa kamu di sini?!"
Viola tertawa lepas—sebuah tawa melengking, tajam, dan mengerikan yang menggema memantul di dinding-dinding beton tangga darurat yang sempit.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Kaget melihatku, hah, Evita?!" suara Viola melengking tinggi penuh kepuasan psikopat. Ia melangkah maju mendekati Evita sambil merentangkan kedua tangannya. "Kau pikir dengan menjebloskanku ke dalam penjara busuk itu, kamu bisa hidup bahagia bersama taipan peliharaanmu, Ma Yong Hua?! Kau salah besar, perempuan jalang!"
****
Evita merosot mundur hingga punggungnya menempel erat pada dinding tangga darurat. Jantungnya berdegup kencang ketakutan melihat kilatan pisau cutter kecil yang tiba-tiba berkilat di genggaman tangan Viola.
"Jangan mendekat, Viola!" seru Evita dengan suara bergetar ketakutan, berusaha mencari celah untuk melarikan diri ke pintu keluar. "Kamu sudah gila! Menyerahlah sebelum polisi menangkapmu lagi!"
"Gila? Ya, aku memang sudah gila karena perbuatan kalian berdua!" bentak Viola histeris dengan urat leher yang menegang kaku. "Kau merebut segalanya dariku, Evita! Kau merusak masa depanku, membuatku menjadi buronan, dan sekarang kau hidup bermandi kemewahan di kampus elit ini! Hari ini... di tangga darurat yang sunyi ini, riwayatmu akan tamat!"
Melihat Viola melangkah menerjang maju dengan pisau cutter terhunus ke arahnya, naluri bertahan hidup Evita bangkit seketika. Dengan sisa tenaganya, Evita melompat ke samping, mencoba merebut gagang pintu darurat.
Namun, gerakan Viola jauh lebih beringas.
"Mau lari ke mana kau, pelacur sialan?!" geram Viola buas, langsung melayangkan dorongan sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya tepat di dada Evita.
Brak!
Dorongan telak itu membuat keseimbangan Evita hilang seketika. Kakinya terpeleset di anak tangga pertama, dan dalam sekejap, tubuh Evita berguling jatuh ke bawah menuruni anak tangga beton darurat yang curam dan keras!
Bruk... gedebuk... bruk!
Suara tubuh Evita membentur anak tangga demi anak tangga terdengar sangat menyiksa. Siku dan kepalanya menghantam sudut beton yang keras hingga membuat Evita kehilangan kesadarannya di pertengahan tangga, terkapar tak berdaya dengan darah segar mengalir pelan dari pelipisnya.
****
Melihat tubuh musuh bebuyutannya terkapar bersimbah darah di dasar tangga darurat, Viola berdiri di ambang tangga bagian atas. Wanita iblis itu memegang kepalanya sendiri, lalu melepaskan tawa yang sangat nyaring, sadis, dan menggema ke seluruh penjuru gedung.
"Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha! Rasakan itu, Evita! Rasakan akibatnya! Mati kau di sana bersama seluruh mimpimu!" teriak Viola histeris penuh kepuasan psikopat, sebelum ia berbalik dan melangkah lari keluar melarikan diri lewat pintu belakang gedung kampus sebelum ada orang yang menyadari perbuatannya.
****
Suasana di lantai dua gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Internasional Megapolitan yang tadinya tenang seketika berubah menjadi hiruk-pikuk penuh kepanikan.
Beberapa menit setelah Viola Sanustika melarikan diri melalui pintu darurat belakang, seorang petugas kebersihan kampus yang asli—seorang pria paruh baya bernama Pak Maman—hendak memeriksa koridor sayap timur untuk mengganti gulungan tisu toilet. Saat ia melewati pintu tangga darurat, ia mendengar suara rintihan samar dari bawah anak tangga.
Pak Maman mendorong pintu darurat tersebut dengan rasa penasaran. Begitu ia menyorotkan pandangannya ke bawah, matanya membelalak lebar hingga hampir keluar dari rongganya.
"Ya Allah! Astagfirullahaladzim!" jerit Pak Maman histeris, menjatuhkan ember alat pel yang dibawanya.
Di dasar tangga darurat yang curam dan keras, Evita Desniati terkapar tak berdaya. Blazer abu-abunya tampak kotor berdebu, siku tangannya lecet mengeluarkan darah, dan pelipis kanannya robek akibat benturan keras dengan sudut anak tangga beton. Napasnya terdengar sangat lemah, tersengal-sengal di ambang ketidaksadaran.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Pak Maman segera merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel, dan menekan nomor darurat universitas serta layanan ambulans.
"Halo! Tolong! Cepat kirimkan tim medis ke tangga darurat sayap timur Fakultas Ekonomi! Ada dosen yang jatuh dan terluka parah!" teriak Pak Maman dengan suara bergetar ketakutan, panik luar biasa melihat kondisi Evita yang sangat mengenaskan.