NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10.Tangan dingin menjagaku

Sabtu siang beranjak senyap di kediaman Danuartha. Langit Jakarta yang biasanya cerah perlahan tertutup awan mendung tipis, membawa tiupan angin sejuk yang menyapu dedaunan di taman belakang. Aira duduk di sofa empuk ruang tengah, memandangi Elano yang tertidur pulas di pangkuannya setelah lelah bermain cat air sepanjang pagi. Tangannya mengusap lembut rambut halus bocah itu, sementara matanya menatap kosong ke arah lantai marmer yang berkilau.

Pikirannya masih melayang jauh pada ancaman Lina dan Hendra. Hari Minggu tinggal menghitung jam, dan Aira belum menemukan cara apa pun untuk mengumpulkan uang tiga ratus juta rupiah.

Rasa cemas yang terus menggerogoti dadanya membuat napas Aira terasa begitu berat. Namun, melihat Elano yang bernapas teratur di dalam pelukannya, Aira berusaha keras mempertahankan ketenangannya agar tidak membuat penghuni rumah curiga.

Tepat saat itu, suara derap langkah kaki teratur terdengar mendekat. Aira mendongak dan mendapati Arka berjalan keluar dari ruang kerjanya.

Pria itu sudah mengenakan jas hitam tailored yang rapi, memancarkan aura dominan dan berkelas seperti biasa. Raymond berdiri selangkah di belakangnya, memegang sebuah map kulit tebal.

"Mas Arka mau pergi?" tanya Aira pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar dan tidak membangunkan Elano.

Arka menghentikan langkahnya di dekat sofa, memandang Aira dan Elano sejenak. "Ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan bersama Raymond. Saya mungkin kembali sore hari."

Aira mengangguk paham. "Baik, Mas. Hati-hati di jalan."

Arka tidak langsung berbalik. Manik mata hitamnya yang tajam menatap Wajah Aira yang pucat, memperhatikan kepasrahan dan kelelahan yang terpancar dari mata gadis sembilan belas tahun itu. Ada dorongan asing di benak Arka untuk mengusap kepala gadis itu dan memberitahunya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, Arka dengan cepat menahan diri. Tembok kendali dirinya terlalu tinggi untuk runtuh begitu saja.

"Jaga Elano," kata Arka datar, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi disusul oleh Raymond.

Aira menghembuskan napas panjang, bersandar pada sandaran sofa. Ia tidak tahu bahwa kepergian Arka siang itu adalah awal dari akhir dari mimpi buruk yang selama ini mencekiknya.

Sementara itu, di sebuah kafe remang-remang di kawasan Jakarta Selatan, Hendra dan Lina duduk di salah satu sudut paling pojok. Di atas meja kayu yang agak kusam, tergeletak dua cangkir kopi dingin yang sudah tidak tersentuh. Wajah Lina tampak berang, jari-jarinya yang bermenikur merah terus mengetuk-ngetuk meja dengan tidak sabar.

"Mas! Gimana sih? Si Aira belum ada transfer uang sama sekali!" omset Lina dengan nada berbisik namun penuh penekanan.

"Ini sudah Sabtu siang! Kalau sampai besok dia tidak kirim tiga ratus juta, kita mau bayar utang rentenir pakai apa?!"

Hendra mengusap wajahnya yang tampak kusam dan lelah. "Kamu sabar sedikit kenapa, Lina? Aira itu kan baru beberapa hari tinggal di sana. Mana mungkin dia bisa langsung minta uang ratusan juta ke Arka Danuartha tanpa alasan jelas?"

"Ya harus bisalah!" potong Lina galak, matanya melotot tajam. "Dia itu kan istrinya sekarang! Mau istri kontrak atau bukan, si Arka itu kaya raya! Tiga ratus juta itu cuma uang receh buat dia! Kalau si Aira penakut, kita harus teker dia lebih keras. Bila perlu, besok pagi kita benar-benar datang ke rumah sakit dan gertak ibunya di depan suster!"

"Jangan kelewatan, Lina. Wahyuni itu masih istri sah saya di mata hukum, walau kita sudah pisah rumah," gumam Hendra, ada sedikit sisa rasa bersalah di dadanya, meski kalah besar oleh rasa takutnya pada kejaran utang.

