NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJALANAN KE LAMPUNG

Jessica keluar dari ruang belakang sambil menggandeng tangan Oreo. Tangan satunya menenteng sebuah kardus yang hendak dibawanya ke lapak dagangan. Sebelum pergi, dia menghampiri Bandung yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Udah, Kolot, gue ke lapak dagangan dulu, ya!” pamit Jessica. “Halo, jangan lupa telepon Dola. Kalau bisa, sekalian mobil lu diservis hari ini biar perjalanan kita besok aman.”

Bandung mengangkat wajah, lalu mengacungkan jempolnya.

“Siap, Bos Besar!”

Jessica mendengus geli.

“Bagus. Jangan cuma jago ngomong!”

Dia kemudian mengajak Oreo pergi. Setelah memastikan keduanya keluar dari galeri, Bandung bangkit dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia mencabut kabel pengisi daya, lalu mencari nomor Dola dan segera meneleponnya.

“Halo, Dola.”

“Ya, Bang? Ada apa?”

“Besok gue sama Jessica mau keluar kota. Gue minta tolong lu jagain Oreo, ya.”

“Wah, mau keluar kota ke mana, Bang?”

Bandung menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Ah, ini urusan orang dewasa! Lu cukup jalankan tugas dengan baik aja.”

“Hehehe… jangan-jangan mau kondangan ke tempat kakak ipar, ya, Bang?”

Senyum Bandung langsung menghilang.

Entah kenapa, ucapan Dola yang terdengar begitu santai itu justru membuat dadanya terasa sesak. Bayangan Luna berdiri di pelaminan bersama pria lain kembali muncul di benaknya.

Dia menarik napas panjang, berusaha menyingkirkan pikiran yang mulai menguasainya.

“Ah, lu anak kecil mau tahu aja!” sahut Bandung, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. “Kalau bisa, lu sama Deden segera kemari. Gue ada perlu.”

“Siap, Bang! Mau nitip makanan sekalian nggak?”

“Nggak usah. Gue udah makan.”

“Oke, Bang!”

Sambungan telepon pun terputus.

Tak berselang lama, Dola dan Deden tiba di galeri lukisan. Keduanya masuk dengan santai, kemudian langsung menghampiri Bandung yang sedang duduk di dekat meja.

Deden tiba-tiba merapatkan kedua kakinya, melipat tangan kanan di depan dada, lalu menempelkan telapak tangannya ke kening seperti seorang prajurit yang sedang melapor.

“Siap, Bang! Saya sudah datang. Ada perintah apa?”

Bandung menoleh, lalu menyentil telinga Deden.

“Alah, dasar lu, Jengger Ayam! Nggak usah banyak gaya. Ambil kunci mobil, terus bawa ke bengkel. Segera servis, soalnya besok mau gue bawa ke luar kota!”

Deden mengusap telinganya sambil meringis.

“Siap, Bang! Tapi…”

Dia mengulurkan tangan ke depan dengan telapak terbuka, lalu menggoyang-goyangkan jarinya.

“Duitnya mana, Bang?”

Bandung memutar bola mata.

“Pakai aja duit yang ada di dasbor. Sekalian ajak Dola jalan-jalan. Beliin makan tuh anak!”

Dola langsung menyela dari samping.

“Lho, kok gue ikut dibawa-bawa, Bang?”

“Biar lu nggak keluyuran nggak jelas!” Bandung menunjuk keduanya bergantian. “Terus besok, lu temenin Dola jagain Oreo. Jangan lupa jemput dia pulang sekolah.”

Dola langsung menegakkan tubuh dan memberi hormat berlebihan.

“Siap, Abang yang paling ganteng!”

“Najis!” Deden menyahut sambil tertawa.

Bandung menggelengkan kepala melihat tingkah dua orang itu. Meski sering membuatnya kesal, kehadiran mereka setidaknya bisa sedikit mengusir kesunyian yang belakangan memenuhi galeri.

Dola mengambil kunci Ferrari dari meja, lalu menyerahkannya kepada Deden.

Begitu menerima kunci itu, Deden menyeringai.

“Wah, wah, wah… ternyata Abang Bandung mau nengokin kakak ipar yang mau merit!”

