Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Elara," ucap Lucian tanpa basa-basi. "Gereja Matahari mengajukan tuntutan resmi. Inkuisitor Agung Valerius menuntut Ujian Kesucian untukmu. Hari ini. Di Kuil Matahari."
Elara menatap Lucian. Lalu menatap tanda di pergelangan tangannya. Lalu menatap sarapan di meja yang belum ia sentuh.
"Hari ini?" ulang Elara.
"Hari ini."
"Di Kuil Matahari?"
"Ya."
"Yang jaraknya tiga puluh menit berjalan kaki dari sini?"
"Kereta kuda sudah disiapkan."
Elara menarik selimutnya hingga menutupi seluruh kepalanya. Suaranya terdengar teredam dari balik tumpukan kain. "Tidak. Saya menolak. Saya sedang cuti. Kirimkan surat dokter. Katakan saya kena cacar air. Atau lebih baik lagi, katakan saya sudah mati lagi."
"Elara," suara Lucian terdengar lebih lembut, namun ada ketegangan di dalamnya. Ia duduk di tepi kasur, menarik selimut dari wajah Elara dengan hati-hati. "Ini bukan sesuatu yang bisa kau hindari dengan tidur siang. Jika kau menolak Ujian Kesucian, Gereja berhak menyatakanmu sebagai bidat. Dan hukumannya.."
"Pembakaran di tiang?" tebak Elara datar.
"Pembakaran di tiang," konfirmasi Lucian.
Keheningan sejenak.
"Baiklah," Elara menghela napas panjang, duduk dengan bahu yang turun. "Tapi saya punya syarat. Pertama, saya makan sarapan dulu. Kedua, saya naik kereta kuda yang ada kasurnya. Ketiga, Nira ikut dan membawa camilan. Keempat, kalau Inkuisitor itu membosankan, saya boleh tidur di tengah ujian."
Lucian menatapnya. Di mata pria itu, ada campuran antara kekhawatiran yang mendalam dan rasa geli yang tidak bisa ia tahan.
"Aku akan menemanimu," ucap Lucian. "Tidak ada yang akan membakarmu selama aku bernapas."
Elara menatap Lucian. Untuk sesaat, sesuatu yang hangat berdesir di dadanya, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kasur bulu angsa atau jamur truffle. Ia segera menepis perasaan itu.
Jangan, Jangan mulai merasa tersentuh. Itu gejala awal jatuh cinta, dan jatuh cinta adalah bentuk lembur emosional yang paling tidak efisien.
"Terima kasih, Yang Mulia," ucap Elara datar. "Tapi tolong jangan bernapas terlalu keras di kuil. Nanti Inkuisitor mengira Anda sedang mencoba meniup api pembakaran saya."
***
Kuil Matahari adalah bangunan megah yang seluruhnya terbuat dari batu marmer putih dan emas. Cahaya matahari yang menembus jendela-jendela kaca patri menciptakan pola-pola warna yang indah di lantai.
Elara, yang baru saja turun dari kereta kuda berkasur (yang membuat beberapa pendeta melotot ngeri), berjalan masuk dengan langkah gontai. Ia mengenakan gaun putih sederhana yang dipilih Nira
"warna putih menunjukkan kemurnian, Yang Mulia" namun Elara menambahkan syal tebal di lehernya karena "kuil ini dingin, dan saya tidak mau masuk angin sebelum dibakar."
Di tengah aula utama, berdiri Inkuisitor Agung Valerius.
Pria itu tinggi dan kurus, dengan jubah putih panjang yang menyeret di lantai. Wajahnya pucat, matanya berwarna abu-abu pucat yang hampir transparan, dan ia memiliki aura yang membuat udara di sekitarnya terasa berat dan dingin.
Di belakangnya, berbaris dua belas pendeta dengan wajah masam. Di sisi lain aula, Putri Mahkota Aurelia duduk dengan senyum tipis yang sangat puas.
"Yang Mulia Kaisar," sapa Valerius, membungkuk dengan sudut yang tepat dan tidak terlalu dalam, tidak terlalu dangkal. Sebuah penghormatan yang dihitung dengan presisi. "Dan.. Selir Elara von Clervant."
Cara Valerius mengucapkan namanya membuat Elara merasa seperti barang bukti yang baru saja diletakkan di atas meja persidangan.
"Inkuisitor Valerius," sapa Lucian, suaranya dingin dan berwibawa. "Aku hadir sebagai saksi. Ujian Kesucian ini akan dilakukan secara adil dan terbuka. Jika ada penyimpangan, aku akan menganggapnya sebagai penghinaan langsung terhadap tahta."
"Tentu, Yang Mulia," Valerius tersenyum tipis. Senyum yang tidak melibatkan matanya sama sekali. "Gereja Matahari selalu bertindak dalam kebenaran dan keadilan. Ujian ini sederhana. Tiga pertanyaan teologis. Jika Selir Elara bisa menjawab dengan benar, ia dinyatakan suci dan tanda di pergelangan tangannya akan hilang. Jika ia gagal.."
Valerius tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu. Api unggun yang sudah disiapkan di halaman kuil sudah cukup berbicara.
Elara menatap api unggun itu dari jendela. Kayunya banyak. Mereka serius mau bakar aku. Ini tidak efisien. Berapa banyak kayu yang terbuang hanya untuk satu orang?
"Baiklah," ucap Elara, berjalan menuju kursi yang disiapkan di tengah aula. Ia duduk, menyandarkan punggungnya, dan menatap Valerius dengan mata setengah terpejam. "Tiga pertanyaan. Cepatlah. Saya punya jadwal tidur siang jam dua."
Aurelia di sudut ruangan hampir tersedak tehnya.
Valerius menatap Elara. Matanya yang pucat menyapu wanita itu dari atas ke bawah, seolah-olah ia sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain.
"Pertanyaan pertama," ucap Valerius, suaranya bergema di aula marmer. "Dewa Matahari menciptakan dunia dari kegelapan. Cahaya adalah kebenaran, dan kegelapan adalah dosa. Jika seseorang hidup di antara keduanya, tidak sepenuhnya baik, tidak sepenuhnya jahat.. di mana jiwanya akan pergi setelah kematian?"
Para pendeta mengangguk-angguk. Ini adalah pertanyaan jebakan klasik. Jawaban yang benar menurut doktrin Gereja adalah "tidak ada tempat di antara keduanya karna jiwa harus memilih cahaya atau kegelapan." Jawaban lain dianggap bidat.
Elara menatap Valerius. Ia menguap.
"Di waiting room.." jawab Elara.
Keheningan.
"Di.. Apa?" Valerius berkedip.