"Halah! Jangan sok berhati lembut sekarang!" cibir Lina pedas. "Ingat ya Mas, kalau utang kita tidak lunas, rumah yang kita tempati sekarang bakal disita! Kita—"

Kalimat Lina terputus seketika. Tiba-tiba saja, dua pria bertubuh kekar mengenakan setelan jas hitam elegan berdiri tegap di samping meja mereka. Aura dingin dan intimidatif yang terpancar dari kedua pria itu membuat suasana di sudut kafe mendadak mencekam.

"Tuan Hendra dan Nyonya Lina?" tanya salah satu pria berbadan tegap itu dengan suara berat tanpa ekspresi.

Hendra tersentak kaget, hampir saja menyenggol cangkir kopinya. "I-iya... Saya Hendra. Kalian siapa ya?"

"Atasan kami ingin bertemu dengan Anda berdua. Mohon ikut kami sekarang secara kooperatif," ujar pria itu tegas. Suaranya tidak keras, tetapi mengandung perintah mutlak yang tidak bisa dibantah.

Lina panik, langsung memeluk tas mewahnya erat-erat. "Eh! Apa-apaan ini?! Kalian siapa?! Jangan sembarangan ya! Saya bisa teriak perampok sekarang juga!"

Pria kekar kedua melangkah maju setengah tindak, membungkuk sedikit ke arah Lina, lalu menunjukkannya sebuah tanda pengenal berlogo khusus Danuartha Corporation.

"Jika Nyonya teriak, kami pastikan Nyonya tidak akan pernah keluar dari tempat ini dengan selamat," bisik pria itu sangat dingin, membuat bulu kuduk Lina berdiri seketika.

Wajah wanita itu langsung pucat pasi, kata-katanya tertahan di tenggorokan.

Hendra yang menyadari logo Danuartha langsung gemetar hebat. "P-Pak Arka... Pak Arka Danuartha yang menyuruh kalian?"

"Tuan Raymond sudah menunggu di mobil. Mari," jawab pengawal itu singkat seraya memberi isyarat tangan agar mereka berdua berdiri.

Tanpa berani membantah atau membuat keributan, Hendra dan Lina berdiri dengan lutut yang lemas. Mereka digiring keluar dari kafe menuju sebuah mobil SUV hitam bertinta gelap yang terparkir di area belakang yang sepi.

Di dalam ruang rapat pribadi yang terisolasi di sebuah gedung perkantoran milik Danuartha Group, suasana terasa begitu dingin bagaikan ruang pembekuan. Hendra dan Lina didudukkan di atas dua kursi kayu di tengah ruangan.

Di sekeliling mereka, berdiri empat pengawal berbadan tegap dengan tangan bersedekah di belakang punggung.

Pintu ruangan terbuka. Raymond melangkah masuk dengan gaya tenang dan profesional, disusul oleh Arka Danuartha.

Begitu sosok Arka melangkah masuk, aura keberadaan pria berusia 39 tahun itu langsung mendominasi seluruh ruangan. Jas hitamnya yang terpasang sempurna, tatapan mata hitamnya yang tajam bagai sembilan belas bilah pisau, serta raut wajahnya yang tanpa ekspresi membuat Hendra dan Lina merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa.

Arka tidak duduk.

Ia berdiri di seberang meja, menatap Hendra dan Lina dengan pandangan rendah, seakan-akan sedang melihat dua ekor serangga yang menjijikkan.

"P-Pak... Pak Arka..." cicit Hendra dengan suara bergetar hebat. Ia bahkan tidak berani menatap mata Arka secara langsung.

Arka menarik napas pelan, merapikan kancing jasnya. "Saya mengusahakan diri untuk hadir di sini secara pribadi karena saya ingin memastikan satu hal."

Suara Arka berat, dalam, dan teratur. Tidak ada nada tinggi atau teriakan, tetapi setiap kata yang keluar dari bibirnya menebarkan teror yang nyata.

