NovelToon NovelToon
Semuanya Palsu

Semuanya Palsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:146
Nilai: 5
Nama Author: likaa0_0

Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 28 keadilan yang tak adil

ke esokkan paginya Desy dan arhan menuju ke pengadilan setelah mereka berdua sehabis menjelaskan diri mereka dari kantor polisi. untuk mempertanggungjawabkan atas perbuatannya.

Segera mereka semua masuk kedalam pengadilan segera mereka semua masuk kedalam pengadilan lalu duduk di kursi di tempat pengadilan.

Desy dan arhan sebagai terdakwa putra menjadi saksi mereka berdua duduk di depan hadapan hakim namun tempat duduk putra berada di pojok kanan tidak menghadap hakim.

Tidak lama kemudian tiga orang hakim pun tiba langsung duduk di meja hakimnya.

"SEMUANYA HARAP BERDIRI! Hakim akan segera duduk" ujar jaksa

Seluruh orang di dalam pengadilan berdiri saat hakim berjalan menapakkan dirinya kemudian ia duduk di meja hakim satu ketua hakim duduk di kursi tengah lalu dua hakim anggota duduk di samping ketua hakim. Secara bersamaan orang-orang di dalam pengadilan pun duduk kembali.

Segera jaksa membuka sebuah kertas dan membicarakan

"selamat pagi kepada para hadirin. Sidang Pengadilan Negeri paradise yang memeriksa dan mengadili perkara pidana nomor urut 1567 atas nama Terdakwa arhan Wijaya dengan dugaan kekerasan rumah tangga pada hari ini rabu tanggal 21 bulan September tahun 2025 dengan ini dinyatakan. DIBUKA DAN TERBUKA UNTUK UMUM!"

"Baik, Saudara Terdakwa Arhan Wijaya. Saudara sudah mendengar surat dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum. Apakah Saudara mengerti apa yang didakwakan kepada Saudara?" ujar ketua hakim

"Saya mengerti yang mulai" ujar arhan

arhan menoleh sedikit ke arah putra. saat dia menoleh ke arah putra, putra yang melihat arhan memasang senyum tipis datarnya ke arah arhan. Membuat arhan menjadi kesal.

Arhan kembali menoleh ke arah hakim.

"saudara arhan Wijaya tolong bisa jelaskan seluruh kronologinya" ujar ketua hakim

"untuk kronologinya. Semalam sebelum kejadian istri saya. menghampiri rumah saya untuk bertemu denganku namun keberadaannya membuat saya terganggu, istri saya terus menerus saya untuk pulang. Namun saya menolak, karena saya ingin masih bersama Desy dan Eva."

"apakah Desy dan Eva dia memiliki ikatan pernikahan?" tanya salah satu anggota hakim

"tidak"

"lalu mengapa saudara Arhan masih tetap bertahan saat istri sah bapak ingin meminta bapak pulang kerumah?"tanya salah satu hakim

"Karena saya tidak ingin kembali kepada istri saya"

"apakah benar saudara arhan sering melakukan tindakan kekerasan dan intimidasi kepada istri sah bapak?" tanya ketua hakim

"benar. Tapi terakhir-terakhir kali ini saja"

ketua hakim menoleh ke arah putra

"apakah benar saudara saksi putra?"

Putra berdiri. Seketika pandang seluruh orang menuju pada putra.

"TIDAK!"

Putra langsung membantah

"Yang di katakan ayahku adalah kebohongan! sejak saat aku kecil diriku tidak pernah mendapatkan peran ayah. Bahkan sejak kecil diriku selalu melihat ayah sering memukuli mama secara membabi-buta namun. Mama selalu mengatakan bahwa ayah melakukan ini karena mama yang salah. aku paham mamaku ingin yang terbaik kepada anaknya"

Putra menunjuk ke arah Desy dengan tegas.

"apakah gara-gara wanita murahan itu ayah berubah menjadi seorang rendahan. Jika ayah mengatakan bahwa aku ngarang aku punya bukti semua berada di...."

Putra mengangkat selembar kertas yang berisi pesan terakhir Liza.

"di kertas ini. yang berisi pesan terakhir! jika yang mulia ingin tahu bisa di ambil."

Segera ketua hakim segera menyuruh jaksa mengambil kertas yang berada di tangan putra.

"jaksa saya minta tolong kertas lalu berikan kepada saya"

Jaksa segera mengambil kertas tersebut lalu berjalan menuju ketua hakim. Ketua hakim segera membaca isi surat tersebut.

