Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 PELUKAN DI TENGAH BARA
Udara di dalam lorong rumah kolonial Ciumbuleuit mendadak terasa begitu padat, dipenuhi oleh kepulan asap tipis beraroma belerang dan sengatan bahan kimia dari tabung thermite yang mulai membakar sebagian kecil panel dinding kayu galeri seni.
Di tengah temaram cahaya bulan yang menembus sisa pecahan kaca jendela, ketegangan mencapai puncaknya. Dua orang penyusup bertopeng hitam dari Geng Serigala Hitam berdiri siaga dengan postur tubuh membungkuk, menggenggam erat pipa besi bergerigi di tangan kanan mereka, menatap Raka Ardian dengan sorot mata penuh kebencian dan keterkejutan.
"Sialan! Anak udik ini merusak rencana kita! Habisi dia sekarang juga sebelum bala bantuan datang!" bentak salah seorang penyusup berbadan paling besar sambil mengayunkan pipa besinya secara membabi buta mengarah tepat ke kepala Raka.
Serangan itu datang dengan kecepatan tinggi, memanfaatkan ruang sempit koridor untuk membatasi ruang gerak lawan. Namun, di mata Raka yang aliran darahnya telah dialiri oleh energi penuh kesadaran dari teknik Welingan Sejati, gerakan kedua preman tersebut terbaca bagaikan gerakan lambat dalam sebuah film bisu.
Raka tidak bergeming di tempatnya berdiri. Tepat sedetik sebelum ujung pipa besi itu menghantam pelipisnya, Raka meliukkan tubuhnya ke samping dengan gerakan yang sangat luwes dan elegan. Angin dari ayunan besi tersebut bahkan hanya meniup helaian rambutnya.
Memanfaatkan momentum putaran tubuh musuh yang kehilangan keseimbangan akibat tenaga pukulannya sendiri, Raka melayangkan sebuah sabetan siku tangan kanan yang diresapi tenaga dalam pekat.
Brakkk!
Siku Raka menghantam tepat di dada preman pertama. Suara retakan tulang rusuk terdengar nyaring berpadu dengan jeritan tertahan. Tubuh preman berbadan besar itu terpental mundur sejauh tiga meter, menubruk rak pajangan vas keramik antik hingga hancur berkeping-keping sebelum akhirnya terkapar tak sadarkan diri di atas lantai.
Melihat rekannya tumbang dalam satu serangan telak, preman kedua menjadi semakin kalap. Ia mengeluarkan sebilah pisau belati beracun dari balik jaketnya dan menerjang maju secara membabi buta, menusuk membabi buta ke arah perut dan dada Raka secara bergantian dengan kecepatan penuh.
"Mati kau, keparat!" teriak preman itu kalap.
Raka mundur selangkah untuk menjaga jarak, lalu dengan gerakan tangan yang sangat cepat bagaikan kilat menyambar, ia menepis pergelangan tangan penyerang menggunakan sisi telapak tangannya. Totokan bertenaga dalam yang dilepaskan Raka pada titik syaraf pergelangan tangan membuat sang preman menjerit kesakitan; pisau beracun itu terlepas dari genggamannya dan berdenting nyaring jatuh ke lantai.
Sebelum preman tersebut sempat menyadari apa yang terjadi, Raka melancarkan tendangan samping *crescent kick* yang menghantam telak rahang lawannya. Tubuh preman itu berputar di udara sebelum akhirnya terjatuh keras mencium lantai, menyusul rekannya dalam keadaan pingsan tak berdaya.
Dalam hitungan detik, seluruh ancaman di dalam rumah itu berhasil dilumpuhkan sepenuhnya oleh Raka.
Tanpa membuang waktu, Raka segera bergerak cepat menghampiri sumber api kecil yang mulai menjilat sudut dinding kayu galeri. Ia menyambar sehelai kain gorden tebal di dekatnya, memukulkannya berulang kali ke titik api hingga padam total, menyelamatkan puluhan lukisan berharga milik Nadia dari ancaman kebakaran besar.