"Apakah uang dua miliar rupiah yang saya bayarkan untuk melunasi utang Anda dan biaya rumah sakit Ny. Wahyuni kurang, Tuan Hendra?" tanya Arka datar.

Lina menelan ludah dengan susah payah, berusaha memberanikan diri meski tubuhnya gemetar.

"P-Pak Arka... ini salah paham! Kami cuma... kami cuma minta hak kami sebagai orang tua Aira. Aira itu anak kandung Mas Hendra, jadi—"

Brak!

Raymond memukul permukaan meja kayu dengan telapak tangannya. Suara keras itu membuat Lina menjerit kaget dan tertunduk dalam-dalam.

"Diam," tegur Raymond dengan suara dingin.

"Anda tidak sedang diberi izin untuk membuat alasan, Nyonya Lina."

Arka melangkah satu tindak mendekati meja. Matanya mengunci Lina yang kini gemetar ketakutan.

"Kamu mengancam akan mencabut alat medis Ny. Wahyuni di rumah sakit?" tanya Arka dengan nada suara yang makin merendah, sangat berbahaya.

"Kamu menakut-nakuti Aira dan meminta uang tiga ratus juta rupiah darinya?"

Lina menggeleng cepat dengan raut wajah panik.

"T-tidak, Pak! Saya... saya cuma bercanda! Saya tidak bermaksud sungguh-sungguh!"

"Bercanda?" Arka tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin tanpa kehangatan yang justru membuat siapa pun yang melihatnya merinding.

"Sayangnya, saya bukan orang yang suka bercanda, apalagi jika itu melibatkan orang-orang di bawah naungan saya."

Arka memberi isyarat mata pada Raymond. Dengan sigap, Raymond mengeluarkan sebuah map tebal dan meletakkannya di depan Hendra.

"Di dalam map ini terdapat seluruh bukti tindak pidana pemerasan, pengancaman pembunuhan berencana terhadap Ny. Wahyuni, serta rekam jejak utang ilegal yang Anda miliki, Tuan Hendra," terang Raymond tegas.

"Jika Pak Arka menekan tombol panggil ke Polda Metro Jaya detik ini juga, Anda berdua dipastikan akan menghabiskan waktu minimal lima belas tahun di balik jeruji besi."

Hendra langsung menyatukan kedua telapak tangannya, menangis ketakutan di atas meja. "Jangan, Pak Arka! Tolong jangan lapor polisi! Saya mohon! Saya mengaku salah! Ini semua ide Lina, Pak! Lina yang memaksa saya!"

"Mas Hendra! Kenapa kamu malah salahkan aku?!" jerit Lina histeris, tidak menyangka suaminya akan melempar kesalahan begitu saja.

"Cukup," potong Arka singkat. Suaranya seketika menghentikan perdebatan murahan di hadapannya.

Arka menatap Hendra dan Lina dengan ketegasan tanpa kompromi. "Saya berikan kalian satu kesempatan terakhir. Dan ingat baik-baik, tidak akan ada kesempatan kedua."

Hendra dan Lina mengangguk-angguk cepat bagaikan ayam mematuk beras.

"Pertama," lanjut Arka, mengacungkan satu jarinya.

"Kembalikan uang lima puluh juta yang diberikan Raymond kemarin. Detik ini juga."

"I-iya Pak! Nanti saya transfer balik sekarang juga!" sahut Hendra panik.

"Kedua," Arka mengacungkan jari keduanya. "Tandatangani surat pelepasan hak asuh dan hak hukum atas Aira. Sejak hari ini, Aira tidak lagi memiliki hubungan hukum atau finansial dengan kalian berdua. Kalian dilarang mendekati Aira, mendekati rumah sakit Ny. Wahyuni, atau menampakkan diri dalam radius satu kilometer dari lingkungan Danuartha."

"Jika kalian melanggar satu saja dari poin tersebut..." Arka membungkukkan tubuhnya sedikit, menatap Lina dengan iris mata hitamnya yang membakar. "...saya sendiri yang akan memastikan hidup kalian berdua hancur sampai tidak ada tersisa sepeser pun, baik di dalam penjara maupun di luar. Paham?"