Dola ikut terkekeh.

“Kira-kira gimana jadinya, ya? Abang kita datang ke Lampung, terus ternyata kakak iparnya beneran nikah sama orang lain!”

Deden segera menempelkan telunjuk ke bibirnya.

“Ssst! Jangan banyak omong! Kasihan Abang kita. Giliran udah suka sama kakak ipar, eh, kakak iparnya keburu dipetik orang!”

Bandung memijat pelipisnya, lalu memandang mereka dengan tatapan datar.

“Gue masih ada di sini, ya. Kuping gue belum pensiun!”

Dola dan Deden langsung tertawa.

“Siap, Bang! Kami pamit melaksanakan tugas!”

Keduanya bergegas keluar sebelum Bandung sempat melempar sesuatu ke arah mereka.

Bandung hanya menggeleng-gelengkan kepala. Namun, setelah tawa mereka menghilang dari luar galeri, senyumnya pun perlahan memudar.

Besok dia akan pergi ke Lampung.

Besok pula dia harus menghadapi perasaannya sendiri, sesuatu yang selama ini selalu berusaha dia hindari.

Keesokan harinya, bahkan sebelum matahari menampakkan diri, Jessica sudah berdiri di depan kamar Bandung.

Tok! Tok! Tok!

“Bandung! Bangun! Udah pagi!”

Dari balik pintu terdengar suara gumaman yang tidak jelas.

Jessica melipat kedua tangannya di dada.

“Kolot! Kalau lu nggak bangun sekarang, gue tinggal!”

Kalimat itu rupanya cukup ampuh.

Pintu kamar terbuka beberapa saat kemudian. Bandung muncul dengan rambut sedikit berantakan, tetapi wajahnya sudah menunjukkan kesadaran penuh.

“Buset, Jess! Matahari aja belum nongol, lu udah kayak mandor proyek!”

“Daripada gue nungguin lu sampai matahari tenggelam lagi!”

Bandung terkekeh, lalu berbalik menuju kamar mandi.

“Oke, Bos! Kasih gue waktu sebentar.”

“Sebentar versi lu itu berapa jam?”

“Lima belas menit!”

“Lima belas menit beneran, ya! Jangan sampai gue dobrak!”

“Siap!”

Bandung segera membersihkan diri. Tak lama kemudian, dia sudah siap berangkat bersama Jessica.

Ferrari merah miliknya meluncur membelah jalanan yang masih gelap dan lengang. Lampu-lampu jalan menerangi aspal, sementara udara pagi terasa sejuk menyentuh wajah mereka.

Jessica duduk di kursi penumpang sambil sesekali memandangi pemandangan di luar jendela. Sebaliknya, Bandung lebih banyak diam. Kedua tangannya mantap memegang kemudi, tetapi pikirannya terus berkelana.

Sesekali Jessica meliriknya.

“Bandung.”

“Hm?”

“Lu masih kepikiran Luna?”

Bandung tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju ke jalan.

“Menurut lu?”

Jessica menghela napas kecil.

“Ya, gue cuma nanya. Siapa tahu lu udah berubah pikiran dan mau balik tidur.”

Bandung tersenyum tipis.

“Kalau gue balik sekarang, lu pasti ngomel sampai tahun depan.”

“Nah, berarti lu masih punya akal sehat!”

Bandung tertawa kecil. Namun, setelah itu, suasana kembali hening.

Jessica tidak memaksanya bercerita. Dia tahu, di balik sikap santainya, Bandung sedang mengumpulkan keberanian untuk menghadapi sesuatu yang belum tentu berakhir seperti harapannya.

Saat Ferrari mereka tiba di Pelabuhan Merak, matahari mulai muncul di ufuk timur. Cahaya keemasan menyentuh permukaan laut, membuat air tampak berkilauan.

Mereka harus mengantre beberapa waktu sebelum akhirnya mendapat giliran untuk naik kapal penyeberangan menuju Bakauheni, Lampung.

Berbeda dengan Bandung yang masih sibuk berkelahi dengan pikirannya sendiri, Jessica justru menikmati suasana pelabuhan. Dia mengamati kapal-kapal besar, para penumpang yang berlalu-lalang, serta burung-burung yang sesekali melintas di atas laut.