Suasana di dalam rumah tua berarsitektur kolonial itu mendadak kembali sunyi senyap, hanya menyisakan deru napas Raka yang sedikit memburu serta aroma hangus sisa pembakaran yang mengepul tipis di udara malam.
Raka segera berbalik badan, melangkah cepat menghampiri sudut ruangan tempat Nadia tadi terduduk lemas ketakutan. Namun, begitu ia mendekat, tubuhnya mendadak kaku ketika sepasang lengan halus tiba-tiba merengkuh erat pinggangnya dengan kecepatan luar biasa.
Nadia memeluk Raka dengan sangat kencang, seolah takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, bayangan para penyusup bertopeng itu akan kembali merenggut keselamatan nyawanya. Wajah cantik gadis itu dibenamkan erat-erat di dada bidang Raka, sementara seluruh tubuhnya masih bergetar hebat akibat sisa-sisa rasa syok, trauma, dan teror luar biasa yang baru saja ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Air mata Nadia tumpah seketika, membasahi permukaan kain kemeja yang dikenakan Raka, sementara isakan tertahan lolos bergetar dari bibirnya yang pucat pasi.
"Raka... aku takut sekali... aku pikir aku tadi benar-benar akan mati..." bisik Nadia terbata-bata di antara sela-sela tangisannya yang pecah. Cengkeraman jemarinya di punggung Raka semakin dipererat, sama sekali tidak berniat melepaskannya barang sedikit pun.
Raka tertegun mematung untuk beberapa saat. Sebagai seorang pemuda yang dibesarkan di alam keras dan terbiasa menghadapi berbagai bentuk bahaya fisik di dunia persilatan, ia sangat terbiasa memegang kendali atas situasi kritis dan bertindak sebagai pelindung yang tegar.
Namun, melihat sisi kerapuhan yang amat sangat dari seorang gadis yang selama ini dikenal paling keras kepala, angkuh, dan selalu hobi mendebatnya itu, membuat dinding pertahanan hatinya ikut runtuh seketika dan berdesir hebat.
Dengan gerakan perlahan penuh kelembutan yang teramat sangat, Raka mengangkat kedua tangannya, lalu membalas pelukan Nadia. Ia mendaratkan telapak tangannya di punggung gadis itu, mengusap lembut rambut panjang Nadia yang berantakan, menyalurkan kehangatan, ketenangan, dan rasa aman melalui sentuhan telapak tangannya yang dialiri ketulusan batin.
"Sudah aman, Nadia. Semuanya sudah berakhir sekarang. Aku ada di sini bersamamu, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa melukaimu lagi," ucap Raka dengan suara rendah, sangat tenang, dan penuh wibawa tepat di dekat telinga gadis itu, menepis setiap keping ketakutan yang masih tersisa di hatinya.
Cukup lama mereka berdua berdiri terdiam dalam dekapan erat di tengah lorong rumah yang temaram diterpa cahaya bulan. Tidak ada satu pun kata-kata lain yang terucap di antara mereka; detak jantung mereka yang berirama cepat seolah menyatu dalam satu alunan harmoni, menghapus segala ketakutan, keraguan, rasa gengsi, dan jarak yang selama ini membentengi hati keduanya.
Bagi Nadia, pelukan malam itu adalah tempat paling aman, damai, dan nyaman di seluruh belahan bumi ini, menegaskan dengan telak bahwa seluruh ruang di hatinya kini telah sepenuhnya terpaut pada sang pengembara dari desa. Dan bagi Raka, melindungi gadis dalam dekapannya ini bukan lagi sekadar menunaikan sebuah tugas atau amanat dari Tuan Wiratman, melainkan sebuah ikrar suci jiwa raga yang akan ia pegang teguh sebagai pelindung hidupnya hingga akhir hayat.