Putra kembali duduk.

Desy begitu gemetaran saat ketua hakim membaca isi surat itu kemudian ia memegang tangan arhan.

"sayang. Bagaimana ini" ujar Desy bernada pelan

"tenang saja aku sudah membayar lebih kepada pengacara. Dan putra tidak memiliki pengacara dia sendirian." ujar arhan bernada pelan

Kemudian arhan menoleh ke arah kiri melihat ke arah pria pengacara yang ia sewa itu. Saat pengacara melihat arhan menoleh ke arahnya segera ia mengangguk kan kepalanya sedikit seolah-olah pengacara itu tau apa yang harus di lakukan selanjutnya.

Setelah ketua hakim membaca pesan terakhir di kertas tersebut segera menanyakan perbuatan kepada arhan apakah ini di benarkan atau tidak.

"saudara arhan Wijaya. dari surat ini menunjukkan bahwa diri Anda sering melakukan tindakan yang cukup menyimpang. Melalui kekerasan rumah tangga dan intimidasi hingga mengakhiri hidupnya"

"Mengerti, Yang Mulia. Namun, mengenai tanggapan hukumnya, saya serahkan sepenuhnya kepada Penasihat Hukum saya."

Pengacara berdiri. seketika seluruh orang menoleh ke arah pengacara.

"Terima kasih, Yang Mulia. Saudara Saksi Putra, dalam berita acara pemeriksaan, Saudara menyatakan mengetahui rentetan intimidasi dan KDRT yang dilakukan klien kami, Arhan, kepada mendiang Liza. Kami menolak alat bukti surat ini dijadikan dasar hukum. Siapa yang bisa menjamin bahwa tulisan tangan di kertas ini adalah benar-benar tulisan tangan mendiang Liza? Dan siapa yang bisa menjamin surat ini tidak dipalsukan atau dimanipulasi oleh pihak lain, termasuk oleh Saksi Putra sendiri yang pertama kali menemukannya?"

Putra berdiri.

"Saya tahu betul. saya mengetahui tulisan itu milik mama saya itu tidak akan memanipulasi."

Seketika pengacara itu tersentak mendengar kalimat itu. namun dia mengkontrol emosinya

"Dan bapak pengacara mengatakan bisa-bisanya menolak sebuah barang bukti? lalu bagaimana foto luka lebam membiru di wajah mama saya. apakah aku harus membawa seorang dokter forensik kesini untuk memastikannya?"

pengacara itu merasa terpojok saat mendengar pertanyaan putra. Namun dirinya tetap memasang ekspresi tetap tenang.

"Saya mendengar bahwa luka lebam membiru terjadi pada sehari yang lalu apakah saudara putra yakin itu perbuatan pada ayah handa?"

"Saya yakin"

"apa yang membuat saudara saksi putra merasa yakin?"

"pada kejadian itu terjadi. selepas aku pulang berkerja tidur lama kemudian mama pulang dengan luka lebam membiru di wajahnya, Namun aku tidak tau siapa yang melakukannya. Namun aku tau betul itu ulah ayahku!"

Pengacara seketika mampu membaca celah untuk memojokkan putra.

"jika saudara saksi putra tidak mengetahui penyebab luka lebam membiru di wajah mendiang Liza. Mengapa anda langsung menuduh ayah handa sebagai pelakunya? Disini saya memang tidak membenarkan KDRT dan intimidasi. Jika saudara putra menganggap bahwa semua ini penyebabnya adalah ayah handa, itu tidak lah benar"

"bagaimana tidak?! Aku tahu betul yang membuat mama saya mengalami depresi hingga berani mengakhiri hidupnya, siapa lagi kalau bukan masalah rumah tangga yang akar utama masalah di sini adalah orang ketiga!"

pengacara menatap putra dengan begitu tenang.

"saudara saksi putra. Saya tahu betul bagaimana posisi ini begitu terpuruk bagi anda, namun anda tidak bisa seperti itu mungkin saja mendiang Liza mengalami depresi faktor lain mungkin saudara putra menuduh bahwa. ayah handa melakukan kekerasan pasti ada sebabnya"

Pengacara menoleh ke arah arhan. arhan pun berdiri seolah dirinya tau bahwa waktunya gilirannya.

"itu benar. Istri sah saya dulu suka sekali melanggar, tidak mau menuruti permintaan, bahkan tidak pernah mendengar nasihat saya. Lagian siapa yang tidak akan merasa kecewa dengan istri seperti itu"

"jika ayah kecewa mengapa ayah berani berselingkuh?"