“Bagus banget, ya, pemandangannya,” ujar Jessica sambil menurunkan kaca jendela sedikit.

Bandung meliriknya sekilas.

“Kalau lu mau menikmati pemandangan, nanti di atas kapal juga bisa.”

“Ya, gue tahu. Tapi ini juga bagian dari perjalanan, Kolot.”

“Yang penting jangan sampai lu sibuk foto-foto terus lupa tujuan kita.”

Jessica menoleh dan menyipitkan mata.

“Tenang aja. Gue nggak bakal lupa. Justru gue yang bakal ngingetin lu kalau nanti nyali lu mendadak ciut.”

Bandung mendengus.

“Emangnya gue penakut?”

Jessica mengangkat kedua alisnya.

“Gue belum bilang begitu. Kok lu yang merasa?”

Bandung tertawa pendek, kemudian kembali menatap antrean kendaraan di depan mereka.

Tak lama kemudian, giliran mereka tiba. Ferrari merah itu perlahan memasuki kapal dan diarahkan ke area parkir kendaraan.

Setelah memarkir mobil sesuai arahan petugas, mereka bersiap meninggalkan dek kendaraan. Petugas kapal mengingatkan para penumpang agar tidak berlama-lama berada di area tersebut selama pelayaran karena alasan keselamatan.

Jessica dan Bandung pun mengikuti arahan petugas menuju ruang penumpang eksekutif.

Begitu tiba di bagian atas kapal, Jessica langsung terlihat bersemangat. Dia berjalan ke sisi geladak yang diperbolehkan untuk penumpang, mengeluarkan ponsel, lalu mulai mengambil beberapa foto.

“Bandung! Sini sebentar!”

Bandung yang berjalan beberapa langkah di belakangnya menoleh malas.

“Apa lagi, sih?”

“Foto bareng!”

“Nggak usah.”

“Sebentar doang!”

“Jess, gue ke sini bukan buat pemotretan!”

Jessica memasang wajah memelas.

“Ya ampun, Kolot! Masa sama sahabat sendiri pelit foto?”

Bandung menghela napas panjang, lalu berjalan menghampirinya.

“Cepat, ya!”

Jessica tersenyum lebar. Dia mengangkat ponsel, merapat ke sisi Bandung, lalu mengambil beberapa foto. Pada salah satu jepretan, dia sengaja mencuri momen ketika Bandung sedang menatap laut dengan ekspresi serius.

Klik!

Jessica langsung memeriksa hasilnya.

“Wah, bagus!”

Bandung melirik layar ponselnya.

“Apanya yang bagus? Muka gue kayak orang habis kehilangan warisan.”

“Justru itu daya tariknya!”

Jessica terkekeh, lalu mengunggah foto tersebut ke media sosial.

Bandung hanya menggelengkan kepala dan meninggalkannya sebentar untuk mencari kopi. Sementara itu, Jessica masih sibuk memeriksa unggahannya.

Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk dari Luna.

Luna: Hai, Jess! Lu naik kapal? Mau pergi ke mana?

Jessica langsung tersenyum. Dia mengetik balasan dengan cepat.

Jessica: Gue nemenin Bandung mau ke Lampung!

Pesan Luna segera muncul kembali.

Luna: Ada bisnis apa ke Lampung?

Jessica: Ceritanya panjang. Boleh gue telepon lu?

Luna: Boleh. Gue kirimin nomor gue, ya!

Jessica: Oke!

Begitu menerima nomor Luna, Jessica segera beranjak menuju ruang eksekutif. Dia mencari tempat duduk yang agak tenang, kemudian menekan tombol panggil.

Sementara itu, Bandung berada di kafetaria kapal. Secangkir kopi terletak di hadapannya, ditemani sebatang rokok yang sesekali dia isap. Pandangannya tertuju ke laut lepas, tetapi pikirannya sama sekali tidak menikmati pemandangan itu.

Dia masih memikirkan Luna.

Masih membayangkan bagaimana wajah perempuan itu jika mereka bertemu nanti.

Dan masih takut pada satu kemungkinan yang paling tidak ingin dia hadapi: Luna ternyata benar-benar telah memilih orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!