Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. GADIS KECIL
Di balik gerbang kayu berarsitektur tradisional Jepang yang menjulang tinggi, kediaman Theodore menyimpan sejuta lara yang membatu. Rumah tua itu seolah ikut menangis menyambut kedatangan Leo Cristian Theodore. Di dalam dekapannya, seorang gadis kecil bernama Vellora Zavendra terlelap dengan sisa air mata yang mengering di pipi gembilnya.
Langkah kaki Leo terhenti di atas beranda tatami. Di hadapannya, berdiri seorang lelaki paruh baya dengan rambut memutih seluruhnya. Liam Theodore, kakek buyut Leo dari pihak mendiang ayahnya. Kerut di kening Liam tercetak jelas, menahan badai amarah.
"Dari mana saja kamu, Leo?" suara Liam bergetar, sarat akan beban hidup. "Bertahun-tahun kamu pergi mengikuti jejak ayahmu menjadi bayangan kematian, dan sekarang... kamu pulang membawa anak kecil?"
Leo mendengus dingin, membuang puntung rokoknya ke tanah. "Jangan mulai, Kek. Aku hanya menemukannya di jalan. Keluarganya habis dibantai."
Liam melangkah maju, mencengkeram bahu cucunya dengan erat. Tepat di telinga Leo, ia berbisik tajam penuh selidik, "Katakan yang sebenarnya... apa kamu yang membunuh keluarganya?"
"Mungkin saja," jawab Leo tanpa secercah pun rasa bersalah, menatap kakeknya setajam pecahan kaca.
"Leo, jangan lakukan ini lagi!" Liam mendesis frustrasi.
Namun, Leo justru menghempaskan tangan kakeknya kasar dan berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Vellora yang terbangun karena ketegangan itu. Gadis kecil berusia lima tahun tersebut mengerjap pelan, lalu menarik ujung jubah Liam dengan jemari mungilnya.
"Kek... kenapa Kakak itu begitu dingin?" tanyanya polos, suaranya terdengar begitu rapuh dan menyayat hati.
Liam meruntuhkan ketegangannya, berjongkok untuk menyetarakan tinggi badannya. Ia mengusap pipi Vellora lembut. "Biarkan saja dia begitu, Cantik. Siapa namamu?"
"Aku Vellora Zavendra," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Umurku lima tahun... keluargaku habis dibantai orang. Suatu saat nanti, aku akan mencari orang itu dan membunuhnya!"
Deg!
Jantung Liam serasa berhenti berdetak. Kata-kata itu... persis seperti sumpah yang diucapkan Leo delapan tahun lalu, saat bocah itu kehilangan keluarganya dengan cara yang sama. Takdir sedang mempermainkan garis keturunan mereka dengan begitu kejam. Liam merengkuh tubuh kecil itu ke dalam dekapannya. "Mulai hari ini, Kakek ganti namamu menjadi Vellora Theodore, agar tidak ada yang mengincarmu."
Malam berganti. Liam merawat Vellora dengan penuh kasih, memakaikannya baju masa kecil Leo yang tampak kebesaran. Vellora hanya tertawa renyah, mengatakan ia menyukainya. Di luar kamar, Leo hanya bisa membuang muka, mengisap rokoknya dalam diam sambil memikirkan takdir kelam yang mengikat mereka.
Keesokan harinya, Liam harus pergi meninggalkan rumah. Sebelum beranjak, ia menyeret Leo keluar dan memaksa pemuda itu menjaga Vellora. "Kamu yang membawanya, maka kamu yang harus merawatnya!" teriak Liam lalu pergi.
Leo mendengus kesal, duduk termenung di tepi kolam kecil dengan wajah masam. Vellora yang merasa diabaikan mendekat perlahan, matanya berkaca-kaca. "Emm... Kakak tidak suka aku ya?" tanyanya memelas.
Leo melirik tajam, mencoba mengintimidasi. "Siapa namamu?"
"Namaku Vellora! Kakak bisa tersenyum saja? Jangan melirikku seperti itu!" protes Vellora merengek, berkacak pinggang di depan sang pembunuh bayaran.
Sikap polos tanpa rasa takut itu membuat benteng es Leo runtuh seketika. Dengan canggung, ia memaksakan seulas senyum kaku di wajahnya. Vellora langsung bersorak senang, lalu tanpa diduga, ia melompat dan duduk tepat di pangkuan Leo.
Dari kejauhan, Liam mengintip pemandangan itu dan tersenyum haru. Air mata menetes di sudut matanya. Di tengah dunia yang penuh darah dan kebencian, kehadiran gadis kecil itu mungkin adalah satu-satunya malaikat yang bisa menyelamatkan jiwa Leo dari jurang kegelapan abadi.