"putra anak ayah. bagaimana perasaan jika dikhianati oleh teman dekatmu nak? Apakah kamu tidak akan berpaling menyari teman lain?"

Seketika putra merasa terpojok dan tidak menjawab pertanyaan arhan. Pengacara segera menoleh ke arah ketua hakim dengan pandangan begitu mempercayai.

"yang mulia. Bahwa klien kami saudara Arhan saya simpulkan dari kesaksian bahwa terdakwa tidak mendapatkan hak-haknya sebagai seorang suami. Tidak ada kehangatan, tidak ada komunikasi yang sehat, yang ada hanyalah dinamika rumah tangga yang beracun dan hampa akibat kondisi kejiwaan Liza yang tidak stabil. Hukum positif Ketika salah satu pihak secara medis sudah tidak mampu memenuhi kewajiban batiniah dan biologis tersebut, adalah hal yang sangat manusiawi, dan benar secara psikologis jika klien kami mencari ketenangan, dukungan moral, dan kebahagiaan di luar pernikahan"

"APA-APAAN INI?! Tidak terdakwa, tidak pengacara menormalisasikan perselingkuhan?!"ujar putra

Pengacara kembali menoleh ke arah putra dengan tatapan layaknya seorang manipulator handal

"saudara saksi putra. Kami tidak menormalisasikan perselingkuhan tetapi, jika seorang istri tidak bisa memenuhi itu semua maka jangan salahkan ayah handa berselingkuh dan rela melakukan KDRT"

putra terdiam.

Pengacara kembali menoleh ke arah ketua hakim kemudian hakim menoleh ke arah pengacara tersebut.

"Yang Mulia, pengadilan ini mengadili perbuatan pidana, bukan mengadili dosa atau pilihan hidup seseorang. Ketika sebuah pernikahan sudah tidak lagi memberikan fungsi esensialnya, mencari kebahagiaan di luar bukanlah sebuah kejahatan, melainkan hak untuk bertahan hidup"

ketua hakim kembali menghadap ke terdakwa. Setelah itu mengangkat palu kemudian mengetuknya sebanyak satu kali

TOK!

"Saya melihat tanggapan dari penasehat hukum arhan. Saya menyadari bahwa sebenarnya ini bukanlah murni dari kesalahan terdakwa, jadi saya putuskan bahwa terdakwa tidak lah bersalah" ujar ketua hakim

Segera ketua hakim langsung mengketuk palu sebanyak tiga kali

TOK! TOK! TOK!

Jaksa segera menutup pengadilan sekarang.

" Pengadilan Negeri paradise yang memeriksa dan mengadili perkara pidana nomor urut 1567 atas nama Terdakwa arhan Wijaya dengan dugaan kekerasan rumah tangga pada hari ini rabu tanggal 21 bulan September tahun 2025 dengan ini dinyatakan DI TUTUP!"

Putra langsung menghantam tangannya ke meja.

BRAK!!

"TIDAK!!! BAGAIMANA BISA!"

air mata kekecewaan putra mulai menetes secara perlahan. ia tidak percaya bahwa bagaimana bisa dirinya kalah dalam di pengadilan, dirinya di kalahkan oleh seorang yang benar-benar membela kejahatan hanya demi sepeser uang.

putra menundukkan wajahnya sambil meneteskan air matanya. Kemudian pengacara tersebut berjalan mendekati lalu memegang bahu putra.

"sudahlah. Adek putra terima saja kekalahannya"

Putra kembali mengangkat kepalanya. Ia menatap pengacara itu dengan mata yang berkaca-kaca di penuhi rasa kebencian melihat wajah pengacara tersebut.

"jujur saja aku cukup muak dengan dunia hukum ini"

Pengacara menurunkan tangannya dari bahu putra.

kemudian jaksa menyuruh saksi dan terdakwa untuk berjabat tangan agar saling memaafkan.

"di mohon para terdakwa dan saksi untuk segera berjabat tangannya"

Desy dan arhan berdiri kemudian berjalan menuju meja milik putra. Kemudian arhan mengulurkan tangan kanannya ke putra, segera putra menjabat tangannya, namun jabatan tangan itu tentu saja belum cukup menghilangkan amarahnya kepada arhan dan Desy atas perbuatannya kepada Liza.

"di harapkan dengan berjabat tangan seperti ini seluruh rasa maaf segera termaafkan dan tidak meninggalkan rasa dendam" ujar jaksa

1
Dian Dian
good job👍
likaa: makasih kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!