Lina dan Hendra mengangguk histeris dengan air mata dan keringat dingin yang mengucur deras. Ketakutan yang menghujam mereka saat ini jauh lebih besar dari rasa serakah yang selama ini mereka pelihara.

Mereka sadar, Arka Danuartha bukanlah lawan yang bisa mereka permainkan. Pria itu memiliki kekuasaan dan kekayaan yang sanggup meremukkan mereka dalam hitungan detik.

"Tandatangani sekarang," perintah Raymond seraya menyodorkan pulpen.

Dengan tangan yang gemetar hebat hingga tulisan tangannya hampir tidak terbaca, Hendra dan Lina membubuhkan tanda tangan mereka di atas kertas bermaterai tersebut.

Setelah proses penandatanganan selesai, Arka merapikan jasnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, pria itu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Hendra dan Lina yang terkulai lemas di atas kursi dengan penyesalan yang terlambat.

Sore hari menjelang malam, Arka kembali ke rumahnya. Suasana rumah terasa tenang dan hangat. Lampu-lampu taman sudah menyala, membiaskan cahaya keemasan yang lembut di sepanjang lorong.

Arka melangkah menuju ruang tengah. Di sana, Aira sedang duduk bersama Elano yang sedang asyik merangkai balok kayu.

Gadis itu tampak masih memendam kecemasan, jarinya meremas kain gaun santainya dengan gelisah. Ia jelas sedang memikirkan hari esok yang ia takuti.

Arka menghentikan langkahnya beberapa meter dari sofa, menatap Aira dalam diam. Di sakunya, tersimpan surat pelepasan hukum yang baru saja ditandatangani oleh Hendra dan Lina, serta laporan bahwa dua pengawal pribadi telah bersiaga penuh di ruang perawatan ibu Aira.

Masalah terbesar yang menghimpit dada gadis itu selama beberapa hari terakhir telah tuntas sepenuhnya dalam waktu beberapa jam—tanpa Aira harus mengeluarkan sepeser pun uang atau meneteskan air mata lagi.

Aira yang menyadari kehadiran Arka segera mendongak. Ia buru-buru berdiri dan memaksakan senyum sopannya. "Mas Arka sudah pulang? Mau disiapkan teh hangat?"

Arka menatap mata Aira yang jernih.

Pria 39 tahun itu bisa melihat rasa takut yang masih tersisa di balik senyuman terpaksa gadis itu. Namun, Arka memilih untuk tidak memberitahunya sekarang. Biarlah gadis ini belajar bahwa di dalam rumah ini, ia aman dan dilindungi, tanpa perlu tahu betapa kelamnya cara Arka bekerja di belakang layar.

"Tidak usah," jawab Arka pelan, suaranya kini terasa jauh lebih hangat meski tetap datar.

"Malam ini tidak usah masak. Saya sudah minta Bi Inah menyiapkan makan malam khusus. Kamu dan Elano istirahat saja."

Aira agak tertegun mendengar nada suara Arka yang tidak sedingin biasanya. "T-terima kasih, Mas Arka."

Arka mengangguk pelan, lalu melangkah menuju tangganya. Sebelum menaiki anak tangga pertama, Arka menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit.

"Aira," panggil Arka.

Aira menatapnya ragu. "Iya, Mas?"

"Mulai esok dan seterusnya... tidur yang nyenyak," kata Arka tenang. "Tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada ibumu atau dirimu. Saya yang menjaminnya."

Aira terpaku di tempatnya berdiri. Kata-kata Arka meluncur begitu sederhana, tetapi mengandung bobot ketenangan yang luar biasa yang mendadak meruntuhkan sebagian besar rasa cemas di dadanya. Gadis itu menatap punggung Arka yang menghilang di belokan tangga lantai dua dengan perasaan bingung bercampur haru yang tidak bisa ia jelaskan.

Aira tidak tahu apa yang telah terjadi, tetapi sore itu, untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah megah ini, ia merasa bisa bernapas lega kembali. Dan jauh di dalam dadanya, benih rasa percaya pada sosok Arka Danuartha perlahan-lahan mulai tertanam.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!