Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Janji di Bawah Gerbang Besi dan Gelang Kaki Emas
Napas Maya memburu, dadanya terasa sesak seolah hampir meledak. Ia berlari sekencang-kencangnya menembus lorong-lorong gelap perkampungan, mengabaikan kerikil tajam yang menghujam telapak kakinya lewat sandal jepit yang sudah menipis. Angin malam yang dingin menghantam wajahnya, membawa serta air mata yang terus-menerus tumpah tanpa bisa dicegah.
Di kepalanya hanya ada satu nama: Elena.
Ia tidak peduli jika Clara akan mengejarnya dan menghukumnya. Yang ia tahu, ia tidak sanggup jika harus pergi meninggalkan dunia ini tanpa mengucapkan selamat tinggal pada satu-satunya orang yang pernah memperlakukannya sebagai seorang manusia, sebagai seorang saudara.
Setelah berlari hampir dua puluh menit dengan sisa tenaganya, siluet megah gerbang besi kediaman keluarga Danendra akhirnya terlihat di ujung jalan. Maya melambat, berjalan tertatih-tatih dengan napas terengah-engah. Sesampainya di depan pos penjagaan, ia langsung mencengkeram jeruji besi gerbang tinggi itu, wajahnya basah oleh keringat dan air mata.
"Pak... Pak Satpam..." panggil Maya dengan suara parau yang hampir hilang.
Petugas keamanan yang sedang berjaga di pos terkejut melihat penampakan seorang anak kecil berantakan, menangis histeris di tengah malam buta. Ia mengenali Maya sebagai anak yang sering bermain dengan Nona Elena. Penjaga itu segera mendekat.
"Eh, Maya? Kenapa malam-malam begini ada di sini? Di mana ibumu?" tanya satpam itu dengan nada cemas, membukakan sedikit pintu kecil gerbang.
"Tolong... tolong panggilkan Kak Elena... sebentar saja, Pak..." air mata Maya semakin deras mengalir. "Aku harus... aku harus bertemu dengannya sekarang..."
Melihat kondisi Maya yang sangat menggenaskan, penjaga itu tidak tega. Ia mengangguk cepat. "Baiklah, tunggu sebentar. Jangan pergi ke mana-mana."
Petugas itu bergegas menelepon pos dalam rumah utama. Tak lama kemudian, dari arah pintu utama mansion, sebuah sosok kecil berlari tergopoh-gopoh menyeberangi halaman rumput yang luas. Elena—yang mengenakan piyama tidur bergambar kelinci—tampak kebingungan dan panik karena dipanggil di tengah malam.
Begitu tiba di dekat gerbang, mata Elena membelalak lebar melihat Maya dalam keadaan babak belur secara emosional.
"Maya?! Kamu kenapa?!" seru Elena panik, langsung menerobos keluar lewat pintu kecil gerbang dan memegang tangan sahabatnya. "Kenapa kamu menangis? Kenapa bajumu kotor?"
Maya menatap wajah Elena di bawah cahaya lampu jalan. Bayangan wajah itu, senyuman tulus itu, dan kehangatan yang selama ini diberikan Elena, membuat pertahanan terakhir Maya runtuh. Ia menerjang maju, memeluk tubuh Elena erat-erat, menangis sejadi-jadinya di pundak sahabatnya itu.
"Kak Elena... hiks... aku harus pergi..." racau Maya di sela-sela isakannya.
"Pergi? Pergi ke mana, Maya? Masuklah dulu, di luar dingin!"
Maya menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak bisa... Ibuku memaksa kami pindah kota malam ini juga. Sekarang. Kami akan naik kereta... aku... aku tidak akan bisa ke sini lagi, Elena..."
Kalimat itu menghantam Elena bagaikan petir di siang bolong. Pegangan tangan Elena pada lengan Maya mengendur. Matanya mengerjap, menolak percaya. "Pindah? Tapi... tapi kita baru saja berjanji! Kita baru saja bilang akan menjadi saudara! Kamu berbohong, kan, Maya?!"
"Aku tidak berbohong..." Maya melepaskan pelukannya, menatap mata Elena yang kini mulai digenangi air mata. Ia tahu waktu mereka tinggal detik-detik terakhir sebelum Clara menemukan tempat ini.
Dengan tangan bergetar hebat, Maya merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil yang sejak sore tadi ia simpan dengan sangat hati-hati—gelang kaki perak berbandul bintang yang diberikan oleh Adrian di gang gelap. Ia belum sempat memberikannya pada siapa pun, namun di detik-detik perpisahan ini, hanya benda inilah satu-satunya harta berharga yang ia miliki untuk diberikan kepada saudarinya.
"Ini..." Maya menyodorkan gelang perak itu ke tangan Elena. "Simpan ini, Kak Elena."
Elena menatap benda berkilau di telapak tangan Maya. "Apa ini?"
"Hadiah perpisahan dariku," suara Maya tercekat. "Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan. Tolong... simpan gelang ini. Kalau suatu hari nanti kita sudah dewasa, dan kita tidak sengaja bertemu lagi... lihat gelang ini, supaya Kak Elena ingat padaku."
Elena menggelengkan kepalanya, air matanya kini tumpah membasahi pipinya. "Kalau kamu memberiku hadiah, aku juga harus memberimu hadiah! Tunggu sebentar di sini!"
Tanpa menunggu jawaban, Elena berlari kencang kembali masuk ke dalam rumah. Dalam waktu kurang dari dua menit, ia sudah kembali dengan tergesa-gesa, membawa sebuah kotak perhiasan kecil di tangannya.
Elena membuka kotak itu, mengeluarkan sebuah gelang kaki emas berukuran kecil yang dihiasi ukiran inisial 'E'. Itu adalah gelang kaki berharga yang dipakaikan oleh ibunya (Vera) sejak Elena masih bayi, sebuah benda yang selalu melekat di pergelangan kakinya namun sudah sengaja ia longgarkan beberapa hari lalu karena mulai terasa sempit.
Elena berlutut di hadapan Maya di atas aspal yang dingin. Dengan tangan yang gemetar hebat, Elena meraih pergelangan kaki kanan Maya, lalu memakaikan gelang emas berinisial 'E' itu dengan pas. Gelang itu melingkar indah di kaki Maya.
"Dengar, Maya," ucap Elena dengan isak tangis yang tertahan, menatap luhur ke mata sahabatnya. "Gelang ini adalah milikku. Sekarang ini milikmu. Gelang ini kecil... saat kita dewasa nanti, kaki kita akan membesar dan gelang ini pasti tidak akan muat lagi dipakai."
Maya menunduk, melihat gelang emas berkilau di kakinya.
"Tapi kamu harus berjanji padaku!" seru Elena, air matanya menetes mengenai sepatu Maya. "Kamu tidak boleh membuangnya! Kamu harus menyimpannya seumur hidupmu di dalam kotak kenanganmu! Supaya suatu hari nanti, saat kita dewasa dan kita saling mencari... kita bisa mengenali satu sama lain lewat gelang ini!"
Maya mengangguk kuat-kuat, dadanya terasa sesak oleh rasa haru dan sakit yang luar biasa. "Aku janji, Kak Elena... aku janji akan menyimpannya sampai aku mati."
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara teriakan histeris Clara memanggil nama Maya, semakin mendekat dari arah ujung jalan. Waktu mereka telah habis.
"Ibu sudah datang..." bisik Maya panik, air matanya semakin menderas. Ia mengecup punggung tangan Elena sekilas. "Selamat tinggal, Kak Elena... terima kasih untuk semuanya..."
"Maya! Jangan pergi!" teriak Elena histeris saat Maya bangkit berdiri dan mulai berlari mundur.
"AKU SAYANG PADAKU—MAKSUDKU, AKU SAYANG PADAMU, KAK!" teriak Maya di tengah isakannya yang memecah malam.
Maya membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi gerbang itu, menyembunyikan diri di balik bayangan malam saat Clara akhirnya tiba dengan napas memburu dan langsung mencengkeram tangan Maya, menyeretnya pergi menjauh dari tempat itu.
Elena berdiri terpaku di balik jeruji besi gerbang, menangis tersedu-sedu sambil memeluk gelang perak berbandul bintang di dadanya, melihat sosok sahabat sekaligus saudari kandungnya menghilang dalam kegelapan.
Di dalam gerbong kelas ekonomi kereta malam yang tua dan berderit nyaring, suasana terasa begitu pekat oleh aroma peluh, asap rokok murahan, dan kesunyian yang mencekam. Kereta itu melaju kencang membelah kegelapan malam, meninggalkan kota tempat di mana segalanya bermula—masa kecil, tawa bersama batu kerikil, istana impian, hingga janji persahabatan di bawah gerbang besi.
Maya duduk di kursi kayu keras di samping jendela kaca yang berembun. Kepalanya disandarkan pada kaca yang dingin, sementara matanya kosong menatap pantulan bayangannya sendiri di kegelapan luar. Di luar sana, tidak ada apa pun yang bisa dilihat selain kelamnya malam dan kilatan lampu-lampu tiang listrik yang lewat sesaat lalu lenyap.
Di sampingnya, Clara duduk dengan napas yang masih tidak beraturan. Perempuan itu memeluk tas bututnya erat-erat, seolah takut ada seseorang yang akan merampas satu-satunya harta yang tersisa dari pelarian mereka. Clara tidak mengatakan apa-apa sejak mereka naik ke kereta. Ia tidak memarahi Maya karena kabur tadi, mungkin karena ia sendiri terlalu lelah dan terlalu diliputi oleh ketakutan yang teramat sangat.
Maya menundukkan pandangannya. Tangannya yang mungil perlahan terulur, meraba bagian pergelangan kaki kanannya di balik kain celana yang usang. Jari-jarinya menyentuh permukaan logam yang halus.
Ia meraba ukiran kecil di sana—sebuah huruf 'E' yang tercetak anggun di atas emas murni.
“Gelang ini kecil... saat kita dewasa nanti, kaki kita akan membesar dan gelang ini pasti tidak akan muat lagi dipakai. Tapi kamu harus berjanji padaku, kamu harus menyimpannya seumur hidupmu...”
Suara Elena terngiang-ngiang jelas di dalam kepala Maya, menciptakan rasa hangat yang bercampur perih di dadanya. Maya menarik napas panjang, menahan isakannya agar tidak membangunkan ibunya. Ia tidak akan pernah melanggar janji itu. Meskipun kelak gelang emas ini sudah tidak muat lagi melingkar di kakinya yang bertambah besar, ia akan menyimpannya di tempat paling aman di dunianya.
Di belahan kota yang lain, di dalam kamar tidurnya yang mewah dan beraroma lavender, Elena duduk bersila di atas ranjang empuknya. Ia memeluk lututnya, menangis dalam diam sambil menatap sebutir gelang perak berbandul bintang yang tergeletak di atas telapak tangannya. Benda itu berkilau redup di bawah lampu tidur. Elena memasukkan gelang itu ke dalam sebuah kotak perhiasan kayu berukir, menguncinya rapat-rapat, dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menunggu sampai mereka dewasa, sampai ia bisa menemukan kembali gadis kecil yang telah menjadi saudarinya.
Dua anak perempuan itu, di dua tempat yang berbeda, sama-sama menggenggam sebuah kenangan masa kecil yang kelak akan menjadi bumerang paling mematikan dalam hidup mereka.
Kereta malam terus melaju kencang, membawa Maya menuju babak kehidupan yang jauh lebih gelap, di mana kemiskinan bukan lagi satu-satunya musuh yang harus ia taklukkan, melainkan bayang-bayang masa lalu yang menolak mati.
Tanpa mereka sadari, malam itu, roda takdir telah berputar melewati titik di mana jalan hidup mereka tidak akan pernah bisa disatukan kembali secara wajar—kecuali melalui kehancuran, air mata, dan darah.
Kereta itu menelan jerit tangis malam, membawa pergi seorang anak yang tidak tahu siapa dirinya, menuju pelukan takdir yang telah digulung oleh